Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 19 LOKASINYA SANGAT COCOK


__ADS_3

Pov dali


"Ke mana larinya tikus itu?" tanya Aira, setelah melihatku keluar dari toilet.


"Udah kabur, masuk ke lubang pembuangan air," jawabku, sambil menutup pintu toilet, agar kalau tikus itu kembali tidak masuk ke dapur.


"Huh, payah. Kenapa nggak dibunuh" tanya Aira yang menjunginkan senyum miring di bibirnya.


Sehingga membuatku menelan saliva. Bagaimana mungkin, aku bisa membunuh hewan, yang kecepatan larinya menandingi kecepatan mobil Formula1.


"Udah jangan dipikirin. aku nggak akan bilang sama orang kok, kalau kamu itu payah ucap Aira" sambil menyikut lenganku.


"Payah, kenapa?" ucapku, memicingkan mata ke arahnya.


"Ya payah lah, masa cowok tidak bisa nangkap tikus, otot aja besar, tapi nggak ada gunanya hahaha" ucap Aira, yang terus meledekku, solah Aira tak ingat, gimana takutnya dia ketika melihat tikus.


Aku tak memperdulikan ucapan Aira. aku kembali fokus bekerja, dengan mengambil beberapa foto di area dapur, kemudian mengukur luas ruangannya. Aira hanya diam memperhatikanku, menunjukkan eksistensinya sebagai Bos.


Sebelum magrib, akhirnya semua pekerjaanku selesai, kemudian aku menghampiri Aira, yang masih Diam Terpaku.


"Sudah" tanya Aira, sambil menatapku.


"Alhamdulillah sudah, tinggal membuat desainnya. nanti malam, aku kerjakan sebagian, soalnya pekerjaan begini tidak bisa terburu-buru" jawabku, sambil memasukkan kembali alat-alat perangku.


"Gimana kira-kira tempat ini bagus, nggak? kalau buat usaha Cafe," tanya Aira.


"Kayanya cocok, soalnya tadi sebelum masuk, aku perhatikan di sekeliling tempat ini, ada mall dan banyak kantor-kantor yang buka di dekat sini" pendapatku, sambil mengaitkan kembali tas ke punggung.


"Jadi kita gak harus menyervai kedua tempat lainnya" tanya Aira sambil menarik alisnya ke atas.


"Aku yah, terserah kamu saja, sebagai bawahan hanya mengikuti" jawabku sambil mengulum senyum.


"Aku merasa cocok sih, di sini. soalnya Menurut bapak tempat ini ukurannya lebih luas, daripada kedua tempat lainnya" ucap Aira.


"Ya udah, kalau seperti itu. Ayo kita pulang" ajakku. sambil berlalu pergi meninggalkan Aira.


"Eh, kamu. masa cowok ningalin cewek seperti ini," teriak Aira, sambil berlari mendahuluiku.


Aku hanya menggelengkan kepala, melihat kelakuannya, yang sudah berjalan dihadapkanku.


"Mau diantar ke mana? Ketempat kamu kerja apa langsung pulang" tanya Aira, setelah sampai di dekat mobil.


"Nggak usah, soalnya aku masih ada urusan. aku pulang  naik online ajak" jawabku menolak tawaranya.


"Ooooh, nggak bisa seperti itu, kalau kamu berangkat sama aku, maka pulangnya juga harus bareng sama aku juga" sanggah Aira sambil memicikan mata.


"Serius, Ra. aku masih ada urusan, tapi kamu enggak usah khawatir, pekerjaan ini nanti malam mulai aku kerjakan, kamu kirimkan saja. apa aja yang mau dirubah dari tempat ini" aku. memberi penjelasan sambil menatap matanya yang bersih.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau nggak mau diantar pulang, tapi temenin aku makan dulu ya" pintanya, sambil menunjukkan matanya yang berbinar.


Aku hanya Diam Terpaku, tak langsung mengiyakan ajakan Aira,  aku harus cepat pergi ke rumah sakit, menemani dini.


"Kenapa diam, tenang aku yang bayarin kok" lanjut Aira, sambil mengedipkan sebelah mata.


"Bukan begitu, Ra!" jawabku tertahan.


"Udah, Jangan nolak lagi, atau kerja sama kita aku batalkan"


Mendengar penuturannya, aku hanya menarik pipi ke belakang. Bukannya dia yang meminta sama bapaknya, supaya aku bisa menjalin kerjasama dengannya.


"Ayo buruan masuk" ajak Aira, yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil.


Meski ragu, Aku tetap mengikuti permintaan Aira. Untuk menemaninya makan malam.


"Makannya di sekitaran sini aja, ya. Soalnya udah mau magrib juga, kamu tahu sendiri kalau jauh-jauh, nanti kita kelamaan di jalan" saranku, setelah duduk di kursi depan, sambil melihat ke arah Aira.


"Iya, iya, rewel amat sih" jawab Aira ketus, sambil memutar kemudi untuk keluar dari parkiran.


