
Pov dali
Keesokan paginya. aku sudah bersiap-siap, untuk menjalankan rutinitasku seperti biasa. bekerja sebagai barista di salah satu coffe berlogo putri duyung kembar.
Kupanaskan motorku, sambil menunggu Risma yang masih berada di dalam. Tadinya aku males mengajaknya untuk nginep dirumahku, namun dia terus menerus memaksa, dengan alasan ingin mengetahui keadaan temannya. Akhirnya lama kelamaan aku pun mengalah, mengizinkan Risma untuk menginap di rumahku. Lagian kupikir tidak ada salahnya, kalau dia berada di sini. dini tidak akan merasa kesepian, dan dia tidak akan mengganggu pekerjaanku, yang sedang aku kerjakan. membuat desain Coffee Shop, yang akan dijalankan oleh Aira, anaknya Pak Wahyu.
Lama menunggu, akhirnya Risma pun keluar, diikuti oleh dini yang mengekor dibelakanya. mengantarkan sahabatnya sampai teras kontrakan.
"Aku berangkat dulu ya, Din. kamu hati-hati di rumah!" pintaku sama Dini yang berdiri menatap ke arah kita berdua.
Kuberikan helm yang ada di belakang, supaya Risma memakainya. Setelah memakai helm. kemudian dia naik ke motorku. entah apa maksudnya, tiba-tiba dia Memegangiku dengan erat. kupalingkan pandangan ke arah dini, yang terlihat masam, melihat kelakuan sahabatnya. Aku yang menangkap perubahaan wajah itu. dengan iseng Kukerjai dia, membiarkan Risma tetap mendekapku dari belakang.
Kutarik tuas gasku, meninggalkan kontrakan yang sudah lebih dari 3 tahun aku tempati. namun setelah keluar dari jalan kecil, aku menghentikan motorku di samping kiri.
"Kenapa Kak, kok berhenti?" tanya Risma, Yang merasa heran.
"Lepaskan tanganmu!" pintaku sambil melihat ke arah tangan yang melingkar di perut.
"Oh, maaf Kak. kirain Kakak senang, makanya tadi tidak melarangku!" ujar Risma, sambil melepaskan pelukannya.
"Jangan sekali-kali, lagi! berbuat seperti itu." ancamku, yang merasa risih, mengingat dengan perbuatannya.
"Tapi, kenapa? tadi kakak diam, seperti orang yang senang, ketika aku melakukan itu?" tanya Risma, yang masih merasa heran.
"Kamu! nggak perlu tahu alasannya, apa!" jawabku, dengan Ketus, lalu menarik kembali tuas motorku.
Sesampainya di mall tempat kita bekerja. belum ada sepatah kata pun, yang keluar dari mulut Risma, semenjak tadi aku mengancamnya. Merasa tidak enak dengan perlakuanku, yang sudah kelewatan. aku menghentikan langkahnya, yang kelihatan terburu-buru, hendak pergi meninggalkanku.
"Ada apa lagi, Kak? Bukannya kakak nggak suka dekat-dekat sama aku?" tanya Risma, dengan suara parau, terlihat matanya yang sudah membumbung dengan cairan bening.
"Bukan begitu, Maafin aku! kalau aku kelewatan, kamu itu wanita cantik, dan baik. tak sepantasnya kamu memelukku seperti itu, apa lagi kita tidak ada ikatan yang menghalalkannya. wanita itu dilihat dari sikapnya, yang berani mempertahankan martabatnya." ujarku sambil menatap tajam kedua bola matanya, agar apa yang aku sampaikan, bisa sampai ke hatinya.
Tak ada jawaban darimya, dia hanya menundukkan kepala. membuatku merasa bingung, dengan apa yang harus aku lakukan. Entah mengapa semua wanita seperti itu, ketika mereka dinasehati, mereka akan diam seperti marah.
Aku merasa tidak enak terhadap risma, padahal aku tidak memiliki rasa apapun. tapi ketika ada seorang wanita menangis seperti ini, hati ini selalu tergerak, untuk menenangkannya.
"Ya sudah, ayo kita masuk, sekali lagi aku minta maaf, kalau kata-kataku sudah kelewatan" ujarku sambil menarik tangannya, agar segera pergi meninggalkan tempat parkir.
__ADS_1
Tak ada penolakan darinya, dia berjalan mengikutiku. bak kerbau yang sedang ditarik oleh gembalanya.
Genggaman tanganku baru terlepas, setelah berada di depan lift. karena tempat kerja kita yang berbeda, Aku bekerja di lantai 3, sedangkan tempat kerjanya di lantai dasar.
Tak ada ucapan yang keluar dari mulut kita berdua, ketika kita berpisah, mungkin dia masih marah, dengan penolakanku tadi. aku yang tidak peduli, dengan apa yang dia rasakan. karena aku harus tetap tegas, mengingatkan orang-orang yang berada di sampingku, ketika mereka melakukan kesalahan.
Sesampainya di tempat kerja. Aku bergegas menuju loker, untuk mengganti jaketku dengan apron Cafe. setelah selesai aku kembali ke belakang kopi table, mengecek dan mempersiapkan alat kerjaku, agar Ketika nanti digunakan tidak ada trouble.
Pukul 12.00. Aku Berhenti bekerja, beristirahat untuk melaksanakan salat zuhur, sekaligus makan siang di under grwon. setelah selesai makan, aku Kembali lagi ke tempat kerja dilantai tiga. Disana terlihat stella yang bekerja bagian sip 2, sudah datang.
