
Pov aira
Sejam menunggu, teleponku masih belum berdering, pria itu masih belum meneleponku. katanya, dia akan segera menghubungi kembali, namun setelah menunggu selama ini, belum ada tanda-tanda bahwa dia akan menelpon.
"Ih, kenapa aku jadi gelisah sih, padahal cuma nunggu telepon doang" gumamku sambil terus memandangi layar ponsel.
Trok! trok! trok!
Pintu kamarku ada yang ngetuk, lalu masuklah bapak setelah aku mempersilahkannya
"Kamu lagi ngapain, kayaknya kesel banget, gitu.?" tanya Bapak yang baru masuj kamar, menghampiriku. walaupun dia mempunyai istri muda, tapi bapak lebih memilih untuk sering tinggal di rumah.
"Enggak kok, pak!" jawabku berbohong.
"Kamu itu, jadi anak bapak. sudah hampir 25 tahun, jadi Bapak tahu. kamu sekarang sedang berbohong, atau tidak" ujar Bapak sambil duduk itu tepi ranjangku.
"Enggggaaaaak," jawabku manja.
"Hahhaha Lagi ngerjain apa?" tanya Bapak melihat layar laptopku.
"Ini lagi lihat desain Cafe, Pak." jawabku mendekatkan laptop agar Bapak bisa melihatnya.
Dengan piawai, dia membuka file-file yang berhubungan dengan Cafe. lalu memperhatikannya dengan teliti, karena ini pekerjaan sehari-harinya, sebagai pengusaha peroperti.
"Kamu bayar berapa, desain seperti ini?" tanya Bapak sambil memalingkan wajah ke arahku.
"Nggak, Pak. Ini gratis, kenapa jelek ya?" jawabku balik bertanya. Merasa takut, beliau tidak suka. karena walau bagaimanapun beliaulah yang akan mendanaiku membuat Cafe.
"Nggak ini luar biasa. Bapak heran aja, Masak desain sebagus ini, bisa gratis." tanya Bapak seolah tak percaya.
"Serius pak"
"Emang siapa yang buat desainnya?" tanya Bapak ingin tahu siapa orang yang merancang desain arsitek itu.
"Kak Dali, pak. tadi Aira kan sudah cerita, orang yang mendesain cafe itu, dia." Jelasku mengingatkan.
"Kok bisa ya, dia sebaik itu. Masa design sebagus ini bisa gratis. apa jangan-jangan. dia suka sama kamu?" ledek Bapak sambil tersenyum.
"Apaan sih, Pak. Orang baru kenal juga. mana mungkin dia suka?" jawabku sambil pencembungkan pipi. namun jujur ketika diledek seperti itu, ada perasaan senang yang menyeruak memenuhi kebahagiaanku.
"Kalau nggak suka, mana mungkin dia sebaik ini sama kamu, ngasih desain bagus secara cuma-cuma. Ini desain bagus loh, kalau dibandingkan dengan arsitektur, yang bekerja di kantor bapak, mungkin ini lebih bagus." Puji Bapak menjelaskan.
__ADS_1
"Terus emang bener, developer pembangunan di kantor bapak. Semuanya sibuk?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan, agar Bapak tidak terus membahas Kak dali.
"Benar, Oh iya. Bapak boleh lihat rencana anggaran biayanya?" tanya Bapak memintaku menunjukkan anggaran yang harus dikeluarkan ketika merenovasi cafe.
Dengan cepat ku alihkan kursor laptopku. mengklik Microsoft Excel. Di mana Di situ tertera tabel perincian biaya yang harus dikeluarkan. ketika kita mau membuat Cafe. dengan cermat, Bapak memperhatikan tabel yang dipenuhi angka itu. terlihat Dia manggut-manggut seolah ada sesuatu yang membuatnya seperti itu.
"Kenapa, Pak. ada yang salah?" Tanyaku sambil menatap ke arah bapak.
"Nggak ada. ini semua lengkap banget, kirain Bapak, dia hanya bisa mengaduk kopi, Ternyata banyak juga keahliannya." Ungkap bapak, membuat hidungku mengembang. entah kenapa itu bisa terjadi, padahal dia yang dipuji, Bukan Diriku.
"Bagaimana, masalah pengerjaannya. Apakah dia bisa?" Tanya Bapak sambil menatap ke arahku
"Belum tahu, pak. tadi aku telepon, langsung dia matiin. katanya mau menghubungi para pekerjanya, terlebih dahulu. Menanyakan kesiapan mereka. tapi sampai sekarang dia belum menelponku kembali." jelasku
"Oh, oh, oh. pantesan anak bapak ini galau begitu, ternyata dia pergi begitu saja, tanpa memberikan kabar terlebih dahulu." ledek Bapak, sambil mengucek-ngucek Rambutku yang sebahu.
