
Pov dali
"Gimana nanti saja, kan aku belum menjawab mau!" jawabku sambil menyempitkan mata menatap ke arah Aira.
"Ih, kirain beneran?" ucap Aira yang mendengus kesal.
"Tapi kan walaupun aku masih kerja di tempat kerjaku yang lama, aku bisa membagi waktu untuk bekerja di sini!" Paparku menjelaskan.
"Tapi, kalau fokus di sini, nanti kakak tidak akan terlalu capek!" ujar Aira sambil menatap sayu ke arahku, mungkin merasa kasihan, kalau aku harus pulang pergi, bekerja banting tulang di dua tempat pekerjaan.
"Kerja di mana saja, aku masih bisa fokus, kok!" jawabku sambil tersenyum.
"Oh iya, kakak sudah punya ide, nggak? untuk promo cafe kita?" tanya Aira sambil menatap ke arahku.
"Kalau masalah itu aku kurang paham ra! karena setiap orang pasti punya kelebihan, serta kekurangannya, aku yakin Aira sudah punya rencana, yang begitu matang!" ungkapku, karena memang benar, untuk masalah promosi itu biasanya dilakukan oleh marketing. Sedangkan aku tidak menguasai hal itu.
"Aku ada ide sih, namun aku takut!" ucap Aira sambil menundukkan pandangan.
"Takut kenapa?" tanya aku yang merasa heran.
"Takut gagal, takut ideku tidak bisa diterima oleh para pelanggan." jawab Aira sambil menarik nafas dalam, seolah menghempaskan beban yang begitu berat.
"Kalau takut gagal, itu bagus. berarti kamu adalah orang yang berhati-hati, tapi kalau kamu terdiam terus dalam ketakutan, itu sangat salah. karena walau Bagaimanapun kita harus tetap melangkah, dan kita bisa tahu hasilnya, setelah dilakukan. ketika kita salah melangkah, maka ulangilah sampai langkah itu menjadi benar, dan berusaha agar tidak mengulangi langkah yang salah!" Jelasku memberi semangat, agar Aira tidak Down sebelum bertindak.
"Tapi aku masih takut, Kak!" jelas Aira yang masih menundukkan kepala.
"Memang konsep seperti apa, yang Aira sudah rencanakan untuk promosi Cafe ini?" Tanyaku yang menjadi penasaran, tentang konsep seperti apa, yang ia inginkan untuk Promonya.
"Sebenarnya banyak promo yang aku ingin keluarkan, untuk mendongkrak popularitas cafe yang baru ini, kalau kakak mau mendengarkan, Ayo kita cari tempat minum, agar enak mengobrolnya!" ajak Aira yang terlihat malu-malu, tak seperti biasanya yang bisa kalem dan santai.
"Boleh! boleh! ayo!" ajakku sambil menarik pergelangannya, untuk pergi keluar. mencari tempat minuman segar, agar kita bisa mengobrol dengan leluasa.
Ditarik seperti itu, Aira hanya terdiam sambil menatapku, membuatku refleks melepaskan tangannya yang kugenggam. Merasa tidak enak dengan perlakuan yang tidak sengaja itu.
"Maaf! maaf!" ucapku melepaskan genggaman itu lalu merapatkannya di depan dada.
__ADS_1
Kebiasaan memegang tangan dini, ketika hendak mengajaknya pergi. sampai ke bawa ke tangan perempuan-perempuan lain.
Aira yang masih termenung, dia menatap ke arahku dengan sayu. membuatku semakin merasa bersalah, hingga beberapa kali aku meminta maaf.
"Sudahlah! biasa aja, kamu cuma memegang tanganku, minta maaf ya sudah begitu banyak. Apalagi kalau memegang yang lain." ucap Aira sambil tersenyum lalu menggenggam tanganku yang masih berada di dada, menarik pergelangan tanganku, mengajak pergi untuk mencari minuman segar.
Setelah sampai di Cafe, kita pun membahas rencana tentang promosi awal, agar cafe yang dikelola oleh Aira, bisa dikenal oleh masyarakat luas, sehingga bisa mendapatkan cuan yang begitu banyak.
Aku hanya mendengarkan semua yang direncanakan oleh Aira, yang nampaknya itu sangat menarik, ketika kita dijalankan. namun walaupun begitu, Aku tidak bisa menjamin bahwa rencana itu akan berhasil, tapi ketika kita harus terus berusaha, aku yakin suatu saat, kita pasti akan menemukan hasilnya.
2 jam berlalu, akhirnya Adzan Dzuhur pun tiba, Aira masih banyak rencana yang belum diungkapkan hingga Aku meminta izin terlebih dahulu untuk melakukan salat.
Seusai melaksanakan salat, Aku meminta izin terhadap Aira agar menunda pembahasannya, biar bisa mencari ide yang lebih bagus, dan lebih menarik.
