
Pov dini
Keesokan paginya, setelah mengantarkan Kak Dali dan Kak Risma, pergi untuk bekerja. aku kembali masuk ke kontrakan untuk merapikannya. mulai dari nyapu, ngepel, ngelap kaca. walaupun ini tidak disuruh, namun aku cukup tahu diri ketika aku menumpang hidup.
Setelah merapikan rumah, aku pun kembali ke kamar, untuk mengambil handuk. kemudian membersihkan diri dari keringat sehabis bekerja, di kamar mandi.
Pukul 08.30. aku pun sudah duduk di sofa sambil menatap layar TV, untuk menghilangkan rasa bosan di rumah, yang menghampiri. rasanya pengen bekerja lagi, namun aku belum sanggup, untuk bertemu orang banyak, kejadian malam sehabis pulang dari Monas masih menghantui.
Pukul 10.00, aku mematikan TV, kembali masuk ke kamar, untuk merebahkan tubuhku. namun mataku tidak bisa terpejam, entah kenapa bisa seperti itu. kuambil ponsel pemberian kak dali, lalu mengeceknya. siapa tahu saja ada hal yang penting di dalamnya, sehingga mengusir kejenuhanku.
Di Aplikasi hijau berlogo telepon, tertulis ada angka satu menandakan ada satu pesan yang belum terbaca, dengan penasaran aku buka aplikasi itu.
( Maaf semalam lupa, kamu belum menjawab pertanyaanku ) tanya Kak Dali lewat pesan itu.
( Pertanyaan apa ya, Kak? ) Balasku lewat pesan karena lupa, apa yang dia tanyakan.
( Kamu jadi ikut keacara ulang tahun temanku? ) balasnya dengan cepat. tak seperti biasanya, yang suka membosankan ketika menunggu balasan chat darinya.
Akhir-akhir ini dia selalu perhatian, semenjak kejadian, aku mau digagahi oleh kakak angkatku. sikapnya berubah, mengalir begitu saja. walaupun kelakuan nyelenehnya kadang suka keluar.
Membayangkannya. cara kak dali memperlakukanku. membuat sudut bibirku terangkat, merasa bahagia dengan perlakuannya, meski belum ada kata yang terucap, dari kedua bibirnya. Maksudnya apa dia berlaku seperti itu.
( Kok nggak bales? ) pesan itu datang lagi.
( Sabar napa! aku kan lagi ngetik, emang nggak apa-apa Kalau aku ikut? ) balas ku menjawab pertanyaannya.
( Nggak apa-apa! makanya aku ngajak kamu )
( Ya sudah kalau kakak tidak keberatan, aku mau! ) balasku. mengingat kalau tinggal terus di kontrakan pasti sangat membosankan, apalagi kalau malam-malam harus sendirian di rumah. Rasanya ngeri saja.
( Ya sudah, nanti habis maghrib kita berangkat, kamu siap-siap yah! miss you. ) balesnya diakhiri dengan emoticon love.
Aku pun membalas emoticon itu, dengan emoticon yang sama. entah apa tujuannya, Aku pun tidak tahu. aku hanya mengikuti apa yang dia lakukan.
Setelah tidak ada balasan pesan lagi. aku simpan ponselku Di nakas, mencoba kembali memejamkan mata, namun tetap saja tidak bisa. terus kepikiran, aku harus bagaimana kedepannya? karena tidak mungkin aku terus tetap tinggal di kontrakan kak Dali.
__ADS_1
"Apa aku pulang kekontrakanku dulu yah? sekalian ngambil baju buat ke pesta ulang tahun teman Kak Dali." gumamku sambil mengangguk ganggukan kepala, seolah mendapat ide untuk mengisi hari ini.
Setelah menimbang baik dan buruknya. aku pun bangkit Dari Ranjang kak dali, membuka lemarinya. untuk mengambil pakaianku yang disimpan di dalamnya.
Kukenakan celana jin lebar, dipadukan dengan kemeja kotak kotak warna hitam, berukuran big size. dihiasi dengan kerudung hitam yang menempel di kepalaku. Setelah melihat bayangan tubuh pada cermin. aku pun segera bergegas meninggalkan kamar, keluar menuju arah pintu. tak lupa aku juga memakai sepatu kasual berwarna putih.
Setelah Mengunci pintu kontrakan, ojek online yang aku pesan pun tiba. dengan cepat aku menghampiri, lalu berangkat pergi meninggalkan kontrakan kak Dali.
Motor berhenti di depan pintu gerbang kosanku. setelah membayarnya, aku pun bergegas untuk masuk ke dalam, melewati pos satpam.
"Eh, dini ke mana saja? ada orang tua yang nyariin kamu!" sapa satpam itu memberitahuku.
"Siapa Pak?" tanyaku penasaran, sambil menghentikan langkahku berdiri di hadapan Pos.
"Kurang tahu, namun mereka sudah menunggu dari tadi. coba kamu temuin saja!" saran Pak satpam itu.
Dengan perasaan cemas, kulangkahkan kakiku, meninggalkan Pos satpam. untuk mencari tahu siapa orang yang mencariku.
"Dini, Kamu ke mana aja?" bentak orang yang berdiri di dekat pintu kosanku.
Aku semakin mempercepat langkahku, rasa kangen yang sudah memenuhi, karena sudah lama tidak bertemu mereka. sehingga aku melupakan perlakuan mereka, yang hendak menikahkanku dengan kakek-kakek.
Namun ketika aku hendak menyalami mereka. tangan mereka dikepakkan, tidak mau menerima uluran tanganku. membuat mataku menatap nanar, ke arah kedua orang yang sudah membesarkanku.
