Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 28 CEMBURU VOL2


__ADS_3

Pov dali


"Mobil ini, belum seberapa din, dibandingkan mobil-mobilku yang ada di rumah." Darda menjawab dengan angkuh, terlihat matanya melirik ke arahku, seolah menunjukkan kemenangan.


"Wow, mantap! kapan ya, aku bisa punya mobil sebagus ini?" Timpal dini menunjukkan kenoraakannya.


Dini duduk sambil mengkelilingkan mata, memindai seluruh sudut mobil, terlihat wajahnya yang penuh kekaguman. seolah baru pertama kali melihat benda seperti ini.


"Bentar lagi, kamu juga punya!" sahut Darda dengan enteng, dengan perlahan dia menginjak pedal gas, pergi meninggalkan kontrakanku.


"Kapan kak?" Tanya Dini antusias.


"Iya sebentar lagi" jawab Darda, pandangannya yang terfokus ke arah jalan.


"Serius nih, Kak? Aku tidak percaya."


"Seriuslah! memang kapan aku pernah bohong." jawab Darda.


"Tapi dari mana, aku bisa punya mobil seperti ini, sedangkan aku kerja saja. tidak tahu sudah dipecat atau belum,"  tanya Dini penasaran


"Setelah kamu menjadi istriku, semua harta yang kumiliki, itu bisa jadi milikmu, tampa terkecuali." Jawab Darda.


Membuat mataku membulat sempurna, tidak suka dengan candaannya yang kelewatan.


"Iiiih, Kirain serius, Aku mau punya mobil." jawab ini dengan ketus.


Mukaku yang awalnya tertekuk dengan sempurna, kembali mencair, seolah mendapat angin segar, setelah mendengar jawaban dari dini.


"Hehehe, Mana mungkin aku berani sama kamu, Kamu kan sudah dianggap sebagai adik, Masa? adik, kakak nikah. jadi kalau kamu butuh apa pun, kamu bisa mengandalkanku." tawar Darda sambil tersenyum kecut.


"Terima kasih banyak, kak." balas dini.


"Di depan berhenti dahulu, Dar." pintaku sama Darda, setelah melihat ada toko baju yang sudah buka.


"Mau ngapain, Kalau tidak salah, toko yang di depan itu! Bukannya toko baju wanita muslim?" jawab Darda melirik ke arahku dengan heran.


"tidak apa-apa. kasihan si Dini, masih mau ke kantor polis, pakaian seperti itu" ucapku berbisik takut menyinggung perasaan wanita yang duduk di belakang .


Setelah mendengar penjelasanku. Darda membantingkan setir mobilnya, ke arah kiri. berhenti tepat di halaman toko baju muslimah.

__ADS_1


"Kok, ke sini? bukannya kita mau ke kantor polis!" tanya Dini penuh keheranan .


"Ayo turun, kita beli bajumu terlebih dahulu. masa, mau ke kantor polis pakai baju tidur." ajakku sambil membuka pintu.


Namun Darda menahan tanganku, tidak membiarkanku  keluar dari mobilnya. menemani dini untuk berbelanja, melihat kejadian seperti itu. Aku hanya menatap Aneh ke arah Darda.


"Biarkan gua saja yang keluar, nanti elu salah beli lagi, seperti waktu di rumah sakit, dimana elu membelikan pakaian yang salah buatnya." tolak Darda memberikan alasan, sehingga membuatku menghembuskan napas dengan kasar.


"Ayo, Din. bareng aku saja!" Darda mengajak Dini yang sudah keluar mobil sejak tadi.


Hanya tatapan kedua bola mataku, yang mengiringi kepergian mereka berdua. Melihat masuk beriringan, menuju toko pakaian muslimah. meski kesal, namun tetap kutahan, karena tidak tahu, mengapa aku bisa merasa kesal seperti ini?.


Kurang lebih 20 menit, mereka berada di dalam toko. membuatku merasa gelisah, takut Darda berbuat macam-macam. Padahal aku tahu, Darda orangnya bukan seperti itu, namun menunggu selama ini, tetap saja membuatku merasa khawatir.


Aku berniat turun dari mobil, untuk melihat apa yang mereka lakukan di dalam. namun tanganku terhenti. setelah melihat pintu toko terbuka. Dan muncul sosok wanita yang sangat cantik, dibalut dengan gaun gamis warna maroon, dilengkapi dengan hijab yang Senada dengan Warna bajunya. membuatnya terlihat makin Anggun, bak Bidadari yang baru turun dari kayangan.


Dini dengan perlahan menghampiri mobil, di mana Aku sedang menunggunya. pandanganku tidak terlepas, terus menatap ke arahnya, bahkan sampai dia duduk di kursi belakang, Entah mengapa mataku enggan berpaling, untuk terus menatapnya.


