Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 65 DINI ANAKKU


__ADS_3

Pov stella


30 menit berlalu. Akhirnya pintu kamar Rumah Sakit ada yang mengetuk. setelah aku mempersilahkan, orang yang mengetuk itu pun masuk, dengan membawa setumpuk berkas yang ada di pangkuannya.


"Bod0h!" gumam ibu sambil Melirik ke arah orang yang baru datang.


Sehingga membuat orang yang membawa berkas itu, tertunduk lesu di hadapan ibu, yang terlihat begitu marah. matanya yang memerah menyala, membuatnya terlihat semakin menakutkan, apalagi Baru kali ini, kita melihat sikap ibu yang sebenarnya.


"Maafkan saya, bu!" ujar wanita pembawa berkas itu.


"Sekarang kamu cari berkas berwarna coklat, bertulisan Bandung. buruaaaaaaan!" bentak ibu yang begitu emosi.


Aku yang melihatnya merasa kasihan, dengan cepat aku pun membantu mencari berkas yang Ibu maksud, menyikap satu persatu Amplop yang pelayan itu bawa, dari kamar Bibi Utari.


Dan akhirnya kita menemukan, ada lima Amplop yang bertuliskan dengan nama Bandung, aku pun mengumpulkan, lalu menyerahkannya sama ibu.


Truk! truk! truk!


Pintu kamar itu pun diketuk kembali, lalu masuklah bapak dengan terburu-buru, wajah yang semula kaget, menjadi lebih kaget, setelah melihat banyak berkas-berkas yang berserakan, di ruang rumah sakit tempat rawat bibi.


"Ini ada apa?" tanya Bapak sambil memperhatikan tumpukan berkas yang sudah acak-acakan.


Ibu tidak menjawab, Ia hanya menatap tajam ke arah Bapak, mengisyaratkan agar Bapak terdiam, Jangan banyak bertanya. kemudian Ibu bangkit dari tempat duduknya, lalu mendekati Bibi Utari yang masih memejamkan mata.


"Yang mana, berkas, yang kamu maksud?" tanya ibu yang meninggikan suara, agar bibi Utari terbangun.


"Sudah Bu! Bicaranya Jangan keras-keras! nanti Bibi semakin drop." pintaku sama ibu.


"Biarkan mampus saja sekalian! Orang udah ditolong, tapi tidak tahu berterima kasih." gerutu ibu dengan sangat jengkel, mungkin kalau Bibi Utari dalam keadaan sehat, beliau sudah mencabik-cabik tubuhnya.


Bapak hanya diam, memperhatikan perubahan sikap ibu yang sangat frontal, mengamati situasi dan mempelajari dengan apa yang terjadi sebenarnya. tak ada pertanyaan atau pembicaraan yang keluar dari mulutnya, seolah beliau sangat paham dengan sikat ibu.


"Jawab Tariiiiiiii!" tegas ibu mulai membentak.


Bibi Utari membuka perlahan matanya, lalu menatap nanar ke arah kakanya. Terlihat senyum yang dipaksakan, menghiasi bibirnya. menyembunyikan semua rasa sakit yang sedang dia Derita.


Setelah melihat mata bibi Utari terbuka. Ibu mengangkat satu berkas, yang di situ tertulis dengan tulisan Bandung, menunjukkannya, kepada bibi Utari. yang sudah lemah untuk berbicara, Agar bibi memberi isyarat map mana yang Ia maksud.

__ADS_1


Ketika menunjukkan berkas pertama, Bibi Utari menggeleng kepala, tanda berkas itu bukan yang ia maksud. hingga Ibu mengulangi beberapa kali, sampai map coklat yang keempat, yang ibu angkat. Baru Bibi Utari mengganggukan kepala, menandakan itu adalah berkas yang ia maksud.


