
Pov dali
Pukul 12.00 siang aku beristirahat, untuk salat dan makan siang, walau badan masih terasa sakit, namun aku tetap paksakan untuk bekerja, karena. Aku mencintai pekerjaan ini, dan dengan pekerjaan sebagai barista, aku bisa bertemu dengan orang-orang yang luar biasa, seperti. Darda, Pak Wahyu, Pak Agung, dan banyak orang-orang baik lainnya.
Setelah selesai salat dan makan siang. Aku mengambil Handphoneku yang ditaruh di kantung apronku. Hari ini tidak seperti biasanya yang selalu menyimpan handphoneku diloker, ketika lagi bekerja, agar tidak menggangu pekerjaanku. Aku selalu mengecek ponsel untuk terus memantau keadaan dini, yang sedang berada di rumah sakit.
Aku terus mengirimi dini pesan, walau dia tidak membalas pesan-pesanku, namun. Ada Darda, yang terus mengabari kondisinya. Dan alhamdulillah malam tadi aku tidak telat untuk menolongnya, sehingga sampai saat ini dia masih suci, walaupun begitu, aku akan tetap melanjutkan kasus ini sampai si Dani membusuk di penjara.
Pukul 01.00 siang aku mulai kembali, ke belakang cofe table untuk menyajikan kopi sesuai pesanan, dan dengan alasan ini juga. Aku suka pekerjan ini, hanya dengan mengaduk-ngaduk kopi aku digaji sesuai dengan UMR.
Lama bergelut di belakang mesin kopi akhirnya para karyawan shift dua mulai berdatangan, namun meski begitu tak semerta-merta aku bisa langsung pulang, karena aku harus menyelesaikan tugas kerjaku sampai jam 04.00 sore, walau shift 2 mulai bekerja dari jam 02.00 siang.
"Kalian harus datang ya" pinta Stella yang baru datang.
Dia membagikan undangan, kepada teman temannya, aku yang masih sibuk dengan pesanan pelangan, hanya bisa memidai dengan sudut mata.
Setelah mengganti pakaiannya, dengan pakaian tempur seorang barista. Stella menghampiri lalu mengambil bil orderan untuk menyajikannya. tak ada obrolan yang kelura dari kita berdua, karena pesanan yang menumpuk. Sehinga kita berdua terfokus dengan orderan masing-masing.
"Nikah sama siapa? Kok aku nggak diundang" tanyaku menoleh ke arah Stella sambil menyeka denganku dengan kain setelah menyelesaikan semua pesanan.
"Siapa yang mau nikah" tanyanya sambil mencembungkan pipinya.
"Bukannya, tadi. kamu bagi-bagi undangan nikahan ya?" Aku balik bertanya.
Dia hanya membulatkan mata, seolah tidak suka dengan pertanyaanku, tidak ada jawaban namun terliahat dia menarik kertas undangan dari kantong apron yang ia kenakan.
"Nih lu baca" perintah Stella sambil memberikan kertas yang baru ia ambil.
Aku buka undangan itu, lalu membacanya dengan teliti, ternyata isinya adalah undangan ulang tahun Stella yang ke-26.
" lu harus datang ya!, Awas aja kalau nggak" pintanya sambil mendekatkan tinju ke arah mukaku.
"Insya Allah, tapi aku nggak janji, soalnya kamu juga tahu, kalau Malam Minggu pergantian shif" jawabku memberi alasan. Memang benar setiap hari Sabtu, itu adalah pergantian shift, yang awalnya shif siang berganti menjadi shift malam.
"Wah parah lu dal, lu lebih mentingin pekerjaan, daripada temen lo sendiri" jawabnya dengan Ketus lalu menekuk muka, tidak suka dengan penolakanku.
"Ya, iya, jangan marah gitu dong, nanti setelah pulang aku urus cutinya, Semoga saja bisa" balas ku dengan senyum.
"Nah gitu dong, itu namanya baru best friend, Awas aja kalau nggak jadi datang" ancamnya lagi.
"Ngomong-ngomong, boleh bawa teman nggak, keacara ultahmu?" Tanyaku sambil menatapnya.
"Cewek apa cowok" Stella balik bertanya.
__ADS_1
"Cewek, cowok" jawabku singkat.
"Ya udah, ajak aja. Tapi Ngajaknya jangan banyak-banyak nanti gua rugi" ujar Stella sambil memicingkan mata.
"Enggaklah, paling Satu kelurahan, nanti merak aku ajak semua,nggak apa apa kan" ujarku tersenyum meledeknya.
"Sekalian aja, lu ajak se-DKI biar penuh tuh ke rumah gua" balasnya dengan Ketus.
"Ide bagus tuh" jawabku sambil mengakat dua jempol, membuat stella semakin kesal.
Pesanan pun datang lagi, dan kita berdua lanjut bekerja, sesekali diselingi dengan obrolan obrolan ringan, agar tidak terlalu jenuh dan bisa menikmati pekerjaan ini.
"Hai Kak Dali" sipa seorang pelanggan yang datang menghampiri.
"Eh, Aira, sudah datang aja" jawabku yang merasa kaget namun senyum ramah kusuguhkan untuknya. Karena itu adalah tanggung jawab seorang barista.