Dia hanya menundukkan pandangan tanpa berani menoleh ke arahku, entah apa yang sedang ada di pikirannya. sehingga jangankan untuk menyapa, menatapku saja dia tidak mau.


"Melihatnya! Biasa saja keles." ujar Darda sambil menutup pintu,


Ditegur seperti itu, aku hanya mendengus kesal, karena Darda mengganggu ketenanganku, untuk menikmati kecantikan bidadari yang ada di mobil.


"bagaimana Cantik, kan?" tanya Darda mengulum senyum bangga, dengan Apa yang dia lakukan.


Aku tidak menjawab pertanyaannya, lidahku terasa kelu, ketika mau mengakui yang sebenarnya, mengakui dini terlihat sangat cantik.


"Udahlah! jangan nyerocos terus, fokus ke jalan!" ketusku mengingatkan, biar Darda tidak terus menggodaku .


"Jawab dahulu, dini cantik apa tidak?" tanyanya mendesak.


"tahu, ah." aku memalingkan pandangan, ke arah pintu mobil, tidak mau melanjutkan obrolan dengannya.


"Kalau lu tidak mau jujur, nanti bisa jadi gua, yang menikahi dini." perkataan Darda, mampu membuatku membulatkan mata menatap tajam ke arahnya.


Yang ditatap hanya menarik kedua sudut bibirnya ke atas, menunjukkan kemenangan atas perlakuannya meledekku, sampai habis-habisan.


"Makanya jujur, nanti kerburu diambil orang, baru tahu rasa lu. wanita seperti ini, pasti banyak lelaki yang mengharapkan tanda tangan di buku nikahnya." ujar Darda dengan raut muka serius, tak mempedulikan bagaimana memerahnya mukaku, dan muka dini yang terlihat dari spion belakang.

__ADS_1


Setelah lama bergelut dengan kemacetan, akhirnya Kami bertiga sampai di depan kantor polis, terlihat Angga yang sudah menunggu sedari tadi.


"Sudah lama nunggu ngga" tanyaku sambil memeluk sahabat terbaikku.


"Sudah, lihat saja sepatuku, sampai lumutan seperti ini" jawab angga, menunjukkan salah satu sepatunya yang terlihat mengkilap.


"Bisa saja lu, bro!" ujar Darda sembari memeluknya.


"Kok mereka bisa bersama kamu?" tanya Angga sambil menatap ke arah Darda.


"Iya punya teman, semuanya ngerepotin. Untung saja gua orangnya sangat baik."  jawab Darda terdengar Ketus, namun sambil tersenyum.


"Mantaplah, Ya sudah, ayo masuk!" ajak Angga.


"Aku langsung berangkat kerja saja, Sorry banget, soalnya Kayak sudah telat sangat." ujarku minta izin, sambil memperlihatkan jam tanganku yang menunjukkan pukul 08.30.


"Halah, kerja melulu, kaya kagak!" ucap Darda sambil membuang napas kasar.


"Hehehe, Maklumlah orang susah bro, makasih sangat ya, kalian semua udah mau menolongku" ujarku tak menanggapi ledekan Darda.


"Ya sudah lu berangkat kerja mau naik apa? kalau lu mau bawa mobil gua saja!" tawar Darda dengan serius.


"tidak lah, Lagian motorku ada di sana, nanti kalau bawa mobil, bagaimana bawa motor. paling aku pesan ojek online" jawabku menolak  memberikan alasan.


" kami masuk ke dalam dulu ya!" ucap Angga sambil berlalu.


"Hati-hati ya, Kak." timbal dini, terukir senyum manis di bibirnya.


"Kamu juga hati-hati juga. Semangat!!" jawabku, sambil mengepalkan tangan, membuat senyum manis itu terlihat kembali.


Setelah mereka masuk ke dalam kantor polis, aku segera keluar dari tempat parkiran, menunggu ojek online, yang sudah aku pesan dari tadi.


"Pak Dali, ya?" sapa seseorang yang baru saja menghampiriku, lengkap dengan seragam hijaunya.


"Iya, Pak!" Jawabku singkat.


Bapak ojek online itu memberikan helm, setelah memastikan bahwa aku customernya. dengan cepat aku kenakan helm itu, lalu duduk di jok motor bagian belakang .


Setelah dirasa aman, motor itu melaju membelah kemacetan, di tengah sinar matahari yang sudah mulai terasa panas, membakar jiwa-jiwa yang tetap semangat, untuk tetap bertahan hidup.

__ADS_1


20 menit di perjalanan, akhirnya motor itu sampai di depan pintu Mall, aku segera turun, lalu membayar tagihannya sesuai aplikasi. segera bergegas masuk, menuju tempat di mana Aku bekerja.


__ADS_2