Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 43 MARAH


__ADS_3

Pov dali


"Maaf, itu semuanya tidak benar. aku juga sebagai salah satu karyawan di cafe itu." jawabku menjelaskan agar mereka tidak salah paham.


"Calon suamiku memang seperti itu, dia tidak suka ketika ditinggikan!" ujar stella sambil mencubit pinggangku. posisint yang sedang menggandeng lenganku, sehingga orang lain tidak bisa melihatnya.


"Aduh!" Desisku tertahan.


"Kenapa Dal?" tanya seseorang yang melihatku meringis.


"Nggak apa-apa!" jawabku dengan cepat menguasai keadaan.


Pukul 00.00. akhirnya semua sahabat Stella berpamitan, untuk pulang ke rumahnya masing-masing. dengan senang hati dia pun mengantar sampai parkiran, tak lupa Mengucapkan terima kasih, kepada teman-temannya, yang sudah menghadiri acara yang sangat norak ini. kenapa norak? karena hanya anak kecil, yang ulang tahunnya dirayakan rame-rame seperti ini.


Setelah semua sahabatnya pergi, dan tak terlihat lagi. aku pun segera menghampiri Stella yang masih tersenyum dengan bahagia.


"Kamu apa-apaan sih! pakai harus bohong segala, pakai harus ngaku-ngaku, aku yang mempunyai cafee itu?" cerocosku dengan sangat emosi, kesal. karena tidak suka ada orang melebih-lebihkan yang tidak aku miliki.


"Apa sih. marah-marah? Ayo masuk lagi ke dalam!" ajak Stella yang masih nampak Bahagia, tidak memperdulikanku yang sudah sangat emosi.


"Stella!!!" panggilku dengan kesal.


"Apa? sekarang tugasmu sudah selesai. silakan kamu pulang! dan Jika kamu butuh sesuatu, kamu bisa datang ke hadapanku. akan kusambut dengan tangan terbuka!" jelas Stella seolah mencampakkanku, seperti seorang pria tuna susila, yang mengharapkan pekerjaan dengan menjual kehormatan.


"Maksudnya, butuh apa?" Tanyaku untuk memastikan.


Dia tak menjawab, namun hanya tersenyum aneh. lalu kembali masuk ke dalam rumahnya, tanpa memperdulikanku yang masih berdiri.


Ketika aku mau mengikutinya, aku teringat dengan keberadaan dini. dengan panik, aku susuri semua tempat yang ada di rumah Stella.


"Nyari apa, pak?" Tanya satpam yang melihatku sedang kebingungan.


"Lihat wanita, yang tadi datang bersamaku, nggak?" tanyaku sambil menatap ke arah satpam itu.


Namun tiba-tiba, satpam itu memelukku seperti wanita yang sedang merasa ketakutan, dengan cepat aku lepaskan pelukan itu.


"Ada apa, sih? jangan kurang ajar!" Hardikku yang merasa risih, ketika dipeluk seperti itu. walaupun suatu saat nanti aku belok, aku akan pilih-pilih beloknya, ke yang mana dulu.

__ADS_1


"Alhamdulillah. pembayaran rumah sakit sudah selesai lewat transfer, barusan. pihak rumah sakit mengirim saya bukti pembayaran itu. Terima kasih banyak Pak, Sekali lagi terima kasih." Ujar satpam sambil terharu mau memelukku lagi, namun dengan segera aku silangkan kedua tanganku di depan dada, menolak perlakuannya.


"Terima kasih, buat apa?" aku menatap heran ke arahnya.


"Berarti. non Stella sudah menepati janjinya, dia melunasi semua biaya rumah sakit anak saya, itu semua berkat bapak, karena mau menjadi pacar non Stella." jelas Pak satpam namun aku tidak menghiraukannya, mataku terus memidau seluruh sudut, mencari keberadaan Dini.


Aku  pun segera pergi, meninggalkannya. namun satpam itu menghentikanku lagi, dengan memanggilku.


"Ada apa?  Saya lagi pusing! Saya mencari wanita, yang tadi datang bersama saya!" ujarku mengungkapkan kekesalan.


"Wanita yang pakai baju merah muda bukan, Pak?" Tanya satpam memastikan.


"Iya, itu. kamu melihatnya, gak?" tanyaku sambil menatap arah saat satpam itu, seolah minta penjelasan selanjutnya.


"Oh, itu tadi sudah pulang, diantar oleh sopir Pak Chandra. Katanya kurang enak badan, coba bapak telepon, Siapa tahu saja dia sudah ada di rumahnya!" ide satpam itu yang tidak terlintas di pikiranku, Kenapa aku tidak meneleponnya.


Dengan cepat kuraih ponselku, yang ditaruh di dalam saku celana. aku mencari nomor teleponku, yang dipegang oleh dini lalu memencet tombol Panggil untuk meneleponnya.


Telepon itu terhubung. namun tak ada jawaban, kuulangi beberapa kali, namun telepon tetap tidak diangkat. Aku yakin Dini masih belum tertidur, karena aku melihat tulisan online di nomor whatsapp-nya. bahkan mungkin dia tahu ketika aku menghubunginya.


