Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 62 KEBAHAGIAN SESUNGUHNYA


__ADS_3

Pov Stella


Setelah mengetahui kabar bahwa Bibi Utari masuk kembali ke rumah sakit, Aku pun bergegas untuk pulang, tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada mereka, yang berada di ruangan anaknya Bayu. Aku takut terjadi sesuatu yang tidak diharapkan kepada bibi, karena walau bagaimanapun Bibi Utari adalah salah satu keluarga dari ibu yang masih tersisa.


Semenjak setahun lalu, dia terkena serangan penyakit yang begitu mematikan, sehingga usahanya yang sedang maju, menjadi bangkrut, tak tersisa. jangankan untuk mempertahankan usahanya, untuk mempertahankan dirinya, agar tetap hidup, itu sangat susah. sehingga dengan inisiatif Ibuku, sebagai kakaknya, dia diajak tinggal bersama kita, menurut Ibu agar mudah ketika kita merawatnya.


Sejak beberapa bulan terakhir berada di rumahku, Bibi Utari keadaannya semakin membaik, karena aku sering menemaninya mengajaknya mengobrol, dan selalu membantu perawatannya, meski Ibu sudah menyiapkan salah seorang perawat, yang begitu handal untuknya. namun kasih sayang dari keluarganya, Bibi Utari sangat membutuhkan. Fisiknya perawat yang mengurus, psikisnya keluargaku yang terus menyemangati.


Hubungan yang awalnya baik  akhirnya terjalin semakin baik. ketika aku sering berinteraksi dengan Bibiku. rasa sayang dan rasa hormat terhadap orang tua, yang semakin tumbuh. sehingga ketika mendengar dia kolap kembali seperti sekarang, membuatku merasa sangat khawatir dengan keadaannya.


"Non! tunggu non!" Panggil seseorang yang terdengar mengejarku dari belakang.


Aku hanya menoleh kecil ke arah datangnya suara, tanpa memperlambat langkah kakiku. Aku pengen cepat sampai ke parkiran, ingin cepat mendampingi Bibiku yang sedang dibawa ke rumah sakit.


Bayu pun yang mengejarku dengan berlari, akhirnya dia bisa mengimbangi langkah kakiku, Dia berjalan di samping.


"Mau ke mana, Non?" tanya Bayu yang terlihat ngos-ngosan, mungkin karena merasakan capek setelah mengejarku.


Aku hanya melemparkan kunci mobil ke arahnya, mengisyaratkan bahwa dia harus menjadi sopirku. karena dalam keadaan panik seperti ini, aku takut berakibat fatal ketika aku membawa mobil sendiri.


Dengan cepat Bayu pun berlari menuju ke arah parkiran, meninggalkanku yang berjalan keluar pintu utama rumah sakit. tak lama menunggu mobil yang tadi kubawa terparkir di hadapanku, tanpa mengeluarkan satu patah kata pun, aku segera masuk, meski Bayu turun hendak membukakan pintu.


Perlahan mobil yang aku kendarai, meninggalkan area lobby rumah sakit, kemudian menuju pintu gerbang keluar.


"Mau ke mana, non?" tanya Bayu yang pandangannya terus terfokus ke arah jalan.


"Ke rumah sakit, kepercayaan keluarga saya!" jawabku tanpa memalingkan pandangan, aku terfokus melihat keluar jendela.


Tak ada pertanyaan lagi yang keluar dari Bayu, Dia terus terfokus kemobil yang dia kendarai. karena bapak selalu mengajarkan kepada anak buahnya, ketika tidak diperintah maka tidak boleh bertanya.


Aku yang sejak dari tadi memperhatikan pinggir jalan, dari arah dalam kaca mobil. Tak terasa butiran bening kembali berjatuhan membasahi pipi, ketika mengingat kejadian yang baru saja terjadi, di mana aku memutuskan menyatukan kedua orang yang paling Kubenci, untuk mereka bersatu.


Ketika mendengar tadi malam Dali dipukuli oleh Bapak, aku merasa bersalah sama dia, sehingga aku menanyakan kejadian itu sama Bayu, satpam yang aku percaya di rumahku. Dia tidak pernah mengecewakanku, Apapun yang aku minta, pasti dia akan berusaha mewujudkan.

