
Pov dini
"Maaf Pak Bayu. sebenarnya ini ada apa, Saya tidak mengerti dengan semua tingkah laku bapakm?" Tanyaku sambil mengembalikan handphone yang tadi dia pinjamkan.
"Itu anak saya!" jawab Pak Bayu dengan suara terbata, menahan butiran bening yang hendak tumpah dari kelopaknya.
"Kenapa dengan Adik manis itu?" Tanyaku setelah melihat seorang anak kecil berwajah malaikat.
"Anak saya, terkena tumor otak, sehingga saya membutuhkan biaya yang begitu banyak, namun dengan bantuan Pak dali. anak saya sekarang sudah selesai operasi, dan melihat perkembangannya yang semakin ke sini, semakin membaik. Membuat saya semakin bahagia." tutur Pak Bayu sambil menggisik matanya agar cairan itu tidak tumpah.
"Ayo kita Duduk dulu pak! biar bapak bisa cerita dengan santai." pintaku sambil mengajaknya turun ke lantai dasar, untuk mencari tempat mengobrol, yang lebih privasi. tidak mengobrol di jalan seperti ini.
Pak Bayu pun menganggukan kepala, lalu ia mengikuti kita berdua, menuju ke arah lantai dasar. setelah menemukan tempat yang begitu nyaman untuk mengobrol, kita pun duduk bersama.
"Maaf! terus apa hubungannya, anak bapak dengan ku yang semakin menjauh dengan Kak Dali?" Tanyaku sambil menatap ke arahnya.
"Sebelumnya saya meminta maaf terlebih dahulu!" ujar pria itu, terlihat dia menarik nafas beberapa kali, menunjukkan betapa berat perkataan yang akan disampaikan.
"Saya yang sudah tidak tahu harus ke mana lagi mencari bantuan, untuk membayar tagihan rumah sakit, tiba-tiba non Stella memberikanku satu keringanan, dengan memintaku untuk berbicara sama Pak Dali, agar dia mau menjadi tunangan bohongan di acara ulang tahunnya, dengan imbalan Ketika saya berhasil mewujudkan permintaannya. Non Stella berjanji akan melunasi semua pembayaran rumah sakit!" jelas Pak Bayu menceritakan semuanya, membuatku Sedikit mulai paham, dengan apa yang menimpanya.
"Terus Kak Dalinya mau?" Tanyaku yang mulai tertarik dengan cerita Pak Bayu.
"Setelah saya panggil, Ketika Pak Dali mengobrol dengan non dini."
"Panggil Dini saja, Pak!" Tegasku memotong pembicaraanya, telingaku terasa gatal ketika mendengar sapaan itu.
"Tapi sebelumnya Saya minta maaf ya, din. kalau saya tidak sopan!" ucapan pak Bayu.
"Sudah lanjutkan saja ceritanya!"
"Setelah saya memanggil Pak Dali, dan menjauh dari Dini, saya menceritakan semua semuanya, yang intinya meminta bantuan, agar dia bisa berbesar hati menolong saya!"
"Pak Dali pun dengan cepat menyanggupi, karena menurutnya itu adalah hal yang mudah, bahkan dengan kebaikannya dia menawariku uang kepunyaannya. namun Menurut saya itu tidak cukup, tapi kalau saya membutuhkan unganya! Saya bisa memakainya uang yang ada di Pak Dali." Pak Bayu melanjutkan ceritanya lagi.
Ketika mendengar ceritanya, aku hanya mengangguk-anggukkan kepala, tanda mengerti dengan apa yang Pak Bayu ceritakan, mengerti bahwa acara tunangan malam itu, hanyalah acara settingan, demi menyelamatkan anak Pak Bayu.
__ADS_1
"kalau dini tidak percaya, Dini bisa jenguk anak saya ke rumah sakit, yang menangani pengobatan anak saya!" ujar Pak Bayu untuk meyakinkan ceritanya.
"Terima kasih Pak! atas semua penjelasan bapak, namun hati saya sudah tertutup, karena aku yakin kak Dali sebenarnya suka sama Kak Stella!" jawabku membohongi hati.
"Pak Dali nggak suka sama non Stella, bahkan tadi malam saja, Pak Bagas, bapaknya non Stella, mengahajar Pak dali, karena melihat anaknya yang diantar oleh Pak dali, pulang dalam keadan menangis!" jelas satpam itu memberi pengertian.
"Kok bisa?" tanyaku yang merasa heran.
"Satpam itu, menceritakan kejadian tadi malam, Kenapa Kak dali sampai bisa diperban seperti itu.
"Nanti setelah pulang kerja, saya ajak dini dan temannya, untuk membuktikan apa yang saya ucapkan." Pak satpam meyakinkanku.
"Memangnya saya boleh, bertemu dengan anak bapak?" tanyaku memastikan.
