Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 42 SEBENARNYA


__ADS_3

Pov dali


"Iya, ada apa, Pak? Tanyaku sama satpam itu setelah menjauh dari tempat duduk dini.


"Maaf pak Dali, saya disuruh non Stella, agar bapak bisa membantunya!" jawab Pak satpam ambigu, membuatku mengerinyitkan dahi, tidak mengerti apa yang dia maksud.


"Maaf, membantu apa ya?" aku semakin penasaran.


Satpam itu tidak menjawab, Dia hanya mengeluarkan kotak merah berbentuk cinta. lalu diserahkan ke arahku, membuatku semakin bingung, dengan apa yang terjadi sebenarnya.


"Maksudnya apa, Pak?" aku mengulang terus pertanyaan, untuk mendapat kejelasan.


Namun satpam itu belum mau menjawab, terlihat air mata yang mengalir di pipinya, membuatku semakin merasa heran, sebenarnya ini ada apa, sampai-sampai satpam itu menangis seperti itu, karena biasanya laki-laki tidak akan menangis. kecuali ada masalah yang sangat berat sedang ia hadapi.


"Sebenarnya ada apa, Pak? tolong cerita! biar saya bisa membantu, sebisa saya!" tanyaku sambil terus menatapnya.


"Sebelumnya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. mungkin saya tidak harus merepotkan orang lain, dengan masalah yang sedang saya hadapi."ujar Pak satpam dengan tersedu


"Iya, ada apa!" aku dengan sabar menenangkan pria yang seumuran denganku itu.


"Anak saya sekarang sedang dirawat di rumah sakit, untuk operasi tumor di kepalanya." ucapan Pak satpam terhenti, lalu ia terlihat mengambil napas, agar kuat menghadapi kehidupan yang sangat rumit. Sehingga aku saja yang mendengarnya dari tadi tidak sabar.


"Bapak, butuh biaya untuk pengobatan anak bapak di rumah sakit. itu bukan, Pak. maksudnya?" Tanyaku menebaknya.


Satpam itu mengangguk, tanda membenarkan pendapatku.


"Dirumah sakit mana pak?" Lanjutku menanyainya.


"Di rumah sakit Pusat Pak" jawabnya sambil mengusap air mata yang terus mengalir dipipinya.


"Ya sudah, besok saya mampir ke situ. Kebetulan saya ada uang tabungan, tidak banyak. semoga itu bisa membantu bapak, nanti saya minta nomor handphonenya." jawabku dengan jujur, mengingat tabunganku sudah tidak ada, karena dipakai membeli rumah sekaligus merenovasinya.


"Maaf Pak, bukan begitu maksudnya" ujar satpam itu tergagap.


"Emang biaya operasinya berapa?"

__ADS_1


"200 jutaan, Pak. saya sudah berusaha sebisa mungkin, bahkan sudah menggadaikan rumah ke bank, namun itu semua tidak cukup, hanya mampu untuk menutupi kebutuhan obat-obatannya, yang begitu mahal." jelas pria berseragam putih biru itu.


"Ya Allah, banyak amat, Pak. uang tabunganku paling ada 30 jutaan." jawabku yang merasa kaget mendengar penjelasan pria itu.


"Maaf, Pak. saya bukan mau minta bantuan itu, namun melihat kebaikan bapak, saya merasa tidak enak untuk menyampaikanya!"


"Terus Bapak, mau bagaimana. terus apa hubungannya dengan kotak merah itu?" Tanyaku mengerutkan dahi.


"Non Stella, Pak."


"Kenapa dengan Stella?" Aku semakin dibuat heran dengan satpam yang ada dihadapanku.


"Non stella, menyuruhku, untuk meminta Bapak menjadi pacar bohongannya, untuk malam ini saja. agar dia tidak kehilangan muka di hadapan teman-temannya. kalau aku berhasil membujuk bapak, dia berjanji akan menanggung biaya rumah sakit anak saya, tapi sebelumnya saya mohon maaf, maaf banget." jelasnya sambil mengeluarkan air mata kembali, Mungkin dia merasa tidak enak dengan apa yang dia minta.


"Ngomong dari tadi! jadi nggak harus ada drama-drama seperti ini. itu urusan gampang!" jawabku sambil tersenyum, membuat pria itu menatap nanar ke arahku, sambil mengusap pipinya yang dikuasai oleh air bening.


"Serius Bapak, mau?" tanya Pak satpam memastikan.


"Gampang! Sebentar ya, saya mau izin dulu, sama teman, takut dia menunggu lama." jawabku sambil melirik ke arah dini.


Namun ketika Aku hendak menemui Dini, tiba-tiba Stella datang menghampiri, lalu menarikku untuk masuk ke dalam, diikuti oleh satpam, menurut stella sebentar lagi, acara potong kue akan segera dimulai.


Stella terus menarikku, menaiki ke atas panggung, untuk memulai acara memotong kue.


Potongan kue pertama, dia suapkan kepada Pak Bagas, dan Bu Asri. Kemudian mereka pun berpelukan, sambil terus menciumi Stella, mendo,akan anak semata wayangnya. menjadi anak yang hebat, anak yang terbaik.


