Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 6 DINI DICULIK


__ADS_3

Pov dali


"Itu Kak" jawab Dini sambil menunjuk Ketiga orang yang sedang berkumpul menikmati kopinya.


Setelah kuamati beberapa saat dengan teliti, memang benar itu Dani, dia adalah sahabatku waktu sekolah SMA di Bandung, kita sering menghabiskan waktu bersama, namun setelah aku bekerja aku jarang berhubungan dengannya, makanya meski di tempat ini remang-remang namun mataku Cukup jelas untuk meyakinkan bahwa dia itu beneran dani.


"Terus kamu mau samperin Kakak kamu" Tanyaku penasaran.


"Iya Kak, aku mau tahu sesuatu darinya, kayaknya kak Dani mengetahui suatu rahasia besar dalam hidupku" ucap dini sambil menghela nafas panjang lalu ia hempaskan dengan lembut.


"Ya udah aku temenin, takut nanti terjadi apa-apa" ucapku yang mengetahui Dani yang sekarang bukan Dani yang dulu aku kenal.


Aku pernah memeragokinya sedang berjalan sama Ratna, Pas mau menghadiri undangan makan malam Pak Wahyu, mereka berdua terlihat mempunyai hubungan khusus, dan dari pembicaraan mereka aku yakin bahwa mereka punya niat jahat sama Pak Wahyu, namun ini aku tidak Ceritakan sama Dini, karena aku tidak punya urusan dengan mereka.


"Terima kasih, Ayo kita temui kak Dani" ajak dini sambil menggenggam pergelangan tanganku.


"Tunggu dulu sebentar, Aku mau ke kamar mandi dulu, biar nanti ngobrolnya nggak keganggu" pintaku yang tiba-tiba merasa pengen menunaikan hajat, mungkin ketika tadi lagi membahas pembahasan cafe sama Aira aku kebanyakan minum air dingin, sehinga kantong kemihku jadi penuh.


"Ya udah tapi jangan lama-lama ya Kak, takut Kak Dani nya keburu pergi" pinta dini.


"kamu tunggu dulu ya, sebelum aku datang kamu jangan pergi ke mana-mana" tegasku sambil berdiri lalu meninggalkan Dini yang sedang duduk memperhatikan ke arah kakaknya.


Sesampainya di toilet ternyata di situ banyak orang yang ngantri, namun untuk menundanya aku nggak kuat, rasanya kantong kemih kok mau pecah.


"Aduh mana Udah di ujung lagi, kalau aku pipis sembarangan nanti ditangkap Satpol PP" gumamku dalam hati sambil berdiri mengikuti antrian.


Setelah mengantri selama sepuluh menitan ,akhirnya tiba giliranku. Aku masuk ke toilet menghempaskan semua beban yang ada dalam kantong kemihku, rasanya sangat lega bak orang yang terbebas dari ikatan yang sudah lama  membelenggunya.


Setelah semua yang ada di kantong kemihku terkuras habis, aku berjalan keluar dengan perasaan lega, lalu kembali ke tempat di mana tadi Dini menungguku.


Deg!!


Jantungku rasanya mau copot setelah mengetahui Deni ternyata tidak ada di tempatnya, Aku perhatikan kearah Dani namun mereka juga sudah tidak ada "apa jangan-jangan, ya Allah semoga kekhawatiranku tidak terjadi"


"Bang lihat cewek yang tadi duduk di sini nggak" tanya aku dengan panik kepada abang kerak telor.


"Tadi pergi Bang setelah Abang pergi, dia juga ikut pergi, kirain saya mengikuti Abang" ungkap tukang kerak telor.


"Ya Allah Dini, Kamu ke mana" dengan panik aku mondar-mandir memperhatikan sekitar siapa tahu aja ada dini ada di situ, aku ambil handphoneku lalu ku tekan nomornya untuk menghubungi dini.  telepon itu tersambung namun tidak diangkatnya.


"kenapa dia menolak panggilanku" gumamku dengan masih penasaran aku telepon untuk yang kedua kalinya, namun nomor Dini sudah tidak aktif membuat aku merasa sangat panik dibuatnya.


