
Pov dini
Kak Dali dengan santainya berjalan, untuk kembali ke kamarnya. melewati ku yang sedang berdiri di ambang pintu dapur, tercium wangi tubuhnya membuatku semakin gelagapan.
"Kak" panggilku dengan pelan, masih menutup mata, dengan jari tangan yang sedikit direnggangkan.
"Kenapa Din?" jawab Kak Dali, sambil membalikkan badannya.
"Tubuh kakak, lebam-lebam seperti itu, mau aku obati dulu nggak?" tanyaku, mengeluarkan pertanyaan b0doh, kenapa aku bisa jadi salah tingkah seperti ini, merasa ada kekeliruan yang kuucapkan, dengan cepat Aku menutup mulut.
Tubuhnya yang lebam, mungkin karena kena pukulan. ketika dia menyelamatkanku, dari perbuatan keji kak dani.
"Nggak usah, aku baik-baik aja kok, mendingan kamu mandi saja" pinta Kak Dali, sambil melanjutkan langkah menuju kamarnya.
Aku memukul mukul kepala, beberapa kali, agar bayangan tubuh Kak Dali Cepat pergi dari otaku.
"Kok aku jadi eror begini, gawat, gawat, apa jangan-jangan" aku cepat buru-buru berjalan, menuju kamar mandi. tidak melanjutkan gumamanku.
Sesampainya di kamar mandi, aku buka seluruh pakaianku, lalu mencucinya. karena sudah menjadi kebiasaan, ketika mandi pasti sambil mencuci, biar cucian itu tidak menumpuk. karena kalau sudah menumpuk, suka malas untuk mencucinya.
Selesai mencuci, terdengar suara alat dapur yang sedang beradu, ditambah wangi harum nasi goreng, yang semerbak memenuhi ruangan. membuat ususku menggeliat meminta diisi. Dengan cepat aku selesaikan acara mandiku.
Namun, ketika aku sudah selesai. dan mengelap tubuhku dengan handuk. aku baru sadar, lupa tidak membawa baju ganti, aku merasa bingung, karena kalau keluar, hanya dengan menggunakan lilitan handuk, untuk menutupi tubuh. itu sama aja Bundir di hadapannya.
Trrok
Trrok
"Din, kamu nggak apa-apa, kan." tanya Kak Dali, dari luar kamar mandi. Mungkin dia khawatir karena aku tidak keluar keluar.
Aku tidak menjawab, hanya Diam Terpaku menatap daun pintu, yang sedang diketuk, bingung harus berbuat apa, Masa aku harus bilang, aku lupa bawa baju. nanti otaknya berjalan ke mana-mana.
Melihat tidak ada jawaban, handle pintu kamar mandi pun diputar-putarnya, sambil terus memanggil-manggil Namaku, membuatku semakin kalang kabut.
"Iya, iya, kak." jawabku dengan nada suara keras, agar Kak Dali bisa mendengar, dan menghentikan niat untuk membuka pintu kamar mandi.
"Kamu ngapain di dalam, lama banget" tanya Kak dali, terdengar suara keheranannya.
"Kakak, boleh nggak? masuk ke kamar Kakak dulu," pintaku memberanikan diri, tak menghiraukan pertanyaannya.
"Emang kenapa"
__ADS_1
"Aku lupa bawa pakaian ganti, bajuku sudah dicuci semua" dengan terbata-bata aku menjelaskan, walau sebenarnya aku tidak mau mengungkapkan itu. tapi aku tidak punya cara lagi, untuk cepat keluar dari kamar mandi.
"Ya udah, kamu tunggu bentar, biar aku ambilin, yah." saran Kak Dali berniat membantuku.
"Jangaaaaaaaaaan!" kak tolak aku dengan cepat, karena tidak mau, dia mengetahui pakaian pakaian kebesaranku.
"Emang kenapa" dia belum ngulang pertanyaan itu, untuk yang kedua kali. Seperti anak kecil, yang selalu mengulang-ngulang pertanyaannya.
"Pokoknya, aku minta tolong sama kakak, masuk dulu ke kamar, pleaseeeee!" Pintaku mengiba.
"Iya, iya, nanti kalau sudah, kamu kabarin ya, kita makan bareng" gerutu Kak Dali, yang terdengar suara sendalnya, pergi menjauh dari kamar mandi.
Setelah dirasa cukup aman, dengan pelan aku membuka pintu kamar mandi, memastikan bahwa keadaan ini benar-benar aman, tidak ada yang berada di ruangan dapur.
Meliihat ruang dapur tidak ada siapa-siapa, aku deng cepat berlari menuju kamar, dengan hanya memngunakan handuk, yang menutupi bagian dada sampai paha.
Aggrrrrthhhhh!!!!!
Kakiku yang masih basah dengan air, membuat lantai yang kupijak, terasa licin. sehingga aku terpeleset. tubuhku terpelanting ke belakang. aku terjatuh, dengan posisi bagian pant4tku bagai tumpuan, Rasanya sakit banget, ketika pant4tku bersentuhan dengan lantai.
