Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 34 SULIT DIPAHAMI


__ADS_3

Pov dali


"Eh, Kakak! udah pulang? ini Kak, aku lagi masakin nasi liwet buat kakak, nanti kakak Cobain deh. asinnya nggak akan terasa asin." jawabnya sambil tersenyum tanpa dosa, melirik ke arahku sambil terus membalikkan goreng jengkol.


"Kamu ngapain repot-repot, Nggak usah seperti ini, apa Kamu nggak ngerti. apa yang tadi pagi aku bilang." Gerutuku kesal


"Nggak apa-apa! Kak. biar kakak tahu aja. aku bisa masak." jawabnya sok kecantikan.


Melihat kelakuannya yang seperti itu .Aku pun tak menghiraukannya lagi, kembali menemui dini yang masih ada di ruang tamu.


"Kamu ngapain sih, pake undang-undang Risma segala?" tanyaku agak menyolat ,karena kesal Risma ada di sini.


"Lah, bukannya kakak yang nyuruh? Katanya Kakak juga yang minta dimasakin nasi liwet, yang asinnya tidak keasinan."  jawab Dini sambil memicingkan mata, ketika bilang asinnya gak keasinan.


"Siapa bilang aku menyuruh risma masak, aku sudah beli makanan buat kita, kalau kamu gak percaya, tuh lihat di motor!" ujarku sambil berdiri, lalu mengambil kantong berisi nasi yang kubeli tadi dari Cafe.


"Wah, makanan apa ini, kak?" Tanya Dini, terlihat matanya yang berbinar seolah senang dengan apa yang aku lakukan.


"Nasi, sama ayam rica-rica. tadinya buat kita makan nanti malam." jelasku sambil menatapnya.


"Terus masakan Kak Risma, gimana?" tanya dini menatapku.


"Biarin aja, dia makan sendiri. Lagian sok Kerajinan amat, pakai masakin segala. Toh, aku juga tidak memintanya." jawabku dengan lugas, tak mau ribet dengan urusannya.


"Makasih yah, kak. untuk makanannya." ujarnya sambil mengabil bok nasi yang kupegang.


"Iya sama-sama, aku mandi dulu ya."


"Tapi Kak. aku nggak enak, sama Kak Risma. kalau kita nggak makan masakannya." sarannya mengagetkan. membuatku mengembalikan badan kembali menatapnya.


"Terus bagaimana?"


"Kita makan bareng aja, nasi liwet buatan Kak Risma. Kasihan dia udah capek-capek membuatnya. Masa, kita cuekin." ujar Dini memberikan saran.


"Loh?" Tanggapanku sambil menaikkan alis, merasa aneh dengan sikapnya, tadi dia marah-marah seolah aku ini adalah pria yang paling bersalah, membiarkan seorang wanita yang masuk kehidupanku. tapi sekarang dia malah yang meminta aku untuk menghormatinya.


"Dasar cewek aneh." Gumamku dalam hati, yang tak sempat ku ucapkan. sambil menggaruk-garuk kepalaku, yang tidak gatal. gemes melihat tingkah lakunya.


"Nggak apa-apa! kan. nanti nasi yang ini, buat kita makan malam banget, sekitar jam 12an, mungkin. Sehabis kaka bekerja lembur."

__ADS_1


"Terserah! aku ngikut aja." Ketusku sambil berlalu meninggalkannya, masuk ke kamar. mengambil baju dan handuk, untuk membersihkan badan terlebih dahulu, sebelum melaksanakan salat magrib.


Setelah selesai tiga rakaat di masjid. aku pun kembali ke kontrakan, terlihat mereka berdua yang sangat akrab, lagi menyiapkan nasi liwet yang dibuat Risma.


Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala, memperhatikan kelakuan mereka, kadang terlihat tidak akur, kadang terlihat akur banget, Apakah sesulit ini, untuk memahami karakteristik seorang wanita.


Akhirnya Kami bertiga pun makan, aku makan nasi liwet. sedangkan mereka, makan nasi box yang aku bawa dari Cafe. setelah selesai makan, aku mengajak mereka berdua untuk ngobrol di depan.


"Kamu ngapain lagi Ris, ke sini?" tanyaku sambil menatap ke arah Risma, setelah kami bertiga duduk.


"Aku mengantarkan uang, titipan dari pak Bowo." jawabnya sambil senyum-senyum.


"Mau nginep lagi?" tanyaku memastikan.


"Iya, tadinya aku mau pulang. tapi kalau malam begini, aku takut. Jawabnya memberi alasan.


"Ya sudah, ini yang terakhir kalinya kamu nginep di sini, soalnya takut aku digerebek warga." jawabku ngasal, agar Risma tidak datang ke sini lagi.


