Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 51 KAK STELLA


__ADS_3

Pov dini


"Angkat!" seru orang yang mendekapku, sama orang yang berada di samping.


Dengan cepat orang yang disuruh, dia mencari teleponku yang berbunyi di dalam tas, lalu mengangkatnya. Aku berharap, Siapa tahu saja orang yang menelponku, bisa membantu menyelamatkanku.


"Halo!" Sapa laki-laki yang mengangkat teleponku.


"Halo ini siapa, kok laki-laki yang mengangkat?" tanya seseorang di ujung sana.


"Ada Apa, bos. orang yang megang HP ini, sedang melayani gua di kamar. jadi lu jangan ganggu, Nanti juga akan tiba waktunya giliran lo!" jawab laki-laki yang menculikku.


"Eh sial4n, lu siapa? Dimana dini!"


"Udah dulu Bos, cewek yang gua pesan sudah keluar dari kamar mandi, sabar aja sih! jangan ganggu segala." ucap laki-laki itu sambil memutus teleponnya.


"Siapa?" Tanya laki-laki yang berada di belakangku.


"Kurang tahu, nggak jelas!" jawab laki-laki itu, sambil menonaktifkan teleponku. lalu dimasukkan kembali ke dalam tas.


"Tolong lepaskan saya, saya nggak punya apa-apa! saya nggak punya barang berharga." pintaku memelas agar mereka bisa melepaskan genggamannya.


Tak ada jawaban dari mereka, hanya senyum sinis yang dipancarkan dari wajahnya.


Mobil yang ku tumpangi, terus melaju dengan kecepatan tinggi, membelah keramaian kota, menuju arah perbatasan. sejam berlalu, akhirnya kami tiba di depan sebuah rumah.


"Ayo turun!" Bentak pria yang di samping, sambil menarik tanganku dengan kasar, lalu menyeretku masuk kedalam rumah.


"Tolong lepaskan aku!" Rengekku meminta berulang kali.


"Sudah kalem, saja! kamu nggak akan diapa-apakan paling cuma dib*nuh!" jawab orang yang menyeretku Sambil tertawa.


Kemudian dengan kasar, dia mendorong ku masuk ke salah satu kamar, yang ada di rumah itu. Sehingga membuatku tersungkur di atas lantai yang penuh debu. dengan cepat pintu kamar tertutup kembali, lalu dikunci dari luar.

__ADS_1


"Bos! Orangnya sudah ada di rumah." terdengar suara orang di luar mengobrol, memberitahu keberadaanku, namun dia mengobrol entah sama siapa.


Setelah itu, terdengar suara derap kaki yang menjauh dari depan pintu kamar. aku coba memukul-mukul daun pintu, sambil berteriak-teriak minta tolong, agar Pintu itu terbuka. Namun sayang pintu itu terkunci rapat, sehingga membuatku merasa lelah, kusandarkan tubuhku di daun pintu, sambil menangisi kehidupanku yang terus dirundung masalah.


Aku pindai semua sudut kamar yang nampak penuh debu, mungkin sudah lama tidak digunakan, terlihat di kamar itu sangat komplit mulai dari kasur, lemari, dan meja rias.


Aku seret tubuhku mendekati kasur, untuk membaringkan tubuhku, melepas semua kepenatan yang kuhadapi. tercium aroma debu yang memenuhi rongga hidung, namun aku tetap membaringkan tubuh, karena kepalaku yang mulai terasa pusing.


Lama terdiam, akhirnya mataku mulai tertutup, merasa lelah dengan semua cobaan yang kuhadapi.


*******


Pukul 19.00. terdengar suara ketukan di pintu, menandakan ada orang yang mengunjungi drngan sangat sopan, namun yang tidak habis pikir, Kenapa dia bod0h, padahal pintu itu terkunci dari luar.


Lama mengetuk-ngetuk pintu, akhirnya terdengar suara kunci yang diputar, lalu Pintu itu terbuka dengan lebar, Ku perhatikan Siapa yang membuka pintu.


"Kak Stella!" gumamku lirih, setelah mengetahui Siapa orang, yang berdiri di ambang pintu,  walau baru sekali bertemu namun wajahnya yang mirip denganku, sehingga aku tidak lupa dengannya.


Kuanggukkan kepala sebagai tanda, aku memberi izin agar dia masuk ke dalam.


Suara ketukan sepatu yang beradu dengan lantai mendekat ke arahku, tercium aroma parfum yang begitu mahal, menggantikan aroma debu, yang berada di kamar. rambutnya yang diurai, dibalut dengan baju kasual membuat kak stella terlihat begitu cantik.


Dia menarik kursi, dari bawah meja rias. lalu didekatkan ke samping ranjang, kemudian kak stella duduk, sambil menatapku, yang masih terduduk di atas kasur.


