Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 18 MENIJAU LOKASI


__ADS_3

Pov dali


Setelah aku mengambil Tas, yang kusimpan di loker. Aku buru-buru menghampiri Aira, yang sudah lama menunggu di meja pelanggan.


"Pekerjaannya sudah selesai" tanya Aira menatapku.


"Sudah, ayo kita berangkat!" jawabku, mengajaknya untuk segera pergi.


Aira hanya mengangguk sedikit, kemudian dia bangkit dari tempat duduknya, untuk pergi bersama menuju lokasi yang akan dijadikan Cafe. Kita berdua berjalan beriringan menuju basement, di mana. tempat mobil aira terparkir.


Sesampainya di tempat parkir, aku mengikuti Aira masuk ke dalam mobilnya. sesudah kita duduk dengan nyaman, Aira mulai menginjak pedal gas, pergi meninggalkan Mall tempatku bekerja.


Berduaan di mobil membuatku Canggung, Apalagi pertemuan pertama. Aku hanya duduk di samping kemudi, Membuatku menjadi salah tingkah, karena. aku bingung tak tahu harus berbuat apa.


"Emang lokasinya di mana?" tanya aku, memecahkan heningnya suasana, untuk menyembunyikan kekakuanku.


"Di Menteng, dekat Plaza Indonesia: jawab Aira sambil terus memperhatikan arah jalan.


"Ruko apa tempat biasa" Tanyaku sambil melirik ke arahnya.


"Kata Papa, tempat itu bekas restoran, yang sudah lama tutup" jawab Aira.


"Wah, Bagus dong, berarti kita tidak harus melakukan banyak perombakan" ucapku kagum.


"Belum tahu juga sih. Karena aku belum sempat melihat tempatnya secara langsung," sanggah Aira sambil mengangkat kedua alisnya.


"Terus, nanti. bagaimana kita menemukan lokasinya" tanyaku mengerutkan dahi, mengingat Aira juga belum tahu tempat yang akan kita tuju.


"Tuh, ada itu," jawabnya sambil menunjuk ponsel dengan bibirnya yang dimonyongkan.


"Cerdas" ujarku sambil menunjukkan senyum penuh kekaguman.


"Iya dong, aira gitu loh" jawab Aira dengan bangga, terpampang senyum indah di wajahnya membuatnya terlihat manis.


Suasana pun Hening kembali, tidak ada kata yang keluar dari mulut kita, mungkin karena kehabisan topik pembicaraan, atau sama-sama canggung karena baru pertama berjalan berdua seperti ini, walau dalam urusan pekerjaan tapi rasa kaku itu pasti ada.


"Tadi pacarnya, ya." tanya Aira sambil melihatku dengan sudut matanya.


"Yang mana" aku balik bertanya, untuk memastikan.


"Yang tadi itu loh, yang bekerja bareng kamu" Aira memperjelas pertanyaannya.


"Stella" tanya aku memastikan.

__ADS_1


"Mungkin" tanggapannya singkat sambil menaikan kedua bahunya.


"Oh itu cuma teman kerja, sama seperti temen temen yang lainnya" jawabku memberi penjelasan.


"Terus pacarnya yang mana" tanya Aira penuh selidik.


"Entah, nggak tahu yang mana, mungkin Masih dijaga orang tuanya" jawabku sambil mengulum senyum.


"Oooooooh" ujarnya sambil membulatkan bibirnya.


Semakin lama obrolan kita, semakin nyambung, meski masih terasa sangat kaku, tapi ini sudah sangat bagus, sebagai permulaan untukbmenjalin hubungan bisnis, karena ketika kita bekerja, kita harus tahu partnernya seperti apa, supaya komunikasi berjalan dengan baik.


Mobil yang kita kendarai, berhenti di sebuah bangunan yang sudah lama tak terurus, terlihat dari rerumputan yang tumbuh menjamur di area parkirannya.


"Kamu yakin ini tempatnya" Tanyaku memastikan.


"Menurut Map, sih. begitu," jawab Aira sambil melepaskan panbel dari tubuhnya.


kita berdua turun dari mobil, menginjakkan kaki di paving block, yang bagian permukaanya sudah tertutup ke rumputan, kemudian Aira berjalan di di depan menuju pintu bangunan, yang sudah penuh dengan coretan coretan orang yang tidak bertanggung jawab.


Setelah kita masuk ke ruangan utaman restoran, bau Debu pun menyeruak memenuhi rongga hidungku, sehingga aku menutupnya dengan tangan. ku pindai semua sudut yang ada ruangan ini, terlihat kaca yang menguning tebal dipenuhi dengan Debu, kursi-kursi yang berserakan dimana mana. dan Sarang laba-laba menggantung di atasnya.


"Untung kita nyampe ke sini, masih siang. kalau kemalaman dikit pasti ngeri berada di sini" ungkapku sambil terus memperhatikan ruangan itu.


