Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 31 SAINGAN


__ADS_3

Pov dini


Melihat kepanikan Kak Risma, Aku hanya tersenyum getir menatapnya.


"Kenapa nggak ditutup?" tanya Kak Risma, sambil membulatkan mata.


"Nggak apa-apa! mending Kakak mandi sana!" seruku sambil mengambil handuk dan baju tidur, untuk baju ganti Kak Risma.


"Males, ah. Lagian aku sudah cantik begini, nggak perlu mandi lagi kali?" jawabnya sambil kembali memiringkan badannya, membelakangiku.


"Ya sudah kalau nggak mandi, nanti tidurnya di luar di sofa. aku nggak mau tidur bareng sama orang yang jorok!" jawabku dengan Ketus.


"Nggak apa-apa! tidur di luar. Nanti kan Ada kak dali, yang nemenin." jawabnya tanpa memalingkan pandangan.


"Kak dali juga, nggak suka sama cewek yang jorok, dan bau asem, kayak Kak Risma. dia bisa ilfil, kalau tahu Kak Risma nggak mandi." aku menakutinya, meski tidak sesuai dengan hati, karena yang aku ingin. kak dali hanya menyukaiku, bukan menyukai Kak wanita yang masih terbaring diatas ranjang.


"Hah, masa?" jawab kak risma, sambil bangkit dari tempat tidurnya, dengan cepat dia mengambil handuk dan baju tidur yang sudah kusiapkan untuknya, dengan cepat, ia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. melihat tingkah lakunya, aku hanya menggeleng-geleng kepala, merasa heran,  kenapa tuhan menciptakan makhluk seunik itu.


Sepulang Kak Dali melaksanakan salat magrib, Aku dan Kak Risma sudah menyiapkan liwet yang aku buat, tadi sore.


Kami bertiga duduk bersama, menghadapi piring masing-masing, mengelilingi nasi liwet yang masih mengepul, tersaji di tengah-tengah meja.


Dengan sigap, Kak risma mulai melancarkan serangan, dia mengambil piring yang ada di hadapan Kak Dali, lalu mengisinya, dengan nasi.


"Lauknya, mau pake apa aja, Kak?" tanya Kak Risma sambil mengeluarkan tipu muslihatnya, menghiasi bibir dengan senyum termanisnya.


"Biarkan aja, Ris. Nanti aku ngambil sendiri!"  jawab Kak dali yang terlihat cuek, membuatku merasa sedikit lega, karena tidak ada sambutan yang begitu hangat.


"Ikan asinnya, mau, Kak?" Kak Risma terus mencoba mendapatkan perhatian.


"Sudah, biarkan aku aja, Ris!"  tolak kak Dali dengan muka datarnya.


Dengan sedikit menekuk muka, Kak risma akhirnya menaruh piring yang sudah berisi nasi, di hadapan Kak Dali. tanpa dipersilahkan terlebih dahulu, Dia mengisi piringnya dengan nasi. tak mempedulikanku yang membuatnya, seperti Nyonya rumah yang tidak pernah mempedulikan keadaan sekitar, ketika mereka hendak makan. sehingga membuatku merasa seperti pembantu, yang sedang melayani kedua majikannya.


Melihatku yang masih terdiam, Kak Dali yang hendak mengambil lauk pauknya. Dia mengambil piringku, lalu mengisinya dengan nasi, membuat mataku melirik ke arah Kak Risma, yang lagi melotot menatap ke arahku juga.


Akhirnya pandangan kita berdua saling bertatapan, lalu ku angkat sudut bibir kiriku, untuk memberikan senyum miring ke arahnya. menandakan Akulah pemenangnya. dengan menekuk muka, Kak Risma kembali melanjutkan makannya, dengan cepat.

__ADS_1


Setelah piringku diisi dengan nasi dan lauknya, yang hanya ikan asin dan goreng jengkol, ditambah sambel. kemudian Kak dali meletakkan piring itu, kembali di hadapanku. lalu ia melanjutkan kembali tujuannya, yang hendak mengambil lauk pauk untuk dirinya.


Setelah piringnya terisi dengan lauk, kak dali mulai memasukkan nasi itu ke mulutnya, seperti biasa tanpa ada perkataan yang keluar dari bibirnya, hanya acungan jempol kiri yang diberikan ke arahku, menandakan masakanku sangat nikmat.


"Asinnya, keasinan!" Celetuk Kak Risma, seperti orang bod0h, namanya juga ikan asin, ya Pasti asinlah.


"Kok, bisa? padahal tadi aku sudah mencucinya, terlebih dahulu" jawabku sambil menatap nanar ke arah Kak Risma, yang sedikit menarik ujung bibirnya, nampaknya dia mulai kembali melancarkan serangan ke arahku.


"Iiiih, aku nggak suka asin!" ujarnya sambil mengembalikan asin yang ada di piringnya, ke piring tempat penyimpanan ikan asin.


Tak ada tanggapan, yang keluar dariku, dan kak Dali. kita fokus melanjutkan makan tanpa memperdulikannya.


"Kakak, kok? seneng banget sih, sama ikan asin?" tanya kak Risma yang merasa dikacangin.


Kak Dali, hanya menempelkan telunjuk tangan kirinya, di bibir. memberi tanda, agar Kak Risma tidak banyak berbicara ketika lagi makan.


"Ikan asinnya, asin banget tahu, Kak!" ujar Kak Risma, yang tak mengindahkan, peringatan dari Kak Dali.


