
Pov dini
"Jangan minta maaf melulu, kamu harus membuktikan bahwa ucapanmu itu bisa dipercaya!" Seloroh kak stella yang masih menatap tajam ke wajahku.
"Iya kak!" Jawabku sambil menundukan kepala.
"Kalau kamu nggak bisa membuktikan ucapanmu. Jangan harap wajahmu bisa semulus sekarang!" Ancam Kak stella sambil mengelus pipiku.
"Badrun cepat kesini!" Teriak Kak Stella memanggil seseorang, kemudian terdengar suara langkah kaki yang memburu, mendekat.
"Ya, ada apa, Bos?" Tanya orang yang bernama Badrun.
"Sekarang antarkan lagi, wanita ini ke rumahnya!" seru Kak stella memerintah bawahanya.
"Bukannya, mau dihabisi Bos?" tanya Badrun sambil menatap kak Stella, mungkin dia merasa heran, dengan keputusan yang diambil oleh bosnya.
"Kamu jangan mengada-ngada, nanti kalau dia tidak bisa menepati janjinya. baru kita eksekusi!" jawab Kak stella sambil tersenyum menyeringai. menunjukkan barisan gigi yang rapi, namun tidak terlihat cantik. Karena tertutup oleh kebengisanya, sehingga nampak terlihat sangat seram
"Tapi bos, bagaimana kalau nanti dia lapor ke polis?" tanya Badrun yang tidak setuju dengan keputusan kak stella.
"Nggak ada tapi tapi! sekarang laksanakan perintahku, atau kamu sudah bosan bekerja denganku?" Ancam kak Stella dengan penuh penekanan, sehingga membuat badrun tak berkutik lagi.
Dengan kasar badrun menarik lenganku, untuk segera bangkit dari ranjang. lalu menyeretku kembali keluar dari kamar.
"Pelan-pelan, apa!" aku bisa berjalan sendiri!" pintaku sama Badrun yang memberlakukanku dengan kasar.
"Jangan banyak bac0t, untung bos kami tidak menyuruhku membunuhmu. kalau iya, mungkin sekarang kamu sudah menjadi santapan peliharaannya!" Dengus badrun dengan sangat geram.
__ADS_1
"Perlakukan dia, dengan baik!" Seru kak stella yang baru keluar dari kamar, mengikuti kami di belakang.
"Siap, bos!" jawab badrun tergagap.
"Ya sudah, sana antarkan! jangan sampai ada yang lecet sedikit pun, kalau aku menemukan dia lecet, atau ada yang kurang, nyawa kamu sebagai taruhannya!" ancam kak stella menunjukan sipat bengisnya, sehingga anak buahnya terlihat meringis.
"Terima kasih, kak. saya pamit dulu!" ucapku sambil masuk ke dalam mobil, yang tadi membawaku ke sini.
Aku sangat senang ternyata kak stella begitu baik, namun entah mengapa dia begitu perhatian, apa gara-gara aku sudah siap untuk kehilangan kak dali, karena persaingan mendapatkan cintanya, aku sudah mundur.
"Jangan bilang terima kasih dulu, nanti aku akan melakukan yang lebih gil4, kalau kamu tidak menurut!"
Tak ada jawaban lagi dariku, karena Badrun dan kedua temannya sudah masuk ke dalam mobil, aku pun mengikuti mereka. yang berbeda sekarang aku duduk di belakang berdua, tidak seperti tadi ketika aku datang ke sini. yang di hapit oleh badrun dan satu temannya. sekarang mareka memperlakukanku lebih baik, tidak seperti tahanan.
Setelah kami berempat masuk ke dalam. mobil pun dinyalakan, lalu pergi meninggalkan rumah. yang dijadikan tempat penyekapanku. Dan aku sangat beruntung karena mereka tidak melukai sedikit pun, hanya ancaman yang dilayangkan oleh kak Stella.
Tak ada pembicaraan di dalam mobil, namun sekarang mereka memperlakukanku dengan sangat baik mulai dari menawari minum, snack, dan makan lainya.
"Din, dini! tunggu sebentar! Aku mau bicara!" Panggil Kak Dali, namun aku semakin mempercepat langkahku, gak mau mengganggu hubungannya dengan Kak Stella.
