Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 20 BANTUAN HUKUM


__ADS_3

Pov dali


"Aira," jawabnya, sambil menerima uluran tangan Angga.


"Sudah ngga, ayo kita pergi, jangan buatku malu. " ajakku. sambil menarik lengan Angga, supaya menjauh dari Aira.


"Aira, nama yang cantik, serasi dengan orangnya," ujar Angga, sambil mengibaskan tangannya yang aku pegang.


"Maaf ya, Ra. temanku agak rada-rada," tegasku, sambil menaruh telunjuk di depan kening, lalu memegang kembali tangan Angga mengajaknya untuk segera pergi.


"Apaan sih, kamu duluan aja" sanggah Angga, sambil memberikan kunci mobilnya


"Ya Sudahlah, aku duluan ya, Ra." pamitku sama Aira, sambil berlalu meninggalkan mereka berdua.


Setelah duduk di kursi, Angga masih mengobrol dengan Aira, terlihat mereka berdua mengeluarkan handphone, mungkin


untuk bertukaran nomor kontaknya. Aku hanya bisa memperhatikan tingkah laku mereka, dari kaca mobil yang terbuka.


"Nanti, kamu. Wa aku ya." Teriak Angga yang sudah berada didekat mobilnya.


Aira tidak menjawab, Dia hanya mengangkat jempolnya, lalu ia juga masuk ke mobil.


"Kamu ngapain duduk di sini?" tanya Angga sambil membuka pintu kiri lalu ia menarikku keluar.


"Apa-apaan sih ngga" Tanyaku sambil keluar dari mobilnya.


"Enak aja, udah numpang, minta diupirin lagi," gerutunya sambil duduk di kursi kiri lalu menutup pintu.


Aku pun berjalan ke samping pintu kanan, lalu aku duduk di belakang kemudi, tanpa pikir panjang. aku injak pedal gas setelah mobil itu menyala.


"Kok, kamu bisa kenal Aira" tanya Angga sambil menatap ke arahku yang sedang mengemudi.


"Nggak terlalu kenal sih, cuma aku kenal sama orang tuanya" jawabku yang terus menatap ke arah jalan.


"Emang, Bapaknya siapa, Kok kamu bisa kenal?" tanya Angga penuh selidik.


"Pak Wahyu" jawabku singkat.


"Bentar, bentar, Pak Wahyu mana," tanya Angga mengeringyitkan dahi.


"Cempaka Putih"


"yang punya perusahaan Permata Abadi Group" ujar Angga menatap tajam kearahku. untuk memastikan.


"Mungkin" jawabku cuek.


Terlihat dari sudut mataku. Angga beberapa kali menelan air liurnya, seperti orang yang sedang ketakutan.


"Kenapa" tanya aku sambil menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Kok, kamu bisa kenal dengan orang sekejam itu" Angga balik bertanya.


"Kejam bagaimana," Tanyaku, penasaran.


"Kamu emang nggak tahu, Pak Wahyu itu sangat kejam, dia tidak segan-segan menghabisi lawan bisnisnya, dengan cara kotor. aku pernah sekali bertemu dengannya di persidangan" jelas Angga sambil menarik nafas dalam.


"Mereka kalah, namun perusahaanku jadi kena imbasnya, diteror terus menerus" lanjut Angga, menceritakan kejadian yang sudah menimpanya.


"Terus, kamu gimana ngadepinnya" tanyaku dengan serius.


"Ya dibiarin aja, emang konsekuensi dari kerjaanku seperti itu, yang penting aku tidak ketemu lagi dengan orang seperti itu" jawab Angga, sambil menyenderkan punggungnya ke kursi.


Kita berdua pun terdiam sesaat,sibuk dengan lamunannya masing-masing. hanya Deru mesin mobil yang terdengar.


"Terus urusan kita bagaimana," tanyaku, memecahkan heningnya suasana.


"Maksudnya, urusan apa?"  Jawab Angga yang tersentak kaget.


"Ya Allah, kan tadi pagi, udah aku ceritakan" tegasku Ketus.


"Oh, sorry, sorry, kurang fokus hehehe" ujar Angga sambil mengulum senyum.


"Untuk tahap pertama, aku hanya mendampingi saja, mendapatkan hak-haknya sebagai korban, nanti kita lihat perkembangan kasusnya seperti apa, baru kita ambil tindakan lanjut," Angga menjelaskan.


"Terima kasih ya ngga, sudah membantuku"


Beberapa menit berlalu, akhirnya kita tiba di parkiran rumah sakit. Aku dan Angga bergegas masuk menuju ruangan di mana Dini dirawat.


Setelah mengetuk pintu kamar, kita berdua pun masuk, melihat Siapa yang datang, Darda pun berdiri lalu memeluk Angga.


"Apa-apaan sih bro, pakai peluk-peluk segala" ketus Angga. sambil melepaskan tangan Dardaa yang ada di bahunya.


"Kangen. Udah lama kan, kita nggak ngumpul seperti ini, pengacara sibuk teruuuuuus!!!" ucap Darda meledek.