"Ih, apaan sih, Pak." jawabku sambil memicingkan mata.
"Hahaha. nanti kalau dia nelepon lagi, salam dari bapak mertua." ungkap bapak sambil Beranjak Pergi tergesa-gesa, bangkit dari tempat tidurku.
"Bapaaaaaaaaaaak!" teriakku melempar bantal ke arahnya, namun bantal itu tidak kena, karena Bapak terlebih dahulu menutup pintu.
Bapak lebih memilih untuk sering tinggal di rumah, daripada tinggal di rumah istri mudanya. itu membuktikan, bahwa Bapak lebih sayang keluarga daripada orang lain.
"Awas, jangan lupa nanti salamin, yah!" ujar Bapak menggodaku, sambil menyumbulkan kepala di balik pintu.
Aku pun bangkit hendak mengejarnya, namun tiba-tiba teleponku berdering sangat lama. menandakan ada telepon yang masuk, kuurungkan Niatku mengejar bapak. Aku kembali ke kasur, lalu mengangkat telepon itu.
"Halo, Ra!" sapa seseorang di ujung telepon sana.
"Yah, Bagaimana Kak?"
"Orang yang mau mengerjakan pekerjaan cafe, barusa dia ke sini, dia siap bekerja untuk merenovasi restoran itu." jelasnya.
"Syukurlah, kalau sudah ada yang bisa. Kapan mulai dikerjakan?" Tanyaku.
"Itu keputusan, ada di tangan Aira. besok atau kapan Airarnya bertemu dulu, sama orangnya. biar enak membahasnya, kalau langsung sama ahlinya." ujarnya.
"Ya sudah, besok kita bertemu, untuk membahasnya."
"Siap, nanti aku kirimkan nomor handphonenya. biar kamu bisa janjian sama pekerjanya."
__ADS_1
"Lah, emang Kakak nggak bisa ikut bertemu?" tanyaku merasa kecewa karena gak bisa bertemu dengannya.
"Maaf, besok Aku kerja"
"Ya sudah, kita ketemu malamnya aja. biar enak kalau ada yang menengahi." Saranku Mencari Alasan, supaya kak dali tetap ada ketika kami bertemu.
"Maaf Nggak bisa juga, malam Minggu ada acara"
"Oh, malam mingguan yah. sama pacarnya?"
"Enggak, aku ada acara ulang tahun teman kerja, kalau nggak datang, aku merasa nggak enak!" jelasnya menepis prasangkaanku.
"Oh syukurlah, kalau begitu!" ungkapan bod0h yang terlontar dari mulutku.
"Maksudnya, Ra.?"
"Nggak, nggak apa-apa!" jawabku kikuk, sambil memukul-mukul kening merasa bod0h dengan apa yang aku ucapkan.
"Kalau kamu tidak keberatan, aku bisa bertemu kamu. Paling bisa kayak tadi sore?" Tawarnya memberi saran.
"Ya sudah besok sore. kita ketemu, sehabis kakak bekerja."
"Ya sudah, Kakak lagi ngapain?" pertanyaan b0doh itu keluar kembali.
"Nggak lagi apa-apa. ya sudah, kalau begitu, besok kita ketemuan di tempat aku bekerja saja.
Tap! tap! tap!
Seperti biasa dia lakukan itu, telepon terputus sebelum aku memberikan pendapat.
"Dasar orang aneh, lagian ngapain sih, aku nanya-nanya Dia lagi ngapain. bod0h, bod0h." gumamku.
"Emang!" ujar seseorang yang berdiri, di belakangku membuatku kaget. Lalu menoleh kearah datangnya suara.
Aku yang membelakangi pintu, ketika menelpon Kak Dali. tak sadar bahwa Bapak sudah masuk, dan berdiri dibelakang memperhatikan anaknya yang sedang menelepon.
"Ih apaan sih, Pak. ketuk pintu dulu apa. Ketika masuk kamar itu!" Cerocosku kesal, sambil mencembungkan pipi.
"Semangat!!!!" ujarnya sambil mengepalkan tangan di hadapan dadanya. Dan tanpa dosa beliau pun pergi berlalu meninggalkanku, yang masih melongo menatap ke arahnya.
"Bapaaaaaaak!" teriaku Untuk yang kesekian kalinya, karena terus-terusan diledek.
__ADS_1