Aira pun mengerti, akhirnya setelah makan siang, kita pun Kembali ke restoran yang sedang direnovasi.
Setelah sampai di tempat parkiran, aku pun berpamitan Karena harus bekerja, sedangkan Aira masih mau tinggal di cafe, untuk memantau pekerjaan Wandi dan teman-temannya, agar semuanya sesuai dengan yang ia inginkan.
Setelah berpamitan, aku pun menghidupkan motorku, lalu pergi meninggalkan restoran yang akan dijadikan Cafe oleh Aira. menuju ke arah Thamrin di mana Aku bekerja, membelah kemacetan jalan yang tidak terlalu padat, di tengah terik panas matahari kota Jakarta.
Setelah puas memperhatikannya, aku pun naik ke lantai 3, untuk menjalankan rutinitasku sebagai barista di salah satu Cafe, berlogo putri duyung kembar.
Sebelum bekerja, seperti biasa aku masuk ke ruang ganti terlebih dahulu, mengganti pakaianku dengan seragam yang ditentukan oleh perusahaan, mengingat waktu kerjaku yang dimulai pukul 14.00.
Setelah mengganti pakaianku ,aku keluar menuju coffee table.membantu rekan-rekanku yang sibuk melayani customer.
"Kok sudah masuk saja? padahal waktu kerja Kak Dali, kan masih setengah jam lagi?" tanya seorang barista berbasa-basi.
"Nggak apa-apa, amal aja ke cafe!" ucapku tersenyum,sambil melihat pesanan customer untuk membuatnya.
"Dal!" sapa seseorang yang baru saja menghampiriku.
"Yah, kenapa Pak?" tanyaku yang menoleh sebentar ke arah datangnya suara, lalu tanganku mulai meracik pesanan yang tadi aku baca.
"Setelah selesai, kamu saya tunggu di ruangan kerja!" Seru Manager Cafe.
__ADS_1
"Maaf, ada apa ya, pak?" tanyaku yang merasa heran, karena tidak seperti biasanya, atasanku memanggil ke ruangannya.
"Nanti saya jelaskan di kantor! sekarang selesaikan pekerjaanmu!" seru atasanku, kemudian beliau pergi kembali ke ruangannya.
Aku yang masih penasaran, dengan cepat menyelesaikan pesananku. lalu memberikan kepada waiter, untuk diserahkan kepada customer. kemudian bergegas menuju ke ruangan Manager untuk menemuinya.
Trok! trok! trok!
Pintu ruangan itu ku ketuk, sambil mengucapkan salam, agar terlihat sopan.
"Masuk Dal!" seru seseorang dari dalam ruangan.
Aku pun mendorong pintu itu, kemudian masuk ke dalam, namun yang membuatku merasa heran, kenapa di situ, sudah ada Bu Asri, ibunya Stella.
"Duduk Nak Dali!" tawar Bu Asri yang sudah duduk di hadapan manajer.
"Maaf, ada apa ya, pak? kok ada Bu Asri di sini?" Tanyaku masih merasa heran, sambil duduk di kursi yang berada di samping Bu Asri.
Managerku hanya tersenyum, Entah mengapa dia bisa seperti itu, membuatku semakin merasa penasaran, dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi begini Dal, sebenarnya Cafe ini yang memiliki franchisenya adalah keluarga Kara Sri Group, Saya hanya bekerja di sini!" ujar manajer Cafe mulai menjelaskan.
"Berarti Cafe ini, milik Bu Asri?" Tanyaku yang belum mengetahui, karena dulu sebelum bekerja disini, yang mempunyai franchise Cafe ini adalah orang Manado.
"Betul Cafe ini, adalah Cafe saya!" ujar Bu Asri membenarkan, lalu Beliau mengeluarkan berkas-berkas kepemilikan Cafe, yang menurutku itu tidak penting, karena bagi karyawan sepertiku, siapapun pemiliknya, yang penting adalah pembayaran gaji lancar.
"Terus, Maksudnya, bagaimana? Kok saya diberitahukan hal seperti ini?" Tanyaku sambil menatap heran ke arah mereka berdua.
"Jadi begini dal, sehubung Saya mau membuka restoran di tempat lain, jadi Pak Sarman, akan saya tarik ke sana untuk menjadi manajer di restoran baru. jadi Maksud kamu dipanggil ke sini, kamu saya angkat menjadi manajer baru di cafe ini!" ucap Bu Asri menjelaskan, semakin membuatku merasa heran.
"Iya dal, Saya yakin kafe ini, akan maju bila dikelola oleh kamu!" Ucap pak Sarman menyemangati.
Setelah berpikir agak lama, aku pun menarik nafas dalam, sebelum menyampaikan pilihan.
"Nanti kamu bisa dibantu oleh Stella, Kalau kamu masih belum siap!" ujar Bu Asri seolah tahu apa yang aku pikirkan.
__ADS_1