Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 64 PENGAKUAN IBU DAN BIBI


__ADS_3

Pov Stella


Akhirnya Ibu Pun bercerita, kejadian 29 tahun yang lalu, ketika Bapak mau melamar Bibi Utari, mendengar awal cerita saja membuatku merasa nyeri. bisa membayangkan cerita yang akan dilanjutkan oleh ibu.


Ketika Bapak mau melamar Bibi Utari, namun ibu sebagai kakaknya yang belum menikah. orang tua mereka, atau kakekku. menyarankan agar bapak menikahi kakaknya terlebih dahulu, karena dalam adat kita, tidak baik atau akan berakibat fatal, ketika seorang adik melangkahi kakaknya, yang hendak menikah.


Namun dengan mengejutkan Bapak menerima itu, dan mengakui semua kesalahannya. Bapak mendekati Bibi Utari karena ingin mendekati ibu, sehingga ketika ada kesempatan yang bagus seperti itu. Bapak tidak menyia-nyiakannya, dia langsung setuju, dengan saran kakekku untuk menikah dengan ibuku yang sekarang.


Ibu yang awalnya tidak tahu, bahwa Bapak suka terhadapnya. awalnya menolak namun dengan paksaan keluargaku, akhirnya Ibu Pun setuju. karena menurutnya siapa yang tidak tergoda dengan pria setampan dan segagah bapak. memang egois, namun Ibu tetap melakukan pernikahan itu, di atas penderitaan adiknya. membuat bibi Utari merasa kecewa, hingga memutuskan pergi meninggalkan rumah.


Setelah mendengar cerita ibu, aku pun menarik napas dalam, ternyata mereka hidup, tidak terlepas dari cobaan yang begitu berat. aku yang membayangkannya saja tidak sanggup, ketika harus melakukan seperti itu.


"Setelah aku kabur dari rumah, aku berusaha untuk bangkit, sehingga bertemu dengan seorang laki-laki yang begitu gagah dan kaya raya. akhirnya aku pun menikah tanpa sepengetahuan orang tuaku, karena aku merasa kecewa dengan mereka. Aku bilang pada suamiku bahwa orang tuaku sudah tiada.


"Namun pernikahanku tidak lama, karena suamiku terkena musibah kecelakaan Laka Lantas. Namun sepeninggal suamiku yang kayak, menyisakan harta yang begitu banyak, sehingga membuatku menjadikan janda kaya raya.


"Setelah sepeninggalnya suamiku. aku merasa terpuruk, dan menjadi orang yang paling gagal, untuk yang kedua kalinya, itu karena kakakku, kakakku yang awalnya merebut orang yang paling aku cintai di dunia ini.


"Setelah 5 tahun lebih aku menghilang dari keluargaku. Aku mencoba untuk menyusun strategi. membalas rasa sakit yang pernah mereka lakukan.


"Dengan bod0h Mereka pun menerimaku dengan baik, tanpa ada rasa curiga sedikitpun. sehingga itu berjalan sesuai dengan Rencanaku, untuk terus mendekati mereka. kesempatan itu datang ketika kamu mengandung anak kedua.


"Aku menyusun rencana serapih mungkin, agar aku bisa menghancurkan kebahagiaan kamu. agar kamu juga merasakan sakit, ketika kamu ditinggalkan orang yang paling kamu cintai.


"Saat setelah kamu melahirkan anak kedua kamu. dengan cepat, aku yang sudah bekerja sama dengan semua orang yang ada di situ, menukarkan bayi kamu, dengan bayi yang sudah meninggal. sehingga menganggap bahwa Anakmu sudah meninggal.


"Jadi Anakku yang meninggal itu, bukan anak ku?" tanya ibu yang sejak tadi terdiam, sekarang memotong cerita bibi. beliau terlihat matanya yang memerah, menandakan emosi yang sudah mulai terpancing.


"Kamu jahat, tar! kamu sangat jahat!" ucap Ibu sambil menangis melepaskan rasa sesak di dadanya.

__ADS_1


Aku yang duduk di sampingnya, mengelus-ngelus pundak ibu. menenangkan agar ibu tidak terlarut dalam kesedihan. berbeda dengan bibi Utari yang sedang berbaring. Dia terlihat lega setelah menceritakan kejahatannya. Dia hanya tersenyum seakan puas, melihat saudaranya menangis untuk yang kedua kalinya.


"Terus sekarang anakku di mana?" tanya ibu sambil terisak setelah melepaskan semua bebannya.


Bibi Utari hanya terdiam sebentar lalu terlihat menarik nafas yang begitu dalam.


"Awalnya aku juga hendak membunuh anak itu, karena menurutku ketika dibunuh di rumah sakit, itu sangat beresiko. sehingga aku memutuskan membunuhnya di luar rumah sakit, di tempat yang tidak bisa terpantau oleh orang lain." Bibi Utari melanjutkan ceritanya.


Mendengar Lanjutan cerita Bibi Utari, tangisan ibu yang sudah mereda kembali mengeluarkan suara. dengan suara tangis yang begitu mengiris hati, tangisan seorang ibu yang kehilangan anaknya, untuk yang kedua kali.


"Kamu tega, Dek! kamu tega banget! apa salah Kakak sama kamu, sehingga kamu berbuat nekat seperti itu." ujar ibu di sela-sela tangisannya, seolah tak habis pikir kenapa di dunia ini ada orang sejahat bibi.


"Salah apa, Kak? Emang Kakak nggak merasa bersalah, ketika kakak merebut pria yang selama itu aku perjuangkan, Kakak mengambil Bagas tanpa merasa salah sedikitpun?" jawab Bibi utari, sambil menyembunyikan senyum sinisnya. Mengembalikan kesalahan itu terhadap ibu.


