Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 22 MEMBALAS KEBAIKAN MEREKA.


__ADS_3

Pov dini


Sejam berlalu, akhirnya mobil yang dikemudikan Kak Dali berhenti di depan kosanku. dengan cepat aku bergegas turun, lalu masuk ke dalam kosanku, untuk mengambil beberapa pakaian buat ganti, selama tinggal di kontrakan Kak Dali.


Setelah semuanya dirasa cukup, aku kembali menghampiri mobil yang terparkir di halaman kosan, terlihat Kak Darda dan Kak Angga yang sudah terbangun.


"Sudah?" tanya Kak Dali, sambil menundukkan punggungnya agar jelas melihatku.


"Sudah, Kak. maaf membuat kalian jadi menunggu" ucapku sambil melepas tali tas, yang kugendong. agar mudah untuk dipeluk ketika duduk.


"Iya, asal jangan keseringan aja," Celetuk Kak Darda, sambil tersenyum, namun beberapa kali terlihat dia menutup mulut mungkin masih merasa ngantuk.


Mobil itu kemudian mundur, untuk keluar dari area parkir kosan, setelah keluar, mobil itu melaju, menuju tempat Kak Dali, mungkin yang kulakukan ini salah, aku meng-iyakan tinggal bareng bersama Kak dali. Namun aku tidak ounya pilihan, aku juga takut kalau tinggal sendirian, takut ada orang yang berbuat seperti kak Dani. Lagian Bukankah ini jalan untukku, untuk bisa lebih dekat dengannya.


Di mobil pun terasa sanagt riuh, tidak seperti tadi, ketika. mereka berdua tertidur. terdengar candaan-candaan yang dibarengi dengan suara ketawa yang renyah, memenuhi setiap sudut mobil yang ku kendarai.


"Kak Darda, Kak Angga" panggilku, sambil menoleh ke arah kursi belakang.


"Yah, kenapa Din?" tanya Kak Darda  dengan Tatapan yang penuh keheranan.


Aku mengeluarkan amplop coklat dari dalam tas, lalu Kuberikan sama Kak Darda.


"Apa ini" ungkap Kak Darda sambil memperhatikan amplop itu.


"Uang Kak, buat ganti biaya rumah sakit, dibagi dua ya! sama Kak Angga"  ucapku dengan penuh percaya diri, bisa membalas kebaikan mereka.


"Dari mana, kamu punya uang?" tanya Kak Angga, sambil menatap ke arahku penuh selidik.


"Dulu pas kabur dari Bandung, Aku menjual cincin pertunangan, hasilnya sebagian aku pakai, untuk ongkos dan membeli keperluan keperluan lainnya, sisanya tinggal segitu" aku menjelaskan agar mereka tidak berpikiran macam-macam, dari mana uang itu kudapat. Lagian mereka orangnya baik jadi aku tidak perlu takut, untuk menceritakan kisah hidupku yang penuh drama.

__ADS_1


"Kok bisa seperti itu" selidik kak Angga, penuh rasa penasaran.


Namun kak Darda menyenggol kak angga dengan sikutnya, "sudah nanti, aku ceritakan Nga, oh iya nggak apa-apa kan Din, aku. cerita kasah hidupmu sama Angga?" ujar Kak Darda sambil menatap ke arahku.


"Nggak apa-apa Kak," jawabku memberikan setengah senyum untuknya.


"Coba hitung duitnya ada berapa?" seru Kak Angga, sambil menyalakan lampu tengah.


Setelah lampu belakang dinyalakan, dalam mobil itu jadi terang. Kak darda mengeluarkan isi amplop, yang baru aku berikan, dengan teliti dia menghitung uang itu.


"Kurang" ucap Kak Darda sambil memperlihatkan uang yang ada ditanganya Ke kak Angga.


Deg!!


Jantungku Berhenti seketika, padahal uang itu, menurutku sangat banyak, karena itu adalah uang yang paling banyak, yang pernah aku pegang. namun mungkin tidak, bagi Kak Darda. sehingga dia berucap seperti itu, padahal aku udah berharap, ketika uang itu diterima mereka akan memujiku. karena aku bisa membalas kebaikan mereka, Aku hanya bisa menatap nanar ke arah Kak Darda, seolah tidak percaya dengan apa yang baru diucapkannya.


"Kurang berapa" Tanya kak Angga, yang memicingkan mata.


Lalu dengan sigap kak angga, mengambil uang yang ada di tangan Kak Darda, untuk kembali menghitungnya. terlihat wajah kak angga sangat masam, setelah mengetahui jumlah uang yang ada di tangannya. Lalu dia menarik nafas beberapa kali, membuatku merasa tidak nyaman, menghadapi situasi seperti ini.


"Bener kan kurang?, padahal kita bayar rumah sakit saja habis lima belas jutaan, belum termasuk jasa penunggu pasien, dan penyelamatan dirumah kakaknya," ucap kak Darda terdengar berat, menandakan ucapanya serius, membuat mulutku menganga, mengetahui biaya yang dikeluarkan mereka, untuk mengobatiku di rumah sakit.