"Iyalah, daripada kamu kerja cuma mainin komputer, apaan kerja gitu, gak ada seninya" Angga membalas ledekannya.


"Din, kenalin Ini Angga, orang yang akan mendampingi kita menghadapi kasus ini" kenalku memperkenalkan Angga.


Dengan sigap angga pun mendekati, lalu mengeluarkan tangan untuk berkenalan dengan dini.


"Angga, pengacara tersohor di kota Jakarta" kenalnya sambil cengengesan.


"Dini" jawab dini sambil menundukkan kepala.


"Jangan takut, aku orangnya baik kok, cuma lingkugan sirkelnya aja, yang gak jelas" lanjut Angga, melihat ke arah aku dan darda, menggap kita orang yang gak jelas.


Dini tidak menjawab, Dia semakin menundukkan kepala, Mungkin dia merasa canggung dengan orang yang baru ia kenal.


"Boleh kita mengobrol" tanya Angga sambil menatap ke arah dini.

__ADS_1


"Tenang Din, walaupun orangnya agak miring, tapi dia baik kok," ucap Darda, meyakinkan.


Dini hanya menggangguk pelan, tanda menyetujuinya, angga pun melirik ke arah kita berdua, meminta waktu untuk mengobrol dengan Dini, secara privat.


Aku dan Darda mengikuti sarannya, keluar dari kamar. lalu duduk di kursi tunggu yang ada di lorong rumas sakit.


"Gimana keadaan dia dar," Tanyaku, sambil menatap ke arah Darda.


"Alhamdulillah, baik. cuman mungkin psikisnya yang butuh waktu, untuk penyembuhannya" jelas Darda


"Terus, kapan dia boleh dirawat dirumah," tanyaku, meminta penjelasan.


:Sebenarnya, tadi juga sudah boleh pulang, cuman gua nggak enak kalau ganggu lo lagi kerja, lagian. Gua juga bingung, dia mau dibawa pulang ke mana, sedangkan dokter menyarankan dia harus terus didampingi, tidak boleh sendirian"  jawab Darda terlihat kerutan didahinya.


"Apa aku bawa dia ke kosanku aja" saranku,  setelah lama berpikir, meminta pendapat dari Darda.


"Nanti lu berbuat yang macam-macam lagi sama dia, kalau berduaan seperti itu," tegas Darda tidak setuju.


"Terus mau dibawa ke mana, sedangkan keluarganya sama sekali tidak ada di sini"


"Iya bingung juga sih, kalau begitu, tapi lu bisa janji gak, tidak akan berbuat macam-macam sama dini, karena kalau lu berani macam-macam, gua orang pertama yang akan menghajarmu." Ancam Darda serius.


"Ya nggaklah,  Mana mungkin aku berbuat seperti itu, lagian ini kan cuma sementara, sampai kondisinya membaik, bahkan. kalau dia mau, kontrakannya pindah ke tempat aku sekarang, soalnya hari Minggu aku sudah bisa menempati rumah baruku.


"Widih, mantap. yang baru punya rumah. Ya sudah, nanti kita tanyakan sama dia. mau apa nggaknya, tinggal bareng sama lu, Kalau dia mau, kita langsung urus kepulangannya langsung," Darda memberikan saran.


Kita berdua pun lanjut mengobrol, membahas tentang keadaan Dini, sambil menunggu Angga menyelesaikan tugasnya. kurang lebih 30 menit Angga pun keluar lalu menghampiri kita.


"Gimana, ngga? tanya Darda.


"Beres, besok aku antar berkas permohonan bantuannya, kalau udah surat kuasanya sudah ditanda tangani, nanti aku akan membuat laporan, bahwa tim advokasi ku yang akan menjadi pendamping hukum untuk dini" jelas Angga.


"Terima kasih nga." ucapku, sambil menatap nanar ke arahnya.


"Tenang, santai aja sob. itulah gunanya sahabat" ujarnya sambil terkekeh.


Akhirnya Kami bertiga masuk kembali ke ruangan, untuk menemani dini.


"Bagaimana keadaanmu sekarang Din," tanya aku sambil menatap ke arah dini.


"Udah baikan," jawabnya pelan.


"Kita pulang ya, untuk sementara kamu bisa tinggal dikontrakanku" ujarku sambil duduk dikursi yang ada disamping ranjang.


"Iya Din kamu ikut dali aja, untuk beberapa waktu, sampai kamu bener bener pulih, kalau dia berbuat macam-macam kamu tinggal hubungi aku" Timpal Darda.


Dini hanya menggangguk pelan, tanpa memberikan jawaban, sepatah kata pun tak keluar dari mulutnya. akhirnya aku bangkit dari kursi untuk menyelesaikan administrasinya, terlebih dahulu.


"Kamu tunggu di sini bro, Biarkan kita berdua yang mengurus" cegah Darda yang menahanku untuk pergi.

__ADS_1


__ADS_2