Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 23 DIRUMAH KAK DALI


__ADS_3

Pov dini


"Udah jangan nangis terus, Maafin aku ya, Aku nggak jahat, Kok. cuma memberi pengertian aja, dan buat pembelajaran kamu kedepannya. kebaikan itu tidak semua, bisa dibalas dengan uang"  Kak Darda sambil  terus menenangkanku.


Namun tangisku tidak berhenti. Malah semakin keras, walau mereka cuma bercanda, tapi aku bener benar takut, kalau mereka benar benar marah terhadapku. Mereka bertiga terus berusaha menenangkanku, seperti orang tua yang lagi menenangkan anaknya.


"Udahlah, biarin saja, kalau dia nangis terus, nanti aku Buatkan surat keterangan hutang, yang bunganya empat kali lipat." ancam Kak Angga yang terdengar serius, membuatku perlahan menghentikan suara tangis. karena takut ancaman itu benar benar terjadi. jangankan untuk membayar hutang empat kali lipat, yang sekali lipat aja belum tentu aku bisa membayarnya.


Tak Lama setelah tangisku terhenti, akhirnya mobil parkir di pinggir jalan. menandakan kita sudah sampai di tempat tujuan.


"Ayo turun, udah sampai," ajak Kak dali sambil menarik rem tangan, lalu ia melepaskan fanbelt yang ada di pundaknya. Aku pun mengikuti yang Kak dali lakukan, melepaskan fanbelt yang mengikat tubuhku, lalu Kami berempat keluar dari mobil.


"Udah, gak usah nawarin masuk dulu, aku buru-buru" celetuk  Kak Darda, dengan muka datar.


"Yey, PeDe amat, lagian Siapa juga  yang mau nawarin" jawab Kak Dali sambil terkehkeh  menyangah ucapan kak darda.


"Aku pamit dulu ya, Din .maaf tadi kelewatan, semoga kamu cepat sembuh, Cepat pulih, cepat bangkit lagi," ucap Kak Darda, menatapku memberi semangat.


"Terima kasih Kak, atas semua bantuannya, semoga Allah membalas kebaikan kakak" aku berkata, sambil menundukkan kepala.


"Nah itu baru betul, mendoakan orang yang berbuat baik, dengan doa kebaikan. oh, iya. coba mana senyumnya, kalau nggak Senyum, hutangnya bertambah menjadi lima kali lipat," ledek kak Angga, menggodaku  seperti lagi meledek anak bayi.


"Apa-apaan sih kamu, ga. senyum dia itu cuma buatku saja, orang lain tak boleh melihatnya." tukas Kak Dali, yang membuat bibir ini terangkat seketika, karena senang atas perlakuannya, yang membelaku.


"Nah, bagus. senyum yang seperti itu, pertahankan. walaupun bukan untukku, tapi itu sudah bisa mengurangi hutangmu,  menjadi tinggal tiga kali lipat lagi" kak angga berucap sambil mengangkat jempolnya. Membuat pipiku bersemu memerah.


Setelah selesai berpamitan, Kak Darda ngeloyor menuju pintu mobil. namun Kak Angga menghentikannya.


"Enak aja, udah numpang, minta disupirin lagi, sana masuk bawa mobilnya!" perintah kak angga, sambil mendorong tubuh Kak Darda ke sebelah kiri, menyuruhnya menyetir.


Kak Darda tak bergeming, "mending gua naik online aja, enak tinggal duduk, dari pada nebeng ama mobil butut lu" jawabnya sambil melipatkan tangan di depan dada.


"Oke, fine. kalau itu yang lo mau, Awas kalau nangis minta ikut" ancam Kak Angga, sambil menunjuk muka kak Darda. Memberinya peringatan keras.

__ADS_1


" silakan pergi, bawa mobil butut mu, gua gak butuh." teriak Kak Darda tidak mau kalah.


Kak Angga berlari, menuju pintu arah kemudi, lalu ia tancap gas setelah mobilnya dihidupkan. melihat kejadian itu, aku merasa khawatir, takut mereka bertengkar.


"Ayo masuk aja, jangan liatin orang stres" ajak Kak dali, tak menghiraukan pertengkaran merrka, acuh dengan semua yang terjadi.


"Terus nanti mereka bagaimana" tanyaku, sambil menatap arah kak Dali yang sudah mau masuk kedalam kontrakan.


"Biarin udah gede ini " teriak kak dali tanpa menoleh.


"Masuk dulu kak" ajakku sambil menghampiri Kak Darda.


"Nggak, sudah. kamu masuk duluan sana, biar kamu bisa istirahat!" perintah kak darda, yang menatap kearah ponselnya.


"Terus, kak darda. pulangnya bagaimana?"Tanyaku yang merasa khawatir.


Kak Darda tidak menjawab, Dia hanya mengangkat ponsel, menunjukkan bahwa, dia sedang memesan taksi online. namun sebelum dia melakukan pesanan, tak lama mobil kak Angga pun datang kembali, lalu menurunkan kaca pintunya.


"Dengan Bang Darda" tanya Kak Angga, sambil tersenyum.


"Bapak, yang order, untuk menuju ke arah Benhil, kan," tanya kak Angga.