"Boleh! Boleh banget! karena anak saya harus tahu siapa orang-orang yang menyelamatkan hidupnya!" ujar Pak satpam menjelaskan.
"Ya sudah, saya minta alamat rumah sakitnya! Nanti sepulang kerja saya mampir ke situ, sekaligus menjenguk anak bapak." Ucapku memberi kepastian.
Akhirnya pembahasan itu selesai, dilanjutkan dengan makan siang, memanfaatkan waktu istirahat, yang diberikan dari perusahaan toko pak Bowo.
Pukul 16.10. aku dan Kak Risma sudah berdiri menunggu taksi online yang kupesan. di depan pintu masuk ke Mall tempat kerjaku.
30 menit berlalu, akhirnya mobil itu terparkir di depan lobby rumah sakit, dengan cepat aku dan Kak Risma turun, Lalu menuju ke ruang informasi, untuk menanyakan tempat anak Pak Bayu dirawat. Setelah mengetahui tempatnya, aku dan kak Risma pun bergegas menuju ruangan yang diberitahukan.
Setelah sampai di depan pintu, aku pun mengetuk pintu itu, sambil mengucapkan salam.
Tak menunggu berapa lama, pintu pun terbuka, terlihat di ruangan Pasien itu ada anak kecil yang sedang duduk tersenyum manis menyapaku, membuat hatiku merasa terharu, melihat ketangguhannya, dengan berbagai alat yang menempel di tubuhnya.
"Silakan masuk, Non!" seru seorang wanita, mungkin itu adalah istrinya pak Bayu.
Aku pun melangkahkan kaki menuju ke dalam ruangan rawat, mengikuti istri pak Bayu yang sudah mempersilahkan.
"Oh iya, ini non Dini ya?" Tanya wanita itu sambil tersenyum ramah menyapaku.
"Panggil Dini saja, Kak!" ujarku karena istri pak Bayu, belum terlihat tua Mungkin beliau seumuran dengan suaminya.
__ADS_1
"Syifa, ini ibu pri yang Allah kirimkan, sudah datang." ujar istri Pak Bayu, memperkenalkanku kepada anaknya.
"Ini ibu peri yang suka Ibu ceritakan itu, kan!" ujar Syifa yang terlihat antusias.
Ibu Syifa hanya mengangukan kepala, terlihat butiran bening menempel dari sudut pandangnya.
"Halo! adek manis, namanya siapa?" Aku menyapa malaikat kecil yang tidak berdosa, yang membutuhkan motivasi agar bisa terus bertahan hidup.
"Pasti ini, Ibu pri yah!" tanya Syifa sambil terus menatap ke arahku, memastikan bahwa yang di hadapannya adalah seorang pri.
"Iya adik Syifa, adik Syifa mau apa?" pandanganku yang mulai berkabut, terhalang oleh genangan air mata yang mulai berenang.
Siapa yang tidak tega, melihat kenyataan yang begitu pahit, melihat seorang balita mungil tanpa dosa, Sudah diuji dengan cobaan yang begitu berat.
"Adik Syifa, mau sembuh Ibu Pri!" pinta syifa sambil merekatkan kedua tangannya di dada, hingga air mataku yang dari tadi tertahan, seketika mengucur begitu dalam.
"Ya Adek syifa, semoga cepat sembuh!" ujarku yang terbata.
"Terima kasih Bu Pri, ibu pri sangat baik, seperti yang dikatakan ibu." Ujar adik Syifa sambil tersenyum.
Akhirnya kita pun larut dalam obrolan obrolan yang menghibur Syifa, memberikan semangat agar dia tetap terus termotivasi.
Kak Risma dan ibunya syifa, yang sejak dari tadi ngobrol tiba-tiba, dia meminta izin untuk mengantar istri ke Pak Bayu, untuk membeli makanan terlebih dahulu.
Dengan senang hati, aku mengiyakan permintaannya. kemudian mereka pergi meninggalkanku, yang sedang menemani Syifa yang sedang bermain.
"Ibu Pri, Boleh nggak, aku minta sesuatu lagi?" tanya Syifa menunjukkan kepolasannya, sebagai anak kecil yang menggemaskan.
"Minta tolong apa?" Tanyaku sambil tersenyum.
"Minta Ibu Pri agar punya bapak, supaya orang-orang yang menolongku, menjadi banyak!" permintaan syifa yang terdekat sangat aneh, membuatku mengerinyitkan dahi, memikirkan apa yang sebenarnya dia minta.
"Adik Syifa mau apa?"
"Suami ibu pri, biar Syifa punya teman!" dengan tegas.
__ADS_1
"Ibu peri belum punya suami, nanti kalau Ibu sudah punya. Ibu pri akan mengenalkan ke adik Syifa!" Jawabku ketika menghadapi pertanyaan pertanyaan aneh anak.
"Kalau belum punya, mau nggak ibu, aku kasih Baoak peri?" Tanya Syifa dengan muka datarnya.