Dengan tidak sabar, Ibu merobek berkas amplop coklat yang ada ditaganya. lalu melihat isi di dalamnya, terlihat di dalam amplop coklat itu. berisi satu buah fotocopy kartu KK. dan satu buah foto anak gadis yang sudah terlihat remaja.


"Anakkuuuuuuuuuu!" teriak Ibu sambil mencium dan memeluk foto itu, kemudian kaki yang menopang tubuhnya, menjadi lemas. sehingga tubuh ibu ambruk, terduduk di lantai rumah sakit.


Bapak yang tidak berani bertanya, hanya bisa mendekati Ibu. lalu mengusap lembut punggungnya, menenangkan ibu yang sedang menangis, seperti orang yang kesakitan.


Aku mengambil amplop yang tadi ibu tinggalkan, memperhatikan kembali. Apa masih ada isi di dalamnya. ternyata memang tidak ada apa-apa! hanya ada sebuah kartu keluarga, dan foto gadis remaja itu.


Kuambil kartu keluarga yang dilempar oleh ibu, karena dia lebih memilih foto yang ada di dalamnya. yang aku belum sempat melihat dengan jelas. lalu kuperhatikan kartu keluarga itu, membaca nama-nama yang ada di dalamnya.


Kartu keluarga itu terdiri dari 4 orang. satu orang ayah, satu orang ibu, dan dua orang anak. namun mataku seketika terdiam, terpana melihat Satu Nama. yang begitu mirip dengan nama orang, yang aku kenal. "Dini Puspitasari" nama itu tertulis dibaris ke empat.


"Nggak mungkin! nggak mungkin! ini Dini. Orang yang kemarin aku temui." Desisku dengan tidak sadar, sehingga ibu dan bapak yang sedang memandangi foto. berbalik menolehke arahku.


"Kenapa Stella?" tanya Bapak yang sedang menenangkan ibu.


Aku tidak menjawab. aku terus memperhatikan alamat kartu keluarga itu, dan ternyata, alamatnya sesuai dengan alamat Dini yang aku kenal.


"Ini, Diniiiii! aku yakin Dini, adalah adikku!" ucapan sambil menutup mulut, tak kuasa menahan haru, yang begitu mendalam.


Truk! truk! Truk!


Pintu pun ada yang mengetuk kembali, lalu terdengar orang yang mengucapkan salam, dari arah luar. setelah aku menjawab dan mempersilakan orang yang diluar untuk masuk, terlihatlah sepasang orang yang sedang berseri-seri masuk ke ruangan itu.


Namun ketika Dali dan Dini, melihat Keadaan ruangan yang begitu berantakan. wajah mereka langsung berubah yang awalnya berseri, sekarang terlihat kecut. merasa tidak enak, dia datang dengan tidak tepat waktu.


"Maaf! kayaknya saya salah, waktu berkunjung!" ucap Dali dengan suara sedikit pelan, terlihat raut wajahnya yang merasa tidak enak.


Ibu dan bapak yang sejak tadi terduduk di bawah lantai. Tidak menghiraukan kedatangan Dali, mereka terus fokus melihat kertas yang ada di tangannya. dan sesekali melihat foto yang sejak dari tadi dipegangnya.


"Anakkuuuuuuuu! anakkuuuuuuuu!" Panggil ibu memanggil-manggil anaknya, dengan suara yang begitu parau, karena habis terkikis oleh suara tangis, yang sejak dari tadi tidak berhenti.


"Saya pamit dulu Stella! maaf telah mengganggu keluargamu. semoga Bibi kamu cepat sembuh kembali! seperti hari-hari biasanya." ucap Dali setelah tidak ada tanggapan, dari orang yang berada di sini.


Dengan cepat Dali menarik tangan dini, yang berdiri di sampingnya. mengajaknya pergi meninggalkan tempat yang begitu berantakan.

__ADS_1


"Dini, tunggu dulu!" panggilku setelah melihat mereka berjalan menuju ambang pintu.


Mereka pun menghentikan langkahnya, lalu menatapku dengan penasaran. kenapa mereka dipanggil seperti itu.


