Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 49 TIDAK ADIL


__ADS_3

Pov dini


Setelah aku membawa kak dali pergi menjauh dari kedua orang tua angkatku. aku segera melepaskan genggaman tanganku, yang ada di lengannya, tak ada perkataan yang keluar dari Mulutku. rasa kecewa ketika mengingat kejadian tadi malam, ketika Kak setelah ulang tahun, membuatku merasa ngeri ketika aku hendak mendekatinya lagi. Takut terjatuh kelubang yang sama.


Aku berlalu pergi tanpa bertegur sapa terlebih dahulu, meninggalkan kak Dali yang masih terdiam, terpaku menatap kepergianku.


Tak ada penahanan yang keluar dari bibirnya, atau pergerakannya. untuk menghentikan langkahku, mungkin dia masih merasakan sakit akibat pukulan dari bapak angkatku.


Aku pun semakin menjauh dari tempat di mana kak dali berdiri, namun terdengar suara langkah kaki yang mengejarku di belakang, dengan cepat Aku menoleh ke arah datangnya suara. takut kedua orang tuaku mengejar. namun setelah melihat Siapa orang yang mengejarku, aku berdiri seolah menunggunya untuk cepat menghampiri.


"Maafin aku ya, Din. aku sayang kamu, Aku suka kamu, Aku cinta sama kamu, aku mau kamu jadi istriku." ucap kak dali dengan tiba tiba, membuat mulutku menganga, kaget dengan pengakuannya.


Pengakuan yang sudah lama aku tunggu-tunggu, namun sayang waktunya tidak tepat, Pengakuan itu datang setelah aku tahu dia sudah bertunangan dengan Kak Stella. Aku tidak mau mengganggu hubungan orang lain, karena aku juga merasa sakit, ketika hubunganku dengan kak dali ada yang mengganggu.


"Sudah, sana nikahi saja! kak stella! aku tidak ada set4i kukunya, kalau dibandingkan dengan wanita cantik itu." ujarku dengan tegas, menahan air mataku yang sudah membumbung.


"Aku tidak suka dengan stella, Aku sukanya sama kamu."


"Halah munafik, Bilang aja! kalau kakak mau menikah dengan dia! lihat jari manis Kakak, masih melingkar cincin yang mengikat." Jelasku sambil melirik ke arah jari manisnya.


Diperhatikan seperti itu kak dali, membuka cincin yang dipasangkan kak stella tadi malam. entah apa maksudnya, dia berbuat seperti itu.


"Jadi gara-gara cincin ini, kamu menjauh dariku?" tanya kak dali sambil menatap kearahku.


Aku menggelengkan kepala, tidak memberikan jawaban. karena tidak baik berbicara dengan lawan jenis yang akan segera memiliki pasangan.


Tak ada perkataan yang keluar dari bibirku. Dengan segera aku membalikan tubuh untuk pergi menuju tempat kerja, namun tanganku ditarik dengan keras, sehingga tubuhku tertarik jatuh didekapannya.


Mu4h!


Bibir Kak Dali mendarat di bola mata sebelah kanan, lalu di sebelah kiri, dilanjutkan dengan menc1um keningku.


Diperlakukan seperti itu, mataku membulat dengan sempurna, seolah tidak percaya dengan apa yang Kak Dali lakukan. karena selama ini jangankan untuk menc1um, menyentuhku saja Dia terlihat ogah-ogahan, seperti orang yang tidak mempunyai hasrat terhadap perempuan.

__ADS_1


"Lepaskan aku, Kak! atau aku berteriak, Kakak mau berbuat macam-macam!" Ancamku yang tidak sinkron dengan hati, karena hati ini meminta untuk menunggu, apa yang akan dilakukan kak dali selanjutnya.


Aku menundukkan pandangan, karena malu diperlakukan seperti itu. dengan cepat aku kibaskan tangganku, agar terlepas dari dekapanya. lama memberontak, akhirnya dia melepaskan genggaman itu, membiarkanku pergi.


"Kejar lagi dong! Ayo kejar lagi!" hatiku terus meronta-ronta, Berharap kak dali melakukan yang baru saja ia lakukan, namun sayang kali ini permintaanku tak terkabulkan.


"Kenapa sih ketika Aku mengharapkan dia mengejarku, dia menjauh. tapi ketika aku tidak mengharapkannya, dia malah mengejarku. Bahkan sampai menc1um!" gumamku sambil terus berjalan, mencari halte busway terdekat untuk menuju tempat kerja.


********


Pukul 10.00. aku baru sampai di tempat kerja, disambut tatapan sinis dari Kak Rani, dan karyawan lainnya. hanya Kak risma yang menyambutku dengan senyum.


"Udah karyawan baru. laganya kayak bos!" cibir Kak Rani yang menyambutku dengan tatapan tajam.


"Maaf Kak, aku terlambat, karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan!" Ujarku yang merasa tidak enak.


"Halah, alasan! semua orang juga punya kesibukan masing-masing, namun mereka tetap Royal dengan pekerjaan, yang mereka kerjakan di sini!" tegas Kak Rani tidak menerima alasanku.


"Dari mana? sana cepat ganti baju!" seru Kak risma yang melihatku sedang kesulitan.


