Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 56 AROGAN


__ADS_3

Pov dali


"Katanya mau makan, bukan mau nongkrong kan?" jawabku sambil melepaskan panbel yang mengikat tubuh.


"Makan sih, makan! tapi nggak di tempat gini juga, kali! nanti kalau tidak higienis bagaimana? nanti kalau Aku sakit perut bagaimana?" Gerutu Stella sambil mencembungkan pipi, menekan punggungnya ke jok.


"Katanya tadi terserah, sekarang aku yang pilih, kamunya ngambek?" ujarku sambil tersenyum melihat tingkah lucunya, yang seperti anak berusia 4 tahun.


"Lihat aku! masa cewek secantik ini, kamu bawa makan di emperan begini!" ujar Stella yang melipatkan tangannya, masih menyandarkan punggungnya ke belakang.


"Ya sudah! kalau kamu mau saja, kalau nggak mau. kamu tinggal pulang!" jawabku Acuh sambil membuka pintu mobil, meninggalkan Stella yang masih terlihat cemberut.


"Tunggu! tunggu!" teriak Stella setelah melihatku pergi meninggalkannya.


Stella keluar dari mobil, lalu berlari mengejar ke arahku, dengan cepat lenganku diambil, untuk digandengnya. Seperti para remaja yang sedang Kasmaran, mereka yang merasa hidup cuma berdua.


"Tapi aku, nggak makan ya! aku nemenin kamu saja!" ujar Stella. matanya terus memindai semua area yang ada di warung pecel itu, terlihat beberapa kali dia beriklidik, seolah jijik dengan warung makan ini.


Aku hanya menaikkan alis, sebagai jawabannya. tidak mau memperpanjang perdebatan


Kita berdua pun duduk berdampingan di salah satu meja lesehan, yang sudah disiapkan untuk para pelanggan. tak lama menunggu, Akhirnya salah satu waiter pun menyambut kedatangan kita.


"Pak Dali, Kemana saja. kok, baru nongol?" sapa waiter yang sudah tidak asing dengan kehadiranku, karena memang benar terakhir datang mengunjungi warung makan ini, ketika lagi bersama Dini.


"Ada aja Bang, sibuk!" jelasku membalas senyumnya.


"Pesanan seperti biasa kan?" tanya waiter itu memastikan.


"Ya seperti biasa, nasi pecel ayam 2 porsi!" jawabku sambil mengangkat jempol.


"Aku nggak makan!" ucap Stella menengahi pembicaraan kita.


"Yey! Siapa yang pesenin kamu, itu pesanan aku ya!" Jawabku sambil mendelik ke arah Stella yang berada di samping.


"Banyak amat?" tanya stella sambil membulatkan mata, seolah tidak percaya dengan apa yang ku pesan.


"Biarin!" jawabku seperti biasa cuek.


"Kakak cantiknya, mau makan apa?" tanya waiter itu menyapa Stella.


"Siapa yang mau makan di emperan seperti ini? asal kamu tahu! gua datang ke sini saja sudah tidak level!" Tegas Sella dengan angkuh, membuat mata kita berdua terbelalak dengan sempurna, seolah tidak menyangka dengan sifat wanita yang satu ini.

__ADS_1


"Maaf ya, Bang! jangan diambil hati omongan teman saya!" Ujarku dengan cepat meminta maaf, agar tidak menimbulkan keributan.


Dengan muka yang terlihat kesal, waiter itu pun pergi meninggalkan kita berdua, untuk menyiapkan makanan yang aku pesan.


"Kamu nggak boleh ngomong seperti itu, kamu tidak sopan!" hardiku dengan suara sedikit meninggi, karena  tidak suka dengan sikap Stella yang begitu arogan.


"Kenapa kamu marah? emang kenyataannya tempat ini nggak higienis!" jawab Stella yang tidak mau mengakui kesalahannya.


"Stella! Tidak semua orang bisa seberuntung, seperti keluarga kamu, yang bisa membuka tempat makan yang begitu layak. Kamu harusnya memberikan apresiasi! karena mereka masih bisa berusaha, tanpa harus merugikan orang lain. Dan Kalau kamu tidak suka, cukup kamu pendam saja! jangan sampai diutarakan! sehingga perkataanmu menyakiti orang lain." aku menasehati Stella karena walau bagaimanapun ,Stella adalah sahabatku, yang harus diingatkan, ketika dia melakukan kesalahan.


"Terus aku harus bagaimana?" tanya Stella yang terlihat sedikit meringis, setelah melihatku berbicara dengan menggebu-gebu.


"Biarkan saja! jangan memberikan tanggapan apapun, kamu cukup diam saja! Dan kalau kamu tidak bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain, minimal kamu tidak menyakitinya!" aku memberikan penjelasan, agar stella mengerti tentang tata cara menghormati orang lain.


"Terus, sekarang aku harus bagaimana?" tanya Stella sambil menatap ke arahku, seolah dia mulai sadar dengan apa kesalahannya.


"Kalau berbuat salah, ya meminta maaf, kalau disakiti, ya memaafkan!" jelasku.


"Oooooh, jadi aku harus minta maaf, sama pelayan tadi?" Stella bertanya kembali.


Aku hanya menganggukan kepala, seolah mengiyakan pertanyaannya, menyetujui agar Stella meminta maaf sama waiter tadi.


Akhirnya suasana pun menjadi tenang kembali, merasa amarahku yang sudah memuncak, seolah sirna setelah melihat stella mengakui kesalahannya.


