
Pov dini
Setelah kak dali pergi ke masjid. Aku pun segera masuk ke kamar, untuk mengambil baju ganti karena terciprat oleh muntahannya kak dali.
Setelah berada di dalam kamar. aku lepaskan kemeja kotak-kotak, dan celana jinsku yang lebar itu. meninggalkannya di lantai, menyisakan tanktop dan celana legging yang masih menutupi tubuh.
Kubuka lemari, untuk mengambil baju ganti. baju yang kubawa dari kosanku tadi, untuk menghadiri pesta teman Kak Dali. Setelah diambil lalu disimpan di atas kasur, rencananya nanti setelah mengambil air wudhu, baru aku pakai. karena takut basah terkena air.
Ketika Aku keluar kamar, untuk mengambil air wudhu. Aku hanya menggunakan legging dan tanktop, tanganku menenteng baju kotor, hendak disimpanny di kamar mandi. namun Baru beberapa langkah, setelah menutup pintu kamarku.
Cklek!
Pintu rumah terbuka. lalu Masuklah kak Dali, dengan tergesa gesa tanpa menoleh ke arahku. Aku yang dibuat kaget, karena keaadan pakaian yang kukenakan sekarang, dengan cepat ku jatuhkan tubuhku, lalu menutup bagian dada, dengan Pakaian kotor yang kubawa.
"Kamu ngapain, jongkok di situ?" tanya Kak Dali setelah matanya menangkap keberadaanku.
"Kakak yang ngapain? Bukannya sebelum masuk itu, mengucapkan salam dulu, atau minimal mengetuk pintu. main serobot aja, kayak ular!" dengusku dengan kesal, yang masih berjongkok melindungi tubuhku, dari pandangan matanya.
"Kamu cuma pakai tanktop doang yah?" ujarnya tanpa memperdulikan kekesalanku, dengan jahil dia mendekati lalu menikmati tubuhku dengan matanya.
"Ngapain, malah mendekat, sana pergi!" usirku sambil memicingkan mata ke arahnya. Disusul dengan lemparan pakaian kotor yang kubawa.
"Yey. PeDe amat! orang aku mau ngambil peci, tadi lupa." jawabnya cuek ,sambil terus berjalan mendekati arah pintu kamar, namun matanya dengan nakal terus menatap ke arahku.
"Buruan apa, masuuuuuuuuk!" teriakku.
"Kamu bagusan pakai handuk, daripada pake tengtop" ledeknya sambil mengedipkan sebelah mata mengingatkanku, kekejadian pertama kali, ketika aku menginap di sini, dimana aku terjatuh hanya menggunakan handuk.
Setelah kak dali masuk kamar. aku dengan cepat bangkit, lalu melanjutkan tujuanku menuju kamar mandi.
Setelah mengambil air wudhu. dengan santai aku pun keluar dari kamar mandi, lalu berjalan menuju kamarku. untuk melaksanakan tiga rakaat.
Cklek!
Pintu kamar Kak Dali, yang bersebelahan dengan pintu kamarku, terbuka. Aku kira dia sudah berangkat lagi ke masjid, ternyata masih berada di dalam kamarnya. Aku hanya bisa melakukan pembelaan seperti tadi. dengan cepat kujatuhkan tubuhku, namun yang berbeda Sekarang, aku tidak punya perisai untuk menutupinya.
__ADS_1
"Ngapain kamu masih jongkok di situ?" tanya Kak Dali sambil melihat ke arahku.
"Ngapain Kakak baru keluar dari kamar, bukannya cuma ngambil PeCi doang. Apa Kakak sengaja yah? menunggu. agar bisa melihat lagi tubuhku." Cerocosku yang sedang memeluk kedua lutut, menghindari tatapannya.
"Tadi. ada telepon, jadi aku angkat sebentar, jangan-jangan kamu yang nguping ya!" jelasnya tak melepaskan pandangannya.
"Udah, sana pergi, buruan. Katanya mau ke masjid." Gerutuku sangat kesal, karena mengulangi hal yang sama.
"Pakai baju, apa. nanti aku khilaf!" terukir senyum manis dari bibirnya. tanpa menunggu jawabanku, dia langsung pergi. emang benar-benar aneh, tadi dingin seperti batu es, sekarang lumer kaya coklat yang sudah dipanaskan.
Setelah Kak Dali menutup pintu rumah, Aku segera bangkit membuka pintu kamarku. Kukenakan mukena, untuk melaksanakan salat magrib. selesai salat. baru aku memakai baju, yang sudah aku siapkan untuk menghadiri acara pesta temennya kak Dali.
Trok! trok! trok!
Pintu kamarku diketuk, setelah 30 menit aku menunggunya. "udah siap belum?" tanya Kak Dali dari luar kamar.
"Sudah, Kak. Tunggu sebentar aku keluar!" jawabku sambil melihat kembali bayangan tubuhku di cermin. mengecek takut ada yang kurang.
Malam ini aku mengenakan, baju gamis berwarna merah muda dihisai hijan crem mebalut kepalaku, pemberian pak Bowo. ketika aku mengantarnya, berbelanja kebutuhan toko di Tanah Abang. seperti yang aku bilang hidupku penuh dengan pemberian.
