
Pov dini
"Ngapain kamu malah diam di situ?" tanya Bapak ketika melihatku masih berdiri di depan kosan.
Aku tak menjawab, namun segera masuk ke dalam. Lalu menyerahkan makanan yang mereka pesan, Tak ada pembicaraan lagi, Kami bertiga menyantap nasi Padang dengan lahap.
"Kita mau menginap di sini, nanti kalau dibiarkan, kamu bohong lagi, berkilah tidak mau mencabut laporan Dani." ucap bapak setelah menghabiskan makanannya.
"Iya Pak, nggak apa-apa! namun maaf, kalau di sini kurang nyaman." ujarku yang merasa tidak bisa menjamu dengan baik.
"Coba tadi kamu pergi ke kantor polis, Jadi kami tidak harus repot-repot, menginap di kosan yang sempit." Timpal ibu.
"Maaf Bu, tadi aku lupa, dan aku malu, kalau harus libur bekerja lagi." ungkapku menjelaskan keadaannya.
Malam ini kedua orang tua angkatku, menginap di kosan, mereka berdua tidur di kamar, Sedangkan aku tidur di ruang tamu beralaskan karpet.
*****
Keesokan paginya, setelah kami sarapan. aku dan kedua orang tua angkatku, bergegas menuju ke kantor polis, untuk menanyakan Bagaimana cara pencabutan laporan.
Setelah berada di kantor polis, aku dan kedua orang tuaku, menghadap kepada orang yang menangani kasusku.
"Kenapa, kok mau mencabut laporan?" tanya Pak Polisi.
"Nggak apa-apa, Pak. saya rasa, Masalah ini tidak harus dibesar-besarkan." jawab bapak menimpali.
"Maaf, Bapak ini siapa? Kalau tidak ada kepentingan mending nggak usah ikut campur, karena korban hanyalah saudari dini!" Ujar pak polis yang tidak suka pertanyaannya disela.
"Maaf Pak, saya bapaknya Dini." jawab bapak yang merasa tidak enak ditegur seperti itu.
Pak polis tidak menjawab, Dia hanya mengalihkan pandangan ke arahku, meminta jawaban dari pertanyaan yang tadi ia lontarkan.
"Bagaimana saudara Dini?" tanya pak polisi mengulang.
"Iya Pak, saya rasa Masalah ini tidak harus diperpanjang, karena saya sudah aman dan selamat. tidak ada yang kurang satu apapun," jelasku memperkuat ucapan bapak, karena tidak tau alasan yang tepat.
"Apakah saudari sadar, atau tidak dalam paksaan, ketika hendak melakukan pencabutan ini?" tanya Pak polis memastikan.
"Nggak, Pak. saya sadar dan saya tidak berada dalam tekanan atau paksaan." jawabku dengan tegas.
__ADS_1
"Baik, kalau seperti itu. walaupun saudari telah mencabut tuntutan sebagai korban, namun hukum pidana akan tetap berjalan, sebagaimana mestinya, Sesuai undang-undang yang ada di negara kita." jelas Pak Polis membuat kedua orang tuaku menatap ke arahnya, seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Terus mau memperkarakan apa? sedangkan orang yang bersangkutan sudah mencabut tuntutanya?" tanya Bapak yang masih belum puas, Atas jawaban yang diberikan pak polis.
"Karena setiap kejahatan ada hukumannya, Pak. tidak bisa orang yang sudah berbuat salah, terbebas begitu saja. nanti tidak ada efek Jera, bagi dirinya, dan bagi orang orang yang hendak melakukan tindak kejahatan." jelas Pak polis dengan lugas.
"Terus bagaimana? supaya anak saya terbebas dari semua hukuman." tanya Bapak meminta pencerahaan.
"Maaf Pak, saya tidak bisa memutuskan, karena yang berhak menilai salah atau benarnya, itu ada di pengadilan. Saya hanya mengamankan tindak kriminal, yang berkeliaran di kalangan masyarakat." jelas Pak Polis.
"Nggak ada cara lain, supaya anak saya terbebas?" tanya Bapak yang belum masih merasa puas, dengan semua keterangan yang diberikan.
"Nggak ada Pak, karena barang bukti sudah lengkap, sekarang tinggal menunggu keputusan hakim, karena semua berkas sudah dilimpahkan ke kejaksaan."
"Tapi, Pak!" ucap bapak tertahan.
"Sekarang silakan tanda tangan pencabutan laporan!" seru pak polis sambil menatap ke arahku, tidak memperpanjang pembicaraan dengan bapak.
Aku pun menandatangani berkas yang diberikan oleh Pak Polis. Setelah selesai kami pun berpamitan, tak lupa Mengucapkan terima kasih terlebih dahulu.
"Ini sih, gara-gara kamu, yang sok-sokan. pakai main lapor-lapor segala, Kayak orang kaya saja!" gerutu ibu sambil memicingkan mata, melimpahkan kesalahan semuanya terhadapku.
