
Pov dali
Pukul 16.15. aku segera bergegas turun dari lantai 3, menuju parkiran. karena aku sudah punya janji, mau bertemu sama Aira. bertemu untuk membahas progress cafe, yang hendak kita garap.
Awalnya dia mau menjemputku disini, namun aku tolak. karena nantinya aku akan ribet, harus kembali lagi ke mall, untuk mengambil motor. kalau motorku ditinggal disini, bisa-bisa besok ketika aku berangkat bekerja. aku harus naik busway, yang haltenya lumayan jauh dari kontrakan.
Sesampainya di parkiran, dengan cepat kutarik tuas gas motorku. untuk segera pergi menuju Cafe, yang sudah disepakati untuk bertemu.
Dua puluh menit di perjalanan. akhirnya aku sampai di sebuah Cafe yang cukup elit. tempatnya rapi, dan memiliki room service, untuk tamu yang ingin privasi. Dengan bergegas aku menuju salah satu ruangan, yang sudah dipesan oleh Aira. setelah aku masuk ke salah satu ruangan itu, aira pun bangkit menyambutku.
"Maaf telat, soalnya macet." alasan klasik kubuat, menyembunyikan kegetiranku
"Nggak apa-apa! Lagian aku juga baru nyampe." Ucap Aira, sambil tersenyum hangat menyapaku.
"Wah, syukurlah kalau begitu. Jadi aku tidak malu, hehehe." Ujarku sambil terkehkeh.
"Ya udah, silakan duduk!" tawarnya mempersilahkanku.
"Terima kasih." sambil menarik kursi yang hendak kududuki.
"Emang designnya sudah selesai, sampai sampai kita harus bertemu sevepat ini" tanya Aira, mengawali percakapan dengan serius.
"Sudah!" aku mengambil laptop yang kusimpan di dalam tas.
Setelah laptop itu kuambil, lalu ku Nyalakan, untuk memperlihatkan hasil kerjaku terhadap Aira. Dan diapun menggeserkan kusrinya mendekat kepadaku, agar dia bisa dengan jelas melihat layar laptop, yang menunjukkan hasil karyaku.
Tercium aroma wangi memenuhi rongga hidungku. sehingga membuatku sedikit meliriknya, melirik wanita dengan pakaian baju All size itu, namun terlihat sangat elegan.
"Kalau kamu kurang suka, dengan desainnya. kamu boleh memakai jasa orang lain!" ujarku pesimis
"Belum juga aku lihat, sudah bilang tidak suka." Ketus aira sambil melirik ke arahku, yang sedang memperhatikannya. Membuat mata kita saling bertautan, mengabaikan layar laptop yang menyala.
__ADS_1
"Ini denahnya!" ucapku memecah suasana yang nampak kaku, sambil mulai menunjukkan denah-denah restoran, dan bagian-bagian dalamnya. serta ilustrasi 3Dnya ketika bekas restoran itu sudah dijadikan caffe. aku menjelaskan dari awal, sampai akhir. tidak ada sedikitpun yang terlewat, agar aira paham dengan apa yang aku sampaikan.
Dia hanya manggut-manggut, sambil sesekali memperhatikan wajahku. entah apa yang dilihatnya, membuatku sedikit merasa risih diperhatikan seperti itu.
"Wah, ini bagus banget! aku suka." pujinya sambil tersenyum bahagia, membuatku mengulum senyum bangga dengan karya yang ku kerjakan.
Setelah selesai menjelaskan, struktur bangunan lengkap dengan Animasinya. aku mulai membahas rencana anggaran biayanya, yang harus aira keluarkan ketika ia hendak merenovasi restoran itu.
"Kapan, kita bisa mulai pengerjaannya?" tanya Aira sambil menatapku, setelah aku membacakan rincian anggaran.
"Terserah, itu tergantung Aira, kapan mau mulai pengerjaannya. yang paling penting, sekarang kita sudah mempunyai gambaran, berapa biaya yang harus dikeluarkan, dan hasilnya seperti apa. nanti kalau semuanya udah siap, kita tinggal memulainya pekerjaan itu, tanpa memikirkan lagi design dan biyayanya." Jawabku memberi pendapat.
"Kalau aku mau pekerjaan ini secepatnya dikerjakan, kira-kira ada nggak para pekerjanya?" Aira bertanya lagi.
"Menurut hemat saya, kalau masalah pekerjaan mendingan Aira berkonsultasi terlebih dahulu sama Pak Wahyu. soalnya beliau yang lebih paham mengenai hal ini!" jawabku mengingatkan bahwa bapaknya, adalah salah satu pemilik perusahaan properti di Jakarta.
"Emang Kak Dali nggak punya kenalan, yang bisa mengerjakan pekerjaan ini?"