Kalau yang dikatakan Kak Darda, benar seperti itu, berarti memang benar uangku sangat kurang, apalagi kalau ditambah untuk membayar kebaikan Kak Darda, yang setia menemaniku selama di rumah sakit.


"Iya, apalagi kalau mengundang pengacara seperti ini, datang ke klien langsung, bayarannya harus mahal, kerena butuh uang transfort. Makanya biasanya para klien yang meminta bantuan hukum, mereka akan lebih memilih datang ke kantor, biar gak bayar uang transfort," tambah Kak Angga. Menjelaskan biaya, yang biasanya dikeluarkan oleh orang yang akan memakai jasa pengacaranya.


"Maaf, Kak. Kalau boleh tau kurang berapa ya?" Aku memberanikan diri untuk bertanya, walaupun dengan suara yang agak sedikit tertahan, rasa malu dan rasa sedih bergejolak dalam satu suasana. Malu karena aku hanya bisa merepotkan, sedih karena aku tidak bisa membalas kebaikan mereka.


"Banyak" jawab Kak Angga Ketus.

__ADS_1


"Mohon maaf Kak, nanti saya bayar kekurangannya. sekali lagi aku minta maaf" aku berucap sambil menundukkan kepala.


"Nggak mau kalau dicicil seperti itu, uang kita bisa habis Nggak berbentuk, sekarang kamu pegang lagi uangnya, setelah terkumpul baru kamu berikan kepada kita!" Kak Angga, memberikan kembali uang yang ada di tangannya, setelah Dia memasukkan ke dalam amplop.


"Nggak Kak, Simpan di Kakak aja, nanti kalau aku sudah punya uang, aku janji akan segera melunasinya," tolakku, tidak menerima uang yang diberikan kembali oleh Kak Angga.


"Terima! atau saya lipat gandakan hutangmu dengan bunganya" ancam Kak Angga, sambil menatapku serius.


Aku menoleh ke arah Kak Dali, meminta bantuannya, namun ia terlihat cuek, seolah tidak mempedulikan dengan keadaanku yang terdesak dan malu seperti sekarang.


"Ambil, atau aku tambahkan lagi bunganya menjadi tiga kali lipat" paksa Kak Angga dengan intonasi suara yang agak tinggi.


Dengan gemetar,aku mengambil kembali uang itu, lalu menyimpannya di pangkuan.


"Tidak semua pertolongan atau kebaikan itu, bisa dibalas dengan uang, karena orang yang menolong dengan rela hati. mereka akan tersinggung, bukan mereka tidak mau dibalas, namun ketika mereka menolong dengan uang, maka orang itu berarti mempunyai uang lebih. dan tidak ingin dibayar dengan uang kembali. yang perlu kamu tahu!, walau orang itu tidak mau dibalas Budinya. Namun ketika  suatu saat. orang yang menolongmu, kesusahan. Dan kamu bisa membantu, maka Bantulah mereka, semampu kamu." Jelas kak Darda, membuatku semakin menundukkan kepala, Terpukul di ulu hati dengan perkataannya.


Kak Darda yang terlihat biasanya sangat kocak, namun kali ini Dia terdengar serius, dengan apa yang disampaikan.


"Mafin aku, Kak. aku tidak tahu cara membalas kebaikan kalian semua, sekarang yang Aku punya hanya ini. Sebagai  barang berhargaku, jadi tadinya aku pikir aku bisa membalas kebaikan kalian, sekali lagi maaf atas kebod0hanku" ujarku sambil menundukkan pandangan, menatap Amplop yang ada di pangkuan. tak terasa butiran bening jatuh ke pipi setelah lama menggenang di mata.


Aku sedih bukan karena perkataan Kak Darda ,namun aku sedih karena ketidakmampuanku,menghadapi semua masalah yang menimpa, sehingga harus banyak orang yang terlibat, dan yang menyayat hati. aku tidak bisa membalas kebaikan mereka. hanya uraian air mata yang membasahi pipi, sebagai luapan emosiku.


"Udahlah, kalian bercandanya jangan kelewatan sampai Dini nangis begini" ucap Kak Dali, sambil mengusap kepalaku yang tertutup hijab. Memberikan ketenangan di saat jiwaku terasa remuk tak tersisa. Aku kira dia tidak peduli denganku, tapi perkiraanku salah. dia datang dengan sayap yang mendekapku, untuk melindunginya.


"Hahaha. cengeng banget sih, masa baru gitu aja sudah nangis" ucap ke Angga, dibarengi suara tawa, membuat tangisku pecah karena tertahan beberapa saat.


"Lah, kok makin keras" tanya kak  Dada yang terdengar gelagapan, lalu mendekatkan kepalanya kekursi depan, memastikanku bahwa aku sedang nangis beneran, setelah tahu bahwa aku memang sedang menangis, ia memberikan tisu untuk menyeka air mataku.


"Kalian semua jahat, kalian mengerjaiku seperti ini, aku takut kalian benar-benar marah, aku takut harus kehilangan orang-orang yang peduli terhadapku," ucapanku tersendat-sendat sambil mengusap air mata, yang membasahi area pipiku.

__ADS_1


__ADS_2