"Orang tua angkatmu, namanya Andra dan ibumu Sani, kan?" Aku memancing Dini dengan pertanyaan yang menjebak.


"Dari mana kakak tahu? bahwa aku anak angkat? Dan  dari mana juga Kakak mengetahui nama kedua orang tua angkatku?" tanya Dini terlihat raut wajah yang penasaran, menatap ke arahku.


"Ibuuuuuu! bapaaaaaaak! ini anakmu! ini adikku!" Teriakku sambil berlari menuju ke arah Dini, yang sedang berada di ambang pintu.


Aku memeluk adikku, adek yang selama ini aku harapkan kehadirannya. karena semenjak kabar meninggalnya adikku setelah dilahirkan sampai sekarang, Ibu tidak pernah mengandung kembali, meski berbagai usaha telah mereka lakukan. namun hasilnya tetap nihil. dan sekarang aku bisa mewujudkan harapan itu, bisa memiliki seorang adik yang bisa diajak untuk berbagi cerita suka dan duka.


Dini hanya diam, ketika dia dipelukku. Tanpa memberikan respon apapun. Mungkin dia belum mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini. namun aku terus tetap memeluknya, sehingga dia mulai menggerakkan tangan untuk membalas pelukanku.


"Sabar, kak! tapi maaf, ini ada apa ya, Kak?" Tanya Dini yang terus mengelus punggungku.


"Kamu adikku! Kamu Adikku yang selama ini hilang!" ucapku terus memeluk dia, namun Dini tidak berubah apapun, Mungkin dia masih belum mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Setelah puas memeluk adikku. aku pun melepaskan pelukan itu, lalu mengajaknya duduk di kursi sofa yang ada di ruangan itu.


Ibu dan bapak yang sejak dari tadi memperhatikan tingkah lakuku. hanya bisa diam, tanpa memberikan respon apapun. karena mungkin mereka juga sama-sama belum mengerti, dengan apa yang sebenarnya terjadi. apalagi bapak, yang belum paham dengan kejadian yang sekarang kita alami.


"Kita duduk dulu!"ajakku sama semua orang yang berada di sini, agar bisa berbicara dengan tenang dan nyaman.


Setelah kami semua duduk dengan tenang, Aku pun mulai berbicara dengan bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi di ruangan ini. mulai dari pengakuan ibu dan Bibi Utari. aku menceritakan semuanya, karena sku sudah yakin bahwa semua. yang ada di sini adalah keluargaku, keluarga Bagaskara


Ceritaku, diakhiri. dengan penemuanku, bahwa Dini adalah anak dari kedua orang tuaku, aku sudah mengetesnya dengan menyebutkan nama kedua orang tua angkatnya.


"Boleh aku lihat kartu keluarganya?" pinta Dali yang sejak tadi mendengarkan ceritaku.


Setelah kartu keluarga itu berada di tangannya, dengan teliti dia memperhatikan kartu keluarga yang ada di tangannya. seperti  tidak mau ada yang terlewat.


"Maaf ini kartu keluarga milik sahabatku, yang sedang dipenjara, karena hendak memperkos4 dini. alamat KK sesuai dengan alamat tinggal orang-orang yang aku kenal." jelas Dali memperkuat penemuanku.


"Jadi kamu?" ucap Ibu tertahan, lalu menghampiri Dini kemudin memeluknya, menciumnya. diikuti dengan bapak yang sudah sadar, dan mengerti dengan apa yang terjadi yang dialami keluarganya.


Dini yang berada di pelukan itu, hanya terdiam seolah dia belum sadar bahwa ini kenyataan.

__ADS_1


Aku dan dali hanya saling menatap, merasa terharu melihat keluarga yang sudah kembali utuh, setelah berpuluh-puluh tahun terpisah.


"Stella sini!" ajak ibu dengan lirih, untuk bergabung ke dalam pelukannya.


__ADS_2