
Pov dini
Setelah selesai melengkapi laporan di kantor polis. aku dan Kak Darda pergi meninggalkan tempat itu, untuk segera pulang ke rumah. namun sebelum pulang, kak Darda mengajakku untuk makan siang terlebih dahulu, di rumah makan yang tidak terlalu jauh dari kantor polis.
Selesai makan, Aku diantar Kak Darda pulang untuk menuju rumah Kak Dali.
Sesampainya di rumah, aku segera membersihkan tubuh, dilanjutkan dengan melaksanakan kewajibanku yang 4 rakaat.
Sesudah melaksanakan salat zuhur, aku membuka ponsel pemberian Kak dali. mencari ide, Siapa tahu saja! ada yang bisa kulakukan untuk mengisi kekosongan waktu. sebelum keberanianku kembali, untuk bekerja seperti biasa.
Aku scroll media sosialku, mencari sesuatu di sana, sehingga Ibu jariku terhenti, ketika ada teman media sosial, yang memposting foto makanan, membuatku sedikit berpikir.
"Wah, Kayaknya aku harus membuat kejutan! buat orang yang selalu ada disampingku." gumamku, setelah melihat postingan itu, sambil mengulum senyum.
Dengan perlahan, ku langkahkan kakiku menuju dapur. mengecek bahan-bahan makanan yang akan aku buat. Namun ternyata, bahan makanan itu tidak lengkap. sehingga aku kembali lagi ke kamar, mengambil beberapa lembar uang, lalu memasukkannya ke saku gamis pemberian Kak Darda.
Emang, hidupku ini sangat kasihan sekali. semua benda yang kupakai. semuanya pemberian orang, mulai dari ponsel, pakaian, dan tempat tinggal. tapi aku cuek saja, karena aku tidak meminta semua barang ini.
Setelah uang yang aku ambil dirasa cukup, aku membuka pintu, lalu menguncinya kembali dari luar, untuk mencari bahan makanan yang akan kubuat.
Aku keluar dari area kontrakan kak Dali, menuju gang kecil. mencari warung, yang biasanya ada di setiap kampung. Setelah bertanya sama orang orang yang kutemui. akhirnya aku menemukan warung yang aku cari. Dengan cepat, Aku membeli semua kebutuhan yang diperlukan, untuk membuat makanan itu.
Sesudah semua bahan dirasa lengkap, aku kembali ke kontrakan kak Dali. meski matahari yang sangat terik, dan kota Jakarta yang begitu panas. itu, tidak jadi penghalang tekadku yang sudah bulat, ingin memberi surprise terhadap cowok ganteng dengan lesung pipit itu.
Sesampainya di kontrakan. Aku menaruh semua barang bahan yang baru saja kubeli, di atas meja. lalu aku kembali ke kamar, untuk mendinginkan tubuh dari panasnya sengatan matahari, karena di kamar kak dali, ada air conditioner yang bisa memberiku kesejukan.
Rasanya sangat adem, setelah angin yang keluar dari AC itu, menerpa seluruh tubuh, perlahan kubuka hijab yang menutupi kepala, untuk memberikan sensasi dingin di area itu.
Kuraih ponsel yang ada di atas nakas, lalu mengklik aplikasi hijau berlogo telepon.
( Hai, Jam berapa pulang? ) Tanyaku, lewat pesan itu.
Tak lama menunggu notiifikasi ponselku berbunyi, menandakan ada satu pesan yang masuk.
"Tumben balesnya cepet? biasanya chat Kapan, balesnya kapan" gumamku sambil membuka aplikasi pesan.
( Biasa jam 5-an, kenapa Kangen, ya? )bales Kak Dali dengan kepedeannya.
( Iiiiiih! apaan sih, nggak jelas banget. oh iya, kalau pulang nggak usah beli makanan, Aku punya sesuatu buat kakak. ) pesan yang kutulis lalu mengirimkannya.
( Hay? PD amat, Siapa juga, yang mau beliin kamu makanan. BTW, sesuatu apa tuh?" ) balasnya seperti biasa memancing emosi.
__ADS_1
( Rahasia dong )
( Wah, udah ada kemajuan, nih. bisa main rahasia-rahasiaan segala ) Balas Kak Dali yang terlihat penasaran
Namun aku tidak membalas lagi pesannya, Biarkan saja, dia merasakan apa yang aku rasa. ketika pesan-pesan yang kukirim tidak dibalas olehnya.
Tring!!
( Bales dong penasaran nih! )
( Kamu udah makan belum? )
( Awas ya! nanti kalau ketemu aku gigit. )
Beberapa pesan yang dikirim oleh kak Dali. Melihat itu aku hanya mengulum senyum, merasa menang bisa membuatnya mati penasaran.
"Emang enak dicuekin" gumamku, sambil menaruh kembali ponsel Itu di atas nakas. namun tak lama kemudian, ponsel itu berdering sangat lama, menandakan ada panggilan masuk.
Dengan malas kuraih ponsel itu, lalu mengangkatnya.
"Eh, bod0h! ini kan video call, bukan telepon" gerutu seseorang di ujung sana, membuatku menjauhkan ponsel itu, dari telinga. lalu menatap ke arah layar, yang terlihat ada video seseorang.
