Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 38 MASALAH


__ADS_3

Pov dini


Setelah diberitahu. Bapak pun bangkit menuju keluar, tak lama Ia pun kembali, lalu mengambil tas yang ia bawa dari rumah.


"Mau ke mana bu, pak?" tanya aku yang merasa heran, ketika melihat mereka berkemas.


"Kamu jangan mikirin kami! yang harus kamu pikirkan, Bagaimana caranya, kamu bisa mencabut tuntutan itu" Ketus bapak sambil mengangkat tasnya.


Tanpa ada perbincangan lagi. mereka berdua keluar dari kosanku, dengan penasaran aku pun mengikuti mereka sampai keteras kosan. terlihat di dekat gerbang, ada mobil berwarna silver yang sedang menunggu.


"Mau ke mana?" aku mengulang pertanyaan lagi, karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari mereka.


Namun mereka tetap cuek, terus berjalan mendekati mobil, setelah berada di dekatnya. kemudian mereka pun masuk, tanpa menolehku sedikitpun.


Aku hanya bisa melongok, menatap ke arah mobil yang sudah pergi. merasa Aneh, ketika melihat kelakuan aneh kedua orang tua angkatku.


Tring! tring! tring!


Teleponku berbunyi, dari dalam kosanku. bergegas aku kembali ke dalam untuk mengangkat panggilan itu.


"Iya ada apa, Bu?" Tanyaku setelah mengangkat teleponnya.


"Kalau kamu, tidak bisa membebaskan Dani! Jangan harap hidupmu bisa tenang!" ancam ibu.


Tap! tap! tap!


Telepon itu terputus, membuatku menggeleng-geleng kepala. merasa pusing, menghadapi tingkah laku kedua orang tua angkatku.


Aku hanya bisa menghela napas dalam, melepaskan penat, menenangkan pikiranku, yang sangat kalut. baru saja mereka itu baik, namun tiba-tiba seperti ini lagi.


Setelah pikiranku kembali tenang, aku beranjak dari tempat dudukku. membersihkan kosan yang sudah beberapa hari ini kutinggalkan, selesai membersihkan kosan, aku merapikan baju-bajuku, yang hendak dibawa. namun tidak banyak, hanya beberapa baju ganti saja.


Dirasa semuanya sudah rapi, aku pun mengambil kembali handphone, memberitahu ibu. kalau beliau mau menginap di sini, supaya mengabariku terlebih dahulu. karena beberapa hari ini juga, aku mau nginep di luar. Tak lama pesan itu pun terkirim, lalu Ibu Pun membacanya.


Kamu nggak usah repot-repot, mikirin kami. kamu fokus saja! bagaimana caranya mencabut laporan kakakmu di kantor polis." pesan ibu semuanya sama. baik telepon, obrolan, sampai chat. isinya sama memintaku mencabut laporanku.


Aku mengabaikan pesan ibu. kemudian mengalihkan layar ponselku, dari aplikasi hijau. ke aplikasi ojek online ,untuk memesan dengan tujuan rumah Kak Dali.

__ADS_1


Pukul 15.00. aku pun sampai di rumah kontrakan kak Dali, dengan segera membersihkan badan, agar nanti tidak berebut kamar mandi sama Kak Dali. Ketika nanti dia, baru pulang kerja.


Pukul 17.30. motor Kak Dali pun terdengar terparkir didepan kontrakan. tak lama, Dia mengetuk pintu sambil mengucapkan salam, dengan bergegas aku yang sudah menunggunya di sofa, cepat membukakan pintu, untuk calon Imamku.


Seperti biasa dia mengulurkan tangan, untuk aku cium punggungnya. dengan senang hati, aku melakukan permintaannya itu. Seperti seorang istri yang memyambut suaminya, ketika pulang bekerja.


"Jangan diusap-usap! apa, kepalanya. kayak anak yatim" ungkapku sambil tersenyum, karena dia mengucek-ucek kepalaku yang tertutup hijab.


"Hehehe. Lagian kamu nggemesin, sih!" jawabnya membalas seyumanku. lalu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


"Mau jus, apa kopi?" tawarku menyambut kedatangannya.


"Jus. kayaknya enak, soalnya barusan habis ngopi."  pinta kak dali sambil membuka jaketnya.


Setelah mendengar permintaannya, aku pun segera ke dapur, untuk membuatkannya minuman segar. Tak lama aku pun kembali, dengan segelas tinggi, berisi penuh jus melon.


"Terima kasih!" ungkapnya sambil mengambil gelas itu, lalu meneguknya, terlihat jakunnya yang naik turun. Memompa agar air jus itu masuk kedalam perutnya, membuatku menelan saliva.


"Kak, capek nggak?" tanya aku sambil melirik ke arahnya, lalu menundukkan pandangan kembali.


