
Pov dali
"Tenang meski saya sudah pindah tempat kerja namun saya akan terus memantau Cafe ini, karena saya sudah Mencintainya!" tambah Pak Sarman sebagai manajer sambil tersenyum.
"Kenapa, nggak Stella saja, yang diangkat menjadi manajer, secara kemampuan dia lebih mumpuni, dibandingkan saya." jawabku Mencari Alasan agar mereka bisa mempertimbangkan kembali.
"Stella orangnya labil, belum pantas untuk menjadi pemimpin, Paling dia jadi Asisten Manager, mendampingi kamu!" jawab Bu Asri menjelaskan.
"Tenang saja! kamu nggak usah khawatir! saya akan mengajari kamu! Bagaimana cara mengurus dan memanage Cafe, agar selalu ramai, didatangi oleh pengunjung!" ujar Pak Sarman menyemangati.
"Bagaimana kamu siap mengelola kafe ini?" Bu asri mengulang pertanyaan.
"Insya Allah Siap, Bu!" jawabku nampak sedikit ragu, karena walau bagaimanapun mengelola perusahaan sebesar ini, butuh keuletan yang sangat. namun ketika Aku menolaknya, aku tidak bisa. karena Cafe ini, adalah perusahaan yang membawaku, mengenal beberapa orang. sehingga aku bisa masuk ke tim broker Pak Agung, dan mengenal orang-orang hebat, seperti Pak Wahyu. dan ini adalah kesempatan untuk belajar, mengelola sebuah perusahaan.
"Yang pasti dong, jawabannya!" susul Bu Asri seolah tidak puas dengan jawabanku.
"Siap Bu! saya siap mengelola dan mengurus kafe ini, sesuai dengan kemampuan saya!" jawabku dengan nampak meyakinkan.
"Bagus! ibu suka sama anak muda yang semangat sepertimu." Jawab Bu Asri sambil tersenyum bangga.
Setelah aku menyatakan Siap, Bu asri dan Pak Sarman memberikan sebuah berkas, yang harus aku tanda tangani. berkas pengangkatanku menjadi manajer di cafe ini.
"Nanti saya akan kumpulkan semua karyawan, untuk memperkenalkanmu sebagai manajer baru, sekaligus saya berpamitan kepada mereka!" jelas Pak Sarman setelah melihatku menandatangani berkas.
Akhirnya Kami bertiga bersalaman, untuk memberikan selamat dan menyerahkan tanggung jawab kepadaku.
Setelah semuanya dirasa selesai, Ibu Asri pun berpamitan. untuk kembali, mengurus usaha-usaha lainnya. ternyata keluarganya selain bergerak di bidang properti, mereka juga bergerak di bidang usaha makanan dan minuman, sehingga menambah pundi-pundi rupiah mereka.
Setelah Bu Asri pergi, aku diajarkan Pak Sarman, hal-hal mendasar tentang tata cara mengurus Cafe, yang baik dan benar.
Pukul 15.00. Stella pun datang masuk ke ruangan, lalu ia duduk di kursi Asisten Manager.
Melihat anak bosnya datang, pak Sarman pun berpamitan, dan berjanji melanjutkan pengajarannya Keesokan pagi, dengan alasan dia hendak melihat restoran yang baru dibuka, yang mau dia urus.
Tinggallah kita berdua di ruangan itu, yang nampak Canggung karena kemarin aku sudah menyerahkan cincin yang ia berikan.
__ADS_1
"Maksud kamu apa?" tanyaku memecahkan suasana hening.
"Maksudnya?" tanya Stella yang terlihat nampak kebingungan.
"Iya maksud kamu apa, dengan semua ini. apa jangan-jangan kamu yang meminta orang tuamu, untuk menjadikanku sebagai manajer di cafe ini?" tanyaku sambil menatap ke arahnya yang duduk beberapa meter di hadapanku.
Stella pun bangkit, lalu duduk di hadapanku. "Aku cuma membuktikan, bahwa aku tidak berbohong, mengatakan kamu adalah pemilik kafe ini!" jelas stella yang mengingatkanku ke kejadian malam itu, kejadian di mana dia memperkenalkanku kepada sahabat-sahabatnya, bahwa aku adalah seorang pemilik cafe.
Mendengar jawaban seperti itu, Aku hanya menarik napas dalam menenangkan otakku yang mulai berjalan ke mana-mana, takut ada ujung yang tidak mengenakan, dengan pengangkatanku sebagai manajer.
"Sejak kapan, keluargamu mengambil alih franchise Cafe?" Tanyaku.
"Semenjak aku mulai masuk kerja!" jelas stella sambil menatap lekat ke arahku.
"Ohh!" aku hanya berdecak kagum, mendengar jawabannya seperti itu, karena selama 3 tahun lebih Stella, bisa berpura-pura menjadi karyawan, padahal Dia adalah seorang anak pemilik dari franchisenya.
"Tahu nggak, kenapa Aku melakukan ini? karena semenjak aku melihat mu menjadi barista di Cafe ini! aku sudah tertarik dengan keluguanmu, sehingga berbagai cara aku lakukan, untuk bisa dekat denganmu, agar kamu bisa menjadi milikku!" jelas stella melanjutkan perkataannya.