" yah, ngeri lah. Bangunan udah lama seperti ini, suka banyak yang ngisi" jawabku sambil bergidik.


"Alah. masa cowok takut, sama yang gituan" ledek Aira sambil tersenyum miring.


"Emang, kamu nggak?" tanya aku membulatkan mata.


"Enggak lah, ngapain takut sama tahayul seperti itu" ujar Aira yang terus memindai ruangan bekas restoran.


"Kunci pintu belakangnya kamu bawa" Tanyaku yang berdiri di dekat handle pintu menuju halaman belakang.


"Nggak tahu. Cobain aja cari disin, siapa tahu aja ada" jawab Aira sambil memberikan kunci yang terikat menjadi satu.


Kunci itu aku coba satu persatu. Mencari yang pas untuk membuka pintu ke halaman belakang restoran.


Cklek!!!


Pintu itu terbuka, setelah kuncinya diputar, terlihat halaman itu, sudah dipenuhi rumput yang tingginya selutut orang dewasa, bahkan. ada yang nyampe sepinggang, setelah puas memperhatikan setiap sudut halaman. Aku mengeluarkan kamera dan meteran dari dalam tas, untuk mengukur luas halaman supaya mudah Ketika nanti mendesainnya. Ku Awali pekerjaanku dengan mengambil beberpa foto halaman dari beberapa anggle.


"Kamu kamu tunggu dulu di sini, soalnya takut Ada ular" pintaku sama Aira yang terus memperhatikan gerak gerikku.

__ADS_1


"Emang kamu mau ngapain?" tanya Aira sambil mengurutkan keningm


"Aku mau ngambil foto bangunan ini, dari arah sana" Jawabku sambil menunjuk tembok dinding pembatas.


"Oh. ya sudah, aku juga mau lihat ruangan lainnya" jawab Aira yang terus berlalu memasuki restoran kembali.


Sepeninggal Aira. aku menuju dinding pembatas, dengan hati-hati kuinjakan kaki menyusuri rerumputan yang sudah berjubel, karena. Menginjak hewan melata, yang pasti betah tinggal di tempat seperti ini. setelah dirasa foto yang ku ambil cukup. aku mulai mengukur luas halaman belakang untuk mendapat ukuran luas yang sebanarya. Seusai pekrjaku di halaman belakan, aku masuk kembali ke dalam restoran, untuk mengerjakan hal yang sama di bagian dalam.


Aaagggggrrrrhhh!!!


Teriak suara aira, yang terdengar dari arah dapur, dengan cepat aku berlari menuju arah datangnya suara. Terrlihat Aira sedang merapatkan tubuhnya ke dinding ,sambil menunjuk hewan kecil nan imut yang sedang berjalan di di bawah kitchen counter.


"Ada apa" Tanyaku sambil mendekati Aira


"Tuh. itu" Aira terus menunjuk ke arah hewan yang ia takuti.


"Sama hantu nggak takut, masa. Sama tikus takut" ledeku sambil menahan tawa.


"Jangan meldek. Buruan usir makhluk yang menjijikan itu" bentak Aira sambil membulatkan mata.


"Iya, Iya, tunggu sebentar" jawabku sambil mengambil sapu lidi yang ada di sudut dapur, untuk dijadikan senjata.


aku mendekati tikus itu. Namun malah kabur, berlari ke arah Aira yang berada di dekat toilet. Sehingga membuat Aira lari berjinjit naik ke pangkuanku.


Aku menikmati momen ini, sehingga terdiam beberapa saat. sambil menggendong tubuh Aira, yang wangi.


"Eh si4lan, ngapain malah diam, buruan usir makhluk itu" bentak Aira yang melihat wajahku sedang menatapnya.


"Ya, mau ngusir gimana, kamunya seperti ini" jawabku sambil menggoyangkan Alis, membuat Aira tersentak, lalu turun dari pangkuanku.


"Kamu! jangan kurang ajar yah" gerutu aira sambil menurunkan Mini dressnya yang sedikit Blingsatan naik ke atas.


Namun aku tak menghiraukan perkataannya, Aku terus berjalan menuju ke arah tikus itu  tadi berlari. Aira yang ketakutan berjalan dibelaknf memegangi punggung bajuku.


"Katanya takut, Kok malah ngikutin" tanya aku sambil membalikkan kepala menatap ke arahnya.


Dengan refleks dia melepaskan pegangan tangannya yang menempek Di bajuku, sambil mengurutkan wajah dengan bibirnya yang mengeras.


"Buruan Usir" ujar Aira dengan muka masam sambil menautkan tangannya di depan dada.


"Ya, ini kan mau" jawabku sambil mengangkat sudut bibir.


Terlihatbtikus itu ada di toilet, namun. ketika aku datang menghampiri ,tikus berlari masuk ke arah pembuangan air. dengan cepat aku menutup pembuangan air itu mengunakan sapu yang kubawa.

__ADS_1


__ADS_2