Cklekk!!!
"Jangan, Jangan, ke sini!" bentakku melarangnya, sehingga dia berhenti seketika, namun matanya tidak terlepas memandangi tubuhku yang masih terduduk.
"Ngapain diam, udah masuk lagi ke kamar!" seruku, sambil terus membenarkan posisi handuk.
"Kamu emang nggak apa-apa" tanyanya sambil menutup mata, dengan jari tangan yang sedikit direnggangkan, mengikuti apa yang aku lakukan, tadi. ketika melihatnya.
"Nggak apa-apa, nggak apa-apa, gimana, buruan Cepat masuk" teriakku dengan kesal, melihat dia masih berdiri menikmati tubuhku.
Dengan pelan, Dia membalikkan tubuhnya, untuk kembali ke kamar, namun kepalanya masih tetap melihat ke arahku.
"Buruan!" aku membulatkan mata, karena kesal melihat kelakuannya yang tidak bisa diatur.
"Tubuhmu, bagus, putih," ucapnya, sambil terkekeh, lalu menutup pintu kamarnya.
"Aduhh" gumamku, setelah kak dali, Tak Terlihat Lagi. rasa sakit di bagian pantat, kembali terasa, membuatku meringis menahan itu.
Dengan perlahan, aku bangkit. lalu masuk kamar dengan terbopoh-bopoh, setelah berada di kamar, pintunya Aku tutup. lalu menghampiri lemari. mengambil baju, untuk segera menutup tubuhku, yang hanya tertutup oleh handuk.
Setelah selesai mengganti baju, lengkap dengan balutan hijab di kepalaku. pintu kamarku diketuk kembali.
__ADS_1
"Kamu nggak apa-apa kan" selalu itu yang ia tanyakan, nggak tahu maksudnya apa. apa memang benar-benar dia mengkhawatirkanku.
"Iya Kak, sebentar" Aku menjawab, sambil berjalan berjinjit, untuk membukakan pintu.
"Cantik" gumam Kak Dali, dengan pelan, namun. aku bisa menangkap apa yang dia ucapkan.
"Yah, kenapa, Kak." Tanyaku, sambil menaikkan kedua alis.
"Nggak apa-apa. makannya mau di dapur, atau mau dibawain ke sini" tawar Kak Dali, memberikan pilihan.
"Di dapur aja, Kak." jawabku, yang merasa tidak enak, jika harus dilayani seperti Ratu, sampai-sampai makanan aja harus diantar ke kamar.
"Ya, sudah. ayo kita makan" ajaknya, sambil berlalu pergi meninggalkanku.
Dengan tertatih-tatih, Aku menuju ruang dapur, terlihat Kak dali, sedang menuangkan nasi goreng ke dalam piring.
"Kamu masih sakit, ya." tanyanya, sambil memalingkan bola mata, menatap ke arahku.
"Nggak, Kak. jawabku sambil mendekati meja makan.
Setelah nasi goreng berada di piring ,Kak Dali menambahkan telur dadar di atas nasi goreng itu.
"Ayo, duduk" seru Kak Dali, yang udah duduk duluan.
"Aduh" lirihku, ketika pant4tku bersentuhan dengan kursi, rasa sakit karena terjatuh belum hilang, sehingga membuatku meringis.
"Kamu kenapa? kursinya keras, ya." perhatiannya, sambil bangkit. "Kamu tunggu dulu sebentar, jangan duduk dulu!" lanjutnya, sambil bergegas menuju ke ruang tamu, tak lama ia kembali dengan membawa bantal sofa.
Lalu dia menyimpan bantal sofa itu, di kursi yang akan aku duduki, sebagai alas, agar aku tidak terlalu sakit ketika mendudukinya.
"Terima kasih, Kak" ujarku, sambil menatap nanar ke arahnya, diperlakukan spesial itu, rasanya seperti nano nano, ramai rasanya.
Dia hanya mengulum senyum, lalu kembali ke tempat duduknya, untuk melanjutkan makan, yang belum dimulai.
"Maaf, hanya nasi goreng, soalnya belum sempat masak"
"Nggak apa-apa, Kak. terima kasih banyak" hanya itu yang ku ucapkan, tidak tahu harus berkata apalagi.
Seperti biasa, ketika dia makan. dia tidak akan menghiraukan keadaan sekitar, kak dali akan terfokus dengan makanan yang ada di hadapannya. Dan dengan perlahan kucoba memasukkan nasi ke mulut, rasanya sangat nikmat. nikmat banget. ketika aku mengunyah nasih goreng, tak menyangka dia, bisa membuat nasi goreng seenak ini.
Perlahan tapi pasti, akhirnya. nasi goreng itu, Hanya menyisakan piring sama sendoknya. Tadinya mau dihabiskan, tapi aku ingat, aku bukan kuda lumping.
__ADS_1