Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 57 KETEGASAN


__ADS_3

Pov dali


Mendengar permintaan Stella seperti itu. Aku hanya diam lalu menatap Sendu ke arahnya, namun itu tidak lama, aku kembali memandang layar hp-ku, melihat chat-chat ya aku kirim, tidak mebuahkan tanda sukses.


"Kamu emang bener-bener! gak punya perasaan banget, dal!" ucap Stella yang terlihat matanya mengembun.


"Maaf Stella, aku benar-benar nggak ada perasaan apapun sama kamu! kamu memang cantik, aku yakin di luar sana. masih banyak pria-pria baik, yang menanti dan mengharapkan cintamu!" ujarku sambil meletakkan handphone, lalu memegang tangan Stella, menguatkan dan memberi pengertian, agar Stella tidak Terus Berharap   menurutku laki-laki itu, harus berani mengambil keputusan, meski itu pahit, tidak boleh memainkan perasaan perempuan.


"Emang tidak ada secuil di hatimu, yang mencintaiku?" tanya stella memastikan  dengan mata yang sedang berenang dengan air bening, namun tak sampai tumpah.


"Stella, Maafkan Aku! Aku tidak mau menjalin hubungan tanpa perasaan! Aku tidak mau menyakitimu, yang sudah menjadi sahabat terbaikku, dan yang perlu Stella tahu! ketika aku menjalani hubungan, aku akan menjalani hubungan itu dengan ikatan pernikahan, umurku sudah mencapai 30 tahun, aku tidak mau bermain-main lagi!" jawabku dengan pelan, agar Stella bisa mengerti, dengan apa yang kusampaikan, dan tidak menyakiti hatinya.


Mendengar penuturanku seperti itu, stella hanya menarik nafas dalam, melepaskan beban serta hembusan yang keluar dari mulutnya, dengan halus.


"Bang!" panggilku sama waiter.


Orang yang ku panggil pun mendekat, lalu menanyakan kepentinganku memanggil dirinya.


Aku meminta rincian pembayaran pesanan yang ku makan, Setelah selesai menghitungnya, aku pun segera membayarnya.


"Ayo, pulang!" ajakku sama Stella, yang masih terdiam merenung dengan Tatapan yang kosong.


Stella hanya menganggukan kepala, kemudian ia berdiri, mengikutiku berjalan, menuju mobilnya. kubukakan pintu, agar Stella bisa masuk ke dalam.


Stella hanya diam, namun menurut tak ada sedikitpun penolakaan yang keluar dari mulutnya, membuatku merasa tidak enak hati, melihat perubahan sikapnya yang begitu frontal.


Stella adalah wanita periang dan energik, namun malam ini sikap seperti itu tidak nampak dari dirinya. dalam hati terdalamku aku merasa sangat bersalah, setelah berkata jujur tentang hatiku, namun aku harus tetap tegas agar kedepannya. Stella tidak terus berharap, dan tidak merasa dibohongi.


"Maafkan aku ya Stella! aku nggak mau menyakitimu!" ujarku yang masih diliputi oleh rasa tidak enak  ketika kita berdua sudah berada di dalam mobil.


Stella tidak menjawab, namun terlihat cairan bening yang mengalir di pipinya, matanya yang begitu indah, hanya terfokus menuju arah jalan.


Aku bukannya tega, namun aku juga tidak mau, kalau aku harus membohongi perasaanku, demi menyenangkan orang lain.


Setelah tidak mendapat jawaban dari pertanyaanku. pandanganku terfokus kembali, melihat arah jalan, agar mobil yang ku kemudikan, tidak bersenggolan dengan mobil lainnya.


30 menit berlalu, akhirnya aku sampai di gerbang pintu rumah Stella, yang begitu mewah. dengan cepat Bayu, sebagai satpam rumahnya, membukakan pintu itu. membiarkan mobil yang kubawa, masuk ke carport rumah mewah ini.

__ADS_1


Setelah sampai di carport aku pun turun, hendak membukakan kembali pintu stella, namun aku kalah cepat, Stella keburu keluar sendiri dari mobilnya.


"Stella!" panggilku selalu mengikutinya di belakang.


Mendengar panggilan seperti itu, Stella semakin mempercepat langkahnya, agar aku tidak bisa mengajarnya.


"Kenapa kamu nangis?" tanya Bu Asri, yang menyambut anaknya di depan teras.


Stella sama sekali tidak menjawab pertanyaaan ibunya, dia terus berjalan dengan cepat, menuju ke arah dalam. melihat perubahan anaknya seperti itu, Ibu Asri pun dengan cepat mengikutinya.


"Stella! Stella!" Ibu Asri terus memanggil-manggil nama anaknya, yang terus berjalan menuju ke lantai atas, sehingga membuat rumah itu menjadi gaduh.


Terlihat banyak art yang keluar mendengar kegaduhan itu, sampai-sampai Pak Bagas pun ikut keluar.


