
Pov Dini
Pukul 21.00. Seperti biasa, aku membaringkan tubuh di atas kasur busa berukuran 2 kali 1. sambil memainkan game Bubble di HP pemberian Kak Dali, mengusir rasa kesepian yang tak kunjung hilang.
Apalagi setelah melihat kejadian tadi sore, ketika orang yang baru hari kemarin mengungkapkan rasa, bahwa dia ingin menjadi suamiku, menjadikanku istrinya! sedang asyik berjalan dengan wanita yang dia bilang dia tidak suka dengan wanita itu, sungguh sangat munafik! memang laki-laki seperti itu harusnya tidak Tuhan ciptakan di dunia, agar para wanita tidak ada merasa Tersakiti.
Kuletakkan ponselku di atas nakas, kemudian berbaring dengan menatap plafon, seolah mencari sesuatu yang ada di sana, membayangkan kejadian-kejadian yang pernah kulalui dengan begitu cepat.
Mulai dari kebahagiaanku yang sirna seketika, setelah mengetahui Aku bukan anak dari orang yang mengurus kehidupanku sejak dini, sampai kebahagiaan itu datang kembali, dari seorang pria yang selalu hadir dalam setiap susahku, selalu menjadi penyemangat dalam lelahku, selalu menjadi obat dalam sakitku. namun semua kebahagiaan itu sekarang sudah sirna, kembali meninggalkanku yang terluka seorang diri.
Truk! truk! truk!
Terdengar ketukan dari luar pintu kosan, sehingga membuat lamunanku membuyar seketika, dengan malas aku bangkitkan tubuhku, untuk melihat Siapa orang yang berani mengganggu khayalan sedih ini.
Seperti biasa aku singkap tirai penutup jendela, untuk mengetahui orang yang berada di luar. terlihat di sana ada seorang pria yang berdiri di depan pintu, dengan beberapa balutan perban yang melilit di kepalanya, membuatku merasa merinding, ngeri. melihat orang seperti itu.
"Assalamualaikum, Din! tolong buka pintunya!" ujar pria itu dengan suara pelan, namun cukup terdengar jelas, karena jarak antara kita yang berdekatan hanya terhalang pintu pembatas.
Truk! truk! truk!
"Tolong buka blokiran wa-ku! Aku sayang sama kamu, Maafkan kalau selama ini, aku terlalu cuek, aku terlalu bod0h mengabaikanmu, mengabaikan perasaanmu." Ujar Kak Dali yang terdengar mengiba, membuat hatiku sedikit terketuk oleh pengakuannya. namun komitmen yang kujalankan dengan Kak Stella, sehingga membuatku berpikir kembali untuk menyapanya.
Kalau kamu tidak mau membuka pintu, Aku akan menunggumu di sini, sampai kamu bisa membukakan pintu kosanmu!" ujar pria berperban itu, kemudian dia menyandarkan tubuhnya ke daun pintu.
Dengan perasaan yang tak karuan, perasaan yang khawatir melihat kondisinya. sebenarnya aku ingin menemuinya, namun hatiku tidak mengizinkan, merasa takut dengan ancaman Kak Stella, agar aku tidak berhubungan lagi dengan Kak Dali.
Perlahan kulangkahkan kakiku, menuju kembali ke kasur busa yang sudah terlihat lepek, membaringkan lagi tubuh yang sehat, dengan perasaan hati yang begitu kacau.
"Kuraih kembali handphoneku, lalu membuka game favorit, game yang menyamakan warna. agar tidak terfokus dengan pria yang ada di luar, tidak merasa iba dengan keadaannya yang sangat memprihatinkan.
Sejam berlalu, Kubangkitkan tubuhku, untuk mengecek keadaan pria yang masih menungguku di luar, perlahan aku buka kembali gorden penutup jendela, melihat ke arah pintu, memastikan bahwa dia itu tidak serius dengan perkataannya.
Namun hatiku merasa terhenyuh, ketika melihat pria yang mengancam tidak akan pergi, sebelum aku membukakan pintu kosan. dia masih terduduk dengan kepala yang menyandar ke pintu, terlihat sesekali meringis, mungkin menahan sakit dari luka yang dideritanya.
__ADS_1
Dengan tega hati, aku kembali ke kasurku, melanjutkan game yang tadi ku hentikan sesaat, ketika mengecek kebenaran ucapan pria yang berada di depan.
Pukul 01.00, aku sudah beberapa kali mengecek keadaan Kak Dali, namun dia tetap tidak merubah pikiran, dia dengan sabar menungguku, membukakan pintu untuknya.
Merasa kasihan aku pun mencoba mendekati pintu, lalu menatapnya dengan lekat, membayangkan pria yang sedang bersandar ke pintu itu.
Hatiku Dilema antara menyuruhnya untuk pergi, atau tetap membiarkannya berada di luar dengan suasana yang mulai terasa dingin.
"Pulang Kak!" Usirku dengan suara sedikit tinggi, agar terdengar olehnya.
