
Pov Stella
Pukul 07.30 Setelah kami sarapan nasi uduk, yang kita pesan dari ojek online. kami swkeluarga duduk di sofa sambil terus menunggu perubahan Bibi Utari, yang masih tertidur.
"Habis ini Bapak langsung berangkat bekerja ya, Bu! Nanti kalau ada perkembangan, jangan lupa memberitahu bapak!" ucap Bapak setelah meneguk air yang ada di tangannya.
"Iya Pak! Bapak hati-hati ya, kalau lagi bekerja!" ucap Ibu mengingatkan.
Baru hari ini aku sadar, aku memiliki kedua orang tua yang begitu baik, begitu kompak dan begitu bertanggung jawab. tanggung jawab atas pekerjaannya, dan tanggung jawab terhadap keluarganya.
"Kamu mau kerja, apa mau nemenin Ibu di sini?" tanya ibu sambil melirik ke arahku.
"Aku mau ke kantor dulu, Bu! kasihan kalau Dali mengurus cofe sendirian. sedangkan pekerjaan yang sangat menumpuk, setelah ditinggalkan oleh Pak Sarman. nanti siang, aku ke sini lagi." Tuturku memberitahu ibu.
"Ya sudah! kamu jangan terganggu, biarkan Bibi Utari, ibu yang menjaganya." jawab ibu sambil tersenyum.
Setelah pembicaraan pagi itu, Aku dan bapak berpamitan sama ibu. untuk menuju ke rumah, mengganti baju terlebih dahulu, sebelum berangkat ke tempat kerja.
Sesampainya di tempat kerja terlihat Dali sudah duduk di belakang mejanya, memperhatikan layar komputer, mempelajari semua berkas yang ada di dalamnya. Terlihat dia tersenyum, ketika melihat kedatanganku, menyambutku dengan hangat. sehangat dulu ketika kita belum saling mengungkapkan perasaan.
"Lagi mengerjakan apa?" Tanyaku sambil duduk di meja kerjaku, yang berdekatan dengan mejanya.
"Aku lagi mengecek semua berkas lamaran yang dikirimkan oleh orang-orang, yang hendak bekerja di sini." jawab Dali sambil terus membuka file satu persatu, mempelajari semuanya dengan teliti.
"Aku bantu ya! biar cepat selesai." ucapku menawarkan.
Dali hanya tersenyum, lalu mengirimkan beberapa file ke komputer yang ada di hadapanku. dengan cepat aku mempelajari semuanya, mengikuti yang dali lakukan.
"Kapan kita melakukan interview buat mereka!" Tanyaku setelah selesai membaca semua file berkas lamaran.
"Besok saja, nanti orang-orang yang lengkap mengirimkan CV lamarannya, baik dari email ataupun datang langsung ke sini, kita utamakan. dan memberitahu bahwa ada interview besok!" ide Dali yang masih terlihat senyum-senyum, sesekali dia menatap ke arah depan, sesekali dia menatap ke arah layar komputer.
"Eh, Kapan kamu menikahi pacar kamu itu? awas aja kamu cuma nge-prank dia!" ancamku sambil menatap ke arahnya.
"Insya Allah 2 minggu ke depan, aku dan Dini akan segera menjadi pasangan yang sah. baik dalam hukum Agama, dan hukum negara." jawabnya yang berbunga-bunga.
__ADS_1
"Emang kamu mau nikah di mana? mau di sini, apa di Bandung?" tanyaku memastikan Karena Mereka berdua adalah orang sana, yang terlempar ke kota Kelahiranku.
"Tadinya mau di Bandung, namun mengingat Dini yang tidak bisa. menurutnya menikah di mana saja, itu akan sama!" ujar Dali, terlihat sikapnya yang berubah, menjadi sedikit menurutkan wajahnya.
"Kenapa?" aku bertanya sambil menatap lekat ke arahnya.
"Ada suatu hal yang masih mengganjal pernikahan kita." Jawab Dali sambil menarik nafas berat.
"Kalau boleh tahu, apa?" tanya aku.
Dali pun bercerita. Bagaimana Dini datang ke kota Jakarta, dia menceritakan dari awal sampai akhir. sehingga aku mulai mengerti bahwa Dini, tidak mempunyai orang tua kandung. yang membuat Dali merasa bingung, karena ketika melakukan pernikahan harus ada Wali, yang menikahkannya.
"Sabar ya! setiap rencana baik, pasti akan ada cobaan, untuk menguji seberapa gigih kita memperjuangkan kebaikan itu." ucapku menanggapi cerita yang dali tuturkan.
Dia bercerita semuanya, tanpa ada yang ditutupi, seperti seorang sahabat yang sedang mengadu semua masalahnya kepada sahabatnya, yang ia percaya. ketika mendengar tanggapanku seperti itu Dali hanya tersenyum, menatap ke arahku.
Pukul 12.00. akhirnya waktu istirahat pun datang, aku meminta izin sama atasanku, untuk pulang duluan. mengingat tidak ada pekerjaan yang harus aku kerjakan hari ini! dengan alasan Saudaraku ada yang sakit. Dali pun memberi izin, Dan Dia berjanji akan menjenguk Bibiku, nanti setelah pulang mengajak calon istrinya.
Setelah mendapatkan izin, aku pun bergegas menuju rumah sakit kembali. untuk bergantian menjaga bibi Utari yang masih terbaring, belum sadarkan diri, ketika tadi aku tinggalkan. Aku belum mendapatkan info apapun dari ibu, tentang perkembangan bibi.