"Diantar pulang ke mana ya?" Tanyaku sambil terus menerus menghubungi dini.


Setelah mendengar penjelasan sopir yang mengantar Dini, aku pun bergegas keluar gerbang, untuk memesan taksi online. Namun Entah mengapa, orderan ku tidak ada yang mengambil. Aku berjalan mondar-mandir, merasa cemas takut terjadi apa-apa sama Dini, meski sopir yang mengantarnya, mengatakan. bahwa Dini pulang dengan selamat. Aku masih tetap merasa khawatir, apalagi tadi siang orang tua dini menemuinya.


"Kenapa, Pak?" Tanya satpam yang tadi, menghampiriku.


"Aku pesan taksi online, namun tidak ada yang ambil orderanku, Pak." Jelasku mengungkapkan kegelisahan yang sedang menimpaku.


"Jangan panggil, Pak. Panggil Bayu saja! karena walau bagaimanapun, bapak adalah penyelamat saya, jadi cukup saya saja, yang manggil bapak, dengan sebutan bapak." Jelas satpam itu membuatku merasa pusing.


"Panggil saja Dali, jangan bapak-bapakan. Saya belum nikah, belum punya anak!" ujarku menjelaskan, namun mataku tetap terfokus ke layar ponesel. Siapa tahu saja orderanku sudah ada yang menyambut, namun nihil orderan itu masih tergantung dengan status mencari.


"Kalau buru-buru, bapak bisa pakai motor saya, namun motor saya nggak bagus, nggak sebagus motor bapak." tawar Bayu


"Emang boleh?" Tanyaku sambil menatap ke arahnya


"Boleh, pak. motor saya tidak ada apa-apanya, kalau dibandingkan dengan pengorbanan bapak, yang berani menolong orang yang baru dikenal." ungkap Bayu terus mengungkit.

__ADS_1


"Ya sudah, Mana motornya?" Tanyaku yang sudah kehabisan akal.


Bayu masuk ke dalam gerbang, tak lama dia mengeluarkan motor Supra, kemudian memberikan kuncinya kepadaku.


"Aman nggak, nih?" Tanyaku meragukan kekuatan motor itu.


"Aman, pak! saya pernah bawa ke Bogor, dia tidak batuk sama sekali." jelas Bayu bangga.


"Minta nomor HP kamu, takut nanti motornya yang ngadat." ujarku sambil menyerahkan ponsel, untuk meminta nomor HP pak satpam itu.


Setelah memasukkan nomor hp-nya, Bayu pun mengembalikan hp-ku. aku coba miscall nomor HP yang baru dimasukkan, takut nomornya salah.


"Sip, itu nomor saya!" Ungkapku setelah mengetahui ada telepon yang masuk ke satpam itu.


Setelah semua selesai. Aku pun berpamitan, tak lupa Mengucapkan terima kasih, atas pinjaman motornya. dengan cepat kutekan tombol starter, untuk menghidupkannya.


Tanpa basa-basi motor tua itu hidup. kualihkan perseneling gigi ke depan. Kemudian aku menarik tuas gas, dengan garang motor itu pun, melaju meninggalkan rumah mewah milik Stella. membelah suasana malam, yang mencekam. karena Suasananya, sangat berbeda antara siang dan tengah malam seperti sekarang.


Kuarahkan stang motor itu, menuju ke rumah kontrakan Dini. karena menurut sopir yang tadi, dini di antar ke kontrakannya.


"Hai, dal." sapa satpam kontrakan dini, Kenapa malam ini Hidupku dipenuhi dengan satpam satpam?


"Tadi lihat Dini, gak? datang ke sini?" Tanyaku sambil menghampirinya.


"Iya, tadi dia diantar mobil mewah datang ke sini, Emang ada apa? jawab satpam itu memberitahu.


"Nggak apa-apa, Soalnya kunci kontrakanku ada di dia, bisa-bisa aku tidur di jalan, kalau kuncinya dia bawa!" jelasku membuat satpam itu menggaruk-garuk kepala, mungkin dia tidak paham dengan artikulasi kataku.


Dengan cepat kulangkahkan kakiku menuju pintu kamar yang diisi oleh dini, tanpa memperdulikan satpam itu.


Trok! trok! trok!.


Kosan Dini kuketuk dengan pelan, takut membangunkan penghuni kosan yang lain. namun tak terdengar ada pergerakan, yang memberi tanda pintu itu akan terbuka


Kuambil handphone-ku, dan mengirimkan pesan, meminta dini untuk keluar, karena kunci rumahku dibawa olehnya.


Kling! kling! Kling!

__ADS_1


Suara logam yang teratuh membentur lantai, yang terbuat dari keramik. Kualihkan pandangan mengikuti suara, terlihat ada Kunci rumahku sudah tergeletak dibawah. Entah dari mana keluarnya tiba-tiba ada di situ.


__ADS_2