"Maafin saya, Kak! kalau saya kelewatan!" ujar Stella yang tiba-tiba, sehingga membuat pelayan itu menatap ke arahnya, Mungkin dia memastikan, dengan apa yang barusan dia dengar.


Aku merasa kagum dengan keberanian dan kebesaran hati Stella. untuk mengakui kesalahannya, Karena sedikit orang yang mempunyai sikap seperti itu.


"Nggak apa-apa, kak! kalem saja!" ujar pelayan itu sambil tersenyum, kemudian mempersilahkan kita, untuk menikmati makanan yang baru ia hidangkan. setelah itu dia pun pergi meninggalkan kembali kita berdua, membiarkanku untuk menyantap dan menikmati makanan yang aku beli.


"Emang habis, kamu makan segitu banyak?" tanya Stella sambil menyipitkan matanya menatap ke arahku.


"Ini porsi saya!" jawabku sambil mendekatkan piring yang berisi nasi dengan lauk ayam bakar.


Setelah membaca doa, aku pun menundukkan kepala, agar tanganku tidak terlalu bekerja ekstra, ketika hendak memindahkan nasi yang berada di piring ke mulutku.


Seperti biasa, ketika aku makan, aku tidak akan berbicara. walaupun Stella terus mengajakku untuk mengobrol.


"Enak banget ya!" tanya Stella sambil terus menatap ke arahku. Memperhatikan caraku ketika memakan nasi.


Aku hanya menganggukan kepala, tanda mengiyakan pertanyaannya.

__ADS_1


"Mau nyoba dong, tapi suapin ya!" Pinta Stella manja, Mungkin ia tidak penasaran melihat Ekspresiku menikmati makanan itu.


Tak Ada Jawaban yang keluar dari Mulutku, aku hanya membulatkan nasi dengan jari jemariku, lalu mencampurkan lauk-pauknya. kemudian mendekatkannya ke arah mulut Stella.


Dengan ragu-ragu, Stella pun membuka mulutnya, dengan cepat aku masukkan nasi yang ada di tanganku, sehingga dengan terpaksa Stella mengunyah nasi, yang baru masuk ke dalam mulutnya.


Stella mengunyah makanan yang ada di mulutnya dengan perlahan, merasakan rasa yang dikeluarkan oleh nasi pecel ayam itu. sehingga lama-kelamaan kunyahannya semakin cepat, menandakan dia menikmati makanan yang ada di mulutnya.


"Enak banget!" ujar Stella sambil mengkerlingkan matanya ke arahku, seolah tidak percaya dengan rasa yang ditimbulkan oleh nasi yang dibeli dari Pinggiran.


"Lagi dong!" Serunya sambil membuka mulut.


Akhirnya aku pun sibuk dengan menyuapiku dan menyuapi Stella, sehingga nasi dua piring itu habis tak tersisa.


"Nih, minum!" seruku sambil menyodorkan air teh yang sedikit panas, setelah Stella menghabiskan nasi yang ada di mulutnya.


"Wow! Baru kali ini, aku merasa nikmat meminum air teh!" ungkap Stella setelah meneguk beberapa air teh itu.


Memang benar setelah memakan makanan pedas, kemudian diakhiri dengan minum air teh yang sedikit panas, itu nikmatnya luar biasa, nikmat yang tidak bisa digambarkan dengan tulisan.


"Makanya Jangan menilai dari sampulnya, sebelum kamu membaca isinya." ucapku mencibir Stella, yang tadi merendahkan warung pinggir jalan.


"Iya deh, iya! aku kan sudah minta maaf." jawab Stella yang kembali cemberut.


"Mukanya jangan ditekuk terus! nanti terlihat kerutannya." ujarku meledek Stella.


"Biarin! biar nggak ada yang suka, biar hanya kamu yang mencintaiku!" ujar Stella yang tidak nyambung


Aku memanggil waiter, untuk kembali mengisi air teh yang sudah dihabiskan oleh Stella, yang awalnya dia malu-malu, sekarang dia yang paling rakus, sehingga satu mug air teh habis diteguknya.


Di tengah pembicaraan kita berdua. aku mengeluarkan handphone, untuk mengeceknya. berharap, Siapa tahu saja Dini membalas pesanku.


"Kenapa mukanya tegang gitu?" tanya Stella yang melihat perubahan raut wajahku.


"Nggak tahu, aku mengeChat teman dari tadi malam, namun dia belum membalasnya, apa jangan-jangan nomor kontakku diblokir olehnya, ya?" aku menjelaskan sambil bertanya, karena pesan yang kukirim hanya menunjukkan centang satu, ditambah dengan foto profil kontaknya yang menjadi silver.


"Pasti kamu mau mengecat si Dini ya?" tanya Stella membuatku sedikit merasa heran, dari mana dia mengetahui nama orang yang hendak aku chat.


"Kamu tahu dari mana?" selidiku dengan penuh penekanan.


"Tahulah! Apa sih yang nggak tahu tentang kamu!" jawab Stella dengan bangga.

__ADS_1


"Iya gara-gara kamu! dia salah paham dengan kita, sehingga dini semakin menjauh." curhatku sehingga membuat Stella kembali mendengus dengan kesal.


"Kamu! bisa nggak sih! kalau lagi bersamaku, jangan membahas orang lain!" pinta Stella sambil menundukkan pandangan, merubah sikapnya dari yang begitu kasar dan periang, menjadi mellow seperti itu! membuatku menjadi salah tingkah, merasa tidak enak karena menyakiti perasaanya.


__ADS_2