Setelah melaksanakan salat zuhur, aku pun menyuruh ibu untuk pulang ke rumah terlebih dahulu. namun ia menolak, menurutnya ini adalah penebusan dosa terbaik untuknya, yang membuatku merasa heran, dengan penuturan kata ibu. namun ketika aku menanyakan secara detail, ibu menolak menjelaskan. karena itu akan menyakiti perasaannya, dan itu hanyalah masa lalu yang kelam.
Pukul 14.30. terlihat jari jemari Bibi Utari, perlahan mulai bergerak. dengan cepat Ibu Pun mendekati. Setelah itu mata Bibi Utari mulai sedikit terbuka. kemudian memindai seluruh ruangan, hingga pandangan itu terhenti, ketika melihat aku dan ibu yang sudah berada di sampingnya.
Melihat bibi yang sudah siuman, dengan cepat Ibu Pun menekan tombol emergenci, untuk memanggil perawat. tak lama setelah tombol itu Ditekan, pintu kamar rumah sakit itu diketuk, kemudian masuklah beberapa perawat, untuk mengecek keadaan Bibi Utari, yang baru sadarkan diri.
Setelah melakukan penanganan terhadap orang yang baru sadar, para pahlawan itu pun kembali ke ruangannya.
"Alhamdulillah kamu udah sadar, Tar!" ungkap ibu sambil terbata-bata.
Bibi Utari hanya tersenyum lewat masker Oksigen yang ia gunakan. Ibu Pun mengelus rambutnya, lalu mengambil tisu basah, untuk menyeka keringat yang keluar dari kening Bibi Utari.
Melihat kebaikan ibu yang sedang mengurus adiknya, membuatku membayangkan. Bagaimana kalau aku memiliki seorang adik, aku juga akan menjaganya seperti Ibu menjaga Bibi Utari.
Setelah selesai mengelap seluruh tubuh Bibi Utari. Azan Ashar pun berkumandang, aku dan ibu pun memutuskan untuk salat berjamaah terlebih dahulu, dengan ibu yang menjadi imamnya.
__ADS_1
Setelah melaksanakan salat asar. Bibi Utari terlihat menggerakan tangannya, memanggil kita berdua untuk mendekat.
"Yah, ada apa Tar?" tanya ibu sambil duduk di kursi yang ada di samping ranjang.
"Maafkan Aku! Maafkan Aku!" hanya kata itu yang keluar dari mulut Bibi Utari. ucapannya yang terbata-bata, dibarengi butiran bening yang mengalir lewat pelipisnya, membuatnya terlihat sangat mengkhawatirkan.
"Kamu jangan banyak pikiran, kamu harus sehat!" jawab ibu sambil tersenyum.
Maafkan Aku! Maafkan Aku!" Bibi Utari mengulang perkataannya.
"Maaf untuk apa? kamu tidak boleh bersedih seperti ini, kamu harus kuat! aku yakin kamu bisa sembuh!" Ibu menyemangati Bibi yang masih terbaring.
"Sebelum aku meninggal. Aku tidak mau membawa rahasia ke alam baka!" ucap Bibi Utari sambil terbata.
"Kamu nggak boleh ngomong seperti itu! Aku yakin, kamu kuat!" Jawab ibu sembari mengusap Air Mata Bibi Utari yang keluar, dengan tisu.
"Tolong! Kamu suruh orang yang merawatku di rumah, untuk membawakan map coklat, bertuliskan Bandung." Pinta bibi Utari memaksakan berbicara, di tengah-tengah nafasnya yang tersenggal.
"Untuk apa? kamu jangan banyak berbicara terlebih dahulu! kamu harus sembuh!" Ibu balik bertanya.
"Tolong!" ujar Bibi Utari mengiba, butiran bening yang tadi sudah kering sekarang keluar kembali.
Melihat kondisinya yang seperti itu. Dengan terpaksa Ibu pun menuruti permintaannya, menelepon orang yang merawat Bibi Utari, ketika berada di rumahku. setelah selesai menelpon. Ibu Pun kembali menatap Bibi Utari, yang matanya sedikit terpejam.
"Aku minta maaf! Aku sudah membuat keluargamu hancur Kak. aku memang bod0h, tidak menyadari kebaikan kalian." ucap Bibi Utari, yang terdengar pelan, namun kita yang berada di dalam ruangan, Cukup jelas untuk mendengar ucapannya.
"Kamu ngomong apa, sih! aku yang harusnya minta maaf, karena udah merebut kebahagiaanmu, Dek! Maaf dulu aku terlambat menyadari, bahwa kamu sangat mencintai dia. jawab ibu sambil kembali, mengusap butiran bening yang keluar dari mata bibi Utari.
"Sebenarnya, ini ada apa?" Tanyaku sambil menatap ke arah mereka berdua, karena merasa heran kenapa, mereka dari tadi berbicara maaf maaf saja. Tanpa tahu apa yang menjadi kesalahannya.
"Tolong ceritakan semuanya yang terjadi antara adik dan kakak. biar keturunan kita tidak melakukan hal bod0h seperti yang pernah kita lakukan." Seru Bibi Utari.
Ibu pun terdiam sebentar, lalu menarik napas pelan, mengisyaratkan bahwa cerita, yang akan dia katakan. adalah cerita yang sangat berat.
"Ceritakan saja, nanti aku juga akan bercerita rahasiaku yang mungkin bisa membuat keluarga kalian bahagia." ucap bibi Utari. nafasnya yang memburu, membuatnya terlihat sangat kasihan.
__ADS_1