Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 26 TAK SEINDAH MIMPI


__ADS_3

Pov dini


Trok! Trok! Tok!


"Din, dini. bangun, Din. Bentar lagi subuh" ujar Kak Dali membangunkanku, sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar.


Aku menggeliat mengumpulkan lelembutanku, yang masih tertahan di alam mimpi, "iya, kak. aku sudah bangun" jawabku berteriak, agar dia bisa mendengarnya.


"Ya sudah, kalau udah bangun. Aku mau ke masjid dulu ya!" ujarnya, yang terdengar dari luar kamar.


Setelah memastikan dia pergi. ku raih ponselku, untuk melihat jam yang ada di dalamnya  ternyata masih 10 menit lagi ke waktu subuh tiba.


"Huh, Masih 10 menit lagi juga, ngebanguninnya sudah kayak ngebangunin orang yang sudah kesiangan" gumamku, sambil membaringkan tubuh kembali,  lalu kutarik selimut karena ac-nya terasa dingin.


10 menit kemudian, terdengar suara adzan di masjid.dengan malas, kubangunkan tubuhku, untuk menuju kamar mandi, mengambil air wudhu, menjalankan perintah-Nya, sebagai makhluk hidup yang ditugaskan untuk beribadah.


Seusai salat subuh, aku pergi ke dapur merebus air,  membuatkan kopi untuk kak dali.


"Lagi ngapain, Din." tanya Kak dali yang baru pulang dari masjid, terlihat dia mengenakan Koko dan sarung dihiasi peci di kepalanya.


"Bikinin kopi buat kakak" jawabku malu-malu seperti anak gadis lainnya.


"Wah, mantap banget, nih. kebetulan aku bawa bandros, buat kita sarapan" ucap Kak Dali, sambil mengangkat plastik yang ada di tangannya.


"Ya, sudah. Kakak tunggu di depan ya" pintaku, yang sedang menuangkan air panas ke gelas yang sudah terisi kopi.


Setelah kopi itu diaduk, kubawa ke ruang tamu, untuk disuguhkan ke Kak Dali.


"Sini! Duduk di sampingku" ajak Kak dali, sambil menepuk kursi sofa yang ada di sebelahnya.


"Di sini aja, Kak." jawabku menundukkan pandangan.


"Sini!, aku mau ngomong serius sama kamu"  paksanya menepuk kembali sofa yang ada di sampingnya.


Dengan perlahan, aku pun bangkit mengikuti permintaan kak dali, duduk berdampingan dengannya.


"Mau ngomong apa, Kak?" Tanyaku sambil menatap kedua bola matanya yang indah.


"Kamu mau nggak, jadi istriku. jadi pendampingku, seumur hidup, sampai maut memisahkan kita" tanya Kak Dali, dengan  tiba-tiba, membuat mataku terbelalak kaget, dengan apa yang dinyatakannya.

__ADS_1


"Mau, nggak?" Kak Dali mengulang pertanyaannya.


Ketika aku hendak menjawab, lidahku menjadi kelu, tak bisa mengucapkan apapun. rasanya tercekat di kerongkongan, seperti orang yang bisu.


"Din, Dini,  Kok diam, bangun Din" suara kak dali, sambil menggoyah-goyahkan tubuhku.


Aku tergagap.


"Bangun Heh, bangun. salat subuh dulu. Nanti kalau sudah salat, Kamu lanjut lagi tidurnya" seru kak dali yang membuatku merasa aneh ,kenapa dia tiba-tiba berkata seperti itu, padahal, tadi dia, dengan serius mengajakku menikah.


"Bangun, nggak. Kalau nggak aku siram pake air" ancam suara Kak Dali, membuatku terperanjat terbangun dari tidurku.


"Bangun ,salat dulu, kalau udah salat Kamu lanjut lagi tidurnya" perintah Kak Dali, setelah melihat mataku yang terbuka menatap ke arahnya.


"Jadi, aku tadi" aku menghentikan ucapanku, sadar bahwa tadi itu hanya mimpi. Ternyata setelah mengecek jam, pas kak dali membangunkanku,  aku belum terbangun sama sekali, malah terbawa kembali kealam mimpi indah.


"Jadi apa?" tanya Kak Dali, sambil menatap heran ke arahku.


"Nggak apa-apa. kok, kakak. bisa masuk ke ke kamarku" aku mengalihkan pembicaraan menyembunyikan rasa kekecewaan.


"Orang pintunya, kamu nggak kunci" jawab Kak Dali, membuatku mengingat kejadian semalam, di mana aku buru-buru membaringkan badan, karena kesal dia tidak jadi menc1umku.


"Udah kamu salat dulu, nanti kita sarapan bareng, kebetulan tadi di masjid ada yang jualan bandros, kamu suka bandros gak?"


"Suka, Kak. nanti aku bikinin kopinya" ujarku Semangat, setelah mendengar kata bandros, siapa tahu saja Mimpi tadi itu bisa jadi kenyataan.