"Maaf Stella, aku tidak bisa menjadi seperti yang kamu inginkan, karena aku tidak bisa bersandiwara sepertimu, yang hebat memerankan peran. sehingga kami semua tidak mengetahui bahwa kamu adalah pemilik franchisenya!" jelasku yang merasa tidak enak, karena kemarin aku mengembalikan cincin pemberian, ketika malam perayaan ulang tahunnya.
"Kayaknya nggak akan bisa deh!" jawabku sambil tersenyum. jujur sampai saat ini, walaupun Stella sering membantuku, dan sering bertutur sapa. namun perasaan itu tidak berubah, perasaan yang menganggap sebagai sahabat.
"Oh iya, kalau boleh tahu. kamu Kenapa nggak mau menjadikanku sebagai istri kamu?" tanya setelah dengan mimik wajah serius.
"Alasannya banyak, yang paling mendasar tentang perasaanku yang hanya menganggapmu sebagai sahabat!" jelasku sambil menundukkan pandangan, merasa tidak enak, ketika harus mengakui segalanya.
"Halah! jangan-jangan karena gadis kampung itu, gadis yang bekerja di lantai dasar!" stella terus menyelidiki.
"Oh iya, untuk rencana ke depannya. kita harus merekrut barista baru, karena posisi itu ditinggalkan oleh dua orang." jelasku memulai membahas rencana pengurusan Cafe, agar tidak berlarut membahas masalah pribadi.
"Jawab dulu!" tegas Stella dengan Ketus.
"Masalah pribadi, nanti kita bahas di luar jam kantor, sekarang kita fokus terlebih dahulu, mengurus tugas kita masing-masing!" jelasku.
"Janji ya! habis jam kantor selesai, kamu menemaniku makan malam, tenang kali ini aku yang traktir, nggak akan merepotkanmu lagi!" ucap Stella mukanya yang memelas, semakin membuatnya terlihat cantik, kalau dibandingkan dengan muka Deni itu sebelas duabelas, bagaikan Pinang yang dibelah dua. yang berbeda hanya sikapnya, kalau Dini terlihat lebih santai, kalau stella sikapnya yang terlalu overthinking.
__ADS_1
"Yah! yah!" jawabku langsung menyetujui, agar terbebas dari tuntutan Stella.
Kita pun mulai membahas, tentang perencanaan Cafe. dalam jangka waktu terdekat, mengkonsepnya sedemikian rupa, agar cafe ini selalu menarik untuk dikunjungi.
Pukul 16.30. akhirnya jam kantor pun selesai, karena biasanya orang yang bekerja di dalam kantor, mereka biasanya masuk kerja jam 10.00, dan pulang jam 16.00.
"Ayo! katanya mau menemaniku makan malam." ajak Stella setelah merapikan berkas berkas yang baru kita bahas.
"Mau makan malam di mana!" Tanyaku yang sedikit malas, karena tadi hanya pura-pura saja, untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ikut saja! nanti juga kamu tahu!" ajak stella sambil menarik tanganku untuk segera bangkit.
Dengan malas aku pun mengikuti tarikan tangannya, lalu menuju ke lantai dasar. Dan tak sengaja bertemu dengan Dini yang hendak pulang. melihatku di gandeng oleh stella, membuat Dini membuang muka, seolah tidak suka melihat kedekatanku dengan Stella.
"Kamu, jangan lihatin cewek lain dong! lihat cewek yang ada di sampingmu!" Seru Stella sambil terus menarik tanganku, dengan kasar. seperti tawanan yang hendak digiring ke mobil tahanan.
"Kamu bisa bawa mobil kan?" tanya stella setelah sampai di dekat mobilnya.
Aku tidak menjawab pertanyaan Stella, namun dengan cepat aku mengambil kunci yang ada di tangannya. Kemudian membukakan pintu, memperlakukannya dengan hormat.
"Sudah, Silakan masuk, tuan Putri!" ucapku mempersilahkan, sambil memberikan senyum Termanis untuk bosku.
"Apaan sih!" Jawab Stella sambil mendelik ke arahku, seolah tidak suka dengan sebutan Tuan Putri.
Setelah memastikan Stella duduk dengan aman dan nyaman, aku pun berlari menuju pintu sebelah, duduk di belakang kemudi untuk menjalankan mobil, mengantar nyonya besar yang ada di sampingku.
"Mau ke mana nih?" tanyaku setelah keluar dari area Mall.
"Ke mana aja aku ngikut!" jawab Stella, sambil terus memperhatikan arah jalan.
Memang benar apa yang dikatakan Bu Asri tadi, Stella sangat labil, katanya dia yang mau mengajakku untuk menemaninya makan malam, namun sekarang dia yang menyuruhku mencari tempatnya.
Mendengar jawaban seperti itu, Aku pun terus mengemudikan mobil, menuju tempat favoritku. tempat yang pernah aku kunjungi bersama Dini.
"Mau ngapain ke sini? Jangan bilang kalau kita mau makan di sini?" tanya Stella sambil menatap sinis ke arahku.
__ADS_1