
Pov Dali
Melihat mereka berpelukan. Aku hanya bisa menatap haru ke arahnya, meski Sebenarnya aku belum paham dengan apa yang terjadi.
Lima menit berlalu, akhirnya pelukan itu, mereka lepaskan. mereka menyusut air mata bahagia, yang membasahi pipi masing masing.
"Pantas saja, Bapak. ketika bertemu denganmu, bapak kayak melihat kembaran Stella, kakakmu!" Ucap pak Bagas sambil melihat dini yang masih tertunduk.
"Maaf Pak, Bu! dan Kak Stella, Dari mana kalian bisa yakin bahwa aku adalah anak kalian?" tanya dini mengeluarkan unek-uneknya.
"Kamu ada kartu tanda pengenal?" tanya stella sambil menatap ke arah dini.
Perlahan Dini pun membuka tasnya, kemudian dia mengambil dompet lalu mengeluarkan isinya, menyerahkan kartu tanda penduduk ke Stella.
Stellah memperhatikan KTP itu, lalu menyamakan dengan kartu keluarga yang ada di tangannya. setelah dirasa cocok, Stella pun menyerahkan kembali KTP milik Dini, serta kartu keluarganya.
"Kartu keluarga ini milik kamu, kan?" tanya Stella sambil menatap ke arah dini.
Dini yang sejak dari tadi terduduk, dia menatap ke arah kakaknya, lalu memperhatikan ke arah fotocofian kartu KK itu.
"Dari mana akan mendapatkan kartu keluarga ini, ini kartu keluarga milik kedua orang tua angkatku?" tanya Dini seolah penasaran, padahal dari tadi stella sudah menjelaskan, bahwa kartu keluarga itu, didapat dari bibinya. yang sedang terbaring sakit di atas ranjang.
"Kamu itu anakku! kamu nggak usah ragu lagi! maafkan Ibu yang tidak bisa menjagamu." ucap Bu Asri yang duduk di samping Dini, sambil mengelus kepala dini yang tertutup hijab.
Dini memalingkan pandangan ke arahku, seolah Dia meminta pendapat dengan apa yang terjadi kepadanya.
"Mungkin memang benar, mereka adalah orang tua kandungmu, yang selama ini kamu cari. untuk lebih meyakinkan, kamu bisa melakukan tes DNA. agar tidak ada keraguan lagi. dan Kita seharusnya bersyukur, karena mungkin ini adalah hadiah pernikahan kita, kamu bisa bertemu dengan keluarga kandungmu." aku memberi pendapat, agar dini tidak merasa bingung.
"Apaaaaaaa! kalian mau menikah?" tanya Pak Bagas melirik ke arahku, dengan Tatapan yang begitu tajam, sehingga membuatku menundukkan pandangan. tak kuasa membalas tatapannya.
"Iya Pak! kita berdua mau menikah, aku mohon kalau kalian benar orang tua kandungku. Aku meminta restu untuk menikahkanku dengan Kak Dali!" ucap dini tanpa merubah sikap, walaupun sekarang sudah diakui oleh salah satu orang kaya sebagai anaknya.
"Kamu seharusnya berbicara sama kami, terlebih dahulu. sebelum mengambil keputusan, yang begitu menentukan hidupmu ke depan." ucap pak Bagas membuat aku semakin menundukkan kepala, rasa minder yang sudah perlahan menghilang. kini muncul kembali.
"Iya Din. sebaiknya kamu berbicara dulu terhadap keluargamu, aku mohon pamit dulu. Aku tidak mau mengganggu kebahagiaan kalian." ucapku sambil berdiri, lalu menyalami semua orang yang ada di situ. terlihat Dini yang matanya sudah sembab, kini dia mengeluarkan air matanya kembali.
