Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 68 TAMAT


__ADS_3

Sah 2


Pov Dali


Kita pun mulai menikmati makanan masing-masing, tanpa ditemani dengan pembicaraan, namun sekilas mataku melihat ada Bayu, serta tiga laki-laki lainnya. yang sedang menyantap makanan di warung pecel, mungkin mereka ditugaskan untuk mengawal Dini. Atau hanya kebetulan saja lagi makan di sini.


Setelah menghabiskan piring pertama, Dini pun mengambil piring yang kedua, dia mulai menyantap makanan itu, tanpa mengeluh, merasa kenyang. tidak seperti waktu itu, awal datang ke tempat ini, dia hanya makan satu piring.


Melihatnya yang sedikit kepedesan, aku pun mendekatkan gelas berisi air teh hangat, agar dia meminumnya. Lalu mendekatkan tisunya juga.


Dini hanya menatap sedikit ke arahku, lalu dia meminum air yang kuberikan, kemudian melanjutkan kembali makan nasi pecel ayam goreng.


Setelah kita selesai makan, kita pun saling bertatapan, dengan perlahan aku tundukkan pandangan, yang biasanya aku tidak pernah kalah ketika beradu pandang dengannya. namun berbeda dengan kali ini, rasa minder yang begitu mendalam membuatku merasa malu.


"Oh iya, tadi kakak bertanya apa?" tanya Dini mulai membuka kembali pembicaraan.


"Kamu kenapa mencariku?" aku mengulang pertanyaan yang tadi kulontarkan sebelum nasi pesanan kita datang.


Dini mengangkat tangannya yang lentik dan putih. sehingga tidak bisa membedakan antara telapak tangan dan punggungnya, membuatku menatap heran ke arahnya.


"Aku mencari orang yang sudah mengikatku, dengan cincin ini!" Ucap Dini memberikan alasan, kenapa dia mengangkat tangan.


"Maaf, Din! kalau selama ini aku lancang. aku benar-benar mencintaimu, aku sangat menyayangimu, namun kalau itu mengganggumu, aku bisa melepaskan cincin yang ada dijari mu." ucapku sambil tertunduk.


"Tatap mataku dan ulangi perkataan kakak!" tantang Dini


Aku pun mengikuti yang dia minta, mangangkat wajahku dan menatap bola matanya yang indah. mengungkapkan perasaan yang begitu dalam "Aku sayang sama kamu! Aku mau kita menikah!"


"Yang serius dong!" pinta dini sambil tersenyum


"Maaf! kalau aku tidak bisa mengungkapkan suatu perasaan dengan puitis, namun aku benar-benar mencintaimu." ucapku dengan lirih seolah menyerah duluan.


"Kamu manis deh! kalau wajahnya ketakutan seperti itu!" ujar Dini sambil mencubit hidungku, membuat mataku terbelalak.


"Kenapa melotot? dulu aja kakak sering berbuat seperti itu," ujarnya seolah merasa di atas angin, namun melihat sikapnya yang tidak berubah sama sekali, aku merasa sangat bahagia.


"Enggak! kamu boleh membalas semua perbuatan yang pernah aku lakukan, tapi jangan pergi lagi! aku takut kehilangan kamu untuk yang ketiga kalinya. rasanya hidupku mengambang tanpa arah dan tujuan." Aku mengungkapkan perasaanku yang selama ini aku tahan.


"Apakah perkataan kakak serius?" tanya Dini seolah tidak percaya dengan semua kata yang ku ucapkan.


"Aku bingung harus dengan cara apa lagi aku mengungkapkan perasaanku, yang perlu kamu ketahui aku benar-benar sayang sama kamu!"

__ADS_1


"Aku belum percaya!" ujar dini sambil tersenyum membuatku mengerinyitkan dahi, merasa bingung dengan apa yang harus kulakukan, agar hari ini Dini bisa percaya, dengan apa yang ku ucapkan.


"Terus? aku harus dengan cara apa, membuktikan bahwa aku serius dengan semua yang aku ucapkan?"


"Bawa Keluarga kakak! dan lamar kembali aku. seperti kakak melamar ke waktu di rumah sakit, ketika kita menengok anaknya Pak Bayu!" Pinta dini dengan wajah yang serius.


"Besok aku akan datang ke rumahmu, dengan membawa lengkap Seluruh keluargaku. untuk meminta izin kepada kedua orang tuamu." jawabku tanpa berpikir panjang.


"Ya sudah, ayo! kita pulang, waktunya sudah malam." ucap dini yang melihat ke arah pergelangan tangannya.


Aku hanya termenung mendengar permintaannya, seolah tidak percaya Deni yang sudah menjadi anak orang kayak dia memintaku untuk mengantarnya.


"Kenapa diam? Apakah kakak sudah tega membiarkanku pulang sendirian?" tanya dini sambil menarik lenganku.


Aku yang seperti orang yang bod0h, mengikuti tarikan tangan Dini, mengikutinya, menuju parkiran. terlihat Bayu dan ketiga temannya berdiri mengekoriku di belakang.


"Kok masih diam? Ayo Nyalakan motornya!" Pinta Dini mengagetkanku yang sejak tadi melamun.


Dengan sedikit bergetar tanganku mencari kunci motor di Tasku, kemudian menyalakan motor yang biasa menemani kita. ketika berjalan mencari angin atau mencari makanan.


