
Pov dini
Menanggapi pertanyaan Kak Dali, Aku hanya terdiam mengakui Apa yang dilakukan oleh kedua orang tua angkatku, merekam yang mengancamku untuk mencabut laporan kak Dani.
"Kamu takut ya?" tanyanya sambil terus mengelus tanganku yang ada digenggamnya.
"Nggak, Kak. namun memang benar, apa yang mereka katakan. untuk sekarang aku belum bisa mencukupi kebutuhan mereka." jawabku mengungkapkan masalahnya, karena memang benar untuk sekarang. jangankan membantu orang tua angkatku untuk diri sendiri saja aku sangat kesulitan, kalau tidak dibantu dengan orang-orang baik, seperti Kak Dali.
"Kalau kamu mau mencabut tuntutannya, itu hak kamu. nggak apa-apa! asal jangan memaksaku, untuk mencabut tuntutanku. bukan apa-apa! Aku takut, aku tidak mau kalau Dani sampai mengganggu kamu lagi!" ungkapnya dengan suara yang berat, menunjukkan pilihan yang berat untuk dirinya.
"Ya sudah, nanti kita konsultasikan dulu sama Kak Angga. Mungkin dia yang lebih paham tentang masalah ini! Tapi sebelumnya terima kasih, yah." jawabku dengan pelan, lalu mengelus tangannya seolah saling menguatkan.
"Dia hanya mengangguk, lalu menatap lekat ke arahku. yang membuat Jantungku berdegup dengan kencang, tak kuat beradu pandang dengannya. dengan cepat, kualihkan pandangan ke arah pintu mobil, agar Jantungku bisa tenang kembali.
"Terus mereka sekarang ada di mana, apa Masih di kontrakan kamu?" tanya Kak Dali.
"Kurang tahu, Kak. tadi sebelum Ashar Mereka sudah pergi lagi. entah mau ke mana, karena ketika aku menanyakan, mereka tidak menjawabnya." jawabku menjelaskan. "ya sudah jangan dibahas lagi, nanti lain waktu kita baru sambung lagi. sekarang kakak harus fokus, katanya mau menghadiri pesta, Masa mau ke pesta mukanya masam!" ujarku sambil terus mengelus tangannya, ada rasa hangat yang mengalir ke seluruh tubuhku.
Dia hanya tersenyum. lalu mendekatkan wajahnya ke arahku. entah mau apa, Dia berbuat seperti itu.
"Ekhmmmm!" suara sopir taksi online yang ada di depan, menghentikan perbuatan kak dali. "Maaf mengganggu Pak, gerbang itu bukan kompleknya?" tanya Pak supir memastikan, sambil terus menatap ke arah depan.
"Iya, Pak!" jawab Kak Dali tergagap, menahan nafas yang tersenggal.
Dengan cepat Pak sopir pun, membantingkan kemudinya ke arah kiri. lalu masuk ke salah satu perumahan elit yang ada di kota Jakarta, terlihat dari rumah-rumahnya yang begitu besar. membuatku berdecak kagum, berharap suatu saat memiliki salah satu rumah. yang sebesar itu.
Setiap rumah mereka memiliki pos penjaga, Padahal di depan gerbang mereka, sudah ada pos satpam. mungkin kalau rumah-rumah seperti ini, Emang harus begitu, harus memiliki penjagaan yang ketat. agar rumahnya tidak di gondol oleh maling.
Beberapa menit berlalu, akhirnya kita sampai di salah satu pintu gerbang rumah yang begitu besar. lebih besar daripada rumah rumah lainnya. menurutku ini tidak pantas untuk disebut rumah, ini lebih mirip dengan istana dalam dongeng.
Setelah mobil taksi itu berhenti, aku dan Kak Dali segera turun, untuk memasuki rumah yang seperti istan.
"Ini rumah temen Kakak, katanya dia bekerja di cafe?" tanyaku merasa heran, kenapa ada seorang yang mau bekerja di cafe shoop, sedangkan rumahnya segitu megah, menandakan bahwa dia bukan orang biasa-biasa saja.
__ADS_1
"Nggak tahu, Kadang orang-orang kaya kelakuannya suka aneh." jawab kak Dalii sambil memegang tanganku, untuk segera masuk ke dalam.
Di pintu gerbang, sudah berjajar para penjaga, untuk memeriksa para tamu undangan, agar tidak ada penyusup yang masuk.
"Mau ke mana?" tanya seorang satpam, berwajah sangar. menatap ke arah kita berdua.
"Menghadiri pesta" jawab Kak Dali, sambil tersenyum ramah menanggapi pertanyaannya.
"Mana undangannya?" Tanyanya dengan tegas.
"Maaf Pak. saya lupa membawanya!" jawab Kak Dali yang terlihat kebingungan.