Tibalah dia menyuapi potongan kue lainnya, ke arahku. rasanya mau menolak, namun mengingat kesedihan satpam tadi. aku terpaksa membuka mulut, memakan kue yang disuapi Stella. akhirnya terdengar tepuk tangan yang sangat meriah.


"Wah, Kakak ini sangat beruntung sekali, karena dia mendapatkan potongan kue pertama, setelah kedua orang tua kakak Stella! kira-kira apa ya hadiah ulang tahun dari pria spesial ini!" tanya MC.


Aku hanya memindai ruangan itu, mencari keberadaan dini. takut dia salah paham, dengan apa yang sekarang aku lakukan. namun aku tidak menemukannya, dia mungkin masih di halaman samping.


"Jangan buat tegang gini dong, kita menunggu nih!" ujar MC memecahkan suasana canggung itu, membuatku tersadar seketika.


Dengan malas, aku Keluarkan kota pemberian Pak satpam, dari kantong Celanaku. Lalu membukanya, terlihat di dalamnya, ada Dua Cincin yang sangat cantik, mungkin harganya setara dengan rumah yang aku beli.

__ADS_1


"Pasangkan! pasangkan!"


teriak para tamu undangan menghipnotisku, dengan perlahan aku pun mengambil cincin yang ukurannya agak kecil, lalu memasangkan di Jari Manis stella. cincin itu sangat pas, menambah kecantikannya malam ini.


Begitupun setela, dia memasangkan cincin untukku, meski Sebenarnya aku tidak suka memakai cincin, karena menurutku itu hanyalah perbuatan perempuan, bagi pria tidak harus seperti itu. Apalagi cincin yang dipasangkan stella itu cincin emas.


Setelah cincin itu melingkar di jari manis kita berdua. tepuk tangan pun memenuhi ruangan itu, namun pandanganku terus memperhatikan ke arah para tamu undangan, untuk mencari keberadaan dini.


"Angkat tangannya, Mas! biar kita foto dulu." Ujar salah satu fotografer, menyuruhku mengangkat tangan, menirukan sepasang kekasih yang sudah melakukan pertunangan.


Sesi foto pun selesai. Aku hendak pergi meninggalkan tempat itu, namun stella memegang  tanganku. "Tolonglah! untuk malam ini, jangan buat aku malu! di hadapan semua para tamu undangan, Anggap saja Kalau kamu tidak suka denganku, kamu sedang menolong satu nyawa anak kecil yang tidak berdosa!" ancam stella dengan berbisik, membuatku mendengus kesal dibuatnya. namun aku tidak bisa berbuat apa-apa, mengingat keadaan uangku sekarang, yang tidak akan mampu membantu.


Terlihat beberapa temannya menghampiri memberikan selamat kepada kita berdua.


"Kapan nih, pernikahannya?" tanya seseorang yang menghampiri.


"Doanya saja, yah! biar secepatnya." jawab Stella sambil tersenyum.


"Wih, kamu Beruntung banget, calon kamu gantengnya kelewatan, Aku juga mau jadi yang kedua." Canda salah seorang teman Stella.


"Ngaco, aja! kayak nggak ada cowok lain." dengus stella dengan kesal.


Acara pun semakin meriah, apalagi stella mengundang Band musik ternama, di Indonesia. sehingga membuat para tamu undangan berteriak, kegirangan bisa menyaksikan artis Sedekat Itu.


Aku dan Stella pun diajak bernyanyi bersama mereka, menikmati malam yang sangat lambat. karena aku khawatir dengan keberadaan Dini, khawatir ada yang mengganggu dia lagi.


Pukul 23.00. akhirnya para undangan pun mulai pulang kembali ke rumahnya, menyisakan beberapa teman dekat Stella.


"Aku pulang dulu, ya!" izinku sambil berbisik.


"Nanti dulu, apa. kita ngobrol-ngobrol dulu, sekalian berkenalan dengan circle ku, biar nanti kamu nggak heran, ketika kita sudah menjadi pasanganku." ujar stella sambil tersenyum, sambil terus mengadeng lenganku, seperti prangko yang menempel di amplop.


"Iya. buru-buru amat, lagian kan besok hari Minggu. pasti libur, kan.  jangan kerja melulu, nanti cepat kaya!" ujar salah seorang teman Stella sambil tertawa.


"Emang kerja di mana?"  susul teman yang satunya lagi.

__ADS_1


"Dia pemilik salah satu Cafe berlogo duyung kembar, yang ada di Mall Thamrin, tempat aku bekerja. bahkan dia memiliki usaha-usaha lainnya!" jawab Stella yang membuatku merasa kesal, karena kenapa harus berbohong. Cukup hubunganku sama dia aja yang pura-pura, Jangan sampai mengganggu kehidupanku.


"Oh jadi ini, bos yang kepincut sama karyawannya. So sweet banget, sih!" Ujar seorang wanita memuji Stella


__ADS_2