Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 45 KAMU PALING BISA


__ADS_3

Pov dini


Setelah melaksanakan salat Isya, aku masih duduk di Atas Sajadah, meminta petunjuk dengan apa yang harus aku lakukan ke depannya. Karena aku gak mungkin bergantung terus sama orang lain, tekadku sudah bulat, aku harus dewasa.


Truk! truk! truk!


Pintu kosanku, ada yang mengetuk. seperti biasa aku mengintip terlebih dahulu lewat kaca jendela, memastikan Siapa yang datang, Sebelum membukanya.


Terlihat di depan pintu ada orang yang mengenakan seragam hijau, seragam ojek online. namun yang membuatku bingung, Kenapa Dia mengetuk pintu kosanku, padahal aku tidak memesan apa-apa.


Kuambil handphoneku, lalu kulihat Siapa tahu saja hp-ku error, biasanya Kalau ponsel  error  bisa membuat orderan otomatis. namun setelah aku mengecek handphoneku, aku tidak menemukan ada keanehan di dalamnya.


Truk! truk! truk!


Pintu itu pun diketuk kembali, lebih kencang dari yang pertama, sambil mengucapkan salam. dengan malas aku pun membuka pintu itu, karena kalau tidak dibuka, pasti pintu kosanku, akan diketuknya terus-menerus.


"Mbak, Dini?" tanya pria berseragam ojek online itu memastikan.


"Iya, saya sendiri, maaf ada apa, ya. Perasaan saya tidak memesan apapun, mungkin bapak Salah orang." ucapku tanpa menanyakan kepentingannya terlebih dahulu, biar lebih meyakinkan, aku menunjukkan handphone yang aku pegang.


"Nggak salah orang, Saya hanya mengantarkan paket dari Pak Dali." jelas pria itu menyanggah pendapatku.


"Paket apa?" Tanyaku penasaran.


"Mungkin, makanan. soalnya dilihat dari dusnya seperti itu. Namun untuk lebih jelasnya, Mbak bisa cek sendiri!" ujar ojek online memberi saran.


Kemudian dia menyerahkan bungkusan plastik, lalu memfotoku, mungkin buat bukti, Dia telah mengirim paket nasi ke orang yang dituju. Setelah memastikan paket diterima dengan orang yang bersangkutan. Bapak ojek online langsung berpamitan, pergi meninggalkanku yang masih berdiri di ambang pintu.


Kututup kembali pintu kosanku, lalu membawa bingkisan nasi pemberian Kak Dali, masuk ke dalam kosanku. kuletakkan bingkisan nasi di atas karpet. Entah mengapa rasanya enggan membukanya, karena masih merasa kecewa dengan apa yang ia lakukan, walau sebenarnya bukan kecewa dengan Kak Dali, tapi lebih kecewa terhadap diri sendiri, yang tak mampu sadar. bahwa aku bukan apa-apa. dibandingkan dengan wanita-wanita yang mendekatinya.


Setelah nasi box itu tersimpan dengan aman, Aku kembali masuk ke kamar kosanku, kemudian merebahkan tubuh di atas kasur, Sambil Bermain handphone untuk mengusir kebosananku .


Kubuka aplikasi hijau berlogo telepon, untuk mengecek Siapa tahu saja ada yang menarik di dalamnya, Namun sayang nomor yang ada di kontakku, hanya nomor Kak Dali dan Kak Risma, ditambah nomor ibu. jadi tidak mungkin aku menemukan Hal yang bisa membuatku mengalihkan pikiran. tapi Walau begitu, rasa penasaran yang begitu tinggi, sehingga aku tetap membuka aplikasi itu, terlihat status Kak Dali yang baru saja dia upload, status yang berbentuk foto, seperti orang yang sedang melakukan doa bersama.


( Alhamdulillah, Terima kasih atas Nikmat-Mu Tuhan. aku bisa menempati rumah baru. )  tulisan itu melengkapi foto yang di-uploadnya.

__ADS_1


Pikiranku mulai melayang, menerka-nerka Apa yang sebenarnya terjadi. Apakah kak dali mengadakan syukuran rumah, atau melaksanakan syukuran, Karena dia sudah resmi menjadi tunangan Kak Stella. membayangkan hal seperti itu, Aku hanya bisa menarik nafas pelan lalu menghembuskannya.


Tring!


Ponselku berbunyi menandakan ada satu tanda pesan yang masuk, dengan cepat aku membukanya. meski aku tahu pesan itu dikirim oleh kak dali, dan aku tidak akan pernah balas pesannya lagi.  namun aku tetap ingin tahu  apa yang ia kirimkan.


( Nasinya dimakan, ya! alhamdulillah, rumah Baruku sudah bisa aku tempati!" ujarnya lewat pesan itu, lalu dia mengirimi beberapa foto, di mana dia. sama orang-orang sedang mengangkut barang-barangnya, yang ada di kontrakan, mungkin sebagai bukti bahwa dia melakukan syukuran pindahan rumah.


Rasanya pengen membalas pesan itu, pengen tahu, dia pindah ke mana. namun semua itu kutahan, karena aku yakin, ketika aku mendekati dirinya, aku hanya akan melukai diriku sendiri.


Pesan yang dikirim Kak Dali, hampir lebih 50 pesan.  namun tak satupun aku membalasnya. kusimpan ponselku lalu kembali ke ruang tamu, untuk melihat isi paket yang dikirimkan olehnya.


Kubuka bok itu, terlihat di dalamnya ada nasi dengan lauk pauk yang sangat mewah. Karena hanya dengan melihatnya, tiba-tiba perutku berbunyi, karena sedari pagi, aku belum sempat mengisinya. Otaku berpikir buat apa aku hidup, kalau tidak menemukan kebahagiaan.


