
Pov dali
Pagi itu. aku sangat panik. setelah melihat dini yang lidahnya kepanasan. entah hantu apa yang merasukinya sehingga air sepanas itu dia teguk dengan rakus.
"Bagaimana, sudah baikan?" tanyaku sambil kembali duduk di hadapannya.
Dia hanya mengangguk pelan, karena mulutnya penuh dengan es batu, sehingga dia tidak bisa menjawab.
Dengan santai aku melanjutkan aktivitas makanku, yang sempat tertunda. kembali menyuapkan bandros ke mulutku. lalu mengunyahnya sambil terus memperhatikan wanita yang ada di hadapanku.
"Dasar wanita bod0h, ngapain minum teh yang masih panas" gumamku dalam hati.
"Ngapain? Kakak ngeliatin seperti itu." tanyanya, setelah mengetahui aku memperhatikannya.
"Eeeeee, emmmm, eeeeeee. Yey, PD amat Siapa juga yang memperhatikanmu" jawabku Ketus sambil tergagap, menyeruput kopi yang udah mulai dingin.
"Halah, ngomong aja suka kan, aku kelihatan bod0h seperti ini" ucap dini, tak Ayal membuat kedua bibirku melengkung dengan sempurna.
"Emang kamu itu bod0h, dan aneh. tapi aku suka." gumamku dalam hati yang tak sempat aku ucapkan, menjaga perasaanya.
"Hayo ngaku aja Kak!, senang kan" tanyanya memicigkan mata.
"Enggak kok, siapa bilang kamu bod0h. kamu itu cantik, dan baik" jawabku berbohong, membuat wajahnya terlihat memerah sempurna.
"Alah, tadi aja senyum senyum" dini Berkata yang terlihat Ketus.
"Iya deh, maaf. Lagian pagi ini kamu aneh banget." jawabku sambil mengulum senyum.
"Aneh kenapa?" tanyanya, tanpa dosa tidak sadar dengan keanehan yang ia buat.
"Kamu tuh, tidur sambil senyum-senyum. ditambah maksa membuatkan kopi untukku. Dan kalau mau diceritakan masih banyak lagi keanehan yang lainnya, tapi kalau disebutkan satu persatu nanti kamu malu, lagi." jawabku, meledeknya.
Dia hanya menunduk malu, Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya.
"Ya sudah, kamu lanjutkan sarapannya. aku mau ngelanjutin pekerjaan yang semalam" ujarku sambil bangkit, meninggalkan dia yang masih tertegun di ruang tamu.
Setelah di ruangan kerja, aku Nyalakan Komputerku. lalu membuka file-file yang sedang aku kerjakan, cukup lama aku bekerja. sampai terdengar bunyi notifikasi panggilan di handphoneku.
"Yah ada apa gga?" tanyaku, menyapa orang di ujung sana.
" bilangin sama si Dini, nanti. kita berangkat bareng ke kantor polis, untuk memberikan kesaksian" pinta Angga memberitahu.
"Jam berapa mau jemput ke sini, nanti aku bilangin sama dia" jawabku, menanggapi ucapan Angga.
"Laaah, kok jemput, ya. kamu antar lah, ke kantor polis, nanti kita ketemuan di sana" ujar Angga, terdengar kesal.
__ADS_1
"Aku hari iniKan kerja gga, jadi aku tidak bisa mengantarnya." jawabku menjelaskan.
"Ya sambil berangkat kerja lah! kamu antarkan dulu si Dini ke kantor polis!" Seru Angga
"Emang ke kantornya mau pagi-pagi" tanyaku, memastikan.
"Iya pagi-pagi, biar nanti pulang dari sana, aku langsung berangkat ke kantor"
"Terus Dini pulang sama siapa?" aku bertanya.
"Ya Sama kamu lah, masa aku harus ngantar"
"Aku kan langsung kerja gga" jelasku.
"Ya sudah nanti pulangnya, biarkan jadi urusanku, yang penting kamu antarkan Dini sekarang ke kantor polis, Soalnya kalau ke rumah kamu, aku nggak mau kena macet"
Tap! tap! tap!
Telepon itu terputus, tanpa menunggu persetujuan ku terlebih dahulu, dengan sepihak Angga memutuskannya.
Kuletakkan handphoneku kembali ke atas meja, lalu pandanganku tertuju ke arah komputer. melanjutkan kembali pekerjaanku, yang sempat tertunda. setelah men-save data-data yang sedang ku kerjakan, aku bangkit mencari keberadaan dini.