"Setelah sampai di depan pintu kosan, dengan cepat aku pun membuka kunci pintu, lalu masuk ke dalam kosan, dan menguncinya. agar kak dali tidak bisa mengikutiku.
Dor! dor! dor!
Pintu kosanku digedor gedor oleh kak Dali, sambil terus memanggil-manggil Namaku. namun aku hanya menyandarkan tubuhku di daun pintu, menangis. karena hati tidak bisa berbohong, dengan perasaanku. perasaan yang selalu ingin berdekatan dengan kak Dali, namun itu sekarang hanya khayalan, yang mungkin aku tidak bisa mewujudkannya.
"Din, Dini! Tolong buka pintunya!" kak dali berteriak lagi.
__ADS_1
"Berisik! orang mau tidur!" teriak pengguna kosan lain, yang terganggu oleh sifat Barbar Kak Dali.
"Maaf Pak, kalau mengganggu!" ucap Kak Dali sambil menghentikan kegiatannya, yang sedang menggedor-gedor pintu.
"Sana pulang, kalau wanitanya gak mau, jangan kayak orang gil4, mengganggu ketenangan orang!" Pekik orang mengusir Kak Dali.
"Iya Pak, Sekali lagi saya mohon maaf!" ujar Kak Dali. terdengar langkah kaki yang menjauh dari pintu kosanku, mungkin kak Dali sudah pergi meningalkan pintu kamar kosanku.
Aku jatuhkan tubuh, terduduk diatas lantai, menyandarkan tubuh didaun pintu. butiran bening terus membasahi pipi, rasa sakit yang memenuhi lubuk hati, membuatku merasa lemas.
"Aku sayang kamu kak. aku mau kalau kakak mengajakku menikah!" umpatku sambil terus berlinang air mata.
Namun aku tidak bisa terus seperti ini, apalagi ancaman kak Stella tidak terlihat main-main, mungkin suatu saat, dia akan tega membuktikan semua ancamannya. Melenyapkan salah satu dari kita, agar keinginan kak stella terwujud.
Lama terduduk, akhirnya aku pun sadar, bau keringat yang memenuhi rongga hidung, dari area sekujur tubuhku. apalagi tadi di rumah Kak Stella, Aku tertidur di kamar yang penuh Debu.
Dengan malas kubangkitkan tubuh, berjalan sambil memegangi dinding, menuju kamar, mengambil handuk. untuk membersihkan tubuh agar badanku kembali segar dan bisa berpirkir positif. menata hidup kembali setelah Semuanya hancur, oleh angan dan cita-cita yang tidak pernah terwujud.
Selesai mandi aku mengenakan baju bersih, Lalu memakai mukena untuk melaksanakan 4 rakaat Isya. mengingat tadi maghrib Aku sudah tidak salat, karena disekap oleh kak Stella.
Seusai salat kutumpahkan segala keluh kesahku, kepada Dzat yang mempunyai maha solusi, atas masalah yang menimpa kita. aku bersimpuh memohon petunjuk dan keselamatan, agar bisa terus bertahan dari semua cobaan.
Setelah selesai berdoa, aku mengambil handphone yang ada di dalam tas. lalu menghidupkan ponsel pemberian kak dali, setelah tadi teman badrun mematikan handphoneku. setelah Kak Dali menelepon, agar tidak mengganggu pekerjaan mereka.
Setelah handphone itu hidup, aku lihat aplikasi pesan, untuk mengecek apa saja yang terbaru di situ.
Lagi melihat-lihat pesan yang dikirim oleh ibu, yang isinya menyumpahiku, karena tidak bisa membebaskan anaknya Yang masih dipenjara. padahal mereka juga tahu, kalau orang yang melakukan tindak pidana, tidak bisa dibebaskan walaupun orang yang melaporkan, mencabut laporannya.
__ADS_1
Tring! tring! tring!
Telepon yang ku pegang berbunyi, lalu terlihat nama kak Dali yang memanggil. dengan cepat mengeser tombol merah, agar telepon itu tidak terus menggangguku, lalu memblok nomor kak dali agar tidak bisa meneleponku lagi. walau hati menolak namun aku harus melakukan hal itu, karena ini untuk keselamatannya dan keselamatanku juga. mengingat kehidupan Kak stella yang begitu mewah, sehingga akan mudah untuk mewujudkan semua ancamannya.