"Eh Bang Mau ke mana, Bayar dulu kerak telornya enak aja mau pergi" panggil abang kerak telor yang melihatku hendak pergi.

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim, Maaf Bang saya lupa totalnya jadi berapa" ucapku berbalik menghampiri tukang telor sambil mengeluarkan dompet.


"Totalnya Jadi Rp40.000 Bang dua kerak telor" jawabnya terlihat Ketus mungkin Dia mengira aku akan kabur.


Tanpa pikir panjang aku mengeluarkan uang selembar Rp50.000 kemudian memberikan kepada abang penjual kerak telor, lalu aku pergi meninggalkannya.


"Bang kerak telornya ketinggalan, sama kembaliannya juga" teriak tukang kerak telor memanggil.


"Kasih orang aja Bang, maaf saya buru-buru" jawabku sambil terus berjalan menuju tempat parkiran.


Di tempat parkiran aku pindai semua sudut di situ untuk mencari dini, kekhawatiran ku semakin bertambah ketika aku tidak menemukan orang yang aku cari.


"Mau cari apa Bang?" tanya seorang tukang parkir yang sedang berjaga di situ.


"Maaf Bang, Lihat seorang cewek kerudung hijau dengan baju tidur gak" aku balik bertanya sambil menatapnya.


"Sama laki-laki nggak" tanya tukang parkir memastikan.


"Iya Bang sama laki-laki,tiga orang" aku menerka-nerka menghubungkan dengan kebaradaan kakaknya.


"Oh cewek itu, barusan kayaknya pergi dibawa dengan mobil, dibawa teman-temannya, Emang ada apa ya Bang" tanya tukang parkir penasaran.


"Nggak apa-apa Bang mereka teman saya, Oh iya tahu nggak perginya ke mana"


"Mereka pakai mobil warna apa Bang" Tanyaku menyelidik.


"Kayaknya Ayla warna biru" ungkap tukang parkir .


"Terima kasih ya bang atas informasinya" ungkapku sambil mengeluarkan uang untuk membayar parkir.


Setelah Membayar parkir aku menaiki motorku, lalu aku tarik tuas pergi ke arah yang ditunjukkan oleh tukang parkir, membelah Kesunyian Kota Jakarta.


" lima menit melaju dengan kecepatan yang tinggi,akhirnya aku menemukan mobil sesuai, dengan mobil yang ceritakan oleh tukang parkir, karena sangat mudah menemukan mobil seperti itu, mobil warna biru jarang dipakai oleh orang Indonesia.


Setelah merasa yakin bahwa itu mobilnya, aku mengikutinya dari belakang, namun di tengah malam seperti ini, sangat sulit mengikuti tanpa dicurigai, kayanya mereka sadar bahwa merek lagi diikuti, jalanan yang sepi, ditambah motorku yang tidak cocok untuk berkendara dengan pelan, akan menambah kecurigaan mereka.


Sehingga mobil itu menaikkan kecepatannya jadi lebih tinggi, dengan sangat bod0h aku juga mengikuti mereka dengan kecepatan yang sama, karena takut kehilangan jejak, padahal ini akan meyakinkan kecurigaan mereka.


Apalagi ketika mereka memelankan mobilnya aku juga ikut-ikutan memelankan motor yang ku kendarai.


"Lah lah kok mereka masuk tol" gumamku setelah melihat mobil itu berbelok menuju ke arah pintu masuk tol, sehingga membuatku bingung harus melakukan apa, karena motor tidak bisa masuk ke tol, namun aku tetap mengikutinya sampai pintu masuk.


Tak disangka dari pintu depan keluarlah seseorang, dengan keadaan mobil yang masih melaju, orang itu mengangkat kedua jari tengahnya sambil menertawaiku.

__ADS_1


"Itu Dani" gumamku dalam hati, meski mukanya tidak terlihat jelas namun aku yakin, baju yang dipakainya adalah baju yang ia kenakan pas tadi nongkrong di Monas.