"Terus Bagaimana dengan dini? bukannya kalau kalian berdua, itu lebih mengundang kecurigaan warga?" tanya Risma mengembalikan keadaan.


"Eeeeee, emmmm. Bukan begitu, maksudnya!"  aku kikuk tidak bisa menjawab, memang benar apa yang diucapkan oleh Risma.


"Tapi!" aku tidak melanjutkan perkataanku.


"Yah aku tahu, kok. Kakak suka sama Dini, Tapi kakak harus janji, jangan nyakitin dia." ancam Risma serius.


Aku dan Dini pun saling bertatapan, merasa ada yang salah dengan apa yang diucapkan risma. namun itu bisa membuat kita sedikit mengulum senyum. Entah mengapa bisa seperti itu.


"Aku nggak suka kok, sama Dini. Aku hanya menganggapnya sebagai adik." jawabku menyanggahnya, merasa malu kalau aku menyukai anak kecil seusia dini.


"Alah! pakai pura-pura segala, tatapanmu itu. tidak bisa membohongiku, Kak!" ucap Risma, sambil memicingkan mata.


"Oh ya! Din besok mau ikut nggak, ke acara ulang tahun teman kerjaanku?" aku mengalihkan pembicaraan, agar Risma tidak berkelanjutan, membahas tentang perasaanku terhadap dini.


"Acara ulang tahun di mana,Kak?" tanyanya dengan antusias.


"Di Cempaka Putih."


"Aku ikut dong, kak." jawab Risma menyahuti, sambil mengedipkan mata memberikan kode, dia juga ingin diajak.

__ADS_1


"Nggak bisa ini undangannya, cuma berdua saja, Lagian aku kan nggak ada mobil, buat bawa kamu." jawabku memberi alasan supaya Risma tidak ikut.


"Yah kok gitu, jemput bolak-balik aja, sih! lagian jaraknya dekat ini!" saran Risma, dengan penuh penekanan, berharap aku mengizinkannya untuk ikut.


"Enggak, kamu enggak boleh ikut! kamu di sini aja, kalau nggak, kamu pulang ke rumahmu saja istirahat."


Tring! tring! tring!


Ponsel yang kusimpan di kamarku, berbunyi menandakan ada satu panggilan masuk. aku pun segera bergegas meninggalkan mereka berdua, untuk mengangkat teleponku.


"Halo!! Iya ada apa Ra?" sapaku sama orang yang di ujung sana.


"Aku sudah cerita sama bapak. katanya pakai developer Kakak aja, soalnya developer Bapak Semuanya sibuk." Aira menjelaskan tujuannya ketika aku menelepon.


"Ya sudah nanti aku hubungin kamu lagi. aku akan coba tanyakan terlebih dahulu sama para pekerjanya, takut-takutnya mereka juga nggak bisa!" aku memberi jawaban.


Tap! tap! tap!


Aku putus telepon itu, dengan sepihak. tak menunggu jawaban Aira, yang kayanya dia hendak mengobrol kembali. ada perasaan tidak enak  namun Biarkan saja. nanti juga aku mau meneleponnya lagi. memberitahu bagaimana keputusannya.


Setelah telepon itu terputus. Aku mencari nomor Wandi. nomor orang yang mengerjakan renovasi rumahku, setelah ketemu aku menekan tombol berlogo telepon.


"Yah Ada apa, Pak!  tumben telepon?" Wandi menyapaku dengan ramah, Setelah telepon itu terhubung.


"Lagi sibuk nggak, Wan. ada pekerjaan baru nih,?" Tanyaku sama Wandi.


"Nggak ada, Pak. semenjak selesai merenovasi rumah Bapak, belum ada tawaran lagi, mungkin orang orang lagi pada bokek kali, ya?" canda Wandi sambil terkehkeh.


"Mungkin, bisa jadi. sekarang lagi pada susah, harga-harga pada naik."


"Oh iya, tadi pekerjaan apa yah?" Tanya wandi dengan penasaran


"Temanku ada yang mau renovasi restoran, menjadi Cafe. kira-kira Kamu ada waktu nggak, buat mengerjakannya." Tanyaku, sambil menjelaskan tujuannya.


"Bisa, bisa bangat malahan." Jawab Wandi dengan semangat.


"Kalau bisa! kamu sekarang ke sini, nanti aku tunjukkan gambar denah, serta animasi hasil jadinya. biar kamu bisa pelajari terlebih dahulu.


"Siap meluncur!" Jawab wandi, sambil memutus sambungan telepon itu.

__ADS_1


Tak lama setelah telepon itu terputus, terdengar suara adzan isya yang berkumandang, di masjid dekat kontrakan. dengan tergesa-gesa aku bersiap menuju ke masjid,  yang awalnya mau menghubungi Aira, namun aku pikir. Ibadah lebih penting, Lagian menghubungi Aira bisa setelahnya.


__ADS_2