"Gimana cutinya, udah lu urus belum?" tanya Stella, yang tiba-tiba setelah melihatku ada dihadapamya.
"Cuti apa, ya?" Aku balik bertanya, karena tidak mengerti apa yang dia maksud.
Bug!!!
Satu pukulan mendarat di perutku, membuatku meringis kesakitan, memegangi perut, yang terkena pukulan Stella.
"Sabar, bu. kalem, ini Ada apa sebenarnya?" Tanyaku mengerenyitkan dahi, dengan posisi tangan kanan berada di depan, sedangkan tangan kiri memegangi perut.
"Masa elu lupa sih, kata lu kemarin mau mengurus cuti, untuk menghadiri pesta ulang tahun gue!" jelas stella, menekuk muka dengan sempurna, membuatnya terlihat sangat imut. Mirip dini ketika dia lagi ngambek.
Permasalahan demi permasalahan, yang terus merundungku dan Dini, membuatku melupakan janji yang sudah kubuat, janji untuk datang ke acara ulang tahun stella. Apalagi ditambah dengan pekerjaanku, yang sedang membuat desain Cafe Aira, sehingga aku benar-benar melupakan janji itu.
"Kapan, lu. mau izin cuti? acaranya kan besok." tanyanya, sambil menatap geram ke arahku, seolah dia hendak menelanku bulat-bulat.
"Kalau sekarang bisa, nggak yah!" aku balik bertanya, sambil menggaruk-garuk kepala, yang tidak terasa gatal.
"Ya nggak tahu! tanya sama manajernya, bukan tanya sama gua!" jawab stella Ketus.
"Iya, tapi kalau nggak bisa cuti, jangan marah, yah!" ujarku yang merasa pesimis, karena biasanya cuti, hanya bisa diajukan, seminggu sebelum tanggal yang disepakati, bahkan kalau bisa dari jauh-jauh hari, kita sudah mengobrol dengan HRD.
"Eh, lu! mau ke mana?" tanya Stella, ketika melihatku pergi meninggalkannya.
"Kerja" jawabku, singkat.
"Terus ngurus cutinya, kapan?"
__ADS_1
"Nantilah sepulang kerja." dengan santai aku menjawabnya, mengingat waktu istirahatku tinggal 10 menit lagi akan habis.
"Eh, kurang ajar! buruan urus cuti lu!" bentaknya, sambil menarik tanganku, membawanya ke ruangan HRD. bak maling yang diseret paksa oleh petugas.
"Tunggu dulu! Aku, belum ngeprint surat permohonannya!" tolakku menahannya, namun stella terus menyeretku, sampai akhirnya kita berada di depan pintu ruang HRD.
"Ya, lu. ngomong dulu, nanti surat permohonan, bisa belakangan." jawab Stella yang terlihat masih kesal.
Trok!! trok!! trok!!.
Tanpa meminta izin terhadapku terlebih dahulu, Stella langsung mengetuk pintu itu.
"Iya masuk!" perintah seseorang dari dalam.
Setelah mendengar perintah itu, stella berlalu pergi meninggalkanku yang nampak kikuk kebingungan. bingung harus berbuat apa, namun dengan memberanikan diri, aku dorong pintu itu, lalu masuk ke dalamnya.
"Selamat siang, pak!" ujarku sambil tersenyum, menyapa orang yang duduk di hadapanku.
"Yah, ada apa, dal?" tanyanya, sambil menautkan tangannya di depan wajah.
Eeeeee, emmmmmm, Anu, pak!" Aku tergagap bingung mau memulai dari mana, karena sama sekali belum ada persiapan.
"Ngomong aja! ada apa? Kaya baru kenal saja, sampai gugup gitu" ledek pria dipanggil dengan Human Resource Development itu.
"Jadi begini, Pak. nanti malam minggu saya mau ijin cuti, ada kepentingan yang mendesak, tapi mohon maaf sebelumnya, saya tidak memberitahu Bapak, terlebih dahulu. dan saya juga, belum mempersiapkan surat permohonannya." jelasku sambil memperhatikan lantai yang sedikit berdebu.
"Oh, mau izin cuti? nih. surat izin cutinya!" ujar Pak HRD, sambil memberikan amplop coklat, yang ada di samping meja, seolah sudah disiapkan sebelumnya.
"Lah, kok?" balas ku ternganga, merasa heran dengan apa yang terjadi saat ini. karena biasanya kalau kita meminta izin cuti itu. harus jauh-jauh hari, sudah bilang terlebih dahulu. Disusul dengan surat permohonannya. namun kali ini, surat itu dengan mudah aku dapatkan.
"Kenapa, bengong. mau nggak?" Tanyanya, sambil memainkan amplop itu.
"Mau, Pak!" tanpa pikir panjang lagi, Amplop yang ada di tangannya, aku terima. lalu menyalaminya sebagai ucapan terima kasih. Setelah semuanya dirasa selesai, aku pun berpamitan, bergegas kembali, untuk melanjutkan pekerjaanku yang sudah lewat 5 menit.
"Nih, lihat!" ujarku dengan bangga, memamerkan surat itu di hadapan muka Stella, namun dia acuh tak menghiraukanku.
Stella hanya berlalu, meninggalkanku menuju loker, untuk mempersiapkan diri, sebelum waktu kerjanya dimulai.
__ADS_1
"Kenapa, aku dikelilingi cewek-cewek aneh?" gumamku, sambil memasukkan surat cuti itu, ke dalam saku yang ada di apron.