"Sekarang aku tidak mau tahu, bagaimana caranya! kamu harus bisa membebaskan kakakmu." Pinta ibu dengan memaksa, seolah aku ini adalah Hakim yang bisa memutuskan.
"Tidak bisa Bu, maaf. saya sudah mengikuti semua kemauan Ibu, mencabut tuntutan kak Dani di kantor polis. berhasil atau tidaknya, saya mengeluarkan kak Dani. itu urusan kepolisian. yang penting saya sudah berusaha semaksimal mungkin, untuk bisa mengikuti kemauan ibu dan bapak." jawabku tegas, tidak mau didikte terus oleh kedua orang tua angkatku.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi sebelah kanan, membuatku meringis menahan rasa sakit, yang terasa panas menjalar di semua area pipiku.
"Dibilangin tidak bisa, Apakah harus dengan cara kasar?" ungkap bapak yang terlihat sangat emosi.
"Hajar lagi, Pak. Sekali lagi, jangan biarkan dia melunjak." saran ibu menyemangati.
Dengan segera Bapak pun mengangkat lagi tangan kanannya, mengambil aba-aba untuk menamparku kembali, namun tiba-tiba tangan itu ada yang memegang.
"Jangan menampar perempuan! Nanti kalian berdua bisa sama-sama tinggal bareng sama anak j4hanam kalian!" ucap seseorang yang suaranya tidak asing di telinga.
Dengan cepat ku palingkan pandangan, untuk mencari tahu kebenaran. Siapa orang yang berbicara barusan.
__ADS_1
"Kak Dali!" Desisku dengan pelan, merasa kaget Kenapa dia tiba-tiba ada di sini, seperti malaikat penolong yang selalu hadir dalam setiap kesusahan.
"Eh, bocah ingusan! Jangan kurang 4jar! Ikut campur urusan orang!" hardik Bapak, setelah niatnya terganggu, oleh orang yang baru datang.
"Sabar, Pak! jangan main kasar, semua masalah bisa diselesaikan dengan kepala dingin!" ujar Kak Dali dengan santai, sambil menunjukkan senyum terindahnya.
"Kamu siapa? Pake ikut campur segala?" tanya ibu yang Tidak mengenali kak dali, karena mungki, sudah sekian lama mereka tidak bertemu.
"Saya dali, bu!" jawab Kak Dali tanpa ekspresi.
"dali, yang orang Antapani?" tanya ibu memastikan.
"Iya, Dali sahabat anak ibu."
"Kamu ngapain ke sini, mau menolong Dani ya?" ujar ibu yang mulai melunak, seolah mendapat secercah harapan.
"Enggak, saya datang ke sini! untuk memperberat hukuman anak ibu! yang kelakuannya kayak ibli5, masa Adek sendiri mau diperk0s4?" jelas ka kdali mengutarakan maksudnya, Kenapa ia bisa datang ke kantor polis.
Senyum dibibir ibupun langsung memudar, berubah menjadi api emosi yang siap membakar.
"Apa kamu lupa, kebaikan Dani terhadapmu, sehingga Masalah sepele saja, kamu besar-besarkan?" tanya ibu mengungkit kejadian masa lampau.
"Justru saya ingin membalaskan kebaikan Dani, dengan cara mengurungnya di dalam penjara, agar dia bisa merenung dari semua kesalahannya!"
"Kurang 4jar!" ucap Bapak sambil melayangkan satu tinju menuju ke arah buka Kak Dali.
Bugh!
Pukulan itu tepat bersarang di pipi kak dali, sehingga Dia mundur beberapa langkah ke belakang. Karena pukulan keras yang dilontarkan oleh bapak, beruntung dia tidak sampai terjatuh.
"Anak sama Bapak, sama saja. sama-sama barbar!" Cibir kak dali sambil tersenyum, tak menghiraukan rasa sakit akibat terkena pukulan.
"Kalau kamu tidak bisa membebaskan anak kesayangan kami, maka jangan harap kamu bisa hidup dengan leluasa!" ancam Bapak sambil menyunggingkan senyum sinis.
"Wah, ini udah masuk ancaman, dan sudah masuk penganiayaan. hati-hati lho, Pak!" Kak dali balik mengancam.
Melihat suasana yang semakin panas, dengan cepat aku memegang lengan kak dali, mengajaknya agar segera pergi menjauh dari kedua orang tua angkatku.
"Eh b4jingan, mau lari ke mana kalian?" teriak bapak yang hendak mengejarku. namun terlihat Ibu segera menghentikannya, Apalagi setelah melihat orang-orang memperhatikan ke arah kami semua. karena ketika beradu mulut, kita berada di tempat parkir. yang ramai orang orang yang hendak membuat laporan, atau mengurus kepentingan lain di kantor polis.
__ADS_1