Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 61 DI LAMAR


__ADS_3

Pov Dini


"Maksudnya bagaimana? Adik manis!" tanyaku sambil mencubit gemes hidung malaikat Mungil yang ada di hadapanku.


"Iya Ibu Pri! Mau nggak punya bapak Pri?" tanya Syifa sambil menatap serius ke arahku bak orang dewasa yang sedang berbicara.


"Caranya bagaimana?"  Tanyaku yang semakin gemas. Rasanya pengen sekali menc1um pipinya.


"Ya caranya, Ibu Pri harus menikah dengan bapak Pri! Masa Gitu saja Ibu Pri tidak tahu?" ujar Syifa sambil menggeleng-gelengkan kepala, seolah lagi menghakimiku yang tidak mengerti apa-apa.


"Nikah kan, harus ada orangnya! Terus ibu pri nikah sama siapa?" aku bertanya meladeni semua pembicaraan anak yang berumur 4 tahun ini, yang kadang tidak bisa dimengerti oleh logika.


"Iya, Jawab dulu! Ibu mau, apa nggak?" tanya Syifa sambil mencembungkan pipinya, semakin terlihat menggemaskan.


"Iya mau?" jawabku dengan terpaksa.


"Gitu dong! kalau mau, nanti aku kenalkan sama bapak Pri! biar Ibu bisa nikah sama bapak, jadi ibu pri dan bapak Pri bisa menikah!" jelas Syifa dengan raut wajah datar.


Mendengar pembicaraan yang seperti itu. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lakunya, yang begitu menggemaskan. rasanya kalau kesehatannya sudah kembali pulih, Aku ingin memeluknya, dan Kalau orang tuanya mengizinkan Akan kujadikan adek, karena memang Syifa ini sangat menyenangkan, ketika diajak berbicara. Dia anak priang, meski sakit yang begitu berat dideritanya.


"Serius! kamu mau menikah denganku?" Ujar suara seorang pria yang berada di belakangku.


Aku yang sejak tadi mengobrol dengan Syifa, tak menyadari kedatangan seseorang yang berada di belakangku, sehingga dengan cepat aku memalingkan pandangan ke arah datangnya suara.


"Kak Dali!" gumamku dengan pelan, setelah mengetahui Siapa orang yang menyapaku.


"Iya, aku Dali! hari ini aku melamarmu! Maukah kamu menikah denganku?" Ucapnya sambil menekuk satu lututnya, menjadikan tumpuan agar lebih rendah, dibandingkan dengan Posisiku yang sedang berdiri. kemudian dia membuka kotak berbentuk hati, berwarna merah. terlihat di dalamnya ada dua buah cincin, yang mungkin sudah dipersiapkan sejak awal.


Aku hanya menatap nanar ke arahnya, tanpa merespon apapun, merasa kaget dengan pertanyaan berat dan begitu mendadak.


Kak Dali yang sedang berlutut memohon di hadapanku, Iya terus menatap ke arahku, seolah tidak sabar, menunggu jawaban yang hendak aku berikan, terlihat dari raut mukanya yang begitu tegang.


"Mau nggak? Kamu menjadi istriku?" tanya Kak Dali mengulang pertanyaannya.


Rasa Bahagia bercampur Haru, menyelimuti keadaanku sekarang. namun ada rasa takut yang begitu amat dalam, takut dengan ancaman Kak Stella tempo hari, ketika dia tidak Bisa Memiliki Kak Dali, maka aku juga tidak akan bisa.


Perlahan tangan Kak Dali mengambil satu buah cincin yang ada di dalam kotaknya,  lalu meraih jemariku menarik ke dekatnya, untuk memasukkan cincin itu ke jari manisku.


Namun aku dengan cepat menarik tanganku, yang sedang digenggamnya. karena aku sudah berjanji, tidak akan berhubungan dengan Kak Dali. meski hanya dengan bertutur sapa, apalagi saat ini dia mengajakku untuk menikah.


"Kenapa?" tanya Kak Dali yang menatap nanar ke arahku. Karena Mungkin dia tidak menyangka aku akan menolaknya.


Aku hanya menggelengkan kepala, tak terasa butiran bening keluar dari sudut mataku, merasa sedih karena tidak bisa mewujudkan harapan yang selama ini aku kejar, padahal hanya selangkah lagi harapan itu menjadi kenyataan.


Mungkin memang Aku ditakdirkan untuk menjadi orang yang tidak berbahagia, karena kebahagiaan yang sudah berada di hadapan mata, aku tidak bisa meraihnya.

__ADS_1


Kak Dali bangkit, lalu memeluk tubuhku dengan erat, seolah tidak mau melepaskanku kembali.