"Iya, kan. malam sudah bilang, aku akan datang lebih awal, biar aku paham tentang perkafean" ujarnya sambil membalas Senyumku.
"Tapi aku selesai kerjanya masih lama, kayaknya tiga ouluh menitan lagi pekerjaanku baru selesai, nggak apa-apa emang menunggu?" Tanyaku yang merasa tidak enak harus membuatnya menunggu.
"Nggak apa-apa, aku tunggu aja, oh iya Tolong buatin minum yang best seller dong kak" pintanya sambil memidai seluruh ruangan.
"Oke, siap. silakan cari tempat duduk yang nyaman, biar nggak bosan menunggunya" jawabku sambil menautkan telunjuk sama ibu jari.
Aira pun berlalu. Mencari tempat duduk, yang masih kosong. sedangkan aku mulai membuat minuman yang dipesan oleh Aira.
"Bukan, itu anaknya Pak Wahyu" jawabku menepis pertanyaan Sheila.
"Pak Wahyu!, yang punya Permata Abadi grup, yang bergerak di bidang properti itu bukan?" tanya stella penasaran sambil membualatkan mata.
"Mungkin, aku kurang tahu juga sih, aku jarang kepo sama urusan orang" jawabku sambil menaikkan pundak.
"Wah Kayaknya gua dapat saingan yang sepadan" gumamnya pelan namun cukup terdengar karena posisinya berdiri yang berdekatan denganku.
"Saingan apa" tanya aku sambil memadainya dengan sudut mata.
"Eeee emmm eeee Ya saingan" jawabnya sambil gelagapan.
"Ya saingan apa, ibu Stella" Tanyaku mendesak.
"Saingan bokap gua, Iya bener, saingan bokap gua" jawabnya mengulang perkataan, seperti orang yang meyakinkan seseorang, agar dia tidak ketahuan berbohong.
Mendengar penjelasannya Aku hanya menarik bibir ke bawah, sambil melirik ke arahnya, agar dia tahu bahwa aku tidak percaya, campak melepaskan tanganku yang sedang membuat pesanan untuk Aira.
__ADS_1
"Beneran saingan bokap gua. Bokap gua juga kan usahanya bergerak di bidang properti" lanjut Stella memperkuat ucapannya.
"Iya deh percaya aja, sama anaknya pengusaha karastri grup aku manut aja" cibirku
Bugh.
"Bukan begitu maksudnya" ujarnya sambil memukul lengan ku dengan lembut.
"Apaan sih, mukul-mukul nanti, aku nikahin baru tahu rasa loh" ujarku sambil terkehkeh. membuat mukanya memerah seperti tomat
Setelah selesai membuat pesanan, aku langsung meminta pelayan untuk mengantarkannya ke meja Aira, yang sedang duduk menunggu.
"Mau ngapain dia ke sini" tanyanya dengan Ketus.
"Ada deh, anak kecil dilarang tahu urusan orang dewasa" jawabku yang terus meledeknya.
"Apa jangan-jangan, itu pacar baru lo ya" tanyanya penuh selidik.
"Amin"
"Kok amin sih" tanya Stella merasa jengkel.
"Ya amin dong. Siapa yang nggak mau dengan wanita secantik Aira, tubuhnya yang tinggi, kulitnya yang putih, wanginya yang harum, cuman aku tahu diri lah, dia mana mau sama tukang kopi sepertiku" ujarku sambil tersenyum.
"Baguslah kalau sadar diri" ujarnya sambil terkekeh, membalas ledekanku.
" Eh kamu bukannya mendukung" malah menghina.
" Ya mendukung sih, tapi mengingatkan lebih baik ,daripada nanti kecewaz gua nggak mau melihat teman gua satu-satunya depresi karena cintanya Bertepuk Sebelah muka" balasnya sambil terus terkehkeh
" Terima kasih, Stella yang cantik dan baik hati. Atas semua nasehatnya" ucapku dengan kesal.
" Eh, beneran. Dia mau ngapain ke sini" stella mengulang lagi pertanyaan.
"Dia berencana membuat cafe shop,;terus Aku diminta oleh orang tuanya, untuk membantu semua kebutuhan aira, untuk membuat Cafenya" aku menjelaskan tujuan Aira datang ke sini.
" Berarti kamu mau berhenti dong bekerja di sini "tanyanya sambil menatap nanar ke arahku.
"Enggak lah Aku kan cinta pekerjaan ini" jawabku sambil tersenyum.
"Aku nanya serius" ucap Stella mendesak.
"Iya, beneran. aku hanya membantu menyiapkan kebutuhan pembuatan cafe Shop, lagian aku juga belum siap nganggur. soalnya bekerja di tempat baru itu tidak bisa ditebak, Mending kalau usahanya lancar, Kalau enggak, ya jadi pengangguran" jelasku panjang kali lebar.
__ADS_1
" Baguslah kalau begitu" tanggapan Stella
Lama mengobrol, akhirnya waktu bekerja aku selesai, dengan cepat aku mengemasi barang-barangku, karena sudah membuat Aira lama menunggu.