Trok! trok! trok!
"Din, dini" panggilku sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.
"Lagian Kamu aneh banget, tiba-tiba muncul di samping, siapa yang nggak kaget coba?" ujarku sambil menatap ke arah ya yang sedang memegang tongkat pel.
"Kakak tuh yang aneh masa kamar kosong di ketuk-ketuk" balas Dini membalikkan keaadan.
"Kamu di dapur lagi ngapain?"
"Ngepel, emang Kakak nggak ngelihat Aku sedang megang apa" jawabnya Ketus.
"Padahal gak usah repot-repot, sampai harus ngepel segala"
"Ada apa manggil-manggil" tanyanya tak memperdulikan ocehan ku.
"Sana mandi! hari ini, Angga mengajak kita untuk bertemu di kantor polis" aku menjelaskan maksudku memanggilnya
"Untuk apa" pertanyaan b0dohnya keluar lagi.
"Yah, untuk melengkapi laporan kamu lah, kamu gak mau kan kakakmu, keluar" jawabku mengingatkan.
"Kakak mandi duluan saja, Aku mau selesaikan pekerjaanku dulu" jawabnya sambil meninggalkanku, untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
aku segera menuju kamar mandi untuk menyambut hariku dengan bersih, seusai mandi aku kembali ke kamar, ketika sedang memakai baju, terlihat dini yang melewati pintu kamarku, nampaknya Ia juga hendak membersihkan badannya.
"Awas jangan lupa bajunya" teriakku dengan kencang.
"Apaan sih?" balasnya berteriak, membuatku menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan bocahnya.
"Kok kamu pake baju tidur?" tanyaku sambil menatap aneh kearahnya.
"Aku lupa gak bawa baju biasa, kak. Kirain gak akan ke kantor polis?" Ucapnya sambil menundukan pandangan.
"Ya sudah, gak apa apa, siapa tahu nanti dijalan ada toko pakaian yang sudah buka." Kata ku sambil bangkit dari tempat duduk "ayo kita berangkat nanti kesiangan" menarik tangan dini yang masih tertegun.
Dipegang seperti itu dia hanya mendengus kesal, namun tetap berjalan mengikutiku keluar.
"Dimana motornya" dini bertanya sambil menarik tangannya.
"Kita jalan kaki, aku lupa motorku masih di mall" jawabku mengodanya.
"Emang dekat" tanyanya, menunjukan wajah penasaran.
"Deket paling lima kiloan" jawabku sambil mengunci pintu kontrakan, lalu menyerahkanya sama dini, karena dia akan pulang duluan.
"Ayo kita berangkat, lima kilo bukan perjalanan dekat, butuh waktu sejam untuk menempuhnya. Nanti kakak telat masuk kerja" ajaknya, sambil memasukan kunci ketas gendongnya.
"Emang gak apa apa, kita jalan kaki" tanyaku memastikan.
"Gak apa apalah, kan. sama kakak" jawabnya sambil malu malu, membuat sudut bibirku tertarik kesamping.
Tin! Tin! Tin!
Suara klakson mobil yang terdengar dari arah jalan, karena kontrakanku dan jalan hanya dibatasi pagar penghalang, sehinga apa pun yang melintas didepan akan terdengar.
"Ayo jemputannya sudah datang" ajakku sambil berlalu menuju arah mobil yang kacanya sudah terbuka.
"Hay kak, darda" sapa dini sambil tersenyum membuat perasaanku sedikit terganggu. Entah kenapa, aku tidak tahu.
"hai juga"Jawab darda.
Melihat mereka saling menyapa, sambil melempar senyum. aku sedikit terpancing, tidak suka dengan keadaan ini. dengan cepat aku buka pintu mobil untuk masuk ke dalamnya.
"Eh lu, mau ke mana? duduk di depan lah, emangnya Gua sopir" tolak Darda membulatkan mata.
"Udah sendirian aja sih, rewel amat" jawabku dengan ketus.
"Kamu masih beruntung, gua nggak kaya si Angga" jawab Darda mengingatkan kelakuan sahabatku yang satunya. ketika aku menebeng mobilnya, Angga akan menyuruhku nyetir.
__ADS_1
Dengan kesal aku menutup kembali pintunya, lalu masuk ke pintu depan duduk di samping dada.
"Ini mobil Kak Darda, Wah, bagus banget" Puji dini, membuatnya terlihat sangat kampungan.