"Ya sudah, sana! buruan ganti baju!" ulang Karisma.


"Belain terus! heran deh kamu dikasih jampe-jampe apa? sampai terus membela orang yang tidak bertanggung jawab seperti itu?" ujar Kak rani yang masih menatap kearah kita berdua.


Aku tidak memperdulikan perkataan Kak Rani, aku bergegas masuk ke ruang ganti, untuk mengganti pakaianku, dengan seragam kerja.


Setelah selesai mengganti pakaian, aku segera bergegas keluar. untuk melakukan Tugasku sebagai karyawan toko yang melayani pembeli.


"Tuh, lihat Pak! jam segini, dia baru datang, laganya seperti bos saja, datang seenak jidat!" ucap kak Rani yang mengadu sama Pak bowo, Mungkin beliau baru datang, saat aku mengganti pakaian di ruang ganti


"Iya Pak, kita sangat ngiri, kalau dini bisa bekerja dengan santai seperti itu!" ujar karyawan lain menimpali aduan dari Kak Rani.


Pak bowo hanya terdiam, memperhatikan ke arahku. lalu membagi tatapannya ke arah karyawan lain.

__ADS_1


"Nanti setelah salat Dhuhur, kita akan melakukan rapat. kita tutup toko sebentar. agar semuanya tidak saling menjatuhkan Antar karyawan. sekarang kalian lanjut bekerja!" Ucap Pak Bowo dengan tegas lalu ia berjalan menuju meja kasir, tidak memperdulikan lagi karyawan yang menatap dengan penuh kebencian ke arahku.


"Kerja! kerja!" ujar Kak risma membuyarkan lamunan masing-masing, sehingga dengan malas semua karyawan kembali ke posisi masing-masing.


*****


Pukul 12.00. sesuai janji pak Bowo, toko ditutup sementara, untuk membahas kinerja para karyawan. aku sudah pasrah dengan semua keputusan yang akan diberikan oleh pak Bowo, karena memang kesalahanku yang sangat fatal, dan sangat banyak.


"Saya berharap, agar karyawan tidak ada yang saling membenci, kalian itu adalah saudara seperjuangan, harus saling menyayangi, harus saling melindungi, harus saling membantu!" ujar Pak bowo membuka pembicaraan.


"Tapi mau saya, bapak bisa mengabil keputusan. Apabila ada karyawan yang tidak disiplin. Namun sayang, Bapak tidak bisa mengambil keputusan dengan tegas. Maaf saya berbicara seperti ini, mewakili semua karyawan yang merasa diperlakukan dengan tidak adil!" jawab Kak Rani menyampaikan unek-uneknya.


"Semua karyawan, saya sudah perlakukan sebaik mungkin, sebisa saya. berbuat adil, namun yang harus kalian ingat, adil itu tidak harus sama, namun harus bisa menempatkan sesuatu di tempatnya. Sesuai kebutuhan." jawab Pak bowo dengan santai.


"Adil Bagaimana, pak? dia sudah tidak masuk kerja beberapa hari, Tapi bapak dengan tidak tegas. masih membiarkan orang itu tetap bekerja di sini!" Bela Kak Rani yang tak mau kalah.


"Dini tinggal di sini, hanya Sebatang Kara, Coba bayangkan kalau ini terjadi pada diri kalian, atau sama Adik kalian, apakah kalian tega membiarkan dia terlantar seperti yang dialami dini sekarang?" tukas pak Bowo.


"Ini masalah pekerjaan Pak, bukan masalah pribadi. jadi jangan sangkut pautkan masalah pribadinya dini, dengan pekerjaan kita, karena itu tidak ada hubungannya!" ucap Kak Rani yang tidak terima dengan perkataan Pak bowo.


"Terus, maunya bagaimana?" tanya pak Bowo.


"Kami maunya dini, dikeluarkan dari tempat kerja. agar kami bisa bekerja dengan tenang, tanpa ada rasa iri terhadap karyawan lain!" ucap Kak Rani dengan tegas, memberi saran.


"Ya sudah kalau itu yang kalian mau, saya keluarkan dini sebagai karyawan." ucap pak Bowo yang membuat jantung ini terasa berhenti Berdetak, rasanya dunia ini mau runtuh, Tak Sanggup menerima kenyataan Sepahit ini.


Terlihat senyum menghiasi bibir Kak Rani, dan karyawan-karyawan lain yang membenciku. mereka sangat puas dengan keputusan Pak Bowo.


"Terima kasih, Pak. sudah mendengarkan keluh kesah kami!" ucap kak Rani berseri-seri.


"namun walaupun Dini dipecat dari status karyawan, dia akan menggantikan posisi saya, sebagai pengawas ditoko ini. jadi  Apakah kamu siap dini, mengantikan posisi saya?" tanya Pak bowo sambil menatap ke arahku.


"Maksudnya, bagaimana, pak?" Tanyaku memberanikan diri mengangkat pandangan,  menatap kearah orang yang dianggap sebagai bos.

__ADS_1


"Iya, kamu menggantikan posisi saya, tugasmu mengawasi karyawan lain, ketika kerja." Ujar pak bowo.


__ADS_2