"Jadi Ini semua perbuatan kakak?" tanyaku penuh rasa keheranan, Kenapa kak Stella bisa berbuat seperti itu. Sedangkan aku saja belum pernah bertemu dengannya.


"Iya Din!" Jawab kak stella dengan santai, menarik sudut bibirnya, sehingga barisan gigi putih itu terlihat dengan sempurna.


"Mau apa, Kak. perasaan kita belum pernah bertegur sapa, tapi kenapa Kakak bisa berbuat tega seperti ini?" aku terus bertanya, dan sedikit lega setelah yang muncul itu adalah seorang perempuan, karena kalau seorang perempuan tidak mungkin melecehkanku, seperti yang kak Dani lakukan.


"Emang kita belum pernah ketemu, namun Keberadaanmu. sangat mengganggu kehidupanku." Ujar Kak stelma sambil merubah wajahnya, yang semula senyum ramah, sekarang menjadi muka masam, dengan tatapan mata yang begitu tajam.


"Maaf Kak, kalau saya punya salah, namun saya benar-benar tidak mengerti, apa sebenarnya yang terjadi?"

__ADS_1


"Enak saja, kamu meminta maaf, jangan mentang-mentang Maaf bisa dipinta, jadi kamu seenaknya berbuat seperti itu.  kesalahanmu sangat banyak, sehingga kalau tidak ditindaklanjuti seperti sekarang, mungkin kamu tidak akan sadar dengan kesalahan." Cerocos Kak Stella dengan muka masamnya.


"Iya apa, kesalahanku, Kak." aku yang semakin merasa bingung dibuatnya.


Kak Stella bangkit dari tempat duduknya, lalu menarik kerah bajuku, agar mendekat dengan mukanya, membuatku brigedik ngeri, takut kak Stella berbuat aneh-aneh, karena di zaman sekarang pelecehan seksual tidak dilakukan oleh laki-laki saja, sesama jenis pun sudah banyak.


"Tolong kak, jangan apa-apa kan saya !"ucapku memohon dengan suara lirih.


"Kamu masih belum sadar, dengan kesalahanmu sendiri?" bentak kak stella membulatkan mata.


"Kalau kamu tidak sadar, biar aku tunjukkan!" ujar Kak stella sambil mengangkat jari tangannya, membuatku melongok menatap ke arahnya.


"Maksudnya, Kak?" Tanyaku yang tidak mengerti dengan apa yang ia perbuat.


Plak!


"Dasar cewek bod0h!" bentak kak Stella. dengan tiba-tiba ia menamparku sangat keras, sehingga aku memegang Pipi yang baru saja terkena tamparan.


Aku hanya menatap nanar ke arahnya, tidak mengerti dengan apa yang ia lakukan, sampai-sampai harus menampar pipiku, yang sudah sering kena tamparan.


Gara-gara kamu, Dali memutuskan pertunangan kita. kata dia lebih memilih kamu, wanita yang sangat kampungan!" bentak Kak stella, semakin membuatku tak mengerti, Kenapa dia menyalahkan diriku, Apa benar Kak dali dan kak stella sudah pisah.


Mendengar perpisahan mereka, tiba-tiba sudut bibirku terangkat, merasa bahagia dengan kejadian yang menimpa mereka, Memang Jahat namun aku suka


"Ngapain kamu tersenyum, dasar pelakor! bisanya mengganggu hubungan orang!" bentak Kak Stella, dengan muka merah padamnya.


"Asal kamu tahu, aku tidak pernag menyerah dengan apa yang ku inginkan. Sebelum semuanya menjadi milikku. Dan kalau aku tidak mendapatkan dali, maka kamu juga tidak akan mendapatkannya, sama denganku. sekarang tinggal kamu pilih, kamu menjauh dari kehidupan dia, Apa kita sama-sama Tidak akan bisa memilikinya, anak buahku sangat banyak, sehingga untuk melenyapkan Dali saja, itu sangat mudah bagiku!" ancam kak stella.


"Enggak. aku enggak pernah mengganggu hubungan Kakak, semenjak kejadian malam pertunangan kemarin, aku sudah tidak bertegur sapa dengannya."


"Awas aja, kalau kamu berbohong, karena anak buahku akan terus memantau, sampai aku bisa mendapatkan dali." ucap kak stella sambil menatap kedua bola mataku, seolah ingin mengetahui Apa yang ada di isi hatiku.


"Maaf Kak, kalau kedekatan aku mengganggu hubungan Kakak!" ucapku yang tidak mengerti harus berkata apa lagi, hanya kata maaf yang bisa aku ucapkan.

__ADS_1


__ADS_2