Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 30 TERKEJUT DULUAN


__ADS_3

Pov dini


Setelah menutup pintu, dan mengucinya. Aku segera berlalu krmbali menuju ke dapur, untuk melanjutkan masak-masakku, yang sempat tertunda. karena ada drama gas yang tidak terduga.


Kunyalakan kembali kompor, yang sempat padam. lalu memasukkan bumbu-bumbu yang sudah ku iris, ke dalam panci berisi beras. tak lama menunggu. akhirnya air rebusan beras yang sudah mendidih itu mulai mengering. kumasukkan ikan asin, di atas nasi yang belum matang.


Setelah dirasa airnya benar-benar kering, ku tutup panci itu, dengan penutupnya. lalu apinya aku kecilkan sedikit, agar liwetku tidak gosong.


Setelah memastikan apinya, sudah mengecil dengan tepat. aku kembali mengambil barang-barang belanjaanku, mengambil tahu tempe untuk digorengnya.


Sambil menunggu, tahu tempe yang sedang digoreng. aku membuang tangkai cabe, yang hendak dijadikan sambal. setelah membuang tangkainya, aku mencuci Cabe itu, serta tomatnya. lalu aku tiriskan, agar ketika digoreng tidak meletup meletup, menyerangku dengan cipratannya.


Setelah gorengan tempe dan tahu itu matang. aku mematikan kompor, lalu memasukkan cabe yang sudah kutiriskan, ke dalam minyak yang masih panas. Karena untuk menggoreng cabe, tidak diperlukan api, cukup minyak yang masih panas.


Setelah selesai digoreng, Cabe itu aku campurkan dengan bahan-bahan lainnya, disatukan menjadi satu  di atas coet, Setelah semuanya padu, aku mulai menggerus Cabe itu sampai lembut.


Tin! tin! tin!


Terdengar suara motor dari arah depan, menandakan Kak Dali sudah sampai rumah. dengan cepat aku rapikan bajuku yang berantakan, agar terlihat sangat manis di hadapannya, meski baru selesai memasak.


Setelah semuanya dirasa rapih, Aku berjalan menuju ruang tamu, untuk membukakan pintu, yang terkunci dari dalam.


Cklek!!!


Pintu itu terbuka, namun ketika aku hendak menghampiri. tiba-tiba lututku terasa lemas, setelah melihat dengan Siapa Kak Dari pulang. Kalau begini caranya, aku yang hendak mengasih kejutan. malah terkejut duluan.


"Hai, dini!" ujar wanita yang baru turun dari motor menghampiri, lalu memelukku dengan sangat erat.


"Apa-apaan, sih! Kak risma ini, datang tidak tepat dengan waktunya" gerutuku dalam hati.


"Kenapa? kayaknya kamu nggak seneng, yah. aku datang ke sini?" tanya Kak Risma setelah melepaskan pelukannya.


"Senang kok, Kak." jawabku sedikit tergagap, karena sikapku yang cuek hampir-hampir ketahuan olehnya, bahwa aku tidak suka Kak Risma ada di sini.


"Kamu sakit apa? pak Bowo Nanyain kamu terus. Mau menghubungi nomor kamu, tapi nomor kamu tidak aktif." crocos Kak Risma, tanpa memberi jeda sedikitpun.

__ADS_1


Aku tidak memperdulikannya, pandanganku terfokus dengan laki-laki, yang sedang mengecek keadaan motornya. seolah tidak peduli, dengan perasaan yang aku rasakan sekarang.


"Kenapa kamu bengong, terus kamu nggak mau ngajakin aku masuk ke dalam?" ujar Kak Risma membuyarkan lamunanku. sehingga dengan berat hati, aku mengajaknya untuk masuk ke kontrakan kak Dali.


"Sejak kapan kamu tinggal di sini?" tanya Kak Risma sambil menjatuhkan badannya di atas kasur yang empuk.


"Baru tadi malam, kak!" jawabku dengan Ketus, sambil menundukkan tubuh di tepian ranjang.


Entah mengapa rasanya Kesal banget, ketika melihat Kak Dali pulang bareng sama Kak Risma. padahal harusnya aku senang dong! ketika ada sahabat yang mau menjenguk, namun Entah mengapa perasaan itu yang hadir, apa gara-gara khayalanku untuk bisa makan malam bareng Kak Dali, terganggu olehnya.


"Kenapa, sih? kamu kayaknya nggak suka aku berada di sini!" tanya Kak Risma, sambil bangkit dari tempat tidurnya.


Kemudian ia duduk di sampingku, sambil terus memperhatikan tingkahku yang terlihat aneh.


Aku hanya duduk terdiam, tak bisa menjawab pertanyaannya. memang benar aku sangat kesal, tapi kalau aku jujur, bahw aku tidak suka dengan kehadirannya. itu sangat tidak mungkin.


"Ya sudah, aku pulang lagi aja, ya!" ujar Kak Risma sambil berdiri dari kasur yang ia duduki, namun segera aku menahannya.


