
Kuketuk Ketuk pintu kosan dini, berulang-ulang. namun keadaannya tidak berubah sedikitpun, pintu itu tetap tertutup, tidak mau memberikan peluang untukku, menjelaskan kebenarannya yang terjadi.
"Pak dali, tolong jangan berisik!" Ucap pak satpam yang berdiri di belakangku. mengingatkan bahwa di sini bukan hanya cuma dini saja yang tinggal. banyak orang lain yang sedang beristirahat, melepas lelah setelah bekerja seharian.
Untung pikiranku, masih bisa berpungsi dengan baik. Tidak mengikuti emosi. dengan sadar, aku hentikan ketukan itu, lalu mengikuti satpam ke posnya.
"Memangnya ada apa, sih?" tanya Anwar sebagai satpam kontrakan Dini.
"Nggak, ada kopi?" Tanyaku tidak menjawab pertanyaannya.
"Ada, rokoknya doang yang nggak ada!" jawabnya malu-malu.
Dengan cepat aku merogoh saku celanaku, lalu mengeluarkan uang, untuk membelikan anwar rokok, sekaligus membeli kopinya. untuk menghilangkan penat yang menyiksa kepalaku.
Dia pun tersenyum. kemudian mengambil uang pemberianku, sekaligus meminjam motor yang aku bawa.
Aku hanya mendengus kesal, kemudian menyerahkan kunci motor Supra. Anwar segera pergi untuk mencari minimarket, yang buka 24 jam. Sedangkan aku, masih terus menghubungi dini. Baik melalui telepon, atau melalui pesan-pesan yang terus aku kirim. Namun tidak ada balasan, padahal pesan yang kukirim sudah berubah warna menjadi centang biru.
Di saat aku merasa gelisah, dengan apa yang harus aku lakukan. Dari kejauhan terdengar suara khas motor Supra, semakin lama suara itu, semakin mendekati pos satpam. Tak lama batang hidung Anwar kelihatan, memarkirkan motor di depan pos satpam.
Setelah turun dari motor, dengan cekatan dia menyeduh kopi yang baru ia beli, dengan air dispenser yang selalu menemaninya ketika berjaga. Setelah kopi itu jadi, kemudian ia menyimpan di hadapanku, untuk aku nikmati.
" Terima kasih, War." Ungkapku sambil mengambil gelas yang berisi kopi, lalu aku teguk sedikit demi sedikit, rasanya sangat nikmat apalagi diminum ketika waktu malam seperti ini.
"Memang ada apa dengan dini , kamu belum menjawab pertanyaanku?" Tanya Anwar yang sedang membuka bungkus rokok, kembali mengulang pertanyaannya.
Aku pun bercerita sedikit, tentang apa yang terjadi, membuat Anwar melongok menatap ke arahku.
"Lah, kok. kamu nggak suka sama si Stella, aku justru nyari-nyari wanita seperti itu, wanita yang mau mengajakku menikah, dengan keadaanku yang sekarang. apalagi kalau kaya, aku nggak akan mikir, langsung iyain aja!" ucap Anwar dengan menggebu-gebu, bak seorang Jaksa yang membela tuntutannya.
__ADS_1
"Ini soal perasaan, bukan soal uang. apa kamu mau? ketika kamu menikah, kamu hanya dijadikan kesed oleh istri kamu, karena kamu tidak memiliki apa-apa, kamu hanya menumpang di kehidupan dia. menurutku menikah itu harus dengan orang yang selevel, dengan kita. karena ketika ada perbedaan, susah untuk menyatukan." jelasku sambil mengambil rokok yang baru dibuka Anwar, kemudian membakarnya.
Aku hisap rokok itu, lalu menghempaskan asapnya, ke langit-langit pos satpam, sehingga ruangan itu nampak seperti kebakaran.
"Ya, kalau saya realistis dal, nggak apa-apa terhina, yang penting hidup terjamin." ujar Anwar sambil tersenyum membayangkan apa yang dia ucapkan.
"Ya sudah, kamu aja, yang mendekati Stella!" seruku dengan kesal.
"Emang boleh, kalau boleh. besok Kenalin ya!" Pintanya sambil mengedipkankan mata.
"Kamu main ke tempat kerjanya, kalau mau kenal ,nanti aku kasih alamatnya!" Jawabku tidak mau mematahkan semangat orang.
Akhirnya kita berdua pun mengobrol, membahas permasalahan yang sedang menimpaku. dengan senang hati Anwar memberikan nasehat, seperti motivator motivator cinta, sambil terus menunggu. Siapa tahu Dini membalas atau merespon pesan yang kukirim.
Sejam berlalu, akhirnya kuputuskan untuk pulang terlebih dahulu. mengingat besok, aku sudah ada janji sama warga, yang hendak membantuku pindahan, dari kontrakan ke rumah yang baru aku beli dari Bu Itoh.
