
Pov Dini
"Maafin aku, Kak! Tolong kasih aku kesempatan." Ujarku mengiba, memohon agar Kak Rani, mau ngasih aku kesempatan, untuk bekerja di toko pak Bowo.
"Sudah pergi sana! Jangan ganggu kami bekerja." Bentak Kak Rani sambil membulatkan mata.
"Ada apa nih, ribut-ribut pagi-pagi?" Tanya seseorang yang baru datang, kupalingkan pandanganku ke arah datangnya suara, terlihat Kak Risma yang berdiri menatap ke arah kita berdua.
Rasanya sangat bahagia, seperti ada malaikat penolong yang datang.
"Ini nih, kalau kamu nerima karyawan sembarangan, dia tidak disiplin kerja seenak jidatnya aja." Ketus Kak Rani sambil terus menyapu.
"Lah, kok nyalahin aku? Aku kan baru datang." Ucap Kak Risma sambil menatap ke arah Kak Rani.
"Iya, gara-gara kamu merekomendasiin wanita pemalas ini, bekerja di sini." Seloroh Kak Rani menyalahkan Kak Risma.
"Ini Sebenarnya, ada apa sih?" tanya Kak Risma yang belum paham Apa permasalahannya.
"Aku sudah dipecat kak, sama pak Bowo!" jawabku menjelaskan agar Kak Risma paham.
"Kata siapa kamu Sudah dipecat?" Selidik Kak Risma.
"Kata Kak Rani, Kak. Aku bahkan sudah diusir dari tempat ini!" jelasku lagi.
"Kamu tahu dari siapa, Rani? bahwa Dini sudah dipecat?" tanya Kak Risma menyelidiki Kak Rani.
"Pak Bowo. kemarin dia bilang, kalau si Dini datang ke sini, maka aku harus cepat mengusirnya! nanti karyawan lain mencontoh kelakuan buruknya." jelas Kak Rani bak kacang yang jatuh ke atas kuali.
"Lah, kok. berbeda sama aku, pak Bowo meminta agar dini disuruh masuk kerja." jawab Kak Risma yang merasa janggal.
"Ya sudah, Kak. aku pamit dulu!" ucapku menghentikan perdebatan mereka.
"Sana, buruan!" Usir Kak Rani menyuruhku agar segera pergi meninggalkan toko pak bowo.
"Bentar! Bentar! Biar aku telepon dulu Pak bowonya, agar semuanya clear." saran Kak Rani sambil merogoh tas kecilnya, untuk mengambil handphone.
"Mau ngapain? nelpon Pak Bowo! jam segini dia masih di rumah, kamu jangan ganggu dengan permasalahan sepele ini!" tolak Kak Rani yang terlihat panik seolah dia menyembunyikan sesuatu.
"Ya nggak apa-apa! karena ini menyangkut kebenaran." ujar Kak Risma dengan santai.
"Sudah! Sudah! Kalian berdua bekerja yang benar! Jangan ngobrol mululu." Seru Kak Rani Entah mengapa dia tiba-tiba menyuruhku bekerja.
__ADS_1
Kak Risma hanya tersenyum, kemudian dia mengajakku untuk melipat baju yang berantakan. tak memperdulikan lagi Kak Rani yang terlihat sangat kesal.
"Terima kasih, Kak." ucapku sambil menatap Kak Risma.
"Kalem, asal kamu mau berbagi Kak Dali!" jawabnya sambil mengedipkan sebelah mata dengan cepat.
"Ih, apaan sih!" dengusku dengan kesal, lalu melemparkan pakaian yang ada di tanganku ke arah Kak Risma, dan Kak Risma pun membalasnya melemparkan baju yang sedang dilipat.
"Eh, kalian. itu baju mahal! jangan dilempar-lempar, saya mampu ganti aja!' bentak Kak Rani yang melihat tingkah laku kita.
Dibentak seperti itu kita hanya saling menatap, terlihat dari sudut bibir Kak Risma yang mengangkat, menandakan dia tidak menghiraukan orang yang membentaknya.
"Eh, anak manja. sana ngepel! Jangan bercanda melulu!" seru Kak Rani sambil membentakku karena kita berdua mengacuhkannya.
"Ngapain diam? sana buruan!" Lanjut kak Rani sambil memberikan ember untuk mengambil air.
Aku pun mengangguk, kemudian mengambil ember yang diberikan Kak Rani, untuk mengisinya dengan air di toilet umum. setelah terisi setengahnya, aku pun membawa kembali ke ruangan toko, dilanjutkan dengan mengepel lantai, mengikuti perintah Kak Rani.
Pukul 09.00. akhirnya pekerjaan bersih-bersih dan beres-beres toko selesai, tinggal menunggu para pelanggan datang untuk berbelanja. Kak Rani kembali ke belakang meja kasir, sedangkan aku dan Kak risma bersama karyawan karyawan lainnya, mulai melayani para pelanggan yang sudah mulai berdatangan.
Pukul 10.30. Pak bowo pun datang, seperti biasa dia duduk di belakang meja kasir. untuk mengecek laporan penjualan. terlihat Kak Rani yang mendekati, kemudian mereka pun mengobrol dengan serius. sayang obrolannya tidak terdengar, karena jaraknya yang cukup jauh, ditambah suara musik yang keras memenuhi ruangan area Mall.