"Biasa aja, keles. Ngomongnya, nggak usah pakai ngegas segala!" jawabku mencembungkan pipi, sambil terus memperhatikan ke arah pria yang memakai kemeja hitam dilapisi dengan apron.
"Sudah, tadi sepulang dari kantor polis, aku diajak Kak Darda, untuk mampir ke rumah makan.
"Oooooooh" tanggapannya, sambil memonyongkan bibir.
Lalu kita berdua terdiam beberapa saat, saling menatap melalui kamera ponsel. Entah mengapa tiba-tiba, aku seperti orang yang kehabisan kata-kata. Hanya melongok seperti orang yang kurang sesendok, menatap ke layar ponsel.
"Ya sudah" seperti biasa ketika sudah terdiam lama, kita berucap berbarengan. sehingga membuat kedua sudut bibir kita, melengkung dengan sempurna. merasa lucu dengan apa yang terjadi.
"Ya sudah, aku kerja lagi ya!"
"Iya Kak" jawabku, sambil memalingkan wajah, merasa malu Atas kejadian yang baru saja terjadi.
Lalu telepon itu terputus, disusul dengan notifikasi pesan yang masuk.
"Mau ngapain lagi sih, padahal Baru saja habis teleponan" gerutuku sambil mengulum senyum, otakku tidak sinkron dengan apa yang kuucapkan.
( Karena kecantikanmu, Aku sampai lupa, mau menanyakan kamu punya kejutan apa? ) isi pesan yang dikirim oleh kak Dali.
__ADS_1
( Gembel. Ya udah, sana kerja, nanti dimarahin pak bos ) balas pesanku, sambil diakhiri dengan emoticon senyum penuh tanda cinta.
Selesai salat ashar, aku kembali ke dapur, untuk melanjutkan misiku. membuat kejutan buat orang yang akhir-akhir ini, memberikan warna dalam hidup,
Kuambil beras beberapa gelas, lalu memasukkannya ke panci, untuk mencucinya. selesai mencuci beras, aku taruh panci berisi beras di atas kompor. lalu kunyalakan apinya.
Sambil menunggu air rebusan beras itu mendidih. aku siapkan bumbu-bumbu yang hendak dicampurkan, supaya masakanku akan terasa lebih nikmat.
Namun tiba-tiba. api kompor itu bergoyang, dan tak lama menghilang, meninggalkan asap tipis yang mengepul dari atas tungkunya.
"Mau bikin kejutan, malah gasnya habis" gumamku sambil membuka lemari yang ada di bawah kompor itu, mengecek tabung gasnya.
Setelah kulihat, ternyata memang benar pressure guage tabung gas, menunjukkan ke warna merah, menandakan gas itu sudah habis.
"Aduh, gimana nih. Aku takut kalau harus mengganti tabung gas." Gumamku yang merasa panik, setelah mengetahui kenyataan yang tak seindah Harapan.
"Apa aku harus membeli gas yang baru, tapi kalau mau beli gas yang baru jaraknya sangat jauh. Lagian kalau sudah membelinya. Aku juga takut memasangnya." pikirku sambil menggaruk-garuk dengkul yang tidak terasa gatal. Karena aku lagi berjongkok, sambil menatap ke arah gas itu.
Dengan perasaan sedih, aku kembali ke kamar tidak melanjutkan acara masak-masak. karena merasa bingung harus berbuat apa lagi.
Kuraih ponselku. untuk memberitahu kak dali. aku tidak jadi mengasih kejutan untuknya, karena gasnya habis.
Kubaringkan tubuhku di atas ranjang. sambil menatap langit-langit kamar. memikirkan hidupku yang tidak berguna sama sekali, bahkan hal sekecil ini aku tidak bisa melewatinya.
Tok! tok! tok!
10 menit berselang, terdengar ada suara ketukan di pintu. dengan malas ku bangunkan tubuhku, untuk melihat Siapa orang yang mengetuk.
"Saya, disuruh Dali untuk mengganti gas, di rumahnya!" ujar wanita paruh baya itu, terlihat tangan kanannya yang memegangi troli gas.
Dengan cepat ku persilahkan wanita itu, untuk masuk ke dalam, setelah mengetahui apa tujuannya.
"Mau masak apa?. oh walah. mau ngeliwet ya?" ujar Ibu gas, sambil berjongkok untuk mengambil tabung yang kosong, lalu menggantinya dengan tabung yang baru.
"Totalnya jadi berapa, Bu?" Tanyaku sambil mengikutinya Kembali menuju arah luar.
"Semuanya sudah dibayar, sama dali. ya sudah, kamu lanjutin saja masaknya!" jawab ibu gas sambil menyimpan tabung gas kosong ke atas trolinya.
"Terima kasih yah, bu." ujarku menatapnya.
"Iya sama-sama, Padahal kalau mau ngeliwet seperti itu, nggak harus di kompor. di magic com saja, bisa." ujarnya, sambil menarik sudut bibir kirinya ke atas, lalu Beliau pergi tanpa memperdulikanku yang menganga kaget atas sarannya.
__ADS_1
"Bod0h, bod0h." gumamku sambil menepuk-nepuk kepala, karena saran ibu gas itu, Emang benar adanya, Kenapa aku tidak kepikiran sampai ke situ, mungkin sudah takdir kali yah?. aku tidak bisa hidup, kalau tidak bisa merepotkan orang lain.