"Kamu jangan pura-pura baik, ibu tau kamu itu sangat kotor. masa Kakak sendiri Kamu fitnah!" bentak ibu menatap tajam ke arahku.
"Maksudnya, bu?" tanyaku merasa heran, atas perkataan yang dilontarkannya.
"Yah masa, kak Dani. kamu masukkan ke penjara, kamu pasti fitnah dia kan. Kamu pasti yang menggodanya, mana mungkin anak sebaik dia, mau memperk0s4mu" jelas ibu dengan intonasi suara yang tinggi. Membuat Mulutku menganga, mataku terbuka lebar. seolah Oksigen yang masuk ke tubuhku sangat kurang.
"Kita ngobrol di dalam saja, Bu. jangan di sini, malu kalau dilihat orang." saranku mengajak mereka masuk, sambil mengeluarkan kunci lalu membuka pintu kosanku.
Setelah pintu kosan terbuka, Mereka pun masuk tanpa dipersilakan terlebih dahulu, kemudian mereka duduk.
"Sebelum mengobrol, Kamu belikan makan kami terlebih dahulu. kami belum sarapan, karena kami tadi berangkat dari Bandung, subuh-subuh!" Pinta ibu dengan Ketus.
__ADS_1
Mendengar permintaannya, aku pun hanya mengangguk. lalu Beranjak Pergi Meninggalkan kosanku, untuk membelikan mereka makanan.
"Jangan lupa belikan rok0knya!" perintah Bapak sesaat sebelum aku pergi.
Ketika lagi membeli makan, Sempat terpikir untuk pergi kabur lagi meninggalkan mereka, karena perlakuan anaknya yang begitu kejam terhadapku, Apalagi ditambah dengan fitnahan ibu, yang mengatakan Akulah Yang menggodanya. namun pikiran itu buru-buru aku menepisnya jauh-jauh, karena walau bagaimanapun, merekalah yang merawatku. dan berkat merekalah aku bisa hidup sampai sekarang.
Setelah pesananku selesai dibuat, aku langsung membayarnya. Dan segera kembali ke kosanku. untuk memberikan makanan yang kubeli, kepada orang tua angkatku.
"Kamu beli makanan di arab yah. Lama banget!" gerutu bapak, sambil menarik plastik yang kubawa dengan kasar.
"Ngantri, Pak. ini kan sudah waktunya makan siang, jadi banyak orang yang membeli makanan juga." Ujarku menjelaskan.
Setelah makanan itu berpindah tangan, dengan cepat aku pun mengambilkan gelas, buat wadah air minumnya. Aku ingin membalas kebaikan mereka sebisa mungkin.
"Ambilkan kocokan!" Pinta ibu menyuruhku. untuk mengambilkan air untuk mencuci tangannya setelah selesai makan.
Aku bangkit, untuk mengambil air dengan mangkok, Lalu didekatkan ke arah mereka berdua.
Setelah selesai makan, kurapihkan piring bekasnya. untuk disimpan ke kamar mandi, lalu kembali lagi menemui mereka.
"Kamu belum jawab pertanyaan kami,?" ujar bapak mengawali pembicaraan, dengan membakar sebatang rok0k yang kubelikan, kemudian dihisapnya.
Asap yang keluar dari mulut bapak, memenuhi kosanku yang sangat sempit, sehingga membuatku merasa pengap, tidak suka dengan baunya.
"Pertanyaan apa, Pak?" Tanyaku sambil mengibas-ngibaskan tangan mengusir asap rok0k, yang menyerang kedua lubang indra penciumanku.
"Kamu kenapa fitnah kakak kamu, kami kurang baik apa sama kamu. sampai sampai pembalasanmu seperti ini, sama orang tua yang sudah membesarkanmu." tanya Bapak sambil menghembuskan asap dari mulutnya.
"Aku nggak fitnah kak Dani, Pak. Memang kak dani saja yang jahat, dia hendak memperk0saku." jawabku sambil meneteskan air mata, yang sejak tadi menggenang di mataku.
"Halah. kamu itu cewek jelek! Mana mungkin dani suka sama kamu, jujur aja kamu pasti yang menggodanya duluan, kan!" bentak ibu menyanggah penjelasanku.
"Beneran Bu, bahkan kak Dani juga bilang. aku ini adalah anak yang dipungut dari tong sampah! Apakah itu benar." Jelasku sambil terus menangis, merasa sedih karena orang yang selama ini kukagumi, ternyata sikapnya berubah dengan sangat cepat. semenjak aku menolak perjodohan dengan Pak Wahyu.
"Emang benar! kamu itu hanya sebagai sampah, Untung saja kami baik hati, mau merawatmu. namun balasanmu apa? Malah menyakiti kami, kabur dari rumah. Sehingga semua pemberian dari si Wahyu itu, diambil kembali. dan sekarang kamu memfitnah kakak kamu, anak kami yang sebenarnya. Kamu itu sebenarnya manusia, apa hewan, sih? Masa tidak tahu rasa berterima kasih, setelah kami membesarkanmu sampai sekarang. Kalau kami tau balasanmu seperti ini, mending dulu kami Biarkan saja kamu mati di tong sampah." crocos ibu panjang sampai aku tidak bisa menangkap semua perkataannya.
__ADS_1
"Pokoknya kamu cabut laporan itu, atau kami yang akan balik melaporkanmu, karena kamu sudah menipu Pak Wahyu. dengan cara kabur dari rumah" ungkap Bapak dengan penuh penekanan, membuat kepalaku sedikit mengenyunut.