Namun berbeda dengan sekarang, ketika melihat nasi yang tersaji di hadapanku. perutku meronta-ronta ingin segera memindahkan nasi yang ada dalam box, ke dalam lambung.


Kucicipi sedikit, rasanya begitu nikmat. hingga awalnya sedikit-sedikit, akhirnya nasi box itu, habis. Hanya menyisakan boxnya saja.


"Eeeeerrrg" Sendawaku setelah melahap semua nasi, sambil  kembali menuju ke kamarku. kuraih lagi handphoneku, lalu membuka aplikasi pesan lagi. Sambil membayangkan kebaikan Kak Dali, Entah mengapa aku merasa bahagia, ketika diperjuangkan seperti ini. satu sisi pengen menjauh, di sisi lain aku menikmati diperlakukan diperjuangkan seperti sekarang.


( Hai, Din. lagi ngapain? ) Chat baru, datang dari Kak Risma. Mungkin dia baru pulang dari pekerjaannya, sehingga dia bisa mengirim pesan.


"Boleh banget, tadi saja pak Bowo, Nanyain kamu terus."  Balas Kak Risma.


"Emang nggak apa-apa! Aku kan udah libur lama, mana aku karyawan baru,  lagi?" tanya aku lewat pesan itu.


"Nggak apa-apa! kamukan karyawan kesayangan Pak bowo." chat Risma diakhiri emoticon senyum penuh tanda cinta.


"Apaan, sih!" bala ku di akhir dengan emoticon kesal.


"Hehehe, canda! Emang kamu nggak apa-apa! kalau bekerja lagi? Oh iya, Kak Dali lagi ngapain?" tanya Kak Risma.


"Kurang tahu, mungkin dia sekarang sudah di rumah barunya!" balasku.


"Pindah ke mana?" tanya Kak Risma menyelidiki.

__ADS_1


"Tanya langsung aja, Kan Kakak juga punya nomor hp-nya!" ujarku, yang tidak mau ke terusan membahas tentang Kak Dali.


Kak Risma tidak membalas, hanya mengirimkan emoticon jempol. Dan akhirnya chatan aku dan kak Risma berakhir.


Aku simpan handphone-ku kembali, di atas nakas. lalu mulai ku pejamkan mataku, membayangkan hal-hal yang indah, agar aku terbawa ke alam bawah sadarku, menjadikannya mimpi indah.


******


Pukul 06.00. pintu kosanku ada yang mengetuk kembali, Seperti biasa aku mengintip dulu, sebelum membukanya. terlihat pada orang yang berseragam ojek online, yang menenteng kantong plastik.


Dengan cepat aku buka pintu itu, menanyakan maksud dan tujuannya.


"Mbak yang mesen nasi uduk, atas nama Dali?" tanya pria itu memastikan sambil tersenyum menatap ke arahku.


"Sudah, dibayar?" Tanyaku.


"Sudah, mbak. Terus nasinya di kemanain?"Jawab pria yang berdiri di hadapanku.


Aku pun mengambil nasi uduk itu, setelah mengucapkan terima kasih. aku kembali menutup pintu kosanku, dengan membawa bungkusan nasi uduk yang Kak Dali belikan.


"Kenapa, sih? kamu baik banget, kamu berusaha banget, membuatku bingung. menentukan sikap apa, yang pantas aku ambil, untuk menghadapimu Kak?" gumamku, tak terasa air bening menetes di pipiku. Bingung dengan apa yang harus kuperbuat.


Setelah memakan nasi uduk pemberian Kak Dali, aku pun segera bergegas mandi, untuk bersiap pergi bekerja lagi di toko pak Bowo.


Pukul 08.15. aku sampai di mall, terlihat Kak Rani Baru saja datang, kemudian Ia membuka rolling door toko pak Bowo.


"Selamat pagi, Kak?" sapaku dengan Ramah, namun dia tidak menghiraukanku, Kak Rani, Acuh  masuk ke dalam, kios yang sudah dibukanya.


Aku pun mengikuti Kak Rani di belakangnya, yang hendak mengambil alat bersih-bersih. karena kebiasaan karyawan, sebelum bekerja, mereka akan merapikan tempat kerjanya terlebih dahulu. mulai dari menyapu, mengepel dan melipat baju yang berantakan.


"Masih punya muka, kamu datang ke sini, kamu itu sudah dipecat! Emangnya ini perusahaan Bapak kamu, kerja semaunya saja!" gerutu Kak Rani sambil mengambil sapu untuk membersihkan lantai.


"Maksudnya gimana, Kak?" tanyaku sambil menatap penasaran ke arahnya.


"Kamu, itu. sudah dipecat Pak bowo, kemarin dia sudah berpesan, ketika kamu datang ke sini, maka aku harus mengusirnya. jadi sekarang mending kamu pergi, daripada pak Bowo yang mengusir langsung, nanti kamu lebih malu!" saran Kak Rani membuatku melongok merasa tidak percaya dengan apa yang diucapkan. karena menurut kak risma Pak bowo terus menanyakanku, untuk segera bekerja kembali.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau seperti itu, nanti saya akan tanyakan langsung sama Pak Bowo. Sekalian minta maaf, karena saya tidak bisa menjaga kepercayaannya." jawabku yang merasa sedih dengan apa yang menimpaku sekarang.


"Ngapain? Nggak tahu malu, sudah sekarang kamu pulang saja, tidur lagi! nggak usah kerja-kerja, kalau kamu gak memiliki tanggung jawab!" usir Kak Rani.


__ADS_2