Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 7 MISI PENYELAMATAN


__ADS_3

Pov dali


"Pokoknya kamu harus bantu, Soalnya kalau dijelaskan sekarang akanmembutuhkan waktu sangat panjang" ungkapku yang tidak tahu harus berkata apa lagi untuk menjelaskan kepasanya.


"Nanti dulu, jelasin dulu kenapa Kakaknya, bisa menculik adiknya hahaha" jawab Darda sambil tertawa terbahak-bahak seolah meledekku.


"Tolonglah jangan bercanda melulu, ini urgent banget" dengusku dengan kesal


"Oke, oke, tenang Bro, gua bisa bantu apa nih" tanya Darda setelah puas menertawaiku.


"Nah begitu dong, tolong cari jejak kemana mereka membawa pacarku" pintaku menjelaskan tujuannya.


"Wah sulit Bro, itu melanggar privasi" ujarnya dengan suara datar.


"Double box bakwan Itali, sekarang aku kirimin" aku memotong ucapannya karena aku tau dia tidak akan bisa menolak tawaranku


"Aduh gak usah repot-repot bro, kirimin aja nomor telepon yang mau dilacak, Siapa tahu gps-nya aktif" ujarnya yang mulai melunak setelahku rayu.


"Siap, Terima kasih ya Dar, bukan apa-apa kalau dibawa ke rumah orang tuanya, atau ke tempat yang aman, itu tidak jadi masalah. Yang aku takutkan dibawa ketempat yanng aneh-aneh, soalnya aku kenal banget sama kakaknya" ucapku menjelaskan kekhawatiranku sama darda.


"Saya tidak butuh Terima kasih bro, saya butuh yang nyata, sekalian minumnya ya! nanti aku tersendat kalau makan bakwan Itali nggak pakai cola" ujarnya sambil menutup telepon tanpa menunggu jawabankum


"Kurang ajar, Padahal aku belum selesai ngomongnya, udah main matiin aja" gerutuku dalam hati sambil mengirimkan nomor Dini.


Setelah nomor terkirim, aku membuka aplikasi ojek online, untuk memesan bakwan double box buat darda, setelah pesanan selesai dan aku bayar dengan uang elektronik, aku putar balikan motorku menyusuri jalan tol, meski Lawan Arah Tapi aku tidak tahu harus bagaimana lagi, karena ini cuma satu jalur.


Setelah keluar dari lajur pintu masuk tol, aku segera mencari warung emperan yang menjual kopi, mengingat Kejadian hari ini otaku mulai mulai mendidih, karena kejadiannya sangat cepat sekali. Aku duduk di bangku lalu aku memesan satu gelas kopi untuk meredakan kepanikanku.


Setelah kopi aku pesan datang, tak lama teleponku berdering, setelah kulihat siapa yang nelpon, ternyata itu. telepon dari Darda dengan cepat aku mengangkatnya


"Halo bagaimana Dar, udah ada titik terang" tanya aku yang tak sabar ingin mengetahui hasil pekerjaannya.


"Nomornya nggak aktif Bro, tadi aku lihat terakhir aktif di sekitaran Monas" jawab Darda menjelaskan.


"Terus Bagaimana dar" Tanyaku yang mulai merasa resah.


"Kamu punya nomor kakaknya nggak, kata kamu dia pergi sama kakaknya" tanya Darda seolah membuka kembali harapanku.


"Ada bentar aku kirim"

__ADS_1


"Ya sudah kirim! Tapi aku gak janji ya, soalnya takut kayak tadi" ucapnya sambil memutus telepon.


Setelah telepon terputus, dengan cepat aku mengirimkan nomor Dani, supaya cepat dilacak keberadaannya oleh Darda, setelah nomor Dani terkirim, aku minum kopiku yang masih panas.


"Rok0knya diketeng nggak Bang" tanyaku aku sama tukang warung.


"Banyak mau rok0k apa" Tukang warung balik bertanya.


"Kretek aja" pintaku.


Dengan cekatan tukang warung itu memberiku sebatang r0kok, yang diambil dari toples penyimpanannya, lalu aku membakar rok0k itu untuk menghilangkan sedikit penat yang mengganggu pikiranku.


