Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 58 MENERIMA KEPUTUSAN


__ADS_3

Pov Stella


Mendengar keributan di luar, tak lama ada seseorang mengetuk pintu kamarku. ibu yang sejak tadi duduk di samping ranjang, terperanjat mendengar ketukan itu, dengan cepat ia berdiri, lalu menghampiri ke arah pintu.


"Ada apa?" tanya ibu sambil menatap ke arah orang yang mengetuk pintu.


"Bapak bu! bapak!" jawab pelayan itu yang sedikit tergagap.


"Kenapa dengan bapak? Apakah bapak sakit? yang jelas dong ngomong!" tegas ibu seolah tidak suka dengan orang yang tidak bisa menguasai dirinya.


"Nggak Bu! bapak nggak sakit, namun..... " pelayan itu menghentikan pembicaraannya.


"Namun apa?" tanya ibu yang terlihat penasaran.


"Bapak lagi memukuli temannya non Stella, Bu!" jelas pelayan itu dengan suara masih sedikit terbata.


"Kok bisa?" tanya ibu sambil berlari menuju ke arah bawah.


Aku yang lagi meratapi nasib, Karena perjuanganku selama 3 tahun lebih, untuk mendapatkan hati Dali, itu semua sia-sia. hanya Penantian Bod0h Yang aku jalankan, hanya angan-angan semu yang aku tunggu.


Aku memang bod0h, terlalu memaksakan keinginanku, padahal tidak semua keinginan bisa tercapai.


Aku beamkan kepalaku ke bantal tidurku, agar tangisku tidak terdengar oleh orang lain, rasa malu dan rasa jengkel berkumpul menjadi satu, malu karena aku Sadar diri. jengkel karena aku tidak pernah kapok, padahal Dali dari dulu selalu menolakku. Menolak semua rasa cinta yang hendak Kuberikan.


Dali tak memberikan respon lebih atas perasaan yang kuberikan untuknya. dia hanya Acuh sebagai pria yang tidak punya perasaan. sikapnya yang Sedingin Salju, membuatku semakin penasaran, namun rasa itu akan tetap seperti itu, karena Sampai sekarang aku belum bisa mewujudkannya.


Beberapa menit berlalu, pintu kamarku diketuk kembali, terdengar suara ibu dan bapak yang masih berdebat.


"Bagaimana nanti, kalau nak Dali kenapa kenapa?" tanya ibu dengan nada suara tinggi.


"Biarin m4mpus juga nggak apa-apa! Biar dia tahu rasa! ketika dia menyakiti anak semata wayang kita!" jawab Bapak dengan suara nada yang kesal.


"Ya belum tentu juga, Pak! Dali menyakiti Stella. Kenapa Bapak bisa lepas kontrol seperti tadi, siapa tahu saja stella yang salah!" jelas ibu yang tidak sembarangan menyimpulkan.

__ADS_1


"Sudahlah! jangan dibahas lagi! mendingan kita membahas anak kita!" saran Bapak sambil duduk di sampingku.


Terasa belaian lembut yang menyapu seluruh punggungku, belaian yang begitu hangat, seolah mentransfer energi agar aku bisa kuat menghadapi semua cobaan.


"Kamu kenapa? Cerita dong sama kita! biar kita bisa membantumu." tanya ibu yang mengelus rambut pendekku seolah tidak mau kalah dari bapak. Ketika memberi perhatian dan kasih sayang.


"Dali Bu......! Dali Bu!" Jawabku sambil memalingkan wajah, agar suaraku tidak tertahan oleh bantal.


"Iya! Dali kenapa? Apa dia menyakiti kamu?" selidik Ibu sambil terus-menerus mengusap lembut Rambutku yang sudah penuh dengan peluh.


Aku hanya menggelengkan kepala, memberitahu bahwa Dali tidak pernah menyakitiku, namun ketika hendak menceritakan semua tentang kejadian yang sebenarnya, suaraku tiba-tiba tertahan dalam dada, hanya butiran bening yang sudah membasahi pipi, sebagai ungkapan rasa yang kupendam.


Dengan perlahan Ibu Pun membangunkan tubuhku, agar terduduk, supaya aku bisa merasa tenang, bisa menguasai diriku, yang sedang tertimpa musibah Lara Hati.


"Terus kalau Dali tidak menyakitimu, Kenapa kamu bisa menangis seperti ini?" tanya Bapak yang terus mengelus punggungku, sehingga memberiku dua kekuatan secara berasamaan.


"Minum!" Ujar Ibu sambil mengambil gelas berisi air yang selalu disiapkan oleh para pelayan di rumah.


Perlahan ku buka mulut, lalu kuteguk air di dalam gelas itu secara perlahan, secara tidak langsung itu memberikan energi tambahan, sehingga membuatku mulai merasa semakin membaik.


"Sudah agak baikan?" tanya ibu sambil menatap sendu ke arahku, mengisyaratkan bahwa dia tidak rela ketika melihat anaknya seperti ini.


"Maafin aku ya, Bu, Pak!" ujarku yang masih terbata-bata, sambil membagi tatapan kepada orang tua, yang sudah membesarkanku selama ini, merawatku, mengasihiku, tanpa lelah.


"Maaf untuk apa?" tanya ibu sambil menautkan alisnya.