__ADS_1


Bayu bercerita, setelah mengantarkan Dali dari rumah sakit. dia tidak langsung pulang ikut bersama sopir yang mengantarkannya, namun ibu terus memerintahkan untuk mengawasi Dali, sebelum memastikan dia selamat sampai rumahnya.


Alangkah terkejutnya ketika aku mendengar Dali yang sedang terluka parah. Dia rela menunggu seorang perempuan di depan pintu kosannya, sampai ketiduran. dengan kondisi yang tidak memungkinkan, karena luka yang ditimbulkan dari hajaran Bapak begitu berat.


Dari cerita Bayu. akhirnya aku tahu bahwa Dali Memang benar-benar mencintai Dini. Karena selama yang aku tahu, dia tidak pernah melakukan hal bod0h seperti itu  untuk mendapatkan cinta seseorang. dia terlalu cuek dan terlalu Naif untuk melakukan hal yang seperti itu.


Namun berbeda ketika dia memperjuangkan demi wanita yang sangat ia cintai, dia rela menunggu sampai larut malam. sehingga membuatku sadar, bahwa Bukan akulah yang ada di hatinya.


Sakit memang, ketika apa yang kita inginkan, kita tidak bisa mewujudkannya. namun hatiku dengan cepat kutata kembali, agar tidak berlarut dalam penyesalan. sehingga aku memutuskan untuk menemui Dali, agar bisa menceritakan kejadian bod0h yang pernah aku lakukan, terhadap orang yang ia cintai. melakukan penculikan untuk mengancam Dini agar tidak mendekati Dali.


Ketika Aku mengutarakan keinginanku, untuk bertemu Dali. Bayu memberi saran, bahwa dia dan Dali sedang merencanakan acara lamaran di rumah sakit, ketika Dini menjenguk anaknya bayu.


Mendengar penuturannya seperti itu, Aku pun memiliki ide. agar aku bisa sekaligus meminta maaf kepada mereka berdua, dan berjanji tidak akan mengganggu hubungan mereka. Sehingga akhirnya kejadian aku menyatukan mereka itu pun terjadi.


Sakit, perih, yang kurasa. memenuhi seluruh rongga area hatiku, namun ada satu kebanggaan. ketika kita melakukan kebaikan dengan ikhlas, ada suatu rasa lega yang tidak bisa dituliskan dengan kata kata.


"Sudah sampai, non!" ucap Bayu memberitahuku, setelah dia menghentikan mobilnya.


Aku pun tersadar dari lamunanku, dengan cepat Bayu hendak membukakan pintu mobilku, namun dia kalah cepat denganku, yang sudah terlebih dahulu membukakannya, sehingga Bayu menggaruk-garuk kepala.


"Stella!" desis ibu lirih sambil memeluk tubuhku yang baru datang.


"Bibi kenapa?" Tanyaku yang sudah berlinang air mata.


"Yang sabar ya, Stella! Bibi kamu kambuh lagi." ucap ibu menenangkanku, yang sebenarnya beliau menenangkan dirinya sendiri.


Akhirnya setelah melepas rasa kesedihan, kita berdua pun duduk di kursi, menunggu hasil pemeriksaan dari dokter.


2 jam berlalu, pintu ICU terbuka, kemudian keluarlah seorang dokter dan memanggil keluarga Ibu Utari, dengan cepat Ibu menghampiri dokter itu, diikuti olehku dan bapak yang mengekor di belakang Ibu.


"Bagaimana keadaan adik saya, dok?" tanya ibu yang terlihat cemas.


"Alhamdulillah, penanganan pertama sudah kami lakukan, namun ada penanganan selanjutnya. Ibu sekeluarga, Saya minta untuk berdoa! supaya Ibu utari bisa sembuh kembali." ucap dokter itu memberikan penjelasan.

__ADS_1


"Kenapa bisa, adek saya kambuh kembali?" selidik ibu.


"Mungkin, Ibu Utari lalai, sehingga dia tidak mengeluh ketika dia merasakan sakit, hingga akhirnya baru diketahui setelah kejadian seperti ini. Namun ibu nggak usah khawatir! kami sudah menangani dengan begitu baik. Sebentar lagi Ibu Utari akan dipindahkan ke ruang rawat." Jelas dokter menjawab pertanyaan ibu.