__ADS_1
"Kamu harus bahagia, Bukankah ini yang selama ini kamu harapkan. Bisa bertemu keluarga kandungmu, dan hidup bersamanya. kamu jangan meninggalkan kebahagiaanmu kembali! sudah waktunya kamu hidup bahagia, setelah banyak cobaan yang menimpamu" ujarku sambil menatap ke arah Dini. kemudian mencubit gemas pipinya dengan pelan, terlihat air matanya semakin deras mengalir.
Setelah menyampaikan perasaanku. Aku pun berjalan menuju keluar pintu, tak mau mengganggu kebahagiaan mereka. tak ada penolakan dari mereka, membuatku semakin yakin, untuk membiarkan Dini hidup berbahagia dengan keluarga kandungnya.
Sakit memang. namun aku merasa tetap bahagia, ketika orang yang aku cintai, dia hidup bahagia, walaupun tidak bersamaku.
******
Seminggu berlalu, semenjak kejadian di rumah sakit. Aku pun memutuskan untuk berhenti bekerja di cafe milik Stella. aku lebih memilih Cafe yang baru dibuka oleh Aira, meninggalkan tempat yang sudah membesarkan Namaku, mengubur bersama semua kenangan indah, yang ada di dalamnya.
Pukul 18.30. aku pun berpamitan sama Aira, pemilik sekaligus Manager cafee yang baru Ia dirikan. Meminta izin untuk pulang terlebih dahulu, karena sebenarnya aku bekerja di tempat Aira, hanya dari jam 09.00 sampai jam 16.00. namun ketika pelanggan membludak, akupun disarankan untuk lembur, membantu para barista lainnya.
Aira hanya tersenyum, menanggapi permintaanku. dengan tanpa penolakan, dia mengizinkanku, untuk pulang setelah semua pekerjaanku selesai.
Setelah mendapat izin, dari pemilik Cafe tempat kerjaku. aku pun menuju parkiran, lalu mengkick stater motorku, Yang sudah bertahun-tahun menemani perjalanan hidup, yang begitu berliku. setelah motor itu hidup aku pun segera pergi meninggalkan tempat kerja baruku.
Mengendarai motor seorang diri, mengingatkanku terhadap seseorang yang akhir-akhir ini, mengganggu pikiranku. sehingga Aku merasa kangen dengannya, namun semua itu sekarang tinggal menjadi mimpi mimpi yang indah, yang tak akan bisa aku lupakan.
Motor itu terus melaju menuju tempat di mana aku bisa menemukan ketenangan, dari masalah dan cobaan yang menimpaku.
"Seperti biasa, Bang!" pintaku sama waiter, sambil mengangkat tangan memberikan isyarat, bahwa aku sudah datang ke sini.
Aku pun mengangkat jempol tangan, kemudian memilih tempat duduk yang agak sepi dari orang-orang.
Setelah duduk di depan meja lesehan, aku mengeluarkan handphone, untuk mengusir rasa jenuh, sembari menunggu pesananku datang.
Aku membuka galeriku melihat foto-foto yang ada di ponselku, ternyata masih banyak foto-foto dini, dibandingkan dengan foto aku sendiri.
Apalagi foto ketika berada di Monas, foto Dini kala itu sangat banyak. karena Dia meminta aku memfotonya, sebanyak mungkin. Untuk menjadi kenangan, bahwa dia pernah ke Monas.
Mengingat kejadian waktu di Monas, membuatku tersenyum kembali mengingat kenangan yang begitu indah bersamanya. meski dulu aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku, namun aku selalu rindu dengannya, karena menurutku rasa cinta tidak harus diucapkan, hanya bisa dirasakan.
"Mau pesan apa, Mbak?" tanya waiter yang berada di belakangku.
Aku yang sejak dari tadi memperhatikan ponsel, tak acuh dengan keadaan sekitar. sehingga tidak menyadari bahwa di kursi belakang , sudah ada orang yang duduk, dan lagi memesan makanan.
__ADS_1
"Biasa dua porsi pecel ayam." jawab suara seorang wanita yang tak asing di telingaku.