"Aku nggak akan pulang, sebelum kamu membukakan pintu, sebelum kamu mendengar semua penjelasanku!" jawab Kak Dali, dengan suara parau, mungkin dia mulai merasa kedinginan.
"Sekarang kakak pulang dulu! nanti kakak boleh ngobrol lewat WA!" pintaku yang merasa khawatir dengan keadaannya yang begitu memprihatinkan, Rasanya tak tega jika harus terus membiarkannya seperti itu. Walau dia adalah salah seorang yang sering menyakiti hatiku.
"Buka dulu wa-nya! baru aku pulang." Pinta suara Kak dali dari luar.
Dengan cepat aku pun kembali ke kasur, lalu mengambil handphone. kemudian membuka aplikasi warna hijau, untuk membuka blokiran nomor Kak Dali.
Setelah blokiran itu terbuka, aku pun mengirimkan huruf "P" membuktikan bahwa aku sudah membuka kembali.
Tak lama setelah pesan itu terkirim, handphone aku pun berbunyi, terlihat Ada nomor yang memanggil, Melalui aplikasi chat berwarna hijau berlogo telepon. Aku geser tombol hijau untuk mengangkatnya.
"Sudah sana pulang!" usirku kembali.
"Terima kasih ya sudah membuka blokiran wa-nya lagi!" ujarnya dengan suara yang terdengar sedikit serak.
"Sana buruan! kalau tidak pulang sekarang, aku akan memblok kembali nomor kakak!" ancamku dengan nada suara yang begitu tegas.
Tap! tap! tap!
Dengan cepat sambungan telepon itu aku putus, menandakan ancamanku tidak main-main.
Terdengar dari arah luar, ada seseorang yang berjalan menjauh dari pintu kosanku, dengan rasa penuh penasaran, aku pun kembali mengintip melalui celah gorden, terlihat Kak Dali berjalan dengan sempoyongan, pergi menuju arah pos satpam, membuktikan ucapannya bahwa dia tidak pernah berbohong.
__ADS_1
Melihat keadaannya yang seperti itu, membuat hatiku merasa hancur. Rasanya tak tega melihat orang yang kita sayangi, berjalan seperti orang yang merasakan luka yang begitu berat.
Namun Walau begitu, rasa lega mulai menyeruak dalam hati, Setelah dia mau mengikuti saranku, untuk segera pulang ke rumahnya.
"Kalau sudah sampai rumah Tolong Kabarin!" dengan tidak sadar jemariku mengetikkan pesan itu, lalu aku kirim kan ke nomor kontaknya.
Kak Dali hanya membalas dengan emoticon jempol dan emoticon kebahagiaan, entah apa maksudnya, pria itu memang benar-benar misterius.
******
Keesokan siangnya, Seperti biasa aku bekerja di toko pak Bowo, toko orang yang sudah menganggapku sebagai adiknya.
"Din, ayo istirahat!" ajak Kak Risma yang menghampiriku yang berada di meja kasir.
"Bentar aku selesaikan dulu laporannya!" jawabku sambil mempercepat pekerjaan agar bisa selesai dengan cepat.
Kak Risma hanya mendengus kesal, namun dia tetap berdiri, dengan sabar menungguku, yang masih menulis angka-angka, yang dipindahkan dari catatanku.
Lima menit berlalu, akhirnya pekerjaanku selesai, dengan cepat aku angkat tubuhku dari tempat duduk,lalu menghampiri Kak risma yang sejak dari tadi menunggu.
Kita pun berjalan, menuju lantai dasar, Di mana, Di situ. terdapat mushola, serta kantin kantin yang menjajakan berbagai macam makanan, mulai dari yang ringan sampai yang berat sekalipun.
"Non Dini ya?" Sapa seseorang yang baru saja menghampiriku, dia bertanya memastikan bahwa aku adalah orang yang ia sebut.
"Iya, maaf siapa ya?" jawabku bertanya dengan cepat, namun merasa heran, karena aku tidak pernah punya kenalan seperti orang yang sedang menyapaku.
"Maaf! Non dini pasti sudah lupa, saya Bayu satpam di rumah Non Stella, satpam yang membuat hubungan Non Dini dengan Pak Dali menjadi retak!" jelas orang yang bernama Bayu.
"Maksudnya?" Tanyaku sambil menautkan kedua alis.
"Iya aku adalah orang yang menghancurkan hubungan kalian, karena ketidakmampuanku. yang tak tahu harus berbuat apa!" jelas Pak Bayu semakin membuatku tidak mengerti.
Aku hanya diam menatap ke arahnya, mencerna dengan baik Semua yang dia ungkapkan, yang terdengar berbelit dan tidak masuk ke logikaku.
__ADS_1
Pak Bayu mengeluarkan handphone, lalu memberikannya terhadapku, menunjukkan beberapa foto anak kecil yang sedang berbaring, dengan beberapa alat yang menempel di tubuhnya, membuatku semakin tidak mengerti dengan dengan apa yang ia lakukan.
Kak Risma yang berdiri di sampingku, dia hanya memicingkan mata ke arah kita berdua, mencari jawaban dari kejadian yang kita hadapi.