Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 47 MENDESAKKU


__ADS_3

Pov dini


"Kok gugup, Kak?" tanyaku sambil menatap ke arah pak Bowo.


"Maksudnya, kesempatan untuk menjagamu." jelas pak Bowo tersenyum menyembunyikan kekakuannya.


"Terima kasih Kak!" ujarku sambil menatap nanar ke arahnya, merasa bahagia ada orang yang mau melindungi, selain Kak Dali. yang berbeda Pak bowo tidak akan menyakiti perasaan, karena beliau sudah memiliki Seorang Istri.


"Ya sudah, sana lanjut kerja lagi!" ujar Pak bowo sambil bangkit dari tempat duduk, lalu keluar dari ruang ganti, untuk kembali ke meja kasirnya.


Setelah aku keluar, terlihat tatapan sinis dari Kak Rani, entah apa maksudnya. aku pun tidak mengerti, kenapa dia harus membenciku? sedangkan aku tidak mengganggu kehidupannya.


"Ada apa, Din?" tanya Kak Risma berbisik sambil mendekati.


"Nggak apa-apa! cuma menanyakan keadaanku saja." jawabku menjelaskan.


"Syukurlah, kalau nggak apa-apa!" ucap Kak Risma yang terlihat lega.


"Iya Kak, Ayo lanjut kerja lagi! nanti Kak Rani marah!" aku mengingatkan, karena Kak Rani masih menatap ke arah kita berdua.


"Cuek aja, sih! kita sama-sama karyawan, dia bukan bos. Cuma kelakuannya saja yang melebih dari bos." ujar Kak Risma sambil terus merapikan baju, yang berantakan. karena di acak acak oleh pelanggan, biasanya baju yang harganya murah, itu ditumpuk dirak, beda dengan harga yang lumayan mahal, biasanya digantung.


"Nggak boleh gitu, nanti dia semakin marah!"


"Oh iya, kamu lagi marahan, ya? sama kak Dali, soalnya barusan dia menanyai tentang Keberadaanmu?" tanya Kak Risma mengalihkan pembicaraan, tanpa memperdulikan tatapan Kak Rani.


"Enggak, kak!" jawabku gugup.


"Iya juga, nggak apa-apa! biar aku semakin dekat!" ujarnya sambil mengulum senyum penuh arti.


"Apaan sih, kak." ketusku.


"Kalau kamu suka sama kak Dali, Jangan biarkan orang sepertiku singgah di hatinya, kamu harus mempertahankan hubungan dengan dia, kecuali kamu sudah ikhlas melepasnya. Cowok sebaik dan seganteng kak dali, pasti sudah banyak perempuan yang antri, yang ingin jadi istrinya!" nasehat Kak Risma.


"Kalian kalau mau ngobrol, jangan di tempat kerja.sana di luar!" ujar Kak Rani yang tiba-tiba berdiri di belakang kita.


Aku pun segera pindah, karena ada pelanggan baru yang datang, walaupun sebenarnya hanya menghindari perdebatan dengan Kak Rani. meninggalkan Kak Risma yang masih merapikan baju.


Pukul 12.00. tibalah giliranku dengan Kak Risma beristirahat, untuk melaksanakan salat, dilanjutkan dengan makan siang.

__ADS_1


Setelah selesai makan,  aku sempatkan membuka handphoneku. ternyata di ponselku sudah banyak pesan yang masuk. walaupun hanya dari dua orang, dari Kak Dali ada 10 pesan, dan dari ibu lebih banyak dari pesan yang Kak Dali kirimkan, disertai beberapa telepon yang memanggilku, Isi pesan dari ibu menanyakan, apakah aku sudah mencabut laporan tuntutan tentang kak Dani.


"Aku kerja, Bu. belum sempat ke kantor polis." balas ku lewat pesan yang dikirim ke ibu.


Tak lama setelah pesan itu terkirim, Ibu pun langsung meneleponku.


"Kamu itu! tidak ada tanggung jawabnya, masa orang tua kamu bohongin?" hardik ibu di ujung sana.


"Maaf, Bu. aku harus kerja, nggak enak karena sehabis dari kejadian kak Dani  memperk0saku, aku libur bekerja." jelasku agar ibu tidak salah paham.


"Halah, kerja-kerja! kamu lebih mentingin pekerjaan, daripada keluarga?" Ketus ibu


"Ya sudah nanti bu, kalau saya sudah nggak sibuk, saya akan datang ke kantor polis, untuk menanyakan bagaimana caranya mencambut tuntutan itu!" Jelasku agar ibu tidak keterusan memarahiku.


"Kok, nanti? Ibu nggak mau tahu, sekarang kamu harus datang ke kantor polis! cabut semua tuntutan yang kamu buat!" seru ibu dengan nada tinggi, sehingga aku menjauhkan ponselku dari telinga.


Melihat situasinya yang semakin tidak kondusif, aku pun segera mematikan telepon itu. lalu memasukkan lagi ke  dalam tas, yang kubawa. agar tidak mengganggu saat aku bekerja.


"Ada apa?" tanya Kak Risma sambil menatapku penasaran.


"Ibu angkatku menelepon."


"Bukan, aku harus mencabut tuntutanku di kantor polis! karena menurut beliau, kak Dani tidak salah." aku menjelaskan Kenapa orang tuaku menelepon.