"Anak manja! Kamu dipanggil sama Pak Bowo!" ucap Kak Rani yang sudah selesai mengobrol dengan pak Bowo, Dia memanggilku untuk menghadap ke pemilik toko.
"Mungkin, mau dipecat! makanya kerja tuh yang benar, jangan malas-malasan!" cibir Kak Rani sambil mengkerlingkan mata.
"Maaf, Kak." ucapku sambil menundukkan pandangan.
"Ayo!" Kak Rani menarik tanganku untuk menghadap pak Bowo.
Kita berdua pun duduk di dekat meja kasir, menghadap ke arah pak Bowo.
"Dini, Kenapa kamu tidak masuk kerja, beberapa hari ini? tanya Pak bowo dengan pelan namun tegas sambil menatap ke arahku.
"Sudah keluarin aja sih, Pak. nanti nular ke karyawan lain!" jawab Kak Rani mengompori.
"Rani, kamu diam dulu! Biarkan Dia berbicara." Ucap pak Bowo tidak suka pembicaraannya di sela.
Kak Rani hanya mendengus kesal, karena ucapannya tidak ditanggapi.
"Maaf, Pak. saya sakit!" jawabku singkat.
__ADS_1
"Halah, alasan saja, Pak. Jangan dibiarkan dia tetap di sini, nanti karyawan lain pura-pura sakit lagi!" Cibir Kak Rani.
"Kamu diam dulu, Rani!" dengus pak Bowo menatap kesal ke arah Kak Rani, yang tak mau diam.
"Bapak lebih suka mempercayai karyawan baru, daripada saya yang sudah lama?" tanya Kak Rani yang merasa diperlakukan tidak adil.
"Bukan begitu. Kan, saya. belum mendengarkan penjelasannya." ungkap pak Bowo, yang tidak mau terlihat tidak adil melakukan karyawannya.
"Tapi, Pak. kalau bapak tidak bisa menindak tegas, maka Saya jamin toko bapak akan hancur!" Bela Kak Rani yang tidak mau kalah.
"Rani, diam! atau kamu sudah tidak mau bekerja di tempat saya lagi?" tanya Pak Bowo dengan intonasi suara yang sedikit meninggi, membuat Kak Rani terdiam seketika. namun tatapan sunisnya menuju ke arahku, seolah aku adalah mangsanya.
"Kamu sakit apa, Din?" tanya pak Bowo dengan suara melunak berbeda ketika dia berbicara dengan Kak Rani.
Ditanya seperti itu Aku hanya diam, karena tidak mungkin menjelaskan kejadian yang sebenarnya.apalagi di situ ada Kak Rani, yang bisa saja dia Semakin menjadi mengolok-olok ku, karena kebenciannya terhadapku.
"Tuh, kan, pak. Apa yang saya bilang, dia cuma pura-pura, makanya dia tidak bisa menjawab!" Kak Rani mencibir lagi.
"Kamu sakit apa?" pak Bowo mengulang pertanyaannya kembali, membuatku mengingat lagi, kejadian malam itu. hanya butiran bening,yang mengalir di pipi. sebagai Jawaban dari pertanyaan Pak Bowo.
"Halah, buaya betina, pakai nangis segala!" dengus kak Rani dengan kesal.
"Rani, bisa nggak sih, kamu diam!" Bentak Pak bowo sambil menatap tajam ke arah Kak Rani.
Bukannya diam, Kak Rani malah menyerocos terus menyudutkan ku. sehingga pak Bowo menarik pergelanganku, membawa ke tempat ruang ganti yang lumayan luas, ruangan ganti ini biasanya dipakai para karyawan, untuk salat atau makan siang.
"Kamu bisa cerita, apa yang sebenarnya terjadi, di sini. tanpa ada gangguan dari si Rani!" ujar pak Bowo sambil menatap sayu ke arahku, Mungkin dia merasa kasihan karena dia juga pasti udah tahu, apa yang terjadi menimpa diriku, karena menurut Kak Risma Dia pernah menceritakan ke pak Bowo, tentang masalah yang aku hadapi.
"Maafin aku, pak!" jawabku sambil tersendu.
"Jangan panggil Bapak, kamu sudah janji, kamu akan memanggilku kakak!" tolak pak Bowo
"Iya Maafin aku, Kak. aku tidak bisa menceritakan hal buruk yang menimpaku, aku malu!" jawabku sambil menundukkan kepala.
"Siapa yang berani, berbuat tega seperti itu, sama kamu?" tanya pak Bowo.
"Kakak angkatku, Kak." Kemudian aku pun menceritakan detail kejadiannya, meski tidak secara rinci, yang penting pak Bowo bisa paham.
"Syukurlah kalau kakak kamu yang bajingan itu, belum sempat menyentuh kesucianmu. Jadi aku masih bisa punya kesempatan!" ujar Pak bowo setelah mendengar cerita.
"Maksudnya, kesempatan apa, Kak?" Tanyaku sambil mengangkat pandangan menatap ke arahnya.
__ADS_1
" eeeeeeu, emmmmm, eeeeeeeeu."