"Maafkan aku, Din! Maafkan! karena selama ini, aku menjadi pengecut. tidak berani mengungkapkan perasaan yang begitu besar terhadap kamu, rasa minder karena kehidupanku yang belum layak, membuatku menunda pengakuan Rasa sayangku, terhadap kamu. Dan trauma yang begitu mendalam, sehingga aku semakin terlihat menjauh darimu. Baru kali ini, aku bisa mengungkapkan perasaanku, Aku sayang banget sama kamu, tolong! jangan pergi lagi!" ucap kak Dali dengan suara sedikit terisak, melepaskan beban yang selama ini ia pendam. mungkin beginilah ketika laki-laki sudah menangis, laki-laki itu benar-benar sedih atau benar-benar bahagia.


"Aku sayang kamu! aku cinta sama kamu! Aku mau kita secepatnya untuk menikah!" ungkap Kak dali melanjutkan perkataannya.


Perlahan kulepaskan pelukannya, agar aku terbebas dari genggaman itu, supaya bisa berkata dengan tegas, tentang perasaanku sekarang terhadapnya.


Dengan tidak rela Kak Dali melepaskan pelukannya, namun kedua tangannya masih memegang pundakku, menatap tajam kedua bola mataku, seolah dia ingin tahu, tentang apa yang ada dalam hatiku.


"Maafkan Aku, Kak! aku tak bisa!"ucapku dengan suara lirih, tak kuasa menahan rasa sakit yang seketika hadir dalam dada, rasa kecewa karena aku tidak bisa menggapai semua angan dan harapanku.


"Maksudnya tidak bisa, apa?" tanya Kak Dali dengan menautkan kedua alisnya.


"Aku tidak bisa menjadi yang kakak inginkan!" jawabku dengan suara terbata, lalu menundukkan pandangan, tak berani menatap ke arahnya.


Terdengar tarikan nafas yang begitu berat dari mulut Kak Dali, melepaskan  beban yang begitu rumit yang sedang di hadapi?"


"Kenapa?" tanya Kak dari dengan suara parau.


Aku yang tak bisa menceritakan semua beban yang sedang kuhadapi sekarang, hanya bisa mengeluarkan isak tangis yang terdengar begitu menyakitkan.


"Kenapa kamu menangis, tolong kasih aku suatu alasan! kenapa kamu tidak mau menikah denganku?"


"Maafin aku, sayang!" ujarku sambil menyeka air mata, agar tidak terlihat sedang sedih, ketika menenangkan Syifa, namun air itu tidak bisa membohongi keadaanku, yang sedang sangat sedih. Air itu terus mengalir membasahi pipiku.


Cklek!


Terdengar pintu ruangan itu terbuka, lalu masuklah beberapa orang, mungkin mereka merasa kaget, dengan tangisan Adek Syifa.


Namun ada pemandangan aneh, di antara kerumunan orang oranga masuk ke ruangan kamar Syifa dirawat. karena aku melihat ada Kak Stella, yang mengikuti masuk ke dalam ruangan, sehingga membuatku bertanya-tanya, apakah mungkin dia akan membunuhku atau membunuh kak Dali, menjalankan semua ancamannya. Aku yang merasa takut, membuatku semakin menundukkan pandangan, tidak berani menetap ke arahnya, aku pura-pura fokus menenangkan Syifa, yang terus menangis.


Ibu Syifa pun mendekati anaknya, lalu dengan pelan mengusap-usap rambutnya, agar Syifa menjadi lebih tenang tidak menangis seperti sekarang.


Setelah Syifa agak tenang. perlahan Kak Stella mendekatiku, yang merasa takut dengan kehadirannya, aku yang sedang dilanda ketakutan, hanya bisa menundukkan pandangan, memperhatikan susunan lantai yang kupijak.


"Din!" Panggil Kak Stella dengan suara lembut, tak seperti ketika dia menyekap ku di rumahnya.


Aku hanya mengangkat pandangan, menatap ke arahnya yang berdiri di dekatku. Tak berani menjawab sapaannya.


"Maafkan Aku! kalau waktu itu membuatmu trauma. Aku menyesal telah melakukan hal bod0h seperti itu, Aku tahu dan aku yakin, bahwa. kamu bisa menjadi istri yang baik untuk orang yang Aku sayang, aku tidak khawatir Dali, tidak bahagia ketika hidup bersamamu!" ucap kak Stella dengan tiba-tiba, kemudian mendekap tubuhku, sambil mengusap-ngusap punggungku, seperti kakak yang sedang menguatkan seorang adiknya.


Dengan perlahan aku pun membalas pelukan kak Stella, pelukan yang begitu hangat. sehingga Mengundang perhatian semua orang yang ada di sini, mereka menatap heran ke arah kita, karena tidak ada satu orang pun yang mengetahui tentang penculikanku waktu itu.


Penculikan yang berbuah ancaman, aku tidak boleh mendekati Kak Dali. Dan ketika aku melanggar perjanjian itu, maka salah satu dari aku dan kak dali, akan lenyap dari dunia ini.

