
Pov dini
"Yang seharusnya dilaporkan itu, bapak. karena Bapak lah yang hendak menjodohkanku, dengan Pak Wahyu. Berarti Bapak yang menipunya! Bappak jahat, bapak tega, bepak berbuat sesuka hati. tanpa memperdulikan perasaan anakmu." ungkapku, entah keberanian dari mana sampai-sampai bisa berucap seperti itu.
"Kamu. kurang ajar banget jadi anak, pakai ngebantah segala!" bentak bapak sambil menatap tajam ke arahku. sehingga membuatku merasa ngeri dibuatnya, karena baru sekarang Bapak menunjukkan sifat aslinya.
"Udahlah Pak, biarin saja. jangan urusin anak yang keras kepala seperti ini. yang penting sekarang, dia harus pencabut laporannya, untuk membebaskan Dani, anak kita." Ucap ibu menenangkan bapak.
Diingatkan seperti itu. bapak hanya mendengus kesal, karena emosinya tidak tersalurkan, beliau hanya menatap tajam ke arahku, terpancar kebencian dari sorot matanya.
"Din, Ibu minta tolong sama kamu, tolong cabut laporan kamu. kak Dani itu walau bagaimanapun, dia adalah kakak kamu!" ujar ibu dengan intonasi pelan.
"Mana mungkin? seorang kakak, tega melakukan hal bejat seperti itu!" belaku menyanggah pendapat ibu.
"Ingat! kasih sayang kami, lebih lebih banyak kami berikan untukmu, mengabaikan Dani yang jelas-jelas anak kami. jadi tolong kamu berbesar hati, untuk mencabut laporannya." wanita paruh baya itu mengiba.
Memang benar. kasih sayang yang mereka berikan, awalnya begitu tulus. mengabaikan kak Dani, Bahkan mereka lebih sering memarahi kak dani, ketika kita berdebat. namun setahun belakangan ini, mereka berubah begitu saja. bahkan sampai mau menjualku sama kakek-kakek.
Aku terdiam, sesaat memikirkan dan mengingat, kasih sayang yang pernah diberikan, meski itu hanya sebagai Kenangan.
"Kami ini sudah tua, Din. tadinya kami udah bahagia. ketika kamu setuju dengan perjodohan, yang kami rencanakan. karena kehidupan masa tua kami akan terjamin. namun kamu menghancurkan angan-angan yang indah itu, dengan cara kabur dari rumah. sekarang hanya danilah sebagai tulang punggung keluarga. Tapi malah kamu masukkan ke penjara. Jadi kami mohon! cabut tuntutan itu." kata ibu ketika melihatku terdiam. Merupakan semua isi hatinya mungkin masih sebanyak yang belum diucapkan.
"Iya, anggap saja. itu adalah balas budi kamu, yang selama ini kami rawat, dengan penuh kasih sayang." tambah bapak menimpali.
"Masa kamu tega? membiarkan orang tua yang sudah mengurusmu, hidup terlunta-lunta di jalanan. mengharapkan belas kasihan orang, tolong pikir dengan hati nuranimu." tutur ibu.
"Apa kamu mau, kita hidup bergantung sama kamu. Dan suatu saat kami bisa memaksamu, untuk menikah dengan pria yang kami pilih." ancam bapak.
Aku hanya diam, dan tidak menjawab apa yang mereka katakan. berpikir bagaimana baiknya, namun kepalaku malah mengenut tidak bisa menyimpulkan, apa yang harus aku lakukan, untuk menghadapi keluhan mereka. hati kecilku berkata walau mereka sebegitu jahat, namun aku tetap menyayangi mereka.
"Tolonglah! Kasihani kami, yang sudah tua renta begini." ungkap ibu terlihat dari sudut matanya, yang sudah mulai keriput ada cairan bening yang hendak menetes.
__ADS_1
"Aku bingung Bu, Pak. kalau tidak ada Kak Dali, mungkin Kak Dani sudah berhasil merampas kesucianku. dan kalau tidak ada kak darda. mungkin Kak Dali sudah kehilangan nyawanya." ucapku menjelaskan, apa yang sebenarnya sedang aku pikirkan.
" Dali orang mana?" tanya ibu kaget setelah mendengar nama Kak dali disebut, mungkin kak Dani belum menceritakan kejadian sebenarnya. atau dia sengaja menutupi kebenaran itu.
"Kak Dali yang orang Antapani itu Bu sahabatnya kak Dani." jawabku menjelaskan. "Ibu, bapak. jangan khawatir walaupun kak Dani di penjara. Aku akan berusaha sekuat mungkin, membahagiakan kalian. asal jangan menjodohkanku dengan orang yang tidak aku sukai! aku berjanji. akan selalu merawat kalian, maaf kalau selama ini. aku sering merepotkan ibu, bapak." ujarku mengungkapkan Isi Hati yang sebenarnya, karena membahagiakan orang tua, meski mereka orang tua angkat. itu adalah cita-cita semua anak, yang penting mereka baik sama kita.
"Mau ngebahagiain bagaimana? kamu aja tinggal di kosan kecil begini!" Ketus ibu.
"Mungkin sekarang aku masih tinggal di kosan, tapi kedepannya aku akan membeli rumah!" jawabku dengan penuh keyakinan, walaupun sebenarnya nggak yakin, mengingat aku hanya bekerja jadi pramuniaga toko. jangankan buat beli rumah, buat makan aja kekurangan.