"Ada. cuman nggak enak sama bapak Aira, soalnya beliau yang lebih paham dengan pekerjaan ini." aku menegaskan jawabanku.
"Ya, memang seharusnya seperti itu. Karena pekerjaan yang dikerjakan oleh ahlinya, tidak mungkin gagal."
"Oh iya, totalnya jadi berapa nih, jasa design kakak?" tanya Aira sambil menatapku meminta kejelasan.
"Sudah nggak apa-apa, lagian itu bukan pekerajaan yang susah. kamu menerima ideku saja, itu sudah menjadi suatu hal yang luar biasa. dan anggap saja itu adalah rasa Terima Kasihku, sama bapak Aira. karena beliau sudah sering membantuku!" tolakku menjelaskan.
Pukul 17.30. aku pun berpamitan sama Aira, karena aku takut Dini merasa kesepian di kontrakan. tak lupa Sebelum pulang, aku mengcopykan data desain arsitekku, ke flash disk. Lalu diberikan sama aira, supaya ketika dia menjelaskan sama pak wahyu. Aira punya bahan untuk dibahas.
"Nih buat kakak!" ujar aira sambil menyerahkan amplop coklat.
"Sudah masukin lagi aja! aku minta tolong sekalian bayarin dua box nasi yang aku pesan, buat nanti makan di kontrakan." Pintaku sambil menggaruk-garuk kepala, merasa malu Minta ditraktir sama perempuan.
__ADS_1
"Ini uangnya ambil! Dana sibuknya biar aku yang bayar."
Namun aku tidak menghiraukannya. aku bergegas pergi meninggalkan tempat itu, setelah mengambil bungkusan nasi box pesananku. tidak mau berlama-lama dengannya, karena takut nanti keburu adzan maghrib.
20 menit kemudian, akhirnya tiba di kontrakan. dengan cepat kuketuk pintu itu, namun pintunya malah terbuka duluan, sehingga aku tidak jadi mengetuknya.
"Assalamualaikum." sapaku sama wanita yang baru saja membukakan pintu.
Dini tidak menjawab, terlihat mukanya yang masam, menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres.
"Kalau ada yang mengucap salam itu, dijawab!" seruku sambil mengajaknya bersalaman, menginginkan seperti seorang suami, yang disambut oleh ciuman seorang istri, di punggung tangannya. dan lucunya dia pun menerima uluran tanganku, kemudian mencium punggung tanganku. Sehingga membuat bibir ini melengkung dengan sempurna. Merasa bahagia atas perlakuannya.
"Ada apa, kok mukanya masam begitu?" aku kembali bertanya, karena merasa heran dengan perubahan sikapnya.
"Enak, yah! Pagi pagi dipeluk cewek cantik, pulangnya dimasakin." ucapnya tiba-tiba seperti itu, membuatku mengerinyitkan dahi, tidak tahu apa yang ia maksud.
Dengan gontai aku pun masuk ke rumah, tak memperdulikan ucapannya. Kemudian duduk di kursi sofa, sejenak melepaskan lelah. sebelum membersihkan badan dengan air. Aroma asin yang sedang dikukus, menyeruak memenuhi rongga hidung, membuat perutku sedikit melilit. Karena walau bagaimanapun. orang Sunda pasti akan suka dengan ikan yang dibumbui garam ini. apalagi kalau di taruh di atas nasi liwet, itu bisa membuatnya menelan air liur.
"Kamu ngeliwet lagi, Din?" Tanyaku sambil menatapnya yang duduk di hadapanku.
Dia hanya menggeleng kepala, tidak menjawab sepatah kata apapun, membuat aku semakin merasa heran.
"Terus ini, aroma ikan asin dari mana?" aku melanjutkan kembali pertanyaan.
"Pacar kakak! yang ngeliwet." Jawabnya Ketus.
"Hah, pacar!" aku merasa kaget dengan pernyataannya, karena selama ini, aku tidak pernah mempunyai pacar, selain Ratna. Ratna yang sekarang sudah menikah dengan Pak Wahyu. Ibu tirinya Aira.
"Halah! pakai pura-pura kaget segala"
Dengan penasaran aku pun bangkit, menuju dapur. memastikan siapa yang berani mengaku-ngaku sebagai pacarku. Dan berani-beraninya Dia mengotori kontrakanku, dengan aroma seperti ini.
__ADS_1
Ternyata benar. di dapur ada seseorang wanita yang tidak asing bagiku. yang sedang menggoreng jengkol, di samping tungku penggorengannya, ada panci berisi nasi yang sedang mengepul, mengeluarkan asap. menandakan nasi itu belum matang.
"Ngapain kamu, ada di dapurku?" Aku bertanya, sambil menatap tajam ke arah wanita yang memakai celemek, berdiri membelakangiku, dengan perasaan yang begitu kesal, kulontarkan pertanyaan itu.