Setelah motor itu menyala, tanpa meminta persetujuanku, Dini pun menaiki motorku, lalu menyuruhku untuk segera pergi meninggalkan tempat di mana kita mulai berkencan.


Di perjalanan pulang kita pun mengobrol hal yang indah dan rencana yang indah pula. sehingga tak terasa motor itu pun berhenti di depan rumah mewah. terlihat di terasnya sudah menunggu Bu asri dan Pak Bagas ditemani Stella sebagai kakaknya dini.


"Mana martabaknya?" tanya Pak Bagas ketika menyambut kedatangan kita. membuatku merasa kikuk, karena aku  lupa dengan kebiasaanku, yang selalu membawa buah tangan ketika bertamu ke rumah orang.


"Sudahlah, Pak! jangan kerjain Dali terus, kasihan dia beberapa hari ini sudah diterpa banyak masalah, mulai dari bapak pukulin, sampai Bapak tidak merestui hubungannya dengan Dini." seloroh Bu Asri membelaku.


Pak Bagas pun tersenyum lalu Melambaikan tangan, agar aku mendekat ke arahnya. dengan perlahan dia pun memelukku.


"Aku titip anak yang baru kembali ke rumahnya, Tolong jangan sakitin dia! aku yakin kamu orang yang baik, namun Kalau terdengar kamu menyakitinya. Bapak yang tua Renta ini, orang yang pertama! yang akan menghajarmu." bisik pak Bagas sambil melepas pelukannya. kemudian dia mengangkat kepala tangan, sebagai ancaman yang serius terhadapku.


Aku hanya mengangguk pelan, tak berani membalas perkataannya, menunduk menatap lantai teras yang berjajar dengan rapi.


"Kamu menunggu apa lagi, menunggu diusir ya?" ujar Pak Bagas.


Mendengar penuturannya seperti itu, membuatku seolah tersadar. dengan cepat aku pun menyalami mereka, untuk berpamitan pergi meninggalkan rumah itu.


"Dali!" Panggil Pak Bagas setelah melihatku pergi melangkahkan kaki.


Aku pun kembali membalikan tubuh, melihat ke arah datangnya suara.

__ADS_1


"Besok malam, kami tunggu janjimu! yang hendak membawa keluargamu untuk melamar anak saya." ujar Pak Bagas membuat mataku terperanjat kaget, karena ketika aku tadi berbicara dengan Dini, tidak ada orang yang mendengarkan pembicaraan kita.


"Kenapa bingung seperti itu, jangan harap sebelum Sah kamu bisa bebas dari pengawasan saya!" lanjut Pak Candra sambil berlalu pergi menyusul ketiga perempuan tercantik yang ada dalam hidupnya.


******


Sebulan berlalu, akhirnya waktu yang kita rencanakan itu pun datang. di mana waktu itu aku akan menikahi wanita yang sangat aku cintai.


"Saya terima nikah dan kawinnya Dini Puspitasari binti Bagaskara dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Bagaimana para saksi, saaah?" tanya Pak penghulu kepada orang yang menyaksikan acara sakral itu.


"Saaaaaaaaaaaah!" jawab orang yang berada di situ dengan serempak.


"Alhamdulillah"


Sehingga membuat semua orang yang berada mengucap syukur yang begitu dalam. Dan Akhirnya hari ini aku resmi menjadi suami.


"Mana pengantin istrinya?" tanya Bapak penghulu, karena surat nikah tidak bisa ditandatangani.hanya dengan seorang saja.


Kemudian keluarlah Sosok Bidadari dari dalam rumah, karena pernikahanku diadakan di rumah Pak Bagas. Sedangkan untuk resepsinya, mereka sudah menyiapkan gedung yang mewah, sebagai hadiah pernikahan anaknya.


Bidadari itu terus berjalan diikuti oleh dua dayang cantik yang berjalan di belakangnya. menuju ke arahku yang masih terpana dengan kecantikan istriku.


Gaun putih nan cantik, membalut tubuh dini. sehingga membuatnya terlihat sangat cantik, tak jarang orang yang menyaksikan pernikahanku, berdecak kagum dengan kecantikannya.


"Assalamualaikum, Kak!" ucap Dini sambil meraih tanganku, lalu mencium punggungnya.


Setelah mencium punggung tanganku, aku pun perlahan mencium keningnya. mendapat perlakuan seperti itu, Dini hanya memejamkan mata seolah dengan ikhlas, dia menyerahkan seluruh tubuhnya untukku.


~TAMAT~


Ini adalah novel kedua. masih banyak kekurangan dan pembelajaran yang harus aku pelajari.  karena penulisan yang sangat buruk, dan alur yang begitu cacad logika. sehingga mungkin membuat buku ini tidak enak untuk dibaca.  Walau buku kedua tapi di tulis bersaamaan dengan buku pertama.


Saya memohon maaf, jika ada nama dan tempat atau kejadian yang serupa. karena cerita ini hanyalah fiktif belaka.


Terima kasih bagi Raider, yang selalu setia membaca novel CINTA SEDERAHANA. kita akan bertemu lagi di novel Ketigaku "dua penghianatan"


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Sukabumi 06.24-sen.25.juli.2022

__ADS_1


__ADS_2