"Selama ini aku belum bisa jadi yang terbaik buat kalian, aku belum bisa membahagiakan kalian. Aku hanya bisa membebani dan merepotkan kalian!" ujarku sambil menundukkan pandangan, tidak berani lagi menatap kedua orang yang sangat Ku hormati.


"Kamu ngomong apa sih!" tanya ibu sambil mendekap tubuhku, menyandarkan kepalaku ke dadanya.


"Kamu mau? Bapak apa kan si dali itu?" tanya Bapak dengan menggertakan Gigi.


Aku yang masih berada diperlukan ibu, hanya menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Terus kamu maunya apa? atau Bapak harus bagaimana? supaya anak kesayangan Bapak tidak sedih seperti ini!" Ujar Bapak meminta penjelasan.


"Enggak, Pak! sekarang aku sudah mengerti semuanya, mungkin ini adalah titik kedewasaanku, karena selama ini aku tidak pernah gagal mendapatkan apa yang ku mau, mewujudkan apa yang kuinginkan!" jawabku yang menarik kepalaku agar terlepas dari dekapan ibu.


"Sebenarnya ada apa? kamu cerita sama kita! biar kita bisa tahu, apa yang harus kita lakukan." tanya ibu melengkapi pertanyaan bapak.


"Nggak, Bu! sekarang aku hanya ingin bekerja dengan benar, Agar suatu saat nanti aku bisa jadi kebanggaanmu, jadi kebanggaan kalian!" jawabku meyakinkan.


"Terus kejadiannya seperti apa? sampai-sampai kamu menangis seperti ini?" Bapak mengulang pertanyaannya, seolah tidak bosan. agar dia bisa paham dengan apa yang harus beliau lakukan.


"Aku ditolak Bu sama Dali! Aku kira Setelah dia tahu bahwa aku pemilik franchise Cafe tempat dia bekerja. aku akan mudah mendapatkan hatinya, namun ternyata khayalanku hancur, Setelah dia lebih memilih wanita kampung itu." jelas aku yang beberapa kali menarik nafas, agar aku bisa lancar bercerita.


"Dini?" tanya ibu sambil menatap ke arahku meminta ke pastian dari pernyataanku.


Aku anggukan kepala, sebagai Jawaban pertanyaan dari ibu. Karena lidahku terasa kelu, tak mampu berucap. ketika mengingat kejadian yang baru saja kualami, kejadian yang sangat memalukan, di mana seorang perempuan mengungkapkan perasaan duluan. namun tidak ada respon positif, dari orang yang dia kagumi.


"Sudah! Serahkan semua itu sama bapak!" ujar Bapak sambil kembali mengelus punggungku.


"Jangan Pak! justru ketika dia menolakku. Aku sadar bahwa aku memang tidak pantas untuknya, dan menurutnya juga. mungkin di luar sana banyak laki-laki yang akan menerima kekuranganku, dan menjadikan Semua itu satu keistimewaan dalam hidupnya!" tuturku tidak setuju dengan pendapat bapak.


"Serius! kalau kamu mau. bapak bisa membuat dia bertekuk lutut di kakimu. memintamu untuk menjadikan Seorang Istri untuknya!" ucap bapak yang terlihat meyakinkan, menganggap semua sesuatu yang kita inginkan itu bisa terwujud. sifat bapak tidak jauh beda dengan sifatku, yang menganggap remeh semua hal.


"Jangaaaaaan! justru kalau bapak memaksa Dali untuk jadi suamiku. itu tidak akan benar! karena pernikahan tanpa adanya rasa cinta, Mungkin hanya kehancuran yang didapat!' jelasku mengulang perkataan yang dikeluarkan oleh Dali.


"Terus kita harus ngapain?" tanya Bapak seolah menyerah dengan semua usahanya, yang terus ingin membahagiakan Putri semata wayangnya.


"Doakan saja anakmu ini, Pak! agar kedepannya menjadi lebih baik, dan kedepannya mendapat suami terbaik pula!" pintaku sama kedua orang yang berada di samping kiri dan kananku.


"Syukurlah kalau kamu sudah dewasa seperti ini, Ibu sudah bangga melihat putri kecil ibu, sudah memiliki pemikiran sedewasa ini!" jelas Ibu sambil mengucap-ngucek rambutku.


Aku pun hanya tersenyum, lalu memeluk kembali ibu dan bapak, dengan pelukan yang lebih erat dari sebelumnya.


Setelah menceritakan semua kejadian yang terjadi rasanya Dadaku terasa plong. terbebas dari semua angan dan cita yang tidak bisa kuwujudkan. Namun itu bisa menjadikanku seorang wanita yang mulai tangguh, yang mulai sadarĀ  tentang Apa arti kehidupan, tentang tata cara menghormati dan menghargai orang lain.

__ADS_1


"Ya sudah! sekarang kamu mandi dulu. nanti setelah kamu mandi kita langsung makan malam, sekaligus merayakan kedewasaanmu!" ucap ibu meledekku, sehingga dengan cepat aku melepaskan pelukannya, kemudian memicingkan mata ke arah ibu.


Akhirnya kita pun saling menatap, lalu dengan perlahan kedua sudut bibir kita saling mengangkat. tersenyum dengan lebar tanpa ada beban sedikitpun


__ADS_2