"Mau beli, dari mana uangnya? Sudahlah! Kamu jangan ngayal begitu tinggi. kami tidak meminta balas budi darimu, kami hanya minta tolong. untuk segera mencabut laporanmu, agar Dani bisa mengurus kami kembali!" jawab ibu pesimis. Emang benar. Aku juga belum tahu Uangnya dapat dari mana untuk membeli rumah.
"Kebahagiaan kami hanya ada di Dani, jadi tolong kembalikan kebahagiaan itu!" Pinta bapak.
Aku hanya menarik napas dalam, bingung harus berkata apa lagi, karena aku tidak tahu bagaimana cara membebaskan orang, yang sudah berada di penjara. mungkin kak Angga yang lebih paham, namun sekarang dia tidak berada di sini.
"Bagaimana caranya, Bu? aku nggak ngerti. Lagian laporan itu dibuat oleh kak Dali." ungkapku yang mulai kasihan, ketika melihat kondisi mereka.
"Tolong Maafkanlah! kak Dani. mungkin dia khilaf." ujar bapak.
"Ya sudah, tapi aku nggak janji bisa membebaskan kak dani. namun aku akan berusaha, sebisa mungkin." akhirnya aku pun menyanggupi permintaan kedua orang tua angkatku. meskipun Sebenarnya aku tidak tahu tentang masalah seperti ini.
"Terima kasih ya!" ujar mereka dengan berbinar-binar, terlihat raut wajah ibu yang mulai bercahaya kembali.
"Ibu mau nginep di sini?" Tanyaku mulai mengalihkan pembicaraan.
"Ya terus, mau nginep di mana. masa kami tidur di kolong jembatan?" jawab ibu yang tidak nyambung
"Bukan begitu Bu, kalau ibu mau menginap di sini, biar aku rapikan kamarnya, terlebih dahulu. soalnya kosan ini sudah tiga hari tidak aku tempati." jelasku agar ibu paham.
Namun ketika Ibu mau menjawab lagi. tiba-tiba telepon Ibu berdering, dengan cepat ibu mengangkatnya. tidak terlalu jelas apa yang mereka bicarakan, namun beliau memberitahu bahwa beliau sedang berada di kosanku.
__ADS_1
"Ibu minta nomor baru kamu!" pinta ibu sambil menyerahkan ponsel ke arahku, setelah menutup teleponnya.
Awalnya ragu, namun setelah dipikir berulang kali. Tidak ada salahnya kalau aku bagi nomorku ke ibu, karena sekarang mereka tidak membahas pembahasan Perjodohan lagi. Bahkan mereka sudah melepaskan aku dari genggaman mereka, seolah tidak peduli lagi dengan keberadaanku
Setelah selesai memasukkan nomorku. handphone itu, kuserahkan kembali sama ibu, dan Ibu Pun mencoba memanggil nomor itu, Mungkin beliau takut aku membohonginya.
Ponsel Aku pun berdering, setelah nomornya yang ditekan oleh ibu tersambung, menandakan aku tidak membohonginya.
"Emangnya, orang tuaku masih hidup?" Tanyaku sambil menatap ke arah mereka berdua.
"Masih. tapi orang tuamu jahat banget, sehingga membuangmu ke tong sampah. Untung saja kami melihatnya, jadi bisa merawatmu. Kamu Jangan coba-coba mendekati mereka, kamu cukup tahu saja bahwa orang tuamu masih ada. Bukan apa-apa, mereka itu jahat banget." jelas bapak dengan raut muka serius.
Apakah setega itu orang tuaku, sampai-sampai mereka berani melakukan perbuatan keji seperti itu. pertanyaan itu yang memenuhi pikiranku.
"Terus kalau masih hidup, mereka sekarang tinggal di mana?" Tanyaku penasaran.
"Jangan dikasih tahu dulu, Pak. sebelum dia mencabut laporannya. Lagian mereka bukan orang baik, nanti takut dini diapa-apain." tolak Ibu mengingatkan bapak.
"Walau bagaimanapun keadaan kamu, kami tetap menyayangi kamu, sebagai anak kami. maafkan kami kalau mempunyai kesalahan, rumah kami akan selalu terbuka buat kamu. kami tidak ingin siapapun menyakiti kamu." Ujar bapak menunjukkan kasih sayang yang pernah hilang.
Perkataan bapak membuat hatiku terunyuh, merasakan kebahagiaan yang sempat hilang. namun untuk sekarang Biarkanlah aku hidup seperti ini, aku masih takut ketika mereka mengulangi perbuatannya.
"Iya aku juga minta maaf Pak, Bu. insya Allah, aku akan berusaha, bagaimana supaya kak dani bisa keluar." jawabanku membuat mereka tersenyum.
"Coba dari dulu kita ngobrol seperti ini, nggak harus main kabur-kabur segala. mungkin keluarga kita akan tetap utuh, keluarga yang penuh kebahagiaan." ujar ibu menunjukkan raut bahagia.
"Ya sudah, yang lalu, biar berlalu. kita menata ulang kehidupan kita dari awal. Dan bagaimana ke depannya, tidak ada lagi ujian berat seperti ini." ujarku sambil mendekati ibu, lalu memeluknya dengan erat.
Tring! tring! tring!
Suara ponsel ibu berbunyi kembali, dengan cepat dia melepaskan pelukannya. lalu mengambil handphone yang berada di tikar kemudian mengangkatnya.
__ADS_1
"Sudah di depan katanya, Pak." ujar Ibu sambil menatap bapak memberitahu sesuatu.