"Terus, kamu mau?" selidik Kak Risma.


"Aku bingung, Kak. karena orang tuaku yang membiayai hidupnya adalah kak Dani, setelah usaha mereka bangkrut." Aku mengutarakan pertimbanganku.


"Oh, tidak bisa seperti itu. yang salah tetap harus dihukum, Jangan dibiarkan berkeliaran hidup dengan tenang!" ucap Kak risma tidak setuju dengan keputusanku.


"Bingung, kak!" jawabku sambil menarik napas dalam lalu menghembuskannya pelan, menenangkan pikiranku yang semakin kalut.


"Kalian, masih duduk-duduk santai saja. waktu istirahat kalian sudah habis!" ujar Kak Rani yang menyembulkan kepalanya di balik tirai kamar ruang ganti.


Kayaknya Kak Rani tidak senang melihat kita tenang, padahal hanya Baru beberapa detik saja waktu istirahatku terlewat.


Dengan santai Kak risma pun bangkit, lalu merapikan bajunya untuk segera kembali bekerja. Aku pun sama mengikuti apa yang Kak Risma lakukan, dengan santai kita berdua pun melangkah, keluar melewati Kak Rani yang mendengus kesal menatap kelakuan kita berdua.


Kita pun Kembali ke tempat kerja masing-masing, untuk melayani para pembeli, membantu mereka menemukan baju-baju yang sesuai dengan keinginannya.

__ADS_1


Sekilas mataku menangkap sosok bayangan kak Dali, yang memperhatikanku dari kejauhan. aku menatap sosok itu untuk memastikan, namun kak dali hanya diam memperhatikanku tanpa mendekati.


"Model yang ini, ada warna pastel gak?" Tanya seorang pembeli, sambil menunjukkan baju yang ada di tangannya.


"Ada kak. nanti saya ambilkan dulu!" jawabku sambil melangkah pergi, menuju gudang penyimpanan. tak memperdulikan lagi kak dali yang masih menatap ke arahku.


Pukul 17.00. aku sampai di depan pintu gerbang kontrakan, terlihat kedua orang tua angkatku yang sudah menunggu, menatap tajam ke arahku, yang baru pulang. dengan cepat aku menghampiri mereka, seperti biasa aku mau mencium punggung tangannya, namun Mereka menolak sambil mengibaskan tangan yang kupegang.


Aku mempersilakan mereka berdua masuk, setelah membuka kunci pintu kosanku.


"Bagaimana sih, kamu! jadi anak kok nggak ada berbakti-baktinya, sama orang tua." gerutu ibu, saat kami belum duduk ibu sudah berkata seperti itu.


"Sabar, bu. aku baru datang, biarkan aku istirahat terlebih dahulu." Jawabku yang merasa kelelahan sehabis pulang bekerja, apalagi tadi berdesak-desakan di Busway.


"Jangan banyak alasan!" hardik Bapak dengan keras, sambil membulatkan mata, seperti orang yang mau menelanku bulat-bulat.


"Aku bingung Pak, Bu. bagaimana cara mencabut laporan di polis?" jawabku.


"Halah, tinggal datang saja ke kantor polis, terus kamu bilang mau mencabut laporan. pasti beres. Apa jangan-jangan kamu senang, sekarang bisa membalas Sakit hatimu. ketika melihat kami menderita!" Ketus ibu sambil memicingkan mata.


"Iya, Bu. Besok aku kekantor polis. Oh iya kalian sudah makan? Tanyaku mengalihkan pembicaraan, agar tidak terus-menerus menyudutkanku.


"Makan dari Hongkong, kami nggak bawa duit banyak dari Bandung, ini semua, gara-gara kamu! yang tidak mau mencabut tuntutan, sehingga kami hidup tak seperti ini." jelas ibu


"Ya sudah, aku belikan makanan dulu, mau makan sama apa: Tanyaku agar mereka tidak terfokus lagi membahas tentang pencabutan laporan.


"Nasi padang!" jawab Bapak.


Akhirnya aku pun pergi mencari rumahmakan Padang, untuk membelikan mereka makanan, sesuai dengan pesanan mereka masing-masing. Meski tubuhku sangat lelah, namun ini lebih baik, daripada aku harus mengobrol dengan mereka, membahas tentang pencabutan kak Dani.


Pulang membeli nasi terlihat ada ojek online yang menungguku, seperti biasa dia membawa bungkusan box berisi makanan.


"Cari siapa, Pak?" Tanyaku ketika berada di hadapannya.


"Benar? ini Bu Dini, saya mengantarkan orderan makanan atas nama Pak Pak Dali." ojek online Itu menerangkan maksud dan tujuannya.


"Iya, saya sendiri Pak."


Setelah memastikan Aku adalah orang yang ia maksud, Bapak ojek online itu memberikan bok nasi yang ada di tangannya, lalu berpamitan pergi meninggalkanku.

__ADS_1


Melihat perlakuan kak dali seperti ini, tiba-tiba kedua sudut bibirku terangkat dengan sempurna, merasa bahagia. walaupun tahu pasti ada rasa sakit, untuk mewujudkan kebahagiaan itu menjadi nyata.


__ADS_2