"Ada apa Ri?" tanya seorang wanita yang berada di kursi roda.


"Nggak tahu! Stella tiba-tiba sikapnya berubah, aku mau ke atas dulu ya!" pamit Bu Asri, tak menghiraukan wanita yang ada di situ.


Pak Bagas yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya, beliau memperhatikan setiap sudut ruangan di rumahnya, sehingga pandangan itu tertuju ke arahku.


Tanpa bertanya terlebih dahulu, beliau langsung melayangkan satu bogem mentah, ke arah wajahku, sehingga membuatku tersungkur ke dinding rumahnya.


Walaupun beliau sudah tua  namun pola hidup yang sehat, dan olahraga teratur, sehingga pukulan itu masih terasa seperti pukulan anak muda.


"Kamu apakan Stella?" bentak Pak Bagas, sambil menyusul kembali dengan serangan yang mendarat di wajahku.


Sehingga membuat suasana di rumahnya, menjadi riuh dengan teriakan-teriakan para asisten rumah tangga, yang melihatku terus dihajar, disiksa habis habisan.


Beberapa pukulan mengenai wajah dan tubuhku, sehingga keluar darah segar yang mengalir dari hidung, Membasahi bibir. aku tidak melawan, karena mungkin ini adalah pembalasan dari sebuah keputusan yang kuambil, keputusan yang menyakiti anaknya.


"Sudah Pak! sudah!" Bu Asri menahan lengan suaminya yang terus memukuliku.


"Ngapain? Ibu Bela b4jingan t3ngik seperti ini, Stella itu anak kita! harusnya Ibu, lebih membela anak! daripada orang lain." Jawab Pak Bagas yang menghempaskan genggaman istrinya.


"Bapak gak boleh emosi seperti ini! Bapak harus tahu asal-usulnya seperti apa! Siapa tahu saja dali tidak salah." Bela Bu Asri dengan semangat juang 45.


"Siapa yang nggak emosi, ketika anak semata wayangnya di sakiti seperti ini! orang tua mana? yang tidak akan sakit hati?" tanya Pak Bagas seolah tidak menghiraukan istrinya.

__ADS_1


"Sudah Pak! sudah! kasihan nanti dali bisa meninggal di sini! kalau bapak terus pukulin." tahan Bu Asri.


"Biarkan Bu! biarkan Dia merasakan, ketika dia menyakiti anak kita!" teriak Pak Chandra sambil melayangkan tendangan, ke arahku yang sudah terkapar.


"Bapak!" teriak Bu Asri sambil mendorong tubuh Pak Bagas agar menjauh dariku.


"Bayu! tolong antar  Dali ke rumah sakit terdekat!" Perintah Bu Astri, menyuruh satpam yang sejak dari tadi menonton kejadian itu.


Tak Ada Jawaban yang keluar dari Bayu, Dia hanya mendekatiku, lalu membopongku menuju ke arah luar, kemudia memanggil sopir, untuk mengantarkanku ke rumah sakit terdekat.


Aku pun dimasukkan ke dalam mobil. Bayu terus menemaniku, mengantarku menuju rumah sakit, yang terdekat dari rumah Stella.


Sesampainya di rumah sakit, Aku pun diobati dengan cepat, agar lukaku bisa sembuh.


"Kamu nggak apa-apa, Dal?" tanya Bayu setelah aku mendapatkan penanganan.


Aku hanya tersenyum, tak menjawab pertanyaan pria yang memakai baju putih biru itu. kemudian aku menurunkan kakiku Dari Ranjang pengobatan.


"Mau ke mana?" tanya Bayu.


"Pulang!" jawabku singkat, karena ketika bibirku banyak bergerak, rasanya Sedikit perih.


"Kamu istirahat dulu saja! nanti kalau sudah diperbolehkan pulang, baru kamu pulang!" ujar Bayu menahanku.


Aku tidak mendengarkan perkataannya, aku segera berdiri,  lalu berjalan dengan sempoyongan, memagangi dada yang terasa sesak, karena pukulan dari Bagas. Berjalan menuju ke arah luar rumah sakit.


Bayu yang mengekorku di belakang, dia terus-menerus menahanku. agar dirawat terlebih dahulu, namun aku seolah tuli, tidak menghiraukan permintaannya.


Sesampainya di luar, dengan muka yang begitu khawatir, Bayu mengajakku untuk naik kembali ke mobil, yang tadi membawaku kerumah sakit.


"Mau diantar ke mana?" tanya sopir setelah keluar dari area klinik 24 jam.


"Bapak pernah mengantar cewek yang mirip stella, kan?" Tanyaku memastikan.


Sopir itu hanya mengangguk, Tanda mengiyakan pertanyaanku.


"Antar aku ke situ saja! soalnya aku ada urusan penting, dengan wanita itu." seruku sama sopir.

__ADS_1


__ADS_2