Aku menghentikan motorku, lalu ku parkirkan di sebelah kiri jalan, bingung harus apa yang kuperbuat, mengingat jalannya sudah buntu, aku melepaskan helm supaya udara masuk keotak, biar bisa berpikir jernih.


"Dani, Iya aku harus menelepon Dani" gumamku dalam hati, sambil mengeluarkan ponsel di dalam Tasku untuk menghubunginya, minimal aku mengingatkan bahwa yang ia culik itu adalah adiknya.


Setelah ponsel itu ada di tanganku, aku membuka kuncinya, untuk mencari nama Dani dinomor kontak ponselku, dibawah nama kontak Dani ada nama kontak Darda membuatku sedikit merasa lega, karena aku tahu siapa yang harus dihubungi, ketika dani tidak bisa diajak berdamai.


Aku tekan tombol berlogo telepon untuk memanggil Dani, tak lama telepon itu terhubung.


"Iya ada apa dal" terdengar suara Dhani menyapaku di ujung sana, terdegar suara deru kendaraan membuatku yakin, bahwa yang pergi membawa dini itu adalah dia.


"Ingat dan, itu adikmu kam,  jangan apa-apa kan dia" ucapku dengan b0doh langsung menghardiknya membuat Dani tertawa dengan lepas.


" hahhahha Oh ternyata lo yang ikutin gua, Kalau gua tahu Lo yang ngikutin, tadi gua udah berhenti, Udah lama kita nggak bertemu" jawab Dani dengan suara sedikit mengejek.


"Iya dan, dini mau dibawa ke mana, Tolong jangan apa-apakan dia, ingat dia adikmu" aku terus mengingatkannya.


"Hahaha peduli amat lo sama adek gua, jangan-jangan lo ya yang ngajak kabur dia ke sini, sehingga dia kabur dari perjodohannya dengan Pak Wahyu" ungkap Dani mencemooh.


"Nggak dan, dia ke Jakarta pergi sendiri, aku bertemu dia di tempat kerja" jawabku menolak tuduhan dani.


"Udahlah dal jangan sok perhatian, Lagian dia adik gua, dia mau gua apain terserah gua, lo jangan ikut campur urusan orang, nanti kalau lu kena akibatnya lo akan nyesel" ancam Dani Terdengar sangat serius.


Klik!!


Telepon itu terputus, ketika aku menekan nomor telepon itu lagi, nomor itu sudah memblokir ku, sehingga aku tidak bisa menghubunginya membuatku semakin kalut.


Setelah beberapa kali mencoba dan yakin nomor itu sudah memblokir ku, aku menekan nomor Darda, karena Aku yakin dia bisa membantuku, mengingat bidang it-nya Tidak diragukan lagi.


"Angkat dong Dar!, aku tahu Kamu belum tidur jam segini, pasti kamu sedang main game" gumamku sangat panik ketika Menunggu telepon itu tersambung.


"Halo bro, tumben amat malam-malam begini nelepon" tanya Darda di ujung sana


"Iya Dar Aku butuh bantuan kamu" pintaku sama dia.


"Sudah Ketebak, kamu menghubungiku kalau ada butuhnya saja" ujar Darda terdengar Ketus


"Ya Sorry Dar, sekarang tolong aku, soalnya keadaannya urgent banget, cewekku diculik sama kakaknya" aku menjelaskan tujuanku dengan tergesa-gesa.


"Bentar, bentar gua dengarnya agak rancu, sebenarnya Siapa yang nyulik, lo atau kakaknya, masak iya ada kakak menculik adiknya, itu kan gekgek, Lu kali yah yang nyulik, balikin dal itu anak orang loh, Kamu jangan main sekap-sekap begitu" ujar Darda terdengar suaranya dibarengi dengan sedikit tawa seolah tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan.


Perkataan darda membuat ku mengaruk garuk kepala, bingung juga menjelaskan, memang benar dini itu di bawa kakaknya, apa bisa itu di sebut penculikan.

__ADS_1


__ADS_2