Iima belas menit di perjalanan. Akhirnya kita sampai di sebuah parkiran Cafe, yang berada masih di sekitaran Plaza Indonesia, kemacetan lah, yang membuat perajalanan terasa jauh.


Kita berdua pun turun dari mobil, lalu masuk ke cafe. setelah duduk, waiter pun menghampiri, untuk memberikan daftar menu yang ada di cafe ini.


"Aku ke toilet dulu ya" pintaku sama Aira, setelah selesai memesan makanan.


"Jorok!" ujar Aira, sambil mencembungkan pipinya. membuatnya semakin terlihat sangat manis.


"Lagian Ngapain tanya, udah tahu kalau ketoilet mau ngapain," Jawabku, sambil terkekeh.


Aira Hanya membulatkan Mata ,sambil mengatupkan bibirnya. membuat orang yang melihatnya semakin gemes


Aku pergi  berlalu menuju toilet, tanpa memperdulikan lagi Aira yang terlihat cemberut. untuk mengambil air wudhu, setelah selasai wudhu, kemudian menanyakan keberadaan mushola, yang ada di cafe.


Selesai melaksanakan salat magrib, ponselku bergetar. dengan cepat, aku ambil ponsel itu. kemudian menempelkannya di telinga.


"Halo! Angga" Aku menyapa seseorang di ujung sana.


"Iya dal, kamu sekarang di mana, Aku sudah siap nih, mau ke rumah sakit" tanya Angga.


"Aku sekarang lagi ada, di dekat Plaza Indonesia" jawabku memberitahu keberadaanku sekarang.


"Ngapain kamu di situ" tanya Angga dengan nada penasaran.


"Lagi ada kerjaan aja, kamu sekarang di mana" aku balik bertanya.


"Aku masih di kantor, sebentar lagi mau berangkat ke rumah sakit"

__ADS_1


"Kantor kamu masih di Gondangdia kan?" Tanyaku lagi.


"Iya, tapi sebentar, perasaanku jadi gak enak" Ketus Angga.


"Hahaha, tahu aja lo, ya sudah Mampir dulu sini, soalnya aku nggak bawa motor" pintaku sama Angga.


"Halah, kamu merepotkan saja, Ya udah Sherlock!" ucapnya sambil menutup teleponnya.


Setelah telepon terputus, aku segera mengirimkan lokasi di mana aku saat ini berada. Lalu Aku kembali ke meja makan, di mana Aira menungguku.


"Lama banget sih" tanya Aira dengan muka masam.


"Maaf" jawab ku sambil megang perut, menunjukkan bahwa aku sedang mules.


"Kok, kamu kurang ajar" gerutu Aira, sambil menyempitkan mata.


"Lagian, ngapain nanya-nanya" jawabku, sambil menyandarkan punggung ke kursi.


Tak lama setelah itu, pesanan kita pun datang, lalu aku dengan fokus menyantapnya, tanpa memperdulikan Aira yang terus mengajakku mengobrol.


"Kenapa kamu diam" tanya Aira di sela sela suapannya.


"Lagi makan, nggak boleh ngobrol" ucapku, yang tak acuh terus menyantap makananku.


Akhirnya Aira terdiam tidak berbicara lagi. dia kembali menyuap makanan kumulutnya, sedikit-sedikit. sama seperti wanita-wanita preminim lainnya, ketika mereka  sedang menikmati makanannya.


"Bentar lagi, temanku datang menjemput. jadi kamu pulang sendiri,nggak apa-apa kan" Tanyaku, sambil mengelap mulut dengan tisu, setelah selesai menyantap makanan.


"Kok gitu, kenapa kamu nggak diantar aku aja" Aira balik bertanya.


"Aku kan, tadi sudah minta izin. aku masih ada urusan sangat penting " aku menjelaskan kembali tentang urusanku.


Tring!!


Ponselku berbunyi, menandakan ada satu pesan baru yang masuk, dengan Sigap aku membukanya.


"Ayo kita pulang, soalnya temen aku udah ada di parkiran, Apa kamu mau di sini dulu?" Tanyaku, sambil berdiri.


"Buru-buru amat sih" degusnya sangat kesal ,namun Ia tetap berdiri, lalu menuju tempat kasir, untuk membayar makanan.


Sesampainya di parkiran. Aku melihat Angga turun dari mobilnya menghampiri kita.


"Ooooh, jadi pekerjaanmu sekarang, menemani cewek makan di Cafe," ledek Angga, sambil menyungingkan senyum miring, sehingga membuatku merasa tidak enak sama Aira.


"Apaan sih, Ga. kalau ngomong suka nggak dijaga" gerutuku sambil membulatkan mata, menatap kearahnya.


"Kenalkan. aku angga. pengacara muda tersukses di kota Jakarta, banyak kasus yang sudah kumenangkan" ucap Angga, tidak mempedulikan perkataanku, dengan pedenya malah dia mengajak Aira untuk berkenalan.

__ADS_1


__ADS_2