Namun aku tidak terlalu memikirkannya, karena mungkin ini adalah halusinasi, ketika kita mengharapkan seseorang itu hadir kembali, dalam kehidupan yang sudah jauh darinya.
"Oooooooooooh! jadi lebih memilih fotonya, dibanding orangnya langsung? ucap seorang wanita yang di belakangku, membuatku merasa kesal, karena diganggu olehnya. Karena tak sepantasnya dia mengintipku.
Dengan cepat aku palingkan wajahku, untuk melihat Siapa orang yang berani berbicara seperti itu, berani mengganggu khayalanku yang begitu indah.
"Dini!" Desisku tertahan, seolah tidak percaya, bahwa orang yang berada di hadapanku, adalah orang yang sedang kupandangi fotonya.
Dini hanya tersenyum manis, sambil menatap ke arahku. terlihat nampak perbedaan yang begitu mencolok, semenjak kita berpisah di rumah sakit. sekarang Dia terlihat lebih segar, dan lebih cantik. apalagi di Balut dengan gaun yang begitu mahal, sehingga membuatnya semakin terlihat cantik, dan elegan. bak Bidadari yang baru turun ke bumi.
Gaun merah marun, dengan berbagai hiasan di dadanya. dilengkapi balutan hijab yang Senada dengan bajunya, membuatku merasa agak pangling ketika melihatnya.
"Beda ya! kalau sudah menjadi anak orang kaya!" ujarku mencairkan suasana agar tidak terlalu canggung.
"Ah, kakak! bisa saja, boleh gabung sini! atau aku yang gabung ke sana?" tanya Deni sambil memberikan senyum termanisnya, senyum yang seminggu ini tidak aku lihat.
Dengan cepat aku pun bangkit, lalu duduk di hadapan Dini, agar bisa menatap dengan leluasa bidadari cantik yang berada di hadapanku.
"Kamu apa kabar?" Mulutku bertanya, namun mataku tetap menatap ke arah wajahnya, membuat,m wajahnya memerah seperti tomat.
"Matamu Kak! kayaknya harus dibawa ke sekolah, biar gak jelalatan seperti itu!" ujar Deni tidak menjawab pertanyaanku, dia lebih memilih mengomentari sikapku yang kurang ajar.
Dengan rasa malu aku pun menundukkan pandangan, menatap ke arah meja yang dibungkus oleh stiker minuman botol, tak berani lagi menatap ke arahnya.
"Kakak! sekarang kerja di mana? sudah seminggu aku terus mencari Kakak! aku mencari kekosan yang lama, Namun kata pemilik kosan Kakak sudah pindah?" terdengar suara dini bertanya lagi.
"Aku sekarang kerja di tempat Aira, masih sama berhubungan dengan barista!" jawabku sambil tetap menundukkan pandangan, Entah mengapa bisa seperti sekarang. biasanya aku yang suka meledeknya. namun sekarang keberanianku seolah menciut. ketika aku mengetahui bahwa dia sudah menjadi anak orang kaya. atau aku takut salah berbicara, sehingga dia pergi menjauh kembali.
"Oooooooooh!" tanggapan Dini sambil mencembungkan pipinya, sehingga membuatnya terlihat begitu lucu, dan menggemaskan.
"Oooooooh juga! mau apa kamu mencariku? Padahal kan bisa menghubungiku lewat telepon." Tanyaku mengingat kembali pernyataannya yang baru ya keluarkan.
"Makanannya Bang!" ucap seorang waiter, sambil menyimpan pesanan yang kita pesan di meja lesehan. membuatku sedikit merasa kesal, karena dia mengantarkan pesananku, waktunya tidak tepat.
__ADS_1
"Kok kamu nggak menjawab?" susul pertanyaanku mengulang.
"Kalau lagi makan tidak boleh mengobrol, kita harus menghormati makanan itu, dengan cara menikmatinya!" ucap dini seolah tak acuh, kemudian ia mengambil nasi pesanannya. dengan muka datarnya, Dia mulai menyuap nasi yang berada di hadapannya.