Akhirnya dokter itu pun meninggalkan kita. tak lama setelah dokter itu pergi, para perawat mendorong tempat tidur, keluar dari ruang ICU. terlihat Ibu Utari yang berbaring di atasnya yang belum sadarkan diri.


Kami bertiga mengikuti ke mana meja tidur itu dibawa, untuk menjaga Bibi Utari sampai dia siuman. Dan akhirnya troli ranjang itu, tiba di suatu ruangan. para perawat membawa Bibi Utari masuk ke dalamnya, setelah memindahkan tubuh Bibi Utari yang terlihat lemas. ke ranjang tidur yang ada di ruangan itu, mereka pun berpamitan.


"Semoga kamu baik-baik saja, Tar!" ucap Ibu sambil mengelus rambut adiknya, yang terlihat lepek karena keringat.


"Amin!" jawabku dan bapak dengan serempak.


Aku dan Bapak pun duduk di kursi sofa yang tersedia di ruangan itu, untuk sedikit meregangkan tumbuh yang tegang dari tadi. tak lama terdengar dengkuran yang keluar dari mulut Bapak, Mungkin beliau merasakan lelah yang begitu sangat.


Aku pun bangkit, lalu menghampiri ibu. yang masih duduk di kursi dekat ranjang Bibi Utari, sambil menatap adiknya yang terlihat masih memejamkan mata.


"Ibu, tidur duluan sana! Biarkan aku saja yang menjaga bibinya. Nanti kalau sudah siuman, aku akan membangunkan ibu." tawarku sama ibu.


Ibu hanya tersenyum, melihat anaknya yang sudah terlihat dewasa. sehingga berani mengorbankan dirinya, untuk orang lain. Ibu pun bangkit, lalu mengucek-ngucek rambutku.


"Terima kasih, ya!" Ujar Ibu lirih, kemudian dia berjalan menuju kursi sofa.


Melihat bapak yang sedang tidur dengan posisi duduk, kemudian ibu membaringkan tubuh bapak, agar bisa tidur dengan posisi yang benar. setelah membenarkan posisi tidur Bapak, Ibu pun tidur di kursi sebelahnya, tinggallah aku sendiri, yang masih terjaga menjaga Bibi Utari.


******


Pukul 04.41.  Ibu terbangun, untuk melaksanakan salat subuh. setelah membangunkan bapak, Beliau berlalu ke kamar mandi, untuk mengambil air wudhu diikuti oleh Bapak yang sudah terbangun dari tidurnya.


Aku yang melihat kekompakan mereka, baik dalam beribadah, maupun dalam bekerja. membuat hatiku merasa iri, kenapa sampai saat ini belum ada laki-laki, yang setanggungjawab Bapak, Yang mendekatiku.


Seperti terhipnotis, aku yang tidak pernah bangun subuh, aku berjalan menuju kamar mandi, untuk mengambil air wudhu, yang sudah lama tidak aku lakukan. apalagi ketika subuh seperti ini, aku hanya memilih tidur, daripada mengingat sang penciptanya. Kedua orang tuaku yang sudah menyerah menyuruhku, untuk melaksanakan perintah-Nya, mereka hanya membiarkanku semauku.


Akhirnya Kami bertiga pun melaksanakan salat berjamaah subuh. yang diimami oleh Bapak, ada ketenangan yang tidak bisa kugambarkan dengan tulisan, ketika aku melaksanakan pekerjaan rohani ini.

__ADS_1


Selesai salat Bapak pun memimpin doa, lalu meminta maaf sama Ibu. dan begitupun Ibu sebaliknya, meminta maaf sama bapak, diakhiri dengan menatap ke arahku. dengan perlahan Ibu memelukku, dan mengecup ke minggu disertai ucapan  permintaan maaf. yang harusnya itu yang aku lakukan, meminta maaf terlebih dahulu kepada orang tua. Bukan malah terbalik seperti sekarang.


Aku menangis tersenyum, di pelukan ibu dan dipelukan bapak. merasa malu, ternyata beginilah yang mereka lakukan, sehingga mereka terlihat sangat bahagia. Yang selama ini hanya menganggap mereka sebagai pengganggu kebebasanku, aku baru sadar bahwa ini adalah kebahagiaan yang sesungguhnya.


__ADS_2