Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 50 KEPUTUSAN


__ADS_3

Pov dini


"Kenapa gak kak risma saja pak?" Tanyaku karena masih banyak karyawan yang sudah senior.


"Kamu mau nolak peritah saya?" Pak Bowo balik bertanya.


"Bukan begitu pak, tapi masih banyak yang pantas untuk mengisi posisi itu. Dibandingkan aku yang masih karyawan baru" Ujarku memberi alasan.


"Baguslah! kalau kamu sadar!" Cibir Kak rani, yang sedari tadi menatap sinis dengan sudut matanya.


"Rani, kamu bisa diam nggak, kamu  jangan ikut campur urusanku, ini adalah toko saya, jadi apapun keputusannya itu adalah hak saya!" bentak pak bowo, yang tidak suka pembicaraannya disela.


"Bukan begitu, Pak! kalau seperti itu, bapak sangat tidak adil!" timpal kaj Rani menyahuti.


"Rani, kalau kamu tidak suka dengan keputusan saya, silahkan kamu buat surat pengunduran diri, lalu tinggalkan toko saya!" tegas pak bowo tampa memperdulikan kak rani, yang terlihat tampak emosi.


"Kalau Kaj rani dipecat  saya juga ikut mengundurkan diri, Pak!" Ujar seorang karyawan membela Kak Rani, namun Pak bowo.dengan santai melirik ke arah orang yang berbicara, tersungging senyum penuh arti.


"Bagus! biar saya lebih mudah mencari karyawan baru, untuk pengganti kalian. saya rasa masih banyak di luar sana orang-orang yang mengantri, untuk melamar pekerjaan di tempat saya!" ucap pak bowo membuat karyawan yang baru saja membela Kak Rani terdiam seketika  merasa takut dengan ancaman yang dikeluarkan oleh pimpinan perusahaan.


"Maaf, Pak. saya hanya mengikuti saran Kak Rani, yang memaksa kami untuk mengadu kepada bapak!" Jawab karyawan dengan gugup, terlihat dia menunjukkan sifat buruknya, sebagai orang yang pandai menjilat. Awalnya dia dengan sangat yakin bisa membela Kak Rani, namun ketika pembelaannya Merugikan dirinya. dengan cepat dia berubah haluan, menumpahkan semua kesalahan terhadap Kak Rani.


"Ada lagi, yang mau keluar dari toko saya. kalau ada silahkan angkat tangan sekarang, biar saya gampang mentraining karyawan baru, kalau semuanya sudah tidak betah bekerja di tempat saya." tanya Pak bowo, sambil membagi tatapannya ke semua karyawan yang hadir di tempat ruang ganti, menantang para karyawannya, yang terlihat kikuk.


Setelah mendengar ancaman yang keluar dari bosnya, para karyawan toko pak bowo tidak ada yang berani berbicara lagi, mereka menundukkan pandangan, takut kehilangan pekerjaan mereka. Walau bagaimanapun Pak bowo adalah orang yang sangat Royal terhadap para karyawannya, mereka pasti akan kesusahan untuk menemukan bos yang sebaik dirinya.


"Maafkab kami, pak. kami hanya terhasut oleh ucapan Kak Rani karena menurut dia Dini adalah orang yang tidak disiplin namun bapak baik terhadapnya." Jawab salah satu karyawan dengan jujur.


"Rani apa maksud kamu, melakukan hal sebod0h itu, kurang baik apa saya sama kamu?" Tanya pak Bowo sambil menatap ke arah Kak Rani, yang masih tertunduk lesu, terlihat butiran bening mengalir di pipinya, tidak menyangka pak Bowo akan melakukan pembelaan terhadapku.

__ADS_1


Kak Rani tidak menjawab, hanya terdengar sungguhkan yang keluar dari bibirnya. Padahal tadi pagi dia bilang, ketika aku menangis di hadapan pak Bowo, aku hanya menangis dengan berpura-pura.


"Ya sudah, sekarang kita sudahi saja permusyawaratan kita hari ini, silakan yang masih mau bekerja, kembali ke tempat masing-masing, kalau tidak mau silahkan kalian  mengundurkan diri, dari toko saya sekarang!" ucap pak Bowo mengakhiri sesi pertemuan hari itu.


Semua karyawan bubar, Kembali ke tempat masing-masing, tidak yang membuktikan gertakan mereka, Yang sudah


Mengancam akan berhenti masal. Setelah semua karyawan pergi, tinggallah aku dan Pak Bowo, yang berada di tempat itu, karena sebelum aku mau keluar, dia menahanku karena ada hal yang penting, yang mau Ya sampaikan.


"Iya Kak, Ada apa?" tanyaku mengawali pembicaraan.


"Dini Nitip ya toko yang disini. kakak yakin toko ini akan berkembang pesat, jika dikelola oleh orang yang secerdik dan secantik adik!" Pak bowo menjelaskan kenapa Tadi ia menahanku untuk pergi.