"Maafin aku, Kak! aku bukan apa-apa, tapi kejadian yang menimpaku, membuatku Parno, membuatku trauma. Sekali lagi maafin atas tingkah lakuku, yang kurang berkenan" ujarku sedikit berbohong, namun itu bisa membuat Kak Risma duduk kembali sambil menatapku.


"Kamu Sebenarnya sakit apa, sih! Coba kamu jujur sama aku!" tanya Kak Risma, sambil menatap lekat ke arahku. seolah ingin tahu apa yang sedang kurasakan sekarang.


"Janji!" jawab Kak Risma, sambil mengangkat jari kelingkingnya. menandakan bahwa dia orang yang bisa dipercaya.


Dengan tersenyum, aku menautkan jari kelingkingku ke jari kelingking Kak Risma. kita sama-sama berjanji.


"Eh, mau ke mana, katanya mau cerita?" tanya Kak Risma, setelah melihatku bangkit menuju pintu kamar.


"Mau menutup pintu dulu, Kak! takut ada yang nguping."


"Heheh"  tanggapan Kak risma hanya tersenyum, sambil menggaruk-garuk kepala.


Setelah duduk di ranjang. Aku ceritakan semua yang terjadi pada diriku, mulai dari. ketika Kak Dali menjemputku di kosan, untuk menikmati kota Monas, sampai aku bisa berada di rumahnya. aku ceritakan semuanya, tidak ada yang terlewat. kadang aku menghentikan ceritaku, karena Sedih ketika mengingat kembali, kejadian naas itu. Kak Risma yang mendengarkan ceritaku, ikut terbawa sedih. akhirnya kita mengakhiri ceritaku, dengan berpelukan sambil menangis, saling menguatkan.


Rasanya sangat lega, setelah aku menceritakan beban  yang kuhadapi seorang diri, seperti bisul yang sudah meletup mengeluarkan nanah, dan matanya pun ikut terbawa keluar.

__ADS_1


"Kamu yang sabar yah, Din. kamu wanita yang kuat, semangat!" ujar Kak risma, sembari menyusut cairan bening yang yang mengalir di area pipinya.


Grok!!!


Terdengar suara ingus yang dihisap, oleh hidungnya membuat kita saling menatap, lalu tertawa.


"Jorok banget sih, kamu! Kak." ketusku, sambil menyusut air mata, yang mengalir di pipi. namun bibir ini tersenyum melihat kelakuan Kak Risma seperti itu.


"Iya, ingusnya si4lan!" jawab Kak Risma, sambil mengambil tisu lalu mengelap hidungnya.


Akhirnya kita pun tertawa lagi, merasa lucu dengan kelakuan masing-masing. menghilangkan rasa sedih yanh menghampiriku.


"Liwet siapa, nih! bau gosong!" teriak Kak Dali, dari luar kamar. sehingga aku dan Kak Risma saling menatap, bingung dengan apa yang diucapkan Kak Dali.


"Liwetkuuuuuuuuuuuuuu" teriakku sambil lari, seperti orang yang dikejar hantu, menuju ke arah dapur dengan terbirit-birit. setelah sadar bahwa aku sedang ngeliwet.


Dengan cepat kubuka Tutup pancinya, untuk mengecek kebenarannya. Namun ternyata liwet itu, tidak gosong sama sekali. Tapi liwat itu sudah matang, sehingga tercium, aroma ikan asin, Sama irisan bawang yang keluar dari dalam panci. aku yakin, Siapa saja yang menciumnya, perutnya akan melilit.


Ku matikan kompornya, lalu ku tutup lagi panci itu, dengan penutupnya. kemudian kembali ke ruang tamu, untuk menemui Kak Dali, yang terlihat sedang sibuk dengan ponselnya.


"Kok, Kakak bohong, sih?" kataku tiba-tiba, sambil menatap tajam ke arahnya.


Dia hanya tersenyum, tanpa menoleh ke arahku, masih fokus dengan game yang ada di ponselnya.


"Halo!!! aku ngomong sama kamu, loh. kak!" ucapku sambil terus menatapnya, yang tak berekspresi sama sekali.


Melihat tingkahnya yang seperti itu, dengan cepat aku menghampirinya, lalu kuambil HP yang ia pegang.


"Yah, ada apa, Din?" ujarnya, sambil melepaskan earphone bluetooth yang menempel di telinganya. sehingga aku merasa malu, yang mengira bahwa dia pura pura mencuekanku, namun setelah melihat itu, mungkin benar-benar dia tidak mendengar suaraku, ketika aku memanggilnya.


"Nanti aja, ya! makannya sehabis sholat maghrib, biar tenang." ujarnya yang tanpa dosa, seolah aku mengajaknya makan.


"Tau, ah!" ujarku Ketus sambil menaruh kembali handphonenya di atas meja. lalu ku balikan badan kembali masuk kamar.


"Ada apa sih, Din?" tanya Kak Risma, menatapku dengan heran.

__ADS_1


"Gak ada apa-apa, Kak! hanya ada orang gil4 saja." jawabku ngasal.


"Tutup dong, pintunya! aku takut sama orang gil4" jawab Kak Risma, menyuruhku. mengira apa yang aku ucapkan itu benar.


__ADS_2