Barista Mencari Cinta

Barista Mencari Cinta
part 53 TERUS MENDEKAT


__ADS_3

Pov Dali


Setelah diusir penghuni kosan lainnya, dengan malas aku Kembali menuju pos satpam, di mana Anwar sudah menungguku.


"Bagaimana?" tanya Anwar yang menatap penasaran ke arahku.


Aku hanya menaikkan kedua Bahuku, tanda tidak ada respon positif yang diberikan oleh dini. kemudian aku duduk kembali di kursi yang tadi aku tinggalkan, berhadapan dengan Anwar.


"Lagian Kenapa tadi kamu nggak kejar dia? setelah kamu mengucapkan perasaan cinta sama dini, dengan kamu tidak mengejarnya, Kamu terlihat main-main, tidak punya pendirian." ucap Anwar menyalahkanku, karena tadi di kantor polis aku membiarkan Dini pergi.


"Iya, War. aku juga nyesel, namun urusan di kantor polis, lebih penting daripada urusan cinta-cintaan. mengingat kalau meyakinkan cintaku sama Dini bisa ditunda." ucapku sambil menghela napas panjang, seolah menyesalkan kejadian tadi pagi.


"Nah, itu yang salah. mungkin dini menganggap kamu mempermainkannya." ucapan Anwar yang terus memojokkanku.


"Bingung!" ucapku sambil bangkit dari tempat duduk, lalu menuju ke arah motor, berjalan seperti orang yang sedang tidak punya tujuan, seperti orang yang linglung dengan keadaan.


"Eh, kamu mau ke mana?" teriak Anwar sambil bangkit ketika melihat ku pergi.


"Pulang!" jawabku singkat seolah tidak punya semangat untuk hidup. kemudian mengkik starter motorku, pergi meninggalkan kosan dini, untuk pulang ke rumahku.


Sesampainya di rumah baru, dengan cepat kumasukan motorku ke dalam garasi, lalu masuk ke dalam rumah. mengambil handuk, untuk membersihkan tubuhku, dari debu-debu jalanan yang menempel ketika aku beraktivitas.


Setelah melaksanakan salat Isya, aku membaringkan tubuhku di atas kasur untuk mengistirahatkan pikiran yang seharian terus bekerja, memikirkan semua masalah yang terjadi baru-baru ini. mulai dari pencabutan tuntutan dini, sampai perasaanku yang belum mendapatkan jawaban.


Kuraih ponselku untuk mengucapkan selamat tidur buat Dini, walaupun aku tahu dia tidak akan pernah membalas pesanku. namun aku tetap melakukan, Karena untuk sekarang Hanya itu yang bisa aku kerjakan, untuk mendekatinya, meluluhkan hatinya, yang Sekeras Batu, yang bisa marah begitu saja, tanpa mau mendengarkan penjelasan terlebih dahulu.


Setelah pesan itu terkirim, aku coba memejamkan mata membayangkan hal-hal yang indah di kemudian hari. sehingga membuat mataku mulai tertutup sempurna, menyambut mimpi-mimpi yang begitu indah, yang tidak sesuai dengan kenyataan.


Pukul 04.00. aku terbangun dari tidurku. seperti biasa aku membersihkan badan terlebih dahulu, sebelum menuju ke masjid untuk melakukan salat berjamaah. karena hanya dengan cara ini aku bisa bersosialisasi dengan para warga lainnya, sehingga ketika aku membutuhkan tenaga, mereka dengan siap membantu. begitupun sebaliknya dengan aku yang bisa membantu warga-warga lainnya.


Pukul 05.30. Seperti biasa aku memesan makanan melalui aplikasi ojek online, untuk dikirimkan ke alamat dini. walaupun dia belum merespon apapun, namun aku tetap melakukan hal itu, karena sudah kebiasaanku memberikan sarapan untuknya, sebagai bukti bahwa aku peduli dengannya.


Pukul 07.30. aku keluar menggunakan motor kesayanganku, motor yang sudah bertahun-tahun menemani hidupku. menuju salah satu rumah sakit untuk menengok keadaan anak Bayu, pasca operasi. tak lupa Sebelum sampai, aku mampir dulu di supermarket untuk membeli buah buahan, sebagai buah tangan untuk keluarga Bayu.


"Assalamualaikum" ujarku sambil mengetuk pintu ruangan rawat anak Bayu.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, masuk pak!" ujar Bayu setelah membukakan pintu.


"Bagaimana kondisi anaknya?" Tanyaku sambil meletakkan bingkisan buah di atas nakas rumah sakit.


Terlihat kondisi anaknya yang begitu mengkhawatirkan, beberapa alat bantu pernapasan, serta infusan, yang masih menempel di tubuhnya.


"Alhamdulillah sudah baikan, Pak. tinggal menunggu penyembuhannya saja." jawab Bayu dengan lesu, namun terlihat raut kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.


"Syukurlah kalau begitu." ucapku sambil duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh Bayu.