Pukul 02.00. aku pun sampai di kontrakan, lalu masuk ke kamarku, yang biasa dipakai oleh dini, ketika beberapa hari ini menginap di rumahku. Tercium aroma khas kamar perempuan, semakin membuat Hatiku pilu. Bingung harus bagaimana, agar dia mau mendengar penjelasanku.
Selesai salat, Kurebahkan tubuhku di atas kasur, sedangkan Otaku terus berjalan, memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya.
Kuambil ponselku, lalu mengetikkan kejadian yang sebenarnya terjadi. Siapa tahu saja Dini bisa berubah pikiran, mau berbicara denganku, setelah selesai mengetik, langsung kukirimkan pesan itu.
Setelah yakin pesan itu terkirim, kusimpan ponselku di samping. Dengan perlahan mataku mulai mengantup, menyambut mimpi-mimpi indah, sebagai Pelipur Lara, pengobat hati yang sedang banyak menghadapi ujian.
Pukul 05.30. aku terbangun dari tidur lelap, lalu mengecek handphone kembali, Siapa tahu saja pesan dariDini. namun itu semua hanyalah angan-angan belaka, yang ada pesan-pesan yang masuk hanya dari stella, Aira Dan Pak RT, yang menanyakan kesiapanku untuk pindahan.
Kubalas pesan Pak RT, menyatakan kesanggupanku untuk pindahan.
Setelah membalas pesan dari Pak RT, aku mengambil handuk, lalu menuju kamar mandi, untuk mandi. sekaligus mengambil air wudhu, dilanjutkan dengan melaksanakan salat subuh di rumah, meski agak telat.
__ADS_1
Pukul 07.00. ruang teras kontrakanku, sudah penuh dengan para warga yang mau membantu pindahan,, terlihat Wandi pun sudah datang dan bergabung dengan para warga lainnya, karena kemarin ketika bertemu dengan Aira, Aku meminta dia untuk membantu.
Pukul 08.00. mobil Pak Raihan datang, untuk mulai mengangkut barang-barangku, yang akan dibawa pindah ke rumah Baruku.
Para warga mulai sibuk, mengangkut barang-barangku memasukkan ke dalam mobil, setelah penuh mobil itu berangkat menuju ke rumah yang baru saja aku beli.
Setelah sampai di rumah baru, para warga pun kembali membantu, mengeluarkan barang-barang yang ada di mobil, untuk dimasukkan ke rumah.
Begitulah pekerjaan itu diulang-ulang beberapa kali, ke kontrakanku mengambil barang, lalu ke rumahku untuk menyimpannya. sehingga semua barang yang ada di kontrakanku, Habis tak tersisa, pindah ke rumah baru yang aku beli dari ibu itoh.
Setelah semuanya barangku pindah tempat, ibu RT datang dengan membawa kuali berisi nasi liwet. tercium wangi khasnya memenuhi rongga hidung.
Akhirnya semua warga menyantap nasi liwet itu dengan lahap, sampai-sampai yang punya rumah menanggung malu. karena nasi liwet yang banyak itu, hanya menyisakan keraknya saja.
"Terima kasih, yah!" ujarku mengucapkan terima kasih ke semua warga yang sudah membantuku pindahan rumah.
Pukul 11.00. akhirnya semua warga pun pulang ke rumahnya masing masing. dan Wandi pun ikut pulang bersama warga, setelah aku memberikan uang bensin, walaupun ia menolak namun aku tetap memaksa.
Rumah yang baru aku beli, terlihat sepi. karena ruangan yang luas, hampir tiga kali lipat dari kontrakanku. kududukan tubuhku di kursi sofa yang masih berantakan. lalu kubuka ponsel berharap Dini memberikan balasan dari chat-chat yang aku kirim. namun layar ponselku masih menunjukkan hal yang sama, tidak ada perubahan apapun.
Aku tarik napas dalam, lalu menghembuskannya dengan pelan, kemudian kubangkitkan tubuhku, menuju kamar mandi, bersiap-siap untuk melakukan salat zuhur berjamaah.
*****
Sehabis melakukan salat magrib, para warga kembali berkumpul, untuk melakukan doa bersama atas semua nikmat yang kudapat, tasyakuran binikmat atas rumah yang baru saja aku beli, dan baru aku tempati.
Hari ini aku tidak masuk kerja, karena masih merasa pusing, memikirkan Dini yang tiba-tiba berubah , dan rasa malas yang begitu dalam, ketika harus bertemu Stella yang tidak menghormatiku sebagai temannya.
Meski beberapa kali telepon masuk dari wanita yang kupakaikan cincin tadi malam, namun aku tetap tidak menghiraukannya. kecewa yang begitu dalam, dengan apa yang dia telah perbuat, karena walau bagaimanapun dini Berubah itu semua gara-gara Stella.
__ADS_1
Setelah semua warga berkumpul. Pak ustad pun mulai memimpin doa, diawali tahlil, Tahmid, dan pembacaan AlQuran. secara bersama-sama mendoakanku, agar hidupku berkah. bahkan mendoakan agar aku cepat mempunyai istri.