"Nggak apa-apa, aku yang bikin kopinya, sekalian kamu mau dibuatin teh, nggak?" tolaknya sambil menawarkan.


"Jangaaaaaaaan, biar aku aja yang bikin kopinya, Kakak duduk aja di sofa, Tunggu aku salat dulu"


"Kenapa, kok gitu" tanyanya dengan heran.


"Pokoknya, Kakak duduk, nanti setelah salat, aku  bikinin kopi spesial untuk kakak"  pintaku yang mulai merajuk.


"Ya sudah, salat dulu sana.


"Tapi, Kakak janji dulu, biar aku yang bikinin kopinya: pintaku memelas.


"Tapi, Kenapa. Lagian aku juga bisa bikin sendiri"

__ADS_1


"Pokoknya Kakak, duduk diruang tamu, kalau nggak, aku akan marah" ancamku, sambil berlalu menuju kamar mandi, untuk mengambil air wudhu, menjalankan perintah-Nya, sebagai makhluk hidup yang diwajibkan beribadah.


Seusai salat, dengan perasaan senang yang tak terlukiskan, dengan semangt aku membuatkan kopi untuk Kak Dali. tak lupa, sekalian membuat teh untukku. seusai Minuman itu jadi. aku membawanya ke ruang tamu, di mana kak dali sedang menunggu.


"Nih, kopinya, Kak." tawarku, sambil menaruh gelas kopi di atas meja.


Denga Sigap kak dali membuka bungkusan bandros, yang baru ia beli. kemudian dia mengambil satu potong, lalu memasukkan ke dalam mulutnya, terlihat Dia sangat menikmati setiap kunyahannya. setelah habis makanannya yang ada di mulut, lalu disusul dengan menyeruput kopi panas buatanku.


Aku hanya menatap ke arahnya, menunggu dia memanggilku, untuk duduk di sampingnya. seperti yang terjadi dalam mimpiku tadi, namun harapan tinggal Harapan, dia tetap cuek, seperti bebek yang tak acuh dengan keadaan sekitar.


"Kenapa kamu gak makan, ayo makan! mumpung masih anget" tawarnya sambil mendekatkan box berisi bandros itu, membuyarkan lamunanku.


Aku hanya menelan saliva, tak menyangka dia hanya menawarkan bandros, bukan menawarkan untuk duduk di sampingnya.


"Kenapa diam, Nanti keburu habis, loh." tawarnya memaksa.


"Kakak, nggak menyuruhku duduk di situ" pertanyaan b0doh itu kulontarkan, sambil menunjuk kursi sofa yang ada di sampingnya.


Merasa ada kekeliruan dengan pikiranku, yang masih terhipnotis oleh mimpi, dengan cepat Aku tutup mulutku agar tidak ke telanjuran.


"Oh, kamu mau duduk di sini, Kenapa dengan kursi kamu, kurang empuk ya, pasti masih sakit bekas semalam terjatuh" tanyanya sambil menatap ke arahku, membuat aku semakin gelagapan, nggak tahu harus bertingkah seperti apa.


"Enggak, kak. bukan itu, aku mau bandros" Aku menjawab, dengan panik lalu mengambil bandros, untuk dimasukkan ke mulutku, sehingga membuatku tersendat.


"Pelan-pelan makannya, masih banyak kok" ujarnya, sambil membungkukkan badannya, untuk mengambil gelas teh manis.


Tapi dengan cepat, aku mengambil gelas itu, karena tenggorokanku benar-benar tercekat dengan bandros itu.


"Hati-hati, panas." Kak Dali mengingatkan, namun sayang air itu, sudah masuk kemulut, membuatku membulatkan mata, lidahku terasa sangat panas. mau kumuntahkan kembali air itu, tapi itu tidak mungkin, aku akan semakin kelihatan b0doh di hadapannya. dengan terpaksa, akhirnya aku tetap menelan air itu, meski dengan memejamkan mata denga erat.


"Kamu kenapa, sih. aneh banget" tanya Kak dali, yang menatap heran ke arahku.


"Nggak apa-apa, Kak.maaf," jawabku, yang terdengar kurang jelas, karena indra pengecap ku yang sedang kepanasan.


"Kepanasan, kan. Makanya kalau makan itu, pelan-pelan saja" ujarnya, sambil berdiri, menuju dapur. tak lama ia kembali dengan membawa kotak es batu, kemudian Iya meremasnya agar mudah untuk diambil.


"Nih kemut es batu, Biar lidahmu tidak terlalu panas" serunya sambil menyerahkan kotak es batu.


Walaupun malu, aku tetap mengambilnya. karena lidahku benar-benar terasa panas sekali.

__ADS_1


Dengan perlahan kemasukan bongkahan es itu ke mulut, untuk mendinginkan lidahku, sekaligus mendinginkan perasaanku, yang sadar. bahwa hidup itu tak seindah mimpi.


__ADS_2