Setelah rokok terbakar sampai setengahnya, akhirnya ada suara notifikasi pesan di aplikasi hijau, dengan cekatan aku membukanya, ternyata pesan itu dikirimkan oleh Darda, pesan yang berisi titik koordinat Di mana keberadaan Dani sekarang.


"Terima kasih dar" balas ku lewat pesan.


"Sama-sama udah ya bro, jangan ganggu lagi, Gua lagi main game, kebetulan bakwannya udah datang" balas pesan Darda.


Aku kembali membuka pesan yang dikirim darda,  mengamati titik GPS yang dikirimkannya, ternyata itu tidak terlalu jauh dari tempatku berada sekarang, mungkin tadi Dani masuk ke Tol, hanya untuk mengelabui ku, supaya tidak bisa mengikutinya.


Setelah membayar kopi dan rok0k, aku bergegas pergi meninggalkan warung, untuk menyusuri tempat yang ditunjukkan oleh GPS kirimkan oleh Darda.


Kupacu motorku dengan cepat sehingga perjalananku menuju tempat yang dituju tidak begitu lama, ditambah lagi dengan keadaan malam, yang tidak terlalu banyak kendaraan berlalu Lalang.


Kuoerhatikan kembali handphoneku untuk memastikan, bahwa aku tidak salah, Setelah yakin rumah itu sesuai dengan titik koordinat maps.  Kuparkirkan motorku agak jauh dari rumah kosong, agar tidak membuat mereka curiga.


Aku dekati pagar rumah dengan mengendap-ngendap, setelah sampai di sisi pagar. Aku memanjat pagar itu dengan hati hati, karena kalau lewat pitu gerbang di situ sangat terang oleh lampu jalan. Untung saja pagar itu tidak ada kawat durinya, karena mungkin ini adalah rumah tipe lama.


"Alhamdulillah" gumamku dalam hati setelah kakiku menginjak tanah kembali, lalu dengan langkah hati hati aku mendekati arah pintu rumah.


Sebelum sampai aku pindai semua sudut yang ada di halaman, terlihat mobil yang tadi aku ikuti, terparkir di carport, sehingga membuatku merasa yakin bahwa aku tidak salah untuk datang kesini karena itu adalah mobil yang digunakan Dani untuk membawa Dini.


Kemudian kuarahkan kembali pandanganku ke dalam rumah, aku melihat dengan jelas di dalam ruang tamu, ada seorang pria yang sedang duduk dikursi kayu,  pria itu lagi merokok terlihat dari asapnya yang mengepul memenuhi ruang itu, pandangaku sangat jelas karana ruang tamu tidak memiliki gorden.


aku lanjutkan langkahku dengan berjongkok mendekati arah teras dengan perlahan, Untung saja banyak tanaman bunga yang tidak terawat, sehinga aku bisa leluasa mengintipnya.


Setelah Ku perhatikan lagi dengan teliti, benar, pria itu adalah salah satu temannya Dani, yang tadi nongkrong di seputaran Monas, aku mengingat bajunya yang dipakaibya, membuatku sangat yakin, bahwa aku tidak salah mendatangi rumah ini, yang jadi pertanyaanku sekarang. Dani dan satu teman lainnya ada di mana? sehingga dia cuma berdiam sendirian.


dengan perlahan kulangkahkan kakiku kembali, meningalkan pria yang lagi asik mereko diruang tamu, menuju samping rumah untuk mencari tahu kedua temanya. Lagi mengendap-endap mencari jendela, yang tembus ke dalam rumah tiba-tiba.

__ADS_1


"Woi siapa itu" bentak seseorang terdangar suaranya dari arah sampingku, membuatku membesarkan pupil mata, karana pencahayaan yang kurang, namun walau terkesan remang remang tapi mata tetap masih bisa awas.


"Sial4n pakai ketahuan segala" gerutuku sambil melihat ke arah datangnya suara, ternyata ada seorang laki-laki yang lagi berdiri, sambil memasukkan tongkatnya, Mungkin dia habis buang air kecil.