"Kenapa, Ada yang salah ya, Kak?" Tanyaku menundukkan pandangan, memperhatikan seluruh tubuhku yang tertutup dengan gamis.
"Nggak, nggak ada !" jawab Kak Dali tergagap.
"Apa, aku salah kostum?" tanyaku meminta pendapatnya.
"Enggak, enggak salah kostum. namun malam ini kamu terlihat cantik banget." pujinya membuat kedua sudut bibirku tertarik ke atas, merasa tersanjung dengan pengakuannya.
"Terima kasih, sudah mengakuinya!" jawabku dengan penuh kebahagiaan.
"Sebentar!" ungkapnya sambil berdiri, lalu keluar. tak lama kembali dengan mendorong motornya.
"Kok dimasukin Kak, Katanya mau berangkat?" tanyaku sambil menatap heran ke arahnya.
"Aku nggak tega, kalau membawa wanita secantik kamu, dengan motor. Nanti pipimu yang halus bisa-bisa tergores oleh udara malam, yang sangat jahat." ucapan Kak Dali membuat pipiku berubah merah dengan sempurna. Tubuhku rasanya terbang, mengepak-ngepakan sayap mengelilingi plafon kontrakannya.
__ADS_1
"Maksudnya, gimana?" tanya aku pura-pura bod0h, agar dia mengulang kembali gombalannya, sambil menyipitkan mata.
"Nggak gimana-gimana! ya sudah, ayo kita berangkat!" Ajaknya mengulurkan tangan, mengajakku segera pergi.
"Sebentar Kak, Aku kan belum pakai sepatu. Lagian kakak juga belum, kan." tolakku sambil mengambil sepatuku, yang ada di rak.
"Ya, nggak apa-apa! biar sosweet, kita berpegangan tangan menuju rak sepatunya." ujar pria berparas tampan itu sambil tersenyum.
Malam ini dia mengenakan celana jeans warna hitam, dipadukan dengan kemeja warna Abu monyet. Rambutnya yang selalu klimis menambah ketampanannya.
Setelah mengenakan kita sepatu, dia duduk kembali lalu mengeluarkan handphonenya. memesan taksi online Untuk mengantarkan kita, menuju rumah temannya yang mengadakan pesta.
10 menit berlalu. akhirnya mobil yang Kak dali pesan tiba, di depan kontrakan. dengan berpegangan, tangan kita pun menghampiri mobil itu, layaknya sepasang kekasih yang tidak mau terpisahkan.
Begitulah sikap dia, yang selalu memanjakanku, memujiku, dengan tingkah lakunya. sehingga membuatku Tersanjung, tapi kadang suka miris, karena sampai saat ini dia belum pernah mengutarakan Maksudnya apa, sehingga dia berbuat seperti itu.
Mobil yang kita naiki perlahan melaju, setelah kita duduk dengan nyaman di kursi belakang. mengikuti arah peta yang ada di handphonenya.
"Terima kasih, ya!" ungkap kak dali tiba-tiba, membuatku menatap menikmati ketampanannya.
"Buat apa, Kak?" Tanyaku sambil memalingkan wajah, tidak mau berlama-lama bertatapan dengannya. kasihan Jantungku yang bekerja lebih keras.
"Kamu sudah mau menemaniku, datang ke pesta." ucapnya sambil memainkan tanganku dengan jemarinya.
"Iya Kak, sama-sama. terima kasih juga sudah mau mengajakku." jawabku tanpa menoleh ke arahnya.
"Sama-sama, ambil saja kembaliannya. buat bayar taksi!" jawabnya sambil terkehkeh, padahal itu tidak lucu sama sekali, namun aku mencoba menghargainya, dengan memberikan senyum termanis. "Ngelucu sendiri ketawa sendiri. Dasar aneh!" Gumamku dalam hati.
Kita pun terdiam, hanya usapan lembut yang mengalir di punggung tanganku, membuatku merasa nyaman, diperlakukan seperti itu. pandanganku sesekali menatap ke arah depan, dan sesekali ke arah pria yang ada di sampingku. Tak jarang senyum menghiasi bibir kita, ketika mata aku dan kak Dali saling bertautan.
"Oh iya, maaf kejadian tadi sore. aku bukan apa-apa! tapi Aku khawatir, kalau dani sudah keluar. dia akan mengganggu kamu lagi." ungkapnya memecah suasana di sela-sela keheningan.
"Iya Kak, aku juga ngerti. namun kedua orang tua angkatku mengiba. mereka berkata. hanya danilah yang menanggung hidup ibu dan bapak, karena beliau sudah tidak punya usaha seperti dulu, usahanya bangkrut. Kakak juga pasti tahu, keadaan pasar yang sedang diperbaharui." aku menjelaskan dengan pelan, agar kak Dali tidak salah paham.
Benar saja, dia terdiam lagi seperti kejadian sore tadi. namun itu tak lama, dia kembali tersenyum dan menatap ke arahku.
__ADS_1
"Kamu pasti diancam, ya?" tanyanya menerka-nerka.