"Sudah ibu! Sudah Bibi! Kalian jangan saling menyalahkan. itu kejadian masa kelam, sekarang kita sudah menjadi keluarga yang utuh, keluarga yang saling menyayangi, jangan hancurkan itu kembali!"  Aku menengahi mereka, karena melihat kondisi mereka yang semakin panas.


"Terus Apa yang terjadi sama adikku, Bi? kalau dia meninggal, Bibi bisa menceritakan di mana dia dikuburkan, kalau adikku masih hidup, sekarang dia di mana?" Tanyaku dengan pelan, agar bibi tidak tertekan. aku yang sedikit tenang, dibandingkan ibu yang emosinya sudah meluap sampai ke ubun-ubun. Sehingga bisa menguasai keadaan yang sangat panas ini.


"Berarti adikku masih hidup Bi? kalau masih hidup, terus adikku sekarang di mana?" selidikku yang semakin penasaran. Namun dengan intonasi yang sama rendah.


"Bayi mungil tak berdosa itu, akhirnya aku bawa kembali ke rumah. namun setelah aku pikir-pikir, itu tidak aman bagiku dan baginya. sehingga aku memutuskan menitipkannya di seorang keluarga, yang terlihat miskin. Dengan memberikannya uang bulanan sebagai imbalan, mengurus anak itu."


"Sekarang anakku di mana?" potong ibu menghardik bibi, seolah beliau tidak sabar, karena Bibi Utari bercerita terlalu berbelit.


Mendapat tekanan yang begitu berat dari kedua orang yang ada di sampingnya. terlihat Bibi Utari. Kembali memejamkan mata, menahan rasa sakit yang dideritanya.


"Kamu jawab, Tariiiii!" teriak ibu yang emosinya sudah di ubun-ubun.


"Ibu jangan keras-keras, Bibi sedang sakit!" aku mengingatkan ibu yang sudah terbakar emosi.

__ADS_1


Ibu hanya menarik napas dalam, untuk menguasai keadaannya yang sudah tidak terkontrol. Baru kali ini aku melihat ibu semarah ini.  Ibu adalah wanita yang sangat lembut, tidak pernah berkata keras seperti itu. namun ketika mendengar anaknya dalam bahaya. Ibu berubah menjadi harimau yang siap menjaga anaknya.


"Bi, bangun Bi! Terus bagaimana keadaan adikku sekarang?" Tanyaku sambil menatap ke arah Bibi yang sedang memejamkan mata.


"Nanti kalian akan tahu! Setelah berkas itu ada di sini." Jawab Bibi yang terbata, terlihat napasnya yang tertahan, membuatnya semakin terlihat kasihan.


Aku hanya menarik napas dalam, untuk meredakan emosiku yang sebenarnya sudah mulai terpancing. berbeda dengan ibu, yang berteriak-teriak. sambil menggoyang-goyangkan tubuh Bibi Utari yang tidak berdaya.


Melihat ibu yang semakin murka, Dengan cepat aku pun menarik ibu untuk menjauh dari Bibi Utari, duduk di kursi sofa, agar ibu tidak terus menganiaya bibi.


"Ibu tenang dulu! kalau Ibu tidak tenang. Nanti semua tidak akan terungkap! Ibu tahan dulu emosinya! agar semua menjadi kebahagiaan buat kita!" ujarku yang masih bisa berpikir jernih. Agar ibu bisa mengontrol emosinya.


Tring! tring! tring!


Telepon Ibu pun berbunyi, sehingga dengan cepat ia meraihnya, lalu menggeser tombol hijau untuk mengangkat telepon itu agar tersambung.


"Bagaimana kalian sudah menemukannya!" tanya ibu yang terlihat wajahnya masih kesal, terdengar suaranya yang sedikit meninggi.


Tak terdengar balasan dari orang yang ada di ujung sana, karena Ibu tidak meload speaker telepon itu.


"Bod0h! dikasih tugas seperti itu saja, kalian tidak becus! bawa semua berkas yang ada di kamar si Utari!" ucap Ibu membentak orang yang ada di ujung telepon sana. Kemudian dia mematikan telepon itu.


Hari ini aku benar-benar melihat sisi lain dari seorang ibu, yang begitu lemah lembut. jangankan memarahi anaknya, ataupun saudaranya. memarahi pembantunya saja, yang melakukan kesalahan fatal pun, Ibu tidak pernah marah. Perlakuannya ya begitu ramah, sehingga semua orang menghormati, tidak ada yang berani melunjak.


Ibu menyandarkan tubuhnya, ke kursi sofa yang ada di ruang rumah sakit, terlihat dari sudut matanya keluar cairan bening yang membasahi pipi.


"Sabar bu! kalau kita bersabar, aku yakin akan ada kebahagiaan untuk kita !" ucapku sedikit menenangkan perasaan ibu.


"Kurang aj4r banget, si Utari! padahal ibu selalu berbuat baik sama dia.  Aku memberikan kasih Sayang Selayak mungkin untuknya, namun dia begitu tega, menghilangkan anakku." ujar ibu yang terdengar Lirih, hingga suara tangisan itu kembali pecah, memenuhi ruangan. membuatku semakin merasa panik, bingung dengan apa yang harus aku lakukan.

__ADS_1


Perlahan kudekati tubuh ibu, memeluknya dengan erat supaya Ibu merasa sedikit tenang. Setelah Ibu mulai menguasai keadaan, tanpa sepengetahuan ibu. Aku memberitahu Bapak tentang keadaan yang terjadi di rumah sakit.


Bapak pun meneleponu beberapa kali. namun aku tidak menghiraukannya, aku fokus terus menenangkan supaya Ibu tidak berlarut dalam kebencian.


__ADS_2