Tanpa pikir panjang, aku berlari menabrak tubuh pria yang membentakku, Untung saja tubuhnya kurus sehingga ketika kuambil kedua kakinya, dengan mudah dia terjatuh dengan posisi pantat menekan tanah terlebih dahalu, kemudian  Aku duduki perutnya, seperti pemain ufc lagi mengunci lawanya, dia tidak bisa berbuat apa apa, karena yang kulakukan barusan sangat cepat.


Bukkkk!


Bukkkk!


Tinjuan kulayangkan ke area wajahnya dengan cepat sehingga membuatnya tidak sempat untuk berteriak, karana aku terus menghajarnya dengan semangat, cuma eregan kesakitan yang terus keluar dari mulutnya.


Astaghfirullahaladzim" aku hentikan pukulan itu setelah setelah tidak terdengar lagi suara rintihan yang keluar dari mulut pria itu.


"Apa dia mati" gumamku dalam hati, membuat tubuhku  merinding membayangkannya, karena baru pertama kali bertarung seperti ini, untung saja aku sering olahraga, dan pernah berlatih gulat, sehingga aku bisa melakukan serangan seperti tadi. Kutempelkan ujung jariku di lehernya, ternyata nadinya masih berdenyut, mungkin dia hanya pingsan setelah tidak kuat menahan pukulanku.


Aku lepaskan kuncianku dari perutnya, laku aku berdiri meski dengan sedikit terhuyung, mungkin masih merasa trauma sehiga membuat tubuh agak lemas. Untung saja mataku masih berjalan dengan lancar, setelah berdiri, aku mencari tali, supaya ketika orang ini bangun dia tidak bisa ngapa-ngapain.


Tak perlu lama mencari karena di samping rumah itu ada tempat jemuran pakaian, tanpa pikir panjang aku buka talinya untuk mengikat orang yang tadi kuhajar.


Setelah dirasa semua aman, aku kembali mendekati jendela untuk melihat keadaan di dalam. Namun sayang sekali jendela di ruang tengah tertutup dengan gorden, sehingga aku tidak bisa melihat kedalam.


Setelah beberapa jendela aku cek, namun hasilnya tetap nihil, semua jendela yang ada di rumah ini, semuanya tertutup gorden, sehingga tidak ada cara lain untuk mengecek keadan di dalam rumah, jalan satu satunya hanya lewat pintu depan, karena aku tidak menemukan jalan lain karena semua akses utuk masuk rumah itu semua terkunci, kecuali pintu ruang tamu, namun sebelum berjalan ke pintu depan, aku menghampiri lagi ketempat di mana aku ikat orang yang tadi aku hajar sampai pingsan,


Cekrek!


Aku ambil foto orang itu, terus aku kirimkan kepada Darda dengan pesan, agar dia mengecek lokasi ini, ketika aku tidak menghubunginya lagi setelah dua jam, setelah yakin pesan itu terkirim, ku masukkan kembali ponselku Lalu aku berjalan mendekati pintu depan rumah.


Aku berdiri di depan pintu yang sudah terbuka, memperhatikan pria yang lagi merokok sambil minum keras dengan khidmat, sehingga kedatanganku tidak disadarinya, pantas saja dia tidak mendengar keributan di belakang, aku terus berdiri sambil terus memperhatikannya,


Buuuuaaarrrrr!


Pria itu menyemburkan minuman yang lagi ia tegak, sesaat setelah dia sadar bahwa ada orang lain yang sedang memperhatikannya, membuat matanya yang merah membulat sempurna,  mungkin karena tersendat Minuman itu sehingga dia tidak bisa berkata apa-apa, Hanya suara batuk kering terdengar keluar dari mulutnya.


Uhek


Uhek


Melihat dia lagi lengah, Dengan sigap Aku berlari menghampirinya, lalu kulayangkan pukulanku ditelinganya, dengan pukulan yang sangat keras, sehingga membuatnya terjatuh dari kursi dengan sempoyongan, tidak sanggup menahan beban tubuhnya.

__ADS_1


Praakkk!!!


Botol yang dipegangnya terjatuh ke lantai, seiring dengan ambruknya pria yang kupukul.


__ADS_2