"Kamu mau ngacau ya di tempat ini, atau kalian pengen makan gratis. Silahkan pergi sebelum kami mengusirmu dengan kasar!" Ancam pria berbaju seragam putih biru itu.
"Maaf Pak, Saya benar-benar lupa?" jawab Kak Dali mengiba.
"Sudah sana pergi!" bentaknya dengan suara tinggi, sehingga Mengundang perhatian orang-orang yang ada di situ. Bahkan para tamu undangan mau masuk, berhenti seketika untuk menonton kami terlebih dahulu.
"Ya sudah!" jawab Kak Dali cuek, lalu memegangin tanganku. untuk segera menjauh.
"Pak Dali!" Panggil satpam itu memastikan.
Dengan malas kak dali membalikan badannya, untuk melihat Siapa orang yang menyapanya.
"Iya kenapa, Pak. Saya mau pergi!" tanyanya sambil menaikan alis.
"Maaf Pak, dia satpam baru. jadi belum mengetahui Siapa bapak sebenarnya, saya ditugaskan oleh non Stella, untuk mengajak bapak segera masuk ke rumahnya!"
Melihat temannya berbicara seperti itu, satpam yang tadi mencegah hanya menatap heran ke arah satpam yang baru datang, tak mengerti apa yang temennya maksud.
"Tapi saya nggak bawa undangan, Pak." jelas kak Dali.
"Undangan nggak penting, yang penting Bapak Datang. ayo Silakan masuk!" ajak satpam itu.
__ADS_1
Aku tak tahu Sebenarnya ada apa, tiba-tiba Kak dali diperbolehkan masuk. Dan satpam yang barusan terlihat mengenalnya. Apakah dia sering main ke sini, atau gimana. sampai-sampai satpam itu terlihat akrab seperti itu.
Walau kak dali terlihat males, untuk masuk ke dalam. namun satpam itu terus memaksa. akhirnya dia mengajakku untuk segera masuk ke dalam, namun sebelum masuk ketika melewati satpam itu. dia, mengngguk tanda meminta izin, sambil menatap orang yang tadi menolaknya.
"Maaf pak, saya hanya menjalankan tugas" ujar satpam yang tadi menolak Kak dali. Mungkin dia merasa tidak enak.
Namun Kak Dali hanya tersenyum, sambil mengacungkan jempol tangan kanannya. lalu mengikuti satpam yang mengajaknya, masuk ke dalam rumah, yang berbentuk istana itu.
"Non stella, sebentar lagi turun. Bapak tunggu aja. Silahkan menikmati makanannya. Saya mau lanjut bekerja." ujar satpam itu mempersilahkan kita berdua.
"Ayo makan, mumpung gratis. kayaknya makanannya enak-enak!" Bisik kak Dali di telingaku, membuatku membulatkan mata, seolah tidak percaya apa yang ia katakan.
"Belum dipersilakan kak? sama yang punya rumahnya!" jawabku dengan pelan, merasa malu kalau harus melakukan hal seperti itu.
"Nggak apa-apa! banyak orang ini, jadi kita nggak akan dikenali." sarannya membuatku menggeleng-gelengkan kepala.
Tanpa berpikir panjang lagi, dia menuntunku mendekati makanan makanan yang sudah berjejer di meja. makanan-makanan mewah, yang baru pertama kali aku lihat, dan mungkin aku tidak tahu namanya apa.
dengan santainya Kak Dali mengambil piring, lalu memasukkan makanan ke piring.
"Jangan malu-malu, nanti kamu lapar" bisiknya lagi, sambil memberikan piring yang sudah terisi oleh makanan. Kemudian dia mengambil piring lagi untuk diisi.
Aku hanya bisa menggeleng-geleng kepala, melihat kelakuannya. kadang dia bak malaikat yang cool abis, namun kadang juga dia bisa berbuat seperti Hanoman dengan sikap jahilnya.
Setelah piringnya penuh dengan makanan. dia menarik tanganku menuju ke halaman samping. karena acara pesta ini, selain menggunakan ruang indoor, ada juga outdoor yang menggunakan halaman samping.
Dihalaman samping ada beberapa kursi yang berjajar, mungkin disiapkan khusus untuk para tamu, ketika mereka mau menikmati suasana berbeda.
"Bener ya, kata satpam tadi. kita ke sini hanya mau Numpang Makan?" ujarku sambil tersenyum, merasa lucu dengan apa yang kita lakukan.
"Iya nanti, kalau sudah makan. Kita langsung pulang saja, Sebenarnya aku nggak suka tempat yang ramai, seperti ini." idenya lebih gila lagi.
"Oh iya, Kak. Kakak nggak bawa kado?" Tanyaku yang merasa heran, karena semua orang yang datang ke sini mereka membawa kado.
__ADS_1
"Aduh!" ungkapnya sambil menepuk jidat.
"Kenapa kok, begitu?" Tanyaku menatap heran ke arahnya.