__ADS_1


Setelah berpelukan yang begitu lama, perlahan Kak Stella pun melepaskan pelukan itu, kemudian menetap ke arah Kak dali, dengan Tatapan yang begitu sendu. terlihat matanya yang cantik sedang berenang dengan air kesedihan, namun itu dia sembunyikan dengan senyum manis, yang menghiasi bibirnya.


"Dali mendekat ke sini!" Pinta Kak Stella.


Dengan wajah yang masih penasaran, Kak Dali pun mendekati kita.


"Ini, Ada apa sebenarnya?" tanya Kak Dali yang terlihat keheranan, tangannya masih memegang kotak cincin dan cincinnya, yang tadi hendak dipasangkan di jari manisku.


Kak Stella tidak menjawab pertanyaan Kak Dali, namun dia meraih cincin yang ada di tangan nya. dengan tidak ikhlas Kak dali pun melepaskan cincin itu, memberikannya kepada Kak Stella, membuat semua orang yang berada di ruangan ini, menatap ke arah Kak Stella dengan apa yang hendak ia lakukan.


Setelah cincin itu berada di tangannya, Kak Stella pun mengambil tangan kananku, lalu memasangkan cincin yang diambil dari Kak Dali ke jari manisku, membuatku menatap heran ke arahnya.


"Aku titip dia ya! aku yakin kamu adalah pilihan terbaik untuknya!" ucap Kak Stella sambil tersenyum, menyembunyikan rasa pilu yang ada di hatinya.


Setelah berkata demikian. Kak Stella pun berbalik ke arah Kak Dali, dengan Tatapan yang begitu sayu, dia kembali mengangkat sudut bibirnya.


"Titip Dini, jangan sampai kamu menyakitinya, kamu sudah membuat pilihan yang begitu berani, pilihan mengabaikan perasaan cintaku, yang begitu besar. demi untuknya, untuk dini yang tidak ada apa-apanya! Jika dibandingkan denganku." ucap kak Stella sambil tersenyum, agar suasana lebih mencair.


Kemudian dia meraih tangan Kak Dali, lalu menyatukannya dengan tanganku. mengikatkan sebuah janji, untuk saling menyayangi, dan menjaga satu sama lain.


"Sekarang kamu pasangkan cincin satunya di jari Dali!" Seru Kak Stella. bak Mak Comblang yang sedang menyatukan kedua Insan.


Seperti terhipnotis aku pun mengikuti perintah Kak Stella, mengambil cincin yang masih berada di kotak yang dipegang Kak Dali. kemudian memasangkannya ke jari  manis Kak dali.


Setelah cincin itu terpasang dengan sempurna, aku dan kak Dali saling bertatapan, perlahan kedua sudut bibir kita mengangkat dengan sempurna. merasa bahagia dengan apa yang terjadi sekarang, bahagia karena akhirnya salah satu dari harapanku bisa terwujud.


Dengan perlahan Kak Dali pun mendekatiku, lalu memeluk dengan erat. pelukan yang begitu menenangkan, sehingga aku pun membalas pelukan itu, memeluk pria yang selama ini selalu hadir dalam mimpi indahku.


Tring! tring! tring!


Rasa haru itu terganggu dengan suara telepon yang berbunyi, dengan cepat kita pun melepaskan pelukan itu, seolah tersadar bahwa di sini bukan hanya kita berdua.


"Hallo! Iya ada apa?" tanya Kak Stella. ternyata handphone yang berbunyi itu adalah miliknya.


Tak terdengar Apa yang dibicarakan dari ujung sana, namun Kak Stella terlihat sangat panik, entah apa yang terjadi dengan orang yang meneleponnya.


"Ya sudah, aku pulang sekarang!" ujar Kak Stella sambil menutup telepon itu, lalu memasukkannya ke dalam tasnya kembali.


Tanpa ada perkataan apapun, Kak Stella dengan bergegas menuju ke arah pintu, untuk segera pergi meninggalkan rumah sakit.


Melihat tuannya yang pergi, dengan keadaan yang terlihat panik, Pak Bayu dengan cepat mengikuti Kak Stella, untuk memberikan pengawalan, sesuai dengan pekerjaannya.


Aku dan kak Dali pun kembali bertatapan, merasa heran dengan apa yang sebenarnya terjadi kepada Kak Stella. sehingga pergi terburu-buru tanpa berpamitan terlebih dahulu.


Namun itu tidak lama, bibir kita kembali terhiasi oleh senyum bahagia, seolah seperti orang yang jahat, tidak mau peduli dengan kesusahan orang lain, memang benar Apa yang diucapkan oleh para pujangga, bahwa cinta itu sangat memabukkan. Sehingga melupakan orang yang bisa menyatukan kita.

__ADS_1


__ADS_2