" Din. Aku pulang dulu, ya. Mobil yang menjemputku sudah datang" ujarnya sambil menolehku. Lalu membuka pintu mobil kak Angga. melihat kejadian itu aku hanya bisa menggeleng-geleng kepala, merasa tidak percaya dengan keusilan yang mereka lakukan.


Setelah Mobil itu pergi, dan tak terlihat lagi. aku berjalan perlahan menuju pintu masuk kontrakan kak Dali.


"Assalamualaikum" ucapku, sebelum masuk ke dalam pintu kontrakan yang terbuka.


"Waalaikumsalam, masuk Din" jawab Kak Dali, yang terdengar dari salah satu kamar.


Aku pun masuk mengikuti perintah kak dali. setelah berada di dalam. ternyata kontrakan itu sangat luas, ada dua kamar, serta dilengkapi ruang tamu dan ruang dapur. setelah puas memidai semua sudut, aku duduk di sofa, yang berada di ruang tamu, walau dia belum memperisilahkan.


Tak lama Kak dali keluar, dengan membawa gulungan kasur, untuk dipindahkan ke kamar yang lain. setelah selesai memindahkan beberapa barang. kak dali menghampiri sambil tersenyum , memperlihatkan langsung pipitnya. "Maaf, ya. membuat kamu menunggu".

__ADS_1


"Nggak apa-apa, kak. harusnya aku yang minta maaf, karena sudah merepotkan, tiggal disini." jawabku sambil menatap meja.


"Ayo, aku antar ke kamar kamu," ajaknya, sambil memngulum senyum, tak menghiraukan ucapanku.


Aku bangkit dari tempat dudukku, lalu mengikuti menuju kamar, yang sudah disiapkan untukku.


"Bukannya ini, kamar kakak?" Tanyaku, setelah mengetahui bahwa kamar yang akan kutempati, adalah kamar Kak Dali.


"Nggak apa-apa, biar kamu nyaman. Lagian aku bisa tidur di kamar sebelah. Tapi Maaf ya Kamarnya berantakan, maklum cowok" jawab kak dali, memberikan senyum simpulnya.


"Aku aja, kak. yang tidur di kamar sebelah, Kakak di sini. Masak tamu tidur dikamar pribadi orang yang punya rumah," tolak penuh alasan, merasa tidak enak jika harus sampai mengusir kak dali dari kamarmya.


Dia hanya tersenyum, tanpa menjawab permintaanku. lalu membuka lemari yang ada di samping ranjangnya.


"Bajumu, sementara bisa disimpan di sini" ujarnya ,sambil menunjukkan ruangan kosong di lemari itu.


"Maaf, Kak. aku tidur di kamar sebelah aja" aku bersikeras menolaknya.


"Aku mau mandi dulu, kamu disini yang betah, anggap aja rumah sendiri" kata pria berkulit putih, tanpa memperdulikan keinginanku. Kemudian dengan muka datarnya. ia pergi keluar dari kamar. lalu menutup pintunya kembali, meninggalkanku yang masih berdiri menatap kepergiannya.


"Huh dasar, aneh" gumamku pelan, sambil mendudukkan tubuhku di tapi ranjang. Rajang itu terasa sangat empuk, kucoba membaringkan badan di atasnya, sehingga sebagian tubuhku tertelan kasur empuk itu.


Aku perhatikan setiap sudut kamar, yang terlihat nampak rapi. meski Kak dali seorang pria. namun dia cukup pintar untuk merawat kamarnya, sehingga membuat betah untuk berlama-lama di sini. Pandangan mataku terhenti sesaat, setelah melihat lipatan handuk dan Kantong hitam yang berada di atas kasur.


Dengan penasaran aku ambil kantong itu, lalu membukanya. Pengen tahu apa isi yang ada di dalamnya.  tiba-tiba sudut bibir ini terangkat dengan sepurna. merasa tersanjung dengan semua perhatian, yang diberikan oleh orang yang menempati kontrakan ini. Bagaimana tidak, bahagia. diperhatikan seperti ini, sampai-sampai alat mandi pun sudah siapkannya.


Setelah puas dengan lamunanku, aku meraih handuk itu, berniat membersihkan tubuh di kamar mandi. Setelah berada di luar kamar.


Cklek


Terdengar suara pintu yang terbuka dari arah dapur, dengan cepat aku menghampiri suara, untuk menanyakan Di mana letak kamar mandinya.


Sesampainya di dapur, mataku terbuka dengan lebar,sambil menutup mulut. ketika melihat Kak Dali, yang baru keluar dari kamar mandi, dia hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya. sehingga bagian dadanya yang lebar, dan  perutnya yang berbentuk kotak. terekspos dengan sempurna oleh kedua mataku. dengan reflek dia menutup tubuh bagian atasnya, menggunakan tangan. seperti wanita yang sedang menutupi Gunung kembar, Tak mau tubuhnya terlihat orang lain. namun kejadian langka itu hanya sesaat, setelah sadar Siapa yang berada di hadapan kak dali. Dengan penuh percaya diri. Dia melepaskan tangan yang menutupi dada, kembali Acuh seperti tidak ada orang.

__ADS_1


"Yang ditutup itu mata, bukan mulut" gerutunya. Membuatku dengan cepat mengalihkan tanganku, yang semula menutup mulut, menjadi Menutup Mata. namun jariku sedikit direnggangkan, agar masih bisa melihat tubuhnya.


__ADS_2