"Terima kasih Kak, atas kepercayaan yang kakak berikan, Aku berjanji akan belajar bersungguh-sungguh, agar toko ini bisa maju, sesuai yang kakak harapkan!" jawabku seolah menyanggupi apa yang ia harapkan.


"Bagus aku suka wanita yang cerdik dan optimis seperti kamu, semangat ya! nanti kamu minta ajarin Sama Risma dan rani, bagaimana cara mengelola toko ini, atau kamu bisa tahu nanyakan langsung sama kakak!" seru pak Bowo sambil tersenyum simpul menatap ke arahku.


"Terima kasih kak, kalau tidak ada yang mau disampaikan lagi, saya mau lanjut kerja kembali." pamitku karena merasa canggung, takut karyawan lain menuduhku mendapat semua kepercayaan yang kau berikan, dengan menggunakan kecantikanku.


"Kamu jangan ke sini! Kamu duduknya dekat si Rani! biar kamu bisa mengawasinya lebih dekat!" seru Kak sambil mendorongku, untuk duduk di dekat kursi Kak Rani.


"Ngapain kamu ke sini! sudah sana, melipat baju yang benar, nanti kusut lagi!" usir Kak Rani yang tidak suka dengan Kehadiranmu.


"Maaf Kak!" jawabku yang tidak mau memperpanjang masalah, dengan cepat kuangkat tubuhku dari kursi untuk meninggalkan Kak Rani, bergabung dengan para karyawan lainnya. namun ketika mau melangkahkan kaki, keluar Pak bowo dari ruang ganti, sambil memberikan senyum ramah terhadap semua karyawannya, seolah sebelumnya tidak terjadi apa-apa


"Nah, begitu dong semua karyawan harus akur! biar usaha saya makin lancar, karena usaha itu hamanya banyak, bisa dari luar, bisa dari dalam juga, yang dari dalam seperti terjadi perselisihan antar karyawan." jelas pak Bowo dengan menunjukkan senyum penuh kebahagiaan


"Terima kasih, Pak! sudah memberikan saya kesempatan kembali sama saya. Oh iya, ini laporan hasil penjualan hari kemarin!'  ucap kak Rani sambil menaunjuk ke arah layar laptop.


"Terima kasih untuk pemberitahuannya, namun untuk sekarang kamu fokus ajari Dini terlebih dahulu, agar dia bisa cepat menemukan ide, sehingga toko saya semakin ramai." seru pak Bowo.

__ADS_1


Dengan menekuk muka Kak Rani pun duduk kembali di kursinya, lalu menatap ke arahku, mencari sumber permasalahannya aslinya.


"Kenapa kok mukanya seperti itu, kamu masih nggak suka ya, kalau saya menjadikan dini sebagai pengawas toko usaha kita?" tanya bowo yang terlihat geram.


"Nggak maaf, maaf!" ucap kak Rani sedikit tergagap.


Pak Bowo pun berlalu, dan segera duduk di kursinya.


"Oh ya, kak dini ini laporan keuangan bulan lalu, semuanya sudah dirinci dengan jelas, tinggal bagaimana? Kakak bisa mengembangkan usaha yang hebat ini!" lanjut Kak Rani sambil menunjukkan angka-angka yang tertera di layar komputer.


Akhirnya meski dengan keadaan Malas, karena dia menjalankan tugasnya sebagai karyawan, sekaligus sebagai guru yang sedang mentraining muridnya.


Pukul 16.00. aku pun segera berpamitan pulang, karena tugas mengurus pekerjaan toko sudah selesai,  waktu sip yang sudah habis.


Pukul 17.00. akhirnya aku sampai di depan pintu gerbang kosan  namun tiba-tiba ada yang menarik ku masuk ke dalam mobil, lalu pergi meninggalkan kontrakanku.


"Jangan berteriak! atau pisau ini melukai tubuhmu." Ancam pria bertopeng, yang mendekapku dari belakang, terasa benda tajam yang menempel di leher.


Kejadian itu begitu cepat, sehingga aku tidak sadar dengan apa yang terjadi menimpaku, Kenapa hidupku sesial ini? harus selalu menghadapi masalah masalah berat.


"Kalian mau ngapain?" tanyaku dengan bergetar  karena takut pisau yang ada di Leherku bergerak.


"Hahaha  kamu jangan banyak bertanya, Nikmati saja perjalanan dengan tanpa nikmat!" jawab seorang pria yang duduk di belakang kemudi, matanya terfokus memperhatikan jalan yang akan dilewati.


"Mau dibawa ke mana aku?" tanya aku sambil memperhatikan area sekitar melalui jendela mobil.


"Sudah jangan banyak tanya, atau kamu bisa terluka" ancaman orang yang mendekap tubuhku.


Tring! tring! tring!

__ADS_1


Terdengar suara ponselku yang berbunyi, menandakan ada panggilan masuk. karena sehabis bekerja aku Nyalakan notifikasi suara, takut ada hal yang penting, sehingga aku tidak bisa mendengarnya.


__ADS_2