"Kalau lagi makan, jangan banyak berbicara! syukuri makanan yang ada di hadapanmu, Kalau kamu tidak suka, ambil handphone saya, lalu pesan makanan online, sesukamu"  jawab Kak dali yang Terdengar agak tegas.


"Suka kok, Kak. Cuman emang bener ikan asinnya, keasinan banget, kalau kakak mau, besok aku bikinin ikan asin, yang tidak terasa asin." jawab Kak Risma, yang sedikit meringis, melihat tatapan Kak Dali yang begitu tajam.


Ketika Kak Risma menoleh ke arahku, ku gerakan jariku yang ada di bawah meja, pasti Kak Risma akan sangat jelas melihatnya. berbeda dengan Kak Dali yang duduk di seberang ku, dia tidak akan melihat, karena tertutup oleh meja.


Kuangkat jari telunjuk dan jari tengah, kemudian membentuk angka nol, dengan menautkan jari telunjuk, dan ibu jari. menandakan skor kita saat ini menjadi dua nol, Kak Risma Hanya memicingkan Mata, sambil menekuk sempurna wajahnya, mungkin dia mengerti apa yang aku maksud.


Kusungnggikan senyum miring ke arahnya, sebagai kemenangan telak yang diraihku.


Tak ada pembicaraan lagi, sampai kami bertiga mengakhiri acara makan-makan.


"Biarkan, aku saja! Tuan Putri masuk kamar saja, nanti tanganmu bisa lecet" ujar Kak risma meledekku, mulai melancarkan serangannya kembali.


Tangannya dengan cekatan merapikan piring-piring kotor yang baru saja dipakai untuk makan, kemudian membawanya ke wastafel. tanpa disuruh ya langsung mencucinya.


Kak Dali hanya menggeleng-gelengkan kepala, tidak mengerti apa sebenarnya yang sedang terjadi. dia bangkit dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan ruangan dapur.


Setelah kak dali pergi. aku merapikan makanan-makanan sisa, agar tidak disemuti , dan bisa dimakan lagi untuk Keesokan paginya.

__ADS_1


"Udah deh, kamu angkat bendera putih aja! jangan coba-coba untuk bersaing denganku!" ujar Kak Risma yang terus mencuci piring.


"Hahaha. udah kalah telak saja, masih aja terus berusaha?" ledeku sambil memicingkan mata ke arahnya.


"Biarin! Walau skor kita saat ini dua nol, tapi Malaikat Juga Tahu siapa yang jadi juaranya" ujar Kak Risma sambil tersenyum menunjukkan kemenangan.


Aku hanya diam tak menanggapi pernyataannya, namun tanganku mengambil panci, sehingga membuat Kak risma melongok menatap ke arahku.


"Mau ngapain lagi, kamu. udah nyerah aja deh!" ujarnya memberikan senyum miring meremehkan kemampuanku.


Panci yang kuambil, lalu kuisu dengan air. kemudian ditaruh di atas kompor, untuk memanaskannya. lalu dengan Sigap aku tuangkan kopi ke dalam gelas, sambil menunggu air itu benar-benar mendidih.


"Enak, ya! jadi tuan putri. orang lagi kerja, dianya malah enak enak ngopi" ketus Kak Risma, ketika melihatku sedang mengaduk kopi, yang baru saja diseduh.


"Buat, Kak Dali!" Bisikku sambil tersenyum, membuat mata Kak risma melotot dengan sempurna, tidak menyangka Aku akan melakukan konter aktek yang sangat elegan.


"Diniiiiiiiiiiiii!!!" teriak Kak Risma, dengan kencang. sehingga membuat kak dali yang ada di depan, berlari menuju ke arah dapur.


"Kalian ada apa, kok. berteriak?" tanya kak dali, yang terlihat panik.


membuat kita berdua saling menatap, tak menyangka kejadiannya akan serumit ini, Mana mungkin kita berdua jujur, bahwa kita lagi bersaing supaya mendapatkan perhatiannya.


"Kecoa" ujarku yang masih terlihat panik.


"Iya, ada kecoa, tadi menghampiriku" tambah Kak Risma menyahutiku berbohong.


"Bikin kaget aja, kirain ada apa?" Ujar Kak dali sambil berlalu kembali meninggalkan kita.


Melihat kak dali pergi. aku dengan cepat mengikutinya, sambil membawa kopi yang baru saja aku Seduh. tak lupa aku palingkan kepala ke arah Kak Risma, memberikan senyum getir ke arahnya, sehingga membuat dia menghentakkan kakinya ke lantai.


Setelah meletakkan kopi di tempat kerjanya, aku kembali ke kamarku. tak lama Kak Risma datang menghampiri, dengan muka masamnya, mengikuti. lalu menutup pintu rapat kamarku.


"Katanya kamu nggak suka sama Kak Dali?" tanya Kak Risma sambil mengerutkan wajahnya, ketika dia duduk berhadapan denganku.


"Siapa bilang, aku nggak suka. aku hanya bilang Aku belum pacaran sama Kak Dali." jawabku membela.


"Oh jadi kamu juga menyukainya, tapi jangan harap kamu akan tenang, mendapatkan cintanya. ingat ada aku yang selalu akan menjadi pesaingmu!" ancam Kak Risma.

__ADS_1


Kita pun terdiam beberapa saat, lalu terlihat dari kedua bibir kita yang tertarik ke atas dengan sempurna. diikuti dengan suara tawa yang terlepas dari kedua bibir bibir kita, merasa lucu dengan tingkah laku yang baru kita lakukan. memperebutkan perhatian seorang pria, yang belum tentu, Apakah cowok itu menginginkan salah satu dari kita.


__ADS_2