"Kenapa, mau pijitin, yah?" Kak Dali balik bertanya, sambil meletakkan gelas jus yang tinggal setengah.


"Terus, mau apa, Mau di kamar?" seperti biasa dia meledekku. Aku tau itu cuma candaan, bahkan sampai sekarang, jangankan berbuat kurang ajar, menciumku saja dia belum pernah, sama sekali. hanya kata-katanya saja yang seperti itu.


"Tadi, ibu ke kosanku." dengan cepat kualihkan pembicaraannya, agar tidak ngelantur kemana-mana. menjelaskan tujuan yang hendak aku sampaikan.


"Ibu siapa?" tanya Kak Dali, merubah mukanya ke mode serius.


"Ibu Kak Dani, Ibu angkatku juga."


"Terus mereka mau ngapain ke kosan kamu, dan dari mana mereka bisa tahu, kamu ngekos di situ?" tanya Kak Dali bak ak-47, memberondongku dengan pertanyaannya.


"Kurang tahu, aku tadi lupa bertanya, mereka tahu dari mana Aku ngekos di situ." kebanyakan intrik, akhirnya aku sampai lupa menanyakan mereka, bisa tahu kosanku dari mana.


"Terus mau ngapain, kamu nggak diapa-apain kan, sama mereka?" tanya Kak Dali sambil memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki, memastikan aku tidak ada yang lecet atau kurang, karena perbuatan orang tua angkatku.


"Alhamdulillah, nggak Kak. namun," aku tidak melanjutkan ucapanku, karena takut menyinggung perasaannya. walau bagaimanapun kak dali. adalah salah satu korban kekejaman kakak angkatku,

__ADS_1


"Namun apa?" kak dali penasaran.


"Tapi, Kakak jangan marah. aku cuma mau nyampein, apa yang mereka sampaikan!" jawabku sambil menundukkan kepala.


"Marah kenapa? cerita aja belum."ujar kak dali sambil mengambil lagi gelas jusnya.


"Mereka, memintaku untuk mencabut laporan, kak Dani."


Byiurr!!!


Air jus itu muncrat, dari mulutnya. sehingga sebagian terciprat kebajuku. mungkin kak dali, merasa kaget, dengan apa yang diminta oleh kedua orang tua angkatku.


Uhek, ohek, ohek.


Dia terbatuk. melihat kondisi seperti itu, dengan cepat aku berlari ke arah dapur, mengambilkannya air putih, untuk diminumnya.


Glug, glug, glug.


Air putih itu diminumnya dengan cepat. setelah beberapa tegukan, akhirnya dia bisa bernapas kembali. menyisakan mata merahnya, setelah tersendat oleh air jus.


Aku mengambil tisu, untuk membersihkan bekas muntahannya. namun dengan cepat ia memegangi tanganku, menghentikan pekerjaan.


"Biarkan aku saja! Emang kamu nggak jijik!" tanya Kak Dali, sambil menatap nanar ke arahku.


Aku hanya tersenyum, sambil menggeleng gelengkan kepala. Kemudian melanjutkan kembali, membersihkan muntahannya. Kak dali pun ikut membantu, sehingga cairan itu dengan cepat menghilang.


"Maafin aku, Kak!" ucapku yang merasa tidak enak, setelah melihat keadaannya, yang sudah lumayan membaik.


Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Kak Dali. dia hanya bangkit, lalu memasuki kamarnya. tak lama keluar, dengan membawa handuk, yang di kalungkan  di lehernya.


Aku hanya terdiam, duduk menatap ke arahnya, yang menuju kamar mandi  apa jangan-jangan dia marah, padahal aku belum bercerita semuanya. apalagi sampai aku ceritakan semuanya, mungkin sekarang dia sudah mengusirku.


Lama termenung, akhirnya Kak dali pun keluar dari kamar mandi, lalu masuk ke kamarnya kembali. aku hanya menatap sedih ke arahnya, kadang dia itu bak pangeran yang memberikan kebahagiaan, kadang seperti raja iblis yang memberikanku kengerian.


"Salat!! Nanti habis maghrib, kita berangkat." perintahnya setelah keluar dari kamar, lengkap memakai baju koko dan sarung, mau menuju ke masjid untuk salat berjamaah.


"Iya Kak, maafin aku yah!" Ujarku mencoba membuka komunikasi kembali, agar dia tidak marah.

__ADS_1


Namun usahaku sia-sia, Dia hanya berlalu pergi meninggalkanku, yang masih berdiri, di dekat kursi. tak ada tanggapan sedikitpun Dari Dirinya.


"Ada-ada saja. masalah itu!" degusku dengan kesal, merasa putus asa dengan semua cobaan yang menimpaku.


__ADS_2