"Terus bagaimana, keadaan pacar bapak, apakah sudah baikan?" tanya Bayu sambil menatap ke arahku.


Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya, tak mungkin menceritakan masalahku yang begitu pelik ke orang lain, apalagi keadaan Bayu yang sedang menghadapi cobaan begitu berat, aku tidak mau membebaninya dengan masalahku.


"Maafkan saya, pak. gara-gara saya hubungan bapak jadi renggang!"  Ucap Bayu sambil menundukkan pandangan, merasa tidak enak dengan semua yang masal yang menimpaku karena gara-gara menolong anaknya, aku harus kehilangan orang yang aku cintai.


"Nggak apa-apa, Bay! Wanita Masih Banyak, namun anak cuma satu." ucapku yang tidak sesuai dengan hati yang begitu perih, ketika harus berjuang kembali mendapatkan Cinta dini.


"Sekali lagi, saya minta maaf, Pak!" ucap Bayu mempertegas pengakuannya.


Setelah lama mengobrol, akhirnya aku pun berpamitan untuk menuju restoran yang sedang direnovasi oleh tim Wandi. mengecek sejauh mana pekerjaan mereka, sambil mengalihkan pikiranku, yang terus terpaku oleh masalah dini.


Sesampainya di restoran, terlihat ada beberapa orang yang sudah mengerjakan renovasi, sesuai desain yang aku buat, melihat kedatanganku dengan cepat Wandi pun mendekat.


"Halo, pak Dali." ucap Wandi sambil tersenyum menyambut kedatanganku.


"Ya, Wan. bagaimana lancar-lancar saja?" tanyaku sambil terus memperhatikan keadaan sekitar.


"Aman, terkendali!" jawab  Wandi sambil mengangkat jempol tangan kanannya.


"Terus apa saja yang belum dikerjakan?" Tanyaku.


"Semuanya sudah mulai dikerjakan, untuk pembuatan kolam ikan, kita sudah mulai menggali tanah. dan perombakan-perombakan lain kita kerjakan secara bersamaan, agar tidak memakan waktu banyak, sehingga mungkin dalam waktu seminggu kedepan, restoran ini sudah bisa dibuka kembali." jelas Wandi memaparkan pekerjaannya.


Tin! tin! tin!

__ADS_1


Terdengar suara klakson mobil dari area parkir, dengan refleks kita berdua menoleh ke arah datangnya suara, terlihat mobil sport berwarna merah muda baru saja terparkir.


Kemudian muncullah sosok wanita, dengan rambut panjang menggunakan blus merah yang agak sedikit ketat, sehingga memperlihatkan kemolekan tubuhnya yang seksi. apalagi hari ini Aira menggunakan rok span pendek, memperlihatkan kakinya yang jenjang, membuatnya terlihat sangat begitu cantik.


"Hai!" sapa Aira sambil tersenyum, lalu mendekati ke arah kita berdua yang sedang mengobrol.


"Hai juga!" jawabku membalas senyumnya.


"Kapan ke sini?" tanya Aira sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.


Aku dan Wandi pun menerima uluran tangan itu, memegang tangannya yang begitu halus, sehalus sutra.


"Maaf Pak, Bu. Saya lanjut kerja dulu!" ujar Wandi meminta izin takut menggangguku.


"Yah sudah, sana!" ucap Aira seolah mengusir Wandi.


Wandi  tidak menjawab, namun dia melirik ke arahku seolah memberikan kode, namun aku tidak mengerti kode apa yang ia berikan. kemudian Wandi kembali untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


"Bagus ya!" ucap Aira sambil memindai seluruh ruangan itu.


"Bagus apanya, Kan belum jadi?" tanyaku yang tidak mengerti dengan tujuan Aira.


"Ya walaupun belum jadi, namun sudah terlihat keren seperti ini." Puji Aira, matanya yang lentik seolah tidak bosan memperhatikan area ruangan yang sedang direnovasi.


"Syukurlah kalau kamu suka!" jawabku basa-basi


"Oh iya, kira-kira kapan ya, beresnya? Aku sudah tidak sabar membuka Cafe ini." Aira bertanya kembali.


"Menurut Wandi, minggu depan bangunan ini sudah bisa digunakan. mungkin masih tahap finishing, tapi itu tidak mengganggu kedatangan pelanggan!" jawabku memberikan pernyataan yang dikeluarkan oleh Wandi.


"Kakak berhenti aja kerja, kita fokus mengelola kafe ini bersama-sama!" tawar Aira.


"Lihat nanti saja, ya!" jawabku yang sebenarnya berat meninggalkan pekerjaan lama, Namun keberadaan Stella mulai mengganggu kenyamanan itu.


"Serius Kakak mau kerja di sini?" tanya Aira terlihat matanya yang membulat sempurna, seolah